Mondai no Aru Restaurant dan Para Misoginis

“I want to do good work. I just want to do good work. I want to feel excited. To be held breathless by the thrill, I want to encounter a moment like that. Life probably isn’t about status or prestige. I think life is decided by how deeply that person’s soul was moved.” (Tamako Tanaka, Mondai no Aru Restaurant ep. 01)

Perempuan dalam masyarakat, kerap kali mendapat pelecehan dan juga sering disalahkan atas suatu kejadian buruk. Banyak dari mereka, menjadi alasan di balik gagalnya sesuatu. Ambil contoh, seumpama ada kegagalan dalam kerja sama bisnis, perempuan disalahkan karena tak becus bernegosiasi. Kadang, mereka pula yang dijadikan tameng agar negosiasi berjalan lancar. Apa-apa perempuan.

Apalagi dalam industri pelayanan, seperti industri pariwisata, mulai dari hotel hingga restauran. Jika perempuan ingin menjadi ahli, katakanlah chef, ia cenderung tidak diberi tempat. Perempuan tempatnya di depan, menjadi penerima tamu, resepsionis, atau aksesori restauran. Hal ini tercermin dalam dorama yang berjudul Mondai no Aru Restaurant, atau drama Jepang dengan judul bahasa Inggrisnya adalah A Restaurant with Many Problems dan tayang tahun 2015.

Jepang merupakan salah satu negara paling maju di Asia, tetapi pandangan masyarakatnya terhadap perempuan masih diskriminatif. Perempuan bekerja selalu mendapat pelecehan secara verbal maupun fisik. Mulai dari pawahara (power harassment) hingga sekuhara (sexual harassment). Hal ini mungkin hampir sama seperti bagaimana sebagian besar orang Jawa memandang perempuan yang ingin sekolah seperti pada kisah Kartini. Perempuan yang cerdas dan berpendidikan, terlebih lagi memegang peran penting dalam pekerjaan, dianggap menyeramkan.

Namun, perempuan yang direpresi kebebasannya tersebut oleh masyarakat patriarkis dan misoginis, pasti akan melawan. Dalam dorama Mondai no Aru Restaurant sepanjang 10 episode ini, kita akan melihat perjuangan seorang perempuan bernama Tamako Tanaka (Yoko Maki). Ia mengajak lima teman perempuan dan satu ahli patisserie bernama Haiji Oshimazuki (Ken Yasuda) yang merupakan seorang gay crossdresser, untuk membuka restauran.

Premis utama dorama ini sebenarnya adalah kerja keras Tamako untuk membangun restaurannya sendiri dan menyajikan makanan yang enak, serta tempat yang nyaman bagi perempuan. Hal itu dilakukannya setelah ia menyiram atasannya dengan air comberan karena sudah muak dengan sikap permisif atasan kantor atas pelecehan seksual. Tamako mengetahui bahwa sahabatnya, Satsuki Fujimura (Akiko Kikuchi) telah dilecehkan oleh jajaran direksi kantornya.

Di dunia pekerjaan, sepertinya perempuan kurang mendapat tempat untuk bersuara. Ada banyak penyintas pelecehan seksual yang cenderung tutup mulut karena mereka tidak berani mengutarakan apa yang terjadi pada mereka. Hal ini karena kultur masyarakat yang mudah menyalahkan perempuan. Sebagai penyintas, perempuan disalahkan juga, bukannya dibantu untuk pulih atau dibantu untuk mengadili pelaku. Pelaku cenderung termaafkan, entah karena ia memiliki kuasa lebih tinggi atau dianggap orang terpandang.

Hal semacam itu terjadi juga dalam dorama Mondai no Aru Restaurant. Masing-masing tokoh memiliki masalah tersendiri yang menyangkut laki-laki dan juga sikap misoginis atau sikap masyarakat yang begitu benci pada perempuan.

Episode dorama ini dibuka dengan potongan adegan perayaan Natal di Jepang. Orang-orang bersenda-gurau, sementara tokoh utama kita diborgol dan dijaga polisi dalam perjalanan ke kantor polisi. Sang tokoh, Tanaka Tamako, membisikkan kata-kata yang telah saya bubuhkan di awal ulasan ini, sebuah kata-kata untuk menyemangati dirinya dan juga para penonton.

Lalu, setelahnya, adegan beranjak ke sebuah atap ruko yang berantakan. Beberapa perempuan berkumpul dan saling membicarakan Tamako Tanaka, juga alasan mereka berada di atap saat itu. Semuanya diajak untuk bekerjasama membangun restauran dari nol, dengan seluruh pekerja adalah perempuan.

Sepanjang episode, kita akan dihadapkan pada permasalahan masing-masing anggota restauran yang beragam. Selain itu, uniknya, para tokoh dibuat berbeda prinsip dan berseberangan. Tidak semuanya adalah feminis, tidak semuanya memiliki keinginan kuat untuk menjadi pribadi perempuan yang mandiri, tetapi hampir semuanya memiliki masalah serupa dalam tatanan masyarakat patriarkis.

Perubahan karakter dari dorama ini juga membuat kita ikut merasakan bagaimana sulitnya hidup dan bekerja di Jepang sebagai perempuan. Belum lagi, adanya tokoh ibu tunggal yang digambarkan bertahan dalam pernikahan abusive hanya karena memikirkan anak. Di sini, Tamako membantu sang ibu tunggal untuk bicara lantang terhadap suaminya yang tidak tahu kalau pekerjaan domestik pun berat, bukan hanya dia sebagai suami yang bekerja dengan berat.

Tamako Tanaka yang diperankan oleh Yoko Maki, mendapat porsi besar di tengah-tengah kisruh masing-masing karakter lain. Bisa dibilang, dirinya adalah orang yang paling jauh dari masalah, tetapi Tamako lah yang paling banyak membantu para karakter lain menyelesaikan masalah mereka. Ia dibantu oleh Nanami Karasumori (You) yang tidak ikut membangun restauran, sebab ternyata ia adalah seorang pengacara. Keduanya berusaha untuk menyelesaikan kasus pelecehan yang menimpa Satsuki-san.

Memang secara alur dan konflik, dorama ini cukup berat, apalagi jika dibandingkan dengan beberapa dorama Jepang yang ringan dan romantis, atau berunsur slice of life. Di sini, hampir tidak ada kisah cinta yang dijadikan plot utama, karena plot utama adalah “masalah-masalah” yang datang ke restauran mereka hingga mereka pada akhir episode harus menutup restauran.

Namun, saya akui bahwa saya menikmati dorama ini. Saya bahkan ikut merasa berat ketika sampai pada beberapa konflik yang sangat dekat ke kehidupan sehari-hari. Ini mungkin jadi dorama yang naskahnya ditulis oleh Yuji Sakamoto pertama yang saya sukai. Padahal, sebelumnya ada Matrimonial Chaos yang lebih dulu rilis, tetapi belum sempat saya tonton.

Saya sangat merekomendasikan dorama ini, tetapi tidak menyarankannya bagi kalian yang punya sikap misoginis (baik pria maupun wanita). Karena, nantinya dorama ini mungkin akan terlalu menusuk, dan kalian akan melakukan penyangkalan. Jadi, ulasan dorama ini kurang-lebih hanyalah opini personal saya. Secara personal, saya suka. Namun, saya hanya merekomendasikan pada mereka yang juga suka film atau serial bertema feminisme.

Semoga apa yang saya tulis ini tidak menjadi acuan Anda dalam menilai ya. Karena, sekali lagi, ini hanyalah opini pribadi. Selebihnya, silakan kalian coba tonton dan nilai sendiri.

Let’s talk about books and crime fiction! Drop me an email, here: Contact Icon

Scroll Up