Friday, February 14, 2020

Inspirasi Tokoh-tokoh Mata Pena (Bagian 1)

Saat saya memulai sebuah kerangka novel, saya tak tahan kalau tak membuat daftar tabel untuk para karakter. Kadang kala, daftar karakter ini malah lebih saya ulik daripada kerangka novel itu sendiri. Tak lupa saya selalu menyelipkan foto-foto tokoh, agar saya selalu ingat gambaran fisik tokoh-tokoh di novel yang sedang saya garap. Apalagi kalau ada tokoh gondrong dan hmmm... itu kayak tokoh kesukaan saya...

Nah, kali ini saya ingin berbagi beberapa gambaran karakter, yang mungkin malah luput ditebar dalam novel. Di Mata Pena, tokoh-tokohnya cukup banyak, karena memang banyak bercerita tentang interaksi para pekerja media cetak. Namun, saya sendiri tak lihai membeberkan ciri-ciri karakter, karena kadang memakan terlalu banyak tempat dalam novel. Oleh karena itu, di Mata Pena sendiri, ciri-ciri karakternya tidak banyak dikeluarkan kecuali untuk tokoh utama. Jadi, bagaimana dong nasib tokoh pendukung?

Agar kita semua nantinya tidak akan lupa pada nasib tokoh pendukung, maka saya ingin membagikan cerita mereka di sini. Bonus foto inspirasi dari karakter itu juga!

Fumi Nikaido, inspirasi tokoh Neska 
Horizon Aneska
Sejak lama, saya ingin punya tokoh bernama "Horizon". Dulu saya pernah membaca novel tentang teka-teki pencarian seorang anonim yang mengirim surel pada perempuan bernama Horison. Entah kenapa hingga sekarang, nama itu terpatri dalam pikiran. Saya pun bertekad untuk membuat nama tokoh yang memiliki unsur langit di dalamnya. Jadilah... begitu.



Horizon Aneska dalam Mata Pena adalah reporter kompartemen kriminal. Ia anak baru, tetapi dia bekerja di tempatnya sekarang lantaran "butuh banget". Sebelumnya, ia pernah bekerja di sebuah media milik pakar humas ternama yang mulai banting setir jadi humas politisi. Makanya, ia rela digaji berapa pun asal bisa pindah. Di lini waktu 2016, Horizon Aneska baru berusia 24 tahun.

Hiro Mizushima sebagai Satria
Satria Kelana
Ini nama saya curi dari teman (walau hanya nama belakangnya). Otak saya saat membentuk nama ini langsung memunculkan sosok gondrong, doyan ngopi dan ngebul, dan suka tebar pesona sama cewek mana pun. Namun, dia sebenarnya kalau serius, ya serius banget. Kalau sudah satu, ya satu. Dia indekos, walau enggak pernah pulang ke rumah karena terlalu hobi memburu berita sensasional. Usia sekitar 28 tahun. Setiap menulis adegan Satria dan membayangkan tokohnya adalah Nick Valensi, jiwa fangirling saya langsung bergetar. :|

Arata Iura, inspirasi tokoh Tirta

Tirta Irawan
Usia 30 tahun dan punya wibawa. Karena orangnya rajin dan selalu berpikir strategis, ia bisa jadi supervisor, alias redaktur pelaksana di majalah Integral. Dia mengawali karir sebagai reporter pos hukum dan kriminal, hingga akhirnya menjadi redaktur pelaksana. Di bayangan saya, sosoknya itu kayak Star Lord kalau kerja kantoran. HAHA!

Fumino Kimura sebagai Saras
Saraswati Liman
Cewek satu ini adalah teman dekat Tirta dan salah satu redaktur juga. Dia sudah bekerja di Integral sejak masih jadi reporter di kompartemen lain, sampai di 2016 menjadi redaktur pos Lingkungan, Kesehatan, dan Teknologi (Lingkestek). Gaya bicaranya agak santai, blak-blakan cenderung sarkastis. Rambutnya saat ini dipotong bob dan Mbak Saras--begitu dia biasa dipanggil--kini berusia 29 tahun.

Mirai Moriyama versi gondrong, inspirasi tokoh Barli

Barli Ardandy
Redaktur desk Seni dan Hiburan. Hobinya datang dari premiere ke premiere, dan nonton teater di Cikini. Dia berusia 32 tahun, doyan ribut sama Mbak Saras. Bertubuh jangkung, kurus, sering memakai pakaian gaya retro seperti Jarwo Naif (celana cutbray and so on...) Rambutnya gondrong sebahu tapi ikal dan kusut parah.

Dean Fujioka sebagai Hero

Hero Yanuarisan
Termasuk redaktur yang serius dan selalu berpakaian rapi. Tapi, Mas Hero ini mengamati perkembangan ekonomi di Indonesia, karena ia adalah redaktur pos Ekonomi dan Politik. Anak buahnya alias reporternya cuma satu, Genta Henriyan. Dia kadang pinjam reporter dari posnya Mas Tirta, atau posnya Saras. Rambutnya tersisir rapi, macam manajer bank. Dia berkacamata tebal dan memiliki darah Tionghoa-Sunda.

Lee Joon Hyuk sebagai Harits

Harits Pamitra
Pendiri Harits Pamitra & Partners, terlihat sok kuasa padahal gampang chickened out. Usia 28 tahun dan terkenal sebagai jubir partai. Bersahabat dengan Gumilang yang lebih tua darinya 7 tahun. Mereka pernah kuliah di satu kampus yang sama.

Segini dulu, nanti dilanjut part 2.

*btw maaf nih inspirasinya aktor dan aktris Jepang semua, soalnya memang begitu :))

No comments:

Post a Comment