Teknik Naratif Fiksi dan Contoh

Dalam fiksi, terdapat literary devices atau kadang dikenal sebagai teknik naratif. Teknik naratif yang dimaksud ini adalah salah satu unsur intrinsik yang lebih mendalam dari sekadar “plot” dan “teknik penulisan”. Teknik naratif (literary device) adalah suatu teknik yang digunakan oleh penulis dalam memberi efek spesifik dan khusus untuk cerpen atau novel yang dibuatnya.

Penulis kerap membuat cerita yang tak sekadar membeberkan fakta dalam bentuk fiksi, atau sekadar membeberkan kejadian seperti suatu laporan. Penulis juga harus bisa memainkan alur dan teknik penceritaan alur tersebut untuk menarik reaksi yang berbeda dari para pembaca. Hal ini juga membantu pembaca untuk melihat dari berbagai sudut. Dengan teknik naratif, cerpen atau novel akan menjadi lebih menarik dan tidak terlalu datar. Berikut ini akan saya deskripsikan beberapa literary devices yang sering dipakai dan dapat Anda coba dalam pengembangan narasi kisah fiksi Anda.

Alusi

Teknik ini mengacu pada referensi yang dibuat oleh seorang penulis, tetapi tidak membuat pembaca terlalu pusing untuk memikirkan istilah karena pembaca sudah terhubung dengan referensi Anda. Alusi ini termasuk majas perbandingan yang merujuk secara tidak langsung atas tokoh atau peristiwa dalam karya sastra, berupa kilatan atau sedikit penceritaan.

Contoh: saat kita membuat cerita tentang hubungan dua orang kekasih yang direferensikan sebagai ‘Romeo dan Juliet’, kita tidak perlu menjelaskan secara lebih lanjut tentang Romeo dan Juliet itu, karena pembaca sudah familiar dengan drama Shakespeare berjudul sama. Penulis juga telah mengetahui bahwa mayoritas pembaca memang familiar dengan hal tersebut, sehingga tidak perlu berhenti dan mencari penjelasan atas referensi yang dipakai.

Deus ex Machina

Teknik ini berasal dari istilah Latin yang berarti ‘god from the machine’, yang memberikan petunjuk. Hal ini merujuk pada suatu kondisi di mana plot dan klimaks konflik cerita, tiba-tiba terselesaikan dengan kemunculan sebuah objek atau karakter lain, entah dari mana.

Contoh: Pada salah satu karya William Golding berjudul ‘Lord of the Flies’, tokoh protagonis bernama Ralph, selamat dari kematian dengan kedatangan sebuah kapal ke pulai terpencil secara tiba-tiba.

Foreshadow

Teknik ini digunakan saat seorang penulis memberikan petunjuk atau teka-teki yang mengantarkan pembaca pada plot selanjutnya. Petunjuk yang disajikan bisa samar atau bisa jelas sekali. Keduanya sama-sama berfungsi untuk memberi sugesti kepada pembaca tentang apa yang akan terjadi selanjutnya dalam cerita. Jenis teknik naratif ini biasa digunakan dalam cerita misteri, detektif, thriller, atau fiksi kriminal.

Framing Device

Teknik ini mencoba untuk membingkai cerita utama ke dalam cerita lain (sekunder), sehingga membuat ‘cerita ada di dalam cerita’. Cara paling umum yaitu membuat karakter yang sedang menceritakan sesuatu pada karakter lain, untuk menceritakannya pada pembaca. Pada banyak kasus, framing device digunakan untuk membuat pembaca bingung dan mempertanyakan reliabilitas dari narator (akan dibahas pada bagian unreliable narrator).

In medias res

Istilah ini berasal dari bahasa Latin, yang artinya ‘into the middle of things’. Seperti maksud dari istilah ini, cerita akan dimulai saat beberapa aktivitas telah terjadi. Biasanya dipakai untuk menarik perhatian pembaca dengan backstory atau kisah-kisah flashback, sehingga pembaca pun dibuat menebak apa yang sebenarnya terjadi pada saat kisah dalam fiksi tersebut belum dimulai.

Contoh: Beberapa kisah dalam novel James Bond karangan Ian Fleming, cerita dimulai dari agen rahasia yang ada di tengah misi, sebelum terjadi flashback saat agen tersebut baru akan memulai misi. Teknik ini juga digunakan pada beberapa film sebagai plot device.

MacGuffin

Teknik ini menggunakan suatu benda sebagai motivasi untuk membawa cerita melangkah maju. Sebagai contoh, pada beberapa kisah thriller menurut Alfred Hitchcock, MacGuffin berupa kalung yang dicari-cari oleh tokoh pendukung, sementara dalam fiksi mata-mata, MacGuffin biasanya berupa kertas-kertas atau data rahasia yang ingin dicari. Meski benda tersebut penting, tapi sebenarnya benda tersebut tidak begitu banyak relevansinya dengan plot cerita.

Contoh: The Maltese Falcon yang ditulis oleh Dashiell Hammett. Tentang seorang PI bernama Sam Spade, yang memburu patung hitam nan berharga, Maltese Falcon. Padahal, inti cerita tidak akan berubah walau tak ada patung itu.

Poetic Justice

Teknik ini bekerja seperti konsep ‘karma’, di mana karakter akan diberikan hadiah untuk perilaku yang baik dan akan dihukum karena jahat. Poetic justice adalah teknik yang umum dalam fiksi. Hal ini dikarenakan, memakai poetic justice cukup mudah dan cerita akan cenderung berakhir menyenangkan (happy ending).

Red Herring

Dalam fiksi, red herring mengacu pada petunjuk atau teka-teki yang biasanya akan berujung pada misleading. Teknik ini dipakai untuk mengalihkan pembaca dari plot twist yang akan muncul, sehingga hasilnya akan mengejutkan pembaca.

Contoh: beberapa cerita detektif dan cerita misteri, yang membuat pembaca selalu menebak apa yang akan terjadi. Dalam The Da Vinci Code oleh Dan Brown, karakter Bishop Aringarosa digambarkan sebagai tokoh antagonis, padahal sebenarnya dia hanya berfungsi sebagai red herring, untuk mengecoh kita dari penjahat sebenarnya.

Tragic Flaw

Teknik ini mengacu pada kekeliruan yang tragis dari karakter utama. Kadang juga terjadi pada tokoh pahlawan dalam cerita. Teknik ini memberikan ciri-ciri perilaku tokoh yang bermasalah sehingga akhirnya tokoh tersebut bisa kalah. Masalah yang muncul bisa berupa kebanggaan, keserakahan berlebih, balas dendam, atau atribut lain. Hasil dari sifat tersebut selalu sama, yaitu kehancuran karakter dan akhir yang tidak bahagia.

Contoh: tragic flaw muncul pada beberapa seri novel George R.R. Martin, ‘A Song of Ice and Fire’. Yang paling terkenal adalah komitmen Eddard Stark yang tidak tergoyahkan untuk menghormati orang lain, sampai hal tersebut menghancurkan dirinya sendiri.

Unreliable Narrator

Teknik ini menggunakan teknik narator yang tidak bisa dipercaya. Narator utama dalam cerita, diduga telah menutup kebenaran yang utama, bahkan menyebutkannya secara salah dengan sengaja dan dengan sadar. Perkembangan teknik ini pada literatur muncul pada kisah detektif Agatha Christie, yang berjudul The Murder of Roger Ackroyd.

Ada beberapa tipe narator yang tidak bisa dipercaya ini. Menurut William Rigan, ada lima unreliable narrator, yaitu The Picaro (terlalu banyak membual dan hiperbola), The Madman (orang gila atau depresi), The Clown (narator yang tidak serius dan bermain dengan ekspektasi pembaca), The Naive (narator yang persepsinya kurang dewasa dan memiliki perspektif terbatas, dan terakhir adalah The Liar (narator yang sengaja salah mengartikan diri mereka sendiri, juga sering mengaburkan masa lalu mereka yang tidak pantas dan kredibilitasnya dipertanyakan)

Scroll Up