Menjadi Indonesia Lewat Asian Games 2018

Post ini mungkin pertama kalinya gue pakai bahasa ‘gue – elu’ dan ngomong panjang lebar tentang unek-unek yang selama ini menggantung. Di post ini, gue mau mengingatkan, bagi kalian yang masih suka ngomong hal-hal menyebalkan, just cut all your crap already. Jangan SARA, jangan politik, jangan bahas-bahas ganti presiden apalah, karena gue udah kesal. :))

Melihat ramainya komentar macam-macam dari netizen yang inginnya disebut budiman tapi kayak paling benar sendiri, gue jadi pengin menggaruk tembok. Ingin juga menumpahkan kekesalan atas jari-jari tuhan mereka itu, tapi bingung lewat mana.

Ini semua asalnya dari berbagai event dan kejadian tingkat nasional yang sedang terjadi di negara kita. Mulai dari gempa Lombok, sampai seluk-beluk pembukaan Asian Games 2018.

Kalau boleh mengakui, gue bukan orang yang nasionalis banget, atau cinta banget negara. Nggak. Biasa aja. Di satu titik bahkan gue pernah ingin banget pindah negara karena gue selalu terlibat masalah dan terlibat ribetnya birokrasi pemerintahan.

Namun, apakah dengan begitu gue menyalahkan presiden? Menyalahkan agama sampai pilihan politik tertentu dan hal-hal nggak relevan lainnya? Nggak lah. Ngapain coba?!

Gue jarang banget mempertanyakan hal-hal yang nggak relevan sama apa yang dirasakan. Tapi, karena banyak pihak yang berisik banget soal momen yang banyak terjadi di tahun ini, rasanya gue jadi pengin ngomong juga deh.

Begini kisahnya…

Sejak pembukaan Asian Games 2018 tanggal 18 Agustus 2018 lalu, gue sampai sekarang belum bisa berhenti mengulang video opening ceremony di situs berbagi video yang ada. Gue menonton video 2 jam itu berulang kali dan belum juga bosan. Yang ada malah semakin sedih. :’)

Ada satu momen krusial yang membuat gue—si anak tidak nasionalis ini—ingin menangis haru bahkan sampai bingung berkata-kata, udah susah banget ngomong lah pokoknya. Dan momen krusial inilah yang mungkin bisa lo semua perhatikan juga.

Gue nggak yakin sih semua orang terharu dengan momen ini, tapi gue sendiri waktu itu nggak bisa menjelaskan: kenapa sikap apatis atau bodo amatnya gue sama urusan politik negara ini, tiba-tiba menghilang begitu aja hanya karena opening ceremony? Gue udah nggak melihat lagi ada kepentingan apalah, karena gue hanya melihat satu kepentingan yaitu: Indonesia ingin mengulang kejayaan tahun 1962 saat menjadi tuan rumah Asian Games ke-4.

Singkat kata, gue ingin menggaris bawahi beberapa momen krusial tersebut, yang mungkin bisa lo ulang-ulang. Daripada mengomentari masalah stunt man Pak Presiden, lo mungkin bisa tanya sama diri sendiri ada apa sama isi kepala dan hati lo? Masa iya sih, udah nonton pembukaan Asian Games ini berulang kali tapi lo tetap nggak merasa bangga dan terharu?

1. Momen tari Ratoeh Jaroe.

Ini tarian udah viral banget di mana-mana. Tarian ini konon dilakukan oleh 1600 orang siswi dari 18 (apa 20) SMA gitu se-Indonesia. Mereka diseleksi dan dikumpulkan sebagai sesama orang asing tentunya. Namun, menjalani latihan intensif, sampai bulan puasa juga tetap latihan, membuat mereka semua bisa tampil maksimal saat opening ceremony.

Tarian ini menunjukkan betapa… nggak peduli lo milih presiden apaan, milih paslon apaan entar 2019, lo tetap harus gerak seirama, bergandeng tangan, dan menunjukkan yang terbaik di depan semua delegasi negara-negara Asia yang menghadiri opening ceremony. Lo berusaha agar nggak bercela, lo semua mau sempurna sebagai sesama orang Indonesia yang mengemban tugas berat, menari dengan cakap dan seirama.

Momen Tari Ratoeh Jaroe – Opening Ceremony Asian Games 2018

Itu susah, Bro. Apalagi kalau kepala lo itu diisi hal-hal tidak relevan seperti 2019GantiPresiden, besok jangan pilih wakil bangsa beragam anu, bersuku itu, daaan whatever crap and shit you own.

Jadi, hanya orang yang positif aja sih yang bisa menari kayak gini, sementara yang doyan nyinyir (kayak gue), mungkin gagal udah dari seleksi kali. Wkwk.

2. Momen ketika tim Indonesia dipanggil masuk.

Negara-negara lain ceritanya udah dipanggil duluan. Gue menunggu para atlet Indonesia dipanggil dan berjalan sambil membawa bendera Indonesia. Dan ketika mereka semua masuk, tiba-tiba saja satu GBK berteriak, “Indonesia! Indonesia!”

Pasukan atlet Indonesia memasuki arena opening ceremony.

Udah nggak kelihatan lagi ada orang mana, suku apa, agama apa, anaknya siapa, dukung siapa, kiri apa kanan, bawa-bawa isme apa, semua melebur jadi satu dalam teriakan itu. Gue di sini terharu banget, sampai rasanya gue itu pengin ada di sana juga (tapi nggak keburu beli tiketnya sih waktu itu). Memang benar sih kata banyak orang yang sudah sering menghadiri acara olahraga kalau tim Indonesia main. Cuma olahraga yang bisa meleburkan segala hal nggak penting jadi lebih nggak penting lagi, bahkan eksistensi pembahasan nggak penting itu menghilang. Semuanya hanya berpikir tentang, “Ayo atlet-atlet Indonesia, menanglah!”

Gitu kira-kira. Nggak dipungkiri lagi, di momen ini, gue terharu sampai hampir menangis.

3. Pengibaran bendera merah putih.

Gue dulu paling malas upacara Senin pagi. Semacam buang-buang waktu dan bikin bete karena panas. Bahkan, gue sering banget tuh pura-pura sakit supaya bisa tidur di UKS.

Tapi entah kenapa… Di opening ceremony ini, pas gue memerhatikan para Paskibra Indonesia, wajahnya pada tegang. Mereka semua takut bendera bangsa terbalik. Belum lagi, momennya kan beda sehari dengan Kemerdekaan Indonesia, jadi, atmosfer pengibaran bendera ini masih dalam suasana ikut tersedu-sedan membayangkan kemerdekaan kita tahun ’45.

Paskibra mengibarkan bendera Indonesia.

Danton pasukan (yang memberi aba-aba), gue perhatikan wajahnya gugup banget. Semuanya serius, semuanya benar-benar bekerja dengan hati mereka demi menampilkan yang terbaik dan membuat bangga rakyat serta orang luar negeri. Apalagi, pas momen Tulus menyanyikan lagu Indonesia Raya, dengan suaranya yang membahana itu, gue sampai sulit ngomong.

Semua orang, sekali lagi, nggak peduli agama apaan, milih siapa, anak mana, dari suku apa, terlihat hormat bangga sambil menyanyikan lagu kebangsaan bersama-sama.

4. Bendera Olympic Council of Asia

Momen ini adalah saat di mana bendera “Olympic Council of Asia” dibawa oleh para veteran atlet yang dulu pernah mengharumkan nama bangsa pada Asian Games. Beberapa dari mereka sudah sepuh dan bahkan berjalan pelan. Namun, gue sungguh terharu waktu melihat beliau-beliau berjalan sambil wajahnya ingin menangis.

Ki-Ka: Christian Hadinata (Emas di Badminton, Bangkok 1978), Suharyadi (Emas di Tenis, Beijing 1990), dan Kusumawardhani (Perak di Archery, Seoul 1988).

Mereka menyimpan suatu kebanggaan sekaligus kehormatan untuk membawa bendera tersebut. Mereka telah bertugas sebagai atlet dan kini akan dilanjutkan oleh para pemuda penerus bangsa. Setidaknya, itu yang gue lihat saat semua atlet veteran ini berjalan dan melambaikan tangan pada para hadirin. Beliau-beliau ini adalah:

Lely Sampoerno – medali perak olahraga menembak, Asian Games Jakarta 1962
Suharyadi – medali emas olahraga tenis, Asian Games Beijing 1990
Sri Indriyani – medali perunggu olahraga angkat beban, Asian Games Sydney 2000
Candra Wijaya – medali emas olahraga badminton, Asian Games Sydney 2000
Lilies Handayani – medali perak olahraga panahan, Asian Games Seoul 1988
Markis Kido – medali perak olahraga badminton, Asian Games Beijing 2008
Kusumawardhani – medali perak olahraga panahan, Asian Games Seoul 1988
Christian Hadinata – medali emas olahraga badminton, Asian Games Bangkok 1978

Enam atlet membawa bendera dan menyerahkannya pada pasukan pengibar bendera, semacam simbol bahwa mereka menyerahkan tongkat estafet perjuangan pada para pemuda. *tsah

Gue terharu banget pas momen ini, karena kelihatan banget para atlet veteran menahan tangis bangga. Mereka dipercaya membawa bendera kehormatan dan merasa bahwa tugas mereka sudah purna.

5. Estafet Kaldron

Ini adalah susunan acara terakhir dari opening ceremony. Masing-masing legenda olahraga Indonesia membawa obor, lalu mereka menyerahkan obor secara estafet. Sampai akhirnya, obor tersebut dibawa mendaki gunung oleh I Gusti Made Oka Sulaksana (mantan atlet layar). Di dekat puncak, Susy Susanti sudah menunggu estafet. Kemudian, beliau menyalakan kaldron yang tak lain adalah replika gunung berapi.

Momen ini benar-benar sakral banget sih menurut gue. Melihat para atlet legend ini saling estafet kaldron, membuat gue sekali lagi menahan haru. Beberapa dari mereka juga tampak menahan tangis bangga, karena mereka pernah berada di posisi para atlet muda, ketika berjuang mengharumkan nama bangsa dan pulang membawa medali kebanggaan.

Secara garis besar, opening ceremony ini menurut gue terbilang sukses. Kedua kalinya Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games, jelas sudah banyak berbeda dari tahun 1962 saat Indonesia pertama kalinya jadi tuan rumah.

Waktu 1962 dulu, TVRI menjadi satu-satunya televisi yang menyiarkan tentang Asian Games. Hingga saat ini, peninggalan Asian Games tahun 1962 juga kan masih bisa kita nikmati sekarang (GBK, simpang Semanggi, dll). Tapi, kalau melihat netizen yang malah banyak komentar buruk, rasanya kok gue jadi sedih ya. Kayak nggak ada bangga-bangganya gitu sama bangsa sendiri. 🙁

***

Begitulah, kisah gue yang tiba-tiba menjadi nasionalis karena sebuah opening ceremony. Benar-benar nggak bisa mangkir lagi, karena memang begitu adanya. Diam-diam, dalam hati, gue ternyata masih cinta sekali sama negara gue ini.

Honorable mention, untuk tata panggung dan susunan acara yang keren, serta totalitas setiap pengisi opening ceremony. Terlihat banget memang kalau Chief Wishnutama yang ngerjain udah pasti akan sekeren ini. Hehe.

Maka, pesan gue… Mungkin, kita-kita yang bisanya nyinyir doang, perlu berkaca lagi deh. Kita itu belum bisa berkontribusi apa-apa sama negeri ini, tapi malah bisa nyinyir. Gue jadi malu sendiri.

Sementara, mereka yang pernah berjuang mengharumkan nama bangsa, harus menyerahkan tongkat estafet sama kita-kita para pemuda. Apa lo semua nggak kasian sama beliau-beliau kalau lo malah nyinyir aja?

Ya udah… Gitu aja sih. Post ini emang cuma ditulis berdasarkan sudut pandang subjektif gue terhadap opening ceremony. Semacam refleksi dan curhat mendadak. Ini murni berisi perasaan gue yang nggak bisa berhenti terharu walau sudah menonton tayangan ulang upacara pembukaan tersebut sekian ratus kali. Jadi, gue cuma mau komentari kalian yang bisanya mencari-cari cela atas opening ceremony, “Sebenarnya rasa cinta kalian sama bangsa ini tuh sebatas apa sih? Coba deh lo semua ‘ngaca’ lagi.”

Salam!