(Sajak) Manuskrip Kesunyian

Pena baru, terbeli sejak ia berulangtahun yang ke duapuluhdua Di tangannya tergenggam Sekaleng kecil tinta yang belum ingin padam


Apakah tiap langkah dijadikan alkisah? Mengalir melalui jemari yang luka, merah Kadang dibanjiri darah Apa pena itu saja diisi tinta warna lelah?


Pena menolak terisi hitam Sebab di jemarinya menari-nari warna yang menyala pekat bagai laut kelam Menyala riang bagai sajak-sajak dalam lalu lalang kendaraan di tepi ibukota yang tak pernah lengang


Lewat mata dan buih-buih asap menjelang pagi Ia menuliskan kisah-kisah yang terhidang di atas manuskrip sunyi atau berlarian di atas nampan kenang


Semuanya buyar, buih luber, berceceran berlari dengan darah yang makin deras mengalir dari jemari dan segara pikiran Atau dari ujung kelopak mata yang telah panas dan bersiap mendidih, menguapkan semua kisah yang lekas memohon pamitan


Kisah pun bercerita di dalam naskah-naskah kesendirian yang niscaya Atau malam yang terus berdoa tengadah memohon kembali kasih, kembali kisah pada yang tiada


Yang tiada... Hanya sunyi yang niscaya.


---

Karawang-Resinda, 06 Oktober 2014


P.S.

  • Sajak random yang dituliskan melalui aplikasi blogaway di kotak 7inchi yang baru saja didownload karena coba-coba

  • Diunggah melalui provider seluler yang "hidup segan, mati tak mau" di kota orang

  • Ditemani nyanyian chris martin yang sendu dan dingin, falsetto hidup dalam "For You"

  • Di tengah usaha untuk menahan layang rindu pada seseorang di ujung timur jawa. Sekian. Selamat malam.

0 comments

Recent Posts

See All