Personal

Coronavirus Bagi Warga Desa

Saya baru sadar selama beberapa bulan terakhir–atau sudah mau setahun mungkin ya?–kalau hidup jauh dari kota besar itu ada kelebihan dan kekurangan tersendiri. Oke, kalau kalian mau tahu, saya tinggal di sebuah perumahan sekitar Bogor, jauh dari pusat kota. Kelurahan tempat saya tinggal, menyimpan sisa-sisa sejarah ABRI masuk desa (AMD) yang marak terjadi pada zaman keemasan orde baru. Sampai saat ini, peradaban di desa saya berkembang pesat, walau infrastruktur pendukung masih perlahan berkembang. Bayangkan, jalanan saja masih belum betul, sampai kalau bawa mobil, saya harus sedikit merelakan suspensi mobil saya bekerja lebih keras.

Hidup sehari-hari saja di sini sudah cukup melelahkan, dan datanglah itu coronavirus.

Saya bahkan tidak bisa ke depan perumahan hanya dengan jalan kaki. Bisa sih, sesekali. Tapi, tidak ada apa-apa di sini. Tempat-tempat makan jauh, pasar swalayan juga harus dicapai dengan motor, apalagi kalau mau ke rumah sakit, jarak terdekat sekitar 14 kilometer dengan kendaraan. Bahkan, teman sekantor saya sempat mencibir, “Gila! Gue pesan GoJ** buat ambil kaset PS ke rumah elu, enggak ada yang mau angkut, Yu!” Begitulah nikmat dan tidaknya hidup di desa.

Ini baru dua bulan kurang melakukan swakarantina. Bagaimana coba jadinya kalau desa saya benar-benar lockdown? Memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari pasti akan sulit sekali, terlebih lagi sekarang jasa antar-jemput paket sedang mengalami perlambatan juga. Saya jadi bingung, sebenarnya pemerintah memikirkan tidak sih nasib warga-warga yang tinggal di desa seperti saya, seperti kami semua?

Selain masalah bahan pangan, rasanya pembangunan desa saya juga belum begitu berkembang. Pasalnya, di sini sulit sekali mendapat sinyal untuk telepon seluler. Mungkin memang tidak adanya menara pemancar dan repeater yang dekat. Terlebih lagi, saat ini sedang masa orang-orang bekerja dari rumah, sehingga lalu-lintas data sedang tinggi-tingginya. Saya yang tinggal di desa, bahkan tidak bisa pasang internet (karena tidak ada penyedia layanan yang mau tarik FO ke sini!), tapi harus tetap bekerja. Sebagai pekerja IT, tentu konektivitas dan mobilitas adalah hal yang wajib. Apa yang harus saya lakukan kalau di tengah-tengah rapat, koneksi mendadak hilang?

Saya tidak tahu mau menyalahkan siapa, karena pandemi ini tentu adalah musibah yang semua orang bahkan tidak mengira akan terjadi pada negara ini. Tapi, ya inilah dilema kami warga desa. Lalu lintas hidup rasanya agak melambat. Namun, hidup menjadi sedikit lebih tenang. Tak perlu setiap hari memeriksa pembaruan di dunia maya, pun tak perlu sedikit-sedikit update (walau saya kadang masih melakukan itu, haha!). Rasanya, satu hal yang bisa membuat saya waras, mungkin dengan banyak berpikir dan melakukan hal-hal yang biasanya tak pernah saya lakukan kala sedang sibuk kerja–sedang tidak dalam karantina wabah.

You May Also Like This Post