OnCrime, Review, Series

#NgomonginSeries: Tunnel Indonesia di GoPlay Original Series

Udah lama gue nggak update soal dunia tonton-menonton serial. Biasanya memang yang sering diulas cuma serial kriminal Amerika, Jepang, atau Korea. Namun, kali ini gue mau mengulas serial Indonesia berjudul Tunnel yang bisa ditonton melalui GoPlay—layanan streaming yang ditawarkan GoJek group.

Hah? Tunnel? Itu si Choi Jin Hyuk kan?

Ya! Kalian benar! Serial Tunnel ini adalah adaptasi dari Tunnel Korea yang ditayangkan melalui jaringan OCN, mulai dari 25 Maret sampai 21 Mei 2017. Tunnel versi Korea berjumlah 16 episode.

Foto: Official Trailer di Youtube GoPlay Indonesia

Deskripsi singkatnya, Tunnel bercerita tentang seorang polisi bernama Park Gwang-Ho (Choi Jin Hyuk), yang menginvestigasi kasus pembunuhan berantai. Setting cerita berada di tahun 1986 dan pada masa itu, istilah pembunuh berantai belum dikenal oleh satuan kepolisian Korea. Kurangnya barang bukti dan juga belum adanya teknologi analisis DNA membuat polisi di masa itu kesulitan mengungkap kasus pembunuhan berantai (yang diilhami dari Hwaseong serial murders sekitar akhir 80 sampai awal 90-an).

Nah, cerita tersebut diadaptasi menjadi Tunnel versi Indonesia, yang pada artikel ini akan gue bahas panjang-lebar. Jadi, selamat menyimak!

Pemilihan Tokoh Indonesia

Tokoh Park Gwang-Ho, diadaptasi menjadi Tigor Sintong Siregar, seorang polisi berdarah Batak. Tokoh Tigor diperankan oleh Donny Alamsyah yang digambarkan bergaya slenge’an, gemar memakai converse yang tren pada masanya, santai, tetapi kritis. Ia juga kerap kali berkata, “Bengak kali kau!” dengan gaya Bataknya yang membuat saya sendiri terkaget-kaget, karena baru sekali ini melihat Donny Alamsyah memainkan tokoh yang berbeda dari biasanya. Mungkin dulu di 9 Naga, gaya slenge’an dia lebih dark, sementara di Tunnel lebih komikal dan sulit untuk dilupakan.

Di awal seri, Tigor datang ke sebuah TKP (Tempat Kejadian Perkara), lalu kamera menyoroti kakinya yang keluar mobil tua. Ia lantas memakai converse. Sungguh pembukaan yang sentimentil, menohok, begitu menonjolkan karakter tokoh yang berpembawaan santai tapi ringkas.

Sumber Foto:YouTube Goplay Indonesia

Tokoh istri bernama Ambar yang ceritanya baru dinikahi di awal seri, diperankan oleh Putri Ayudya. Sampai sini, begitu terlihat bahwa pemilihan tokoh dan karakterisasi seri Tunnel Indonesia, mengadaptasi kearifan lokal dan keberagaman. Seorang Tigor yang keras, menikah dengan Ambar yang lembut dan sopan, khas perempuan Jogja pada umumnya. Chemistry keduanya sangat terasa. Di bagian tertentu saat Tigor yang keras sedang bicara lembut pada Ambar, kadang bikin dag-dig-dug sendiri. Duh, Bang Tigor!

Selain dua tokoh tersebut, kita akan mendapati tokoh Kim Sun-Jae (Yoon Hyun-Min) diadaptasi menjadi Tito. Tokoh Tito sendiri diperankan oleh Andri Mashadi. Gue jujur baru tahu Andri Mashadi dari serial ini, sebelumnya nggak pernah menonton film atau seri lain yang ada dia. Tapi pas menonton Tunnel, gue merasa, “Wah memang cocok jadi Tito.” Dia digambarkan sangat cuek, suka bekerja sendiri, dan nggak suka banyak nongkrong atau basa-basi sama teman kantornya. Tapi, dia ketiban pulung karena harus jadi partner Tigor yang blak-blakan dalam semua obrolan. Combo yang ciamik. Mungkin, duo Tigor-Tito nggak akan se-ciamik ini kalau diperankan orang lain. Entahlah. Yang pasti, keduanya udah cocok banget dipasangkan.

Foto: cinemags.co.id

Tokoh Shin Jae-Yi, seorang kriminolog, diadaptasi menjadi Sita. Tokoh Sita diperankan oleh Hana Malasan dan sepanjang menonton Tunnel versi Indonesia, gue malah lebih suka versi ini dibandingkan versi Korea. Kesan “gila” dan obsesif atas perilaku kriminal, terpampang nyata dalam setiap dialog juga interaksi Sita dengan tokoh lainnya. Kecakapan Sita dalam bidang yang ia geluti juga tidak terlihat seperti acting, tapi lebih seperti kriminolog betulan. Kudos buat Hana Malasan!

Sisanya tentu saja tokoh pendukung. Ada Verdi Soelaiman juga tentunya, yang menjadi favorit gue. Salah satu dialog favorit adalah ketika dia berkata, “Oh iya ya. Saya ya Kasatnya!” sembari melengos ke arah Tigor. Silakan tonton sendiri, karena kalau gue ceritakan nanti jadi nggak lucu lagi. Juga combo antara Markus dan Ozan (masing-masing diperankan oleh Abdul Arif dan Dicky Difie). Mereka doyan melucu, tapi juga serius. Sebuah sikap yang jarang kita temui di serial kriminal Indonesia lainnya, di mana sikap polisi lapangan itu cenderung kaku dan protokoler. Satu lagi yang patut diacungi jempol adalah ketegangan yang dibangun oleh Ki Slamet (Rukman Rosadi). Tapi saya agak kecewa juga, karena kemunculan Ki Slamet dibandingkan pelaku pada plot twist, kurang seimbang. Jadi, sebetulnya sepanjang cerita, malah fokus pada kasus Ki Slamet daripada kasus 30 tahun lalu.

Nuansa Kearifan Lokal

Foto: Dok. GoPlay via kincir.com

Selain pemilihan tokoh yang menurut gue sudah tepat banget, ada beberapa hal yang patut dipuji. Pada Tunnel versi GoPlay ini, kita nggak akan menemukan budaya-budaya Korea yang diadaptasi bulat-bulat ke budaya Indonesia. Pemilihan Jogja sebagai lokasi utama kasus, juga menambah kesan klasik dan cocok dengan motif utama Ki Slamet kala melakukan berbagai macam pembunuhan. Berdalih ingin dapat kekuatan, maka ia melakukan pembunuhan sesajen tersebut.

Nah, coba kalau yang dipilih Jakarta? Mana mungkin sekeren ini kan? Secara di Jakarta nggak ada tunnel sepi yang kemungkinan udah tidak digunakan. Adanya gorong-gorong bau sampah. Kita juga nggak akan menemukan mereka minum-minum soju pasca bekerja. Para tokoh lebih memilih makan lumpia atau mi rebus dari warkop sebelah polres. Obrolan ringan mereka juga campur-campur, mulai dari bahasa Indonesia berlogat Jawa, bahasa Timur ala Markus, bahasa Betawi ala Ojan, dan bengak kali kau ala Tigor. Sebuah pengalaman menonton serial yang bikin gue nggak akan pernah lupa. Tunnel versi kearifan lokal, keren banget.

Produksi yang Matang

Foto: Dok. GoPlay via kincir.com

Memang sebagai orang awam, gue nggak begitu paham soal produksi serial atau film. Namun, sebagai penonton serial kriminal yang setia, gue cukup berani untuk bilang bahwa Tunnel adalah sebuah produksi serial yang matang. Sebelumnya gue juga sempat menonton BRATA yang diperankan oleh Oka Antara dan Laura Basuki sebagai dokter patologi forensik. Namun, meski keduanya memberi angin segar pada dunia serial Indonesia, gue akan memberi poin lebih untuk Tunnel.

Dua-duanya tetap bagus kok. Ini hanya penilaian subjektif seorang gue yang terlalu banyak menelan tontonan macam Criminal Minds dan Cold Case lalu betul-betul terkultivasi. Jadi, apa alasan gue bisa bilang kalau produksi Tunnel versi Indonesia ini matang? Mulai dari pemilihan lokasi, wardrobe, juga hal-hal teknis terkait penyelidikan kepolisian yang tidak gue temukan cacat. Di sini kita akan melihat bahwa kepolisian dalam semesta Tunnel, begitu serius untuk mengungkap kasus. Di sini bukan serial political di mana kepolisian bergandengan tangan dengan politisi, karena di sini lebih tegas unsur investigasi kriminalnya. Jadi, kita nggak akan menemukan polisi korup yang lambat menyelesaikan tugas.

Sentimen publik terhadap kasus yang sedang diselesaikan juga menambah logika plot dan cerita menjadi lebih baik. Hampir tidak ada cacat logika dari setiap episodenya yang padu. Enam belas episode yang gue tonton, membuat puas. Selain itu, ending serial yang dibuat berbeda dengan Tunnel versi Korea buat gue jadi maklum dan merasa cukup. Tidak perlu ada tambahan atau season dua, karena ini sudah lebih dari cukup. Kalau mau, coba mungkin GoPlay mengadaptasi Signal (drama Korea juga) dan gue sudah pasti akan jadi orang yang pertama nonton (tentunya kalau nggak habis kuota. Haha!).

Akhir kata, gue mau bilang kalau Tunnel Indonesia dapat poin penuh dan wajib ditonton oleh para pecinta serial kriminal di luar sana. Jadi, selamat menonton! Ada gratis 7 hari juga lho di GoPlay, buat yang belum pernah subscribe.

Oh ya, ini gue kasih bonus recap Tunnel dari akun resmi GoPlay. Selamat menikmati!

You May Also Like This Post