• Ayu Welirang

(Sajak) Untuk Perempuan yang Menunggu Kucing Bulan

Teruntuk Moira...


Moira, belum genap duapuluhempat jam aku sampai di ibukota

yang panas, ganas, dan penuh debu pekat

Tapi, aku lagi kembali teringat

pada senyummu saat temu di sebuah senja

Aku yang tak sadar, atau memang dungu

sebab kita sudah sejak dulu beradu pandang

sejak kau masih kanak, dan kita bermain di padang

yang tiap sore dipenuhi anak-anak desa kau dan aku

Moira, aku tahu ini hari aku tak akan bisa tenang

kalau tak melihat senyummu yang menyipit

bagai bulan sabit

di penghujung bulan Juni, kala cuaca menegang


Senja yang sendu waktu itu

kau duduk sendiri di tepi kursi

Aku menanyaimu yang termenung sendiri

Kau jawab, "Aku sedang tunggu kucing bulanku."

Kucing bulan itu, apakah mungkin menjadi aku, Moira?

Ataukah pada malam-malam yang tentu,

kucing itu benar-benar tiba

dan mengeong di kakimu yang hangat oleh beludru biru

sebelum kau menyongsongnya, dan kau peluk pulang?

Bisakah Moira? Kita temu lagi?

Di beranda itu lagi, sambil menunggui kau bicara tentang

hal-hal yang menurutmu tak ada, tapi sebenarnya selalu ada

di sisimu, menemanimu duduk setiap petang

dari sore, menuju malam yang sepi

di sebuah tepi


Biarkan aku Moira yang menemanimu

jadi kucing bulan

setiap pulang dari ibukota

biarkan aku

mengeong mengendap-endap ke sisi jendela kamarmu

dan biarkan aku Moira

berada di bawah selimutmu, menemanimu...

Bolehkah Moira?


dari aku, yang selalu

mengagumi cericit masam

dan gerutumu

tentang kucing bulan yang pulang malam...


---


Larung Alir

Jakarta, 2 Juli 2014

0 comments

Recent Posts

See All