Sunday, April 1, 2018

Catatan Editing Naskah Antologi Cerpen 1Minggu1Cerita


Di awal tahun 2018 ini, beberapa anggota dan administrator komunitas #1Minggu1Cerita menginisiasi sebuah proyek menyenangkan. Kami mengerjakan sebuah antologi fiksi, berdasarkan hasil voting akhir saat memilih fiksi atau non fiksi. Dari banyaknya peserta, hanya 21 orang yang berhasil menyelesaikan naskah pasca tenggat waktu.

Setelah itu, naskah pun dikirim melalui surel atau tautan Google Drive, agar bisa saya baca dan sunting. Proofread dibantu oleh Uda Dharma. Kegiatan mengedit secara pro bono alias pekerjaan sukarela ini juga bertujuan untuk menambah portofolio dan pengalaman mengedit naskah fiksi. Ya... walaupun saya menyadari bahwa selera juga kemampuan mengedit saya mungkin bisa dibilang belum cukup, tetapi saya berusaha untuk memberikan insight yang siapa tahu dapat bermanfaat bagi teman-teman blogger di 1Minggu1Cerita.

Saya menyadari bahwa, semua orang pada dasarnya itu mampu menulis, fiksi apalagi. Yang membedakannya tentu hanya kegigihan juga kesempatan. Jika ada kesempatan atau ruang, tentu saja siapapun bisa menjadi penulis andal. Maka, dengan memolesnya sedikit, tulisan-tulisan kawan blogger 1Minggu1Cerita, menurut saya cukup beragam dan memiliki gaya juga daya tarik masing-masing.

Naskah antologi cerita pendek 1Minggu1Cerita yang pertama ini, saya beri judul "Antara Cinta, Budaya, dan Generasi Kita". Judul ini mengacu pada tema utama dari naskah fiksi yang dikumpulkan, yaitu membahas cinta, budaya, dan generasi milenial, maupun gabungan ketiganya. Sampai artikel ini dibuat, naskah utuh kami telah selesai dan sedang berada di penerbit, masuk antrean cetak di bulan Juli. 

Sambil menunggu naskah diproses, saya ingin menuliskan beberapa catatan atau bisa dibilang, unofficial report atas proses editing antologi cerpen ini. Satu kata yang bisa saya kemukakan adalah: melelahkan, walau prosesnya sendiri sih menyenangkan. Mengapa lelah? Tentu saja karena mengedit 21 naskah dengan masing-masing penulis menyampaikan cerita mereka dalam 5 sampai 8 halaman, membuat saya harus ekstra kerja keras dalam membaca isi kepala orang yang berbeda-beda. Rupanya, pekerjaan editor naskah fiksi itu bukan pekerjaan yang mudah dan saya mengakuinya. Sebab proses panjang mengedit naskah ini penuh liku, saya akan coba mengemukakan pendapat saya (di luar hal-hal teknis), mengenai naskah ini. Ada beberapa judul yang saya sukai dan kalian—baik penulis naskah maupun calon pembaca buku kami—selamat menikmati catatan editing ini! :D

Gasiang oleh Dharma Poetra: Dari sekian banyak naskah, menurut saya ini yang paling matang. Mengangkat kearifan lokal dan budaya mistik di Sumatera Barat. Penulis meramu kisah cinta dan obsesi, ke dalam praktik mistisisme dan perdukunan. Selain itu, membaca naskah Uda Dharma ini, tak banyak revisi yang perlu dilakukan. Sisanya hanya masalah teknis. Untuk alur atau logika cerita sendiri, menurut saya sudah runut, tidak membuat kepala pening atau banyak berpikir. Saya merasa terhibur sekaligus amazed dengan naskah ini.

When Two Strangers Meet oleh Ikhwan Alim: Naskah satu ini saya sunting melalui format suggestion pada Google Docs. Saat awal mengedit, cukup banyak masalah teknis pada naskah, juga tidak adanya resolusi atas konflik pada akhir naskah. Namun, menariknya, penulis sepertinya memang mencintai dan paham betul simbol utama dalam naskah, yaitu tentang klub sepak bola. Kisah ini mulanya hanya kisah cinta, tetapi dikemas dengan pendekatan non fiksi, di mana dua orang fans sebuah klub sepak bola di Inggris, saling adu pendapat dan berujung pada pertemuan selanjutnya. Untuk judulnya sendiri, sebenarnya sang penulis belum mengemukakan apa judul yang tepat, hingga akhirnya saya mengusulkan judul tersebut. Menurut saya sih tepat, karena premisnya adalah dua orang asing, sama-sama fans Chelsea dan mereka pun bertemu lalu mengobrol lebih intensif. Menarik dan asyik untuk diikuti.

Cowok Taksiran oleh Annisaa Nurhayati: Naskah ketiga yang saya edit ini bercerita tentang dunia remaja, dunia yang mungkin kita semua telah lama tinggalkan. Namun, rasanya memang hal-hal sederhana remaja yang ada di naskah ini, pernah pula kita rasakan. Hal-hal sederhana seperti saling taksir dan suka, lalu berujung pada perubahan yang terjadi dalam diri. Intinya sederhana, seseorang bisa berubah menjadi lebih baik dengan suatu motivasi, walau motivasi itu hanya sesederhana cinta. Kalau bisa jadi lebih baik karena cinta, tidak masalah kan? :D

Dalam Jiwa Menari Serimpi oleh Reyningtyas Putri: Naskah ini membahas tentang seorang penari pensiun dini, sebab harus mengikuti arahan orang tua dalam memilih karir dan melupakan kecintaannya pada tarian tradisional Jawa Tengah. Pada suatu hari, sang penari bernostalgia dengan kota kelahirannya sembari mencari-cari sanggar tari peninggalan almarhum neneknya. Kita akan dibawa menelusuri kota Solo secara singkat pada naskah ini. Terasa sekali kedekatan antara penulis dengan tema dan latar yang dibahasnya, sebab rasanya kita seperti seorang turis yang dibawa berkeliling dengan orang Solo asli. Temanya memang sederhana, tentang nostalgia, tetapi menurut saya penulis cukup lihai meramu konflik sederhana menjadi sebuah cerita yang membuat kita pun akan mempertanyakan akar kita sendiri.

Merindu Langit oleh Octy VZ: Naskah ini awalnya saya edit dan komentari pada bagian perubahan sudut pandang yang tiba-tiba. Setelah mengobrol singkat dengan penulisnya, akhirnya sudut pandang tokoh dalam naskah ini, tidak berubah-ubah, melainkan tetap satu POV, yaitu POV1 alias tokoh aku. Awalnya, naskah ini memiliki POV3 di akhir. Mungkin tujuannya untuk menciptakan plot twist singkat. Namun, setelah melihat ada lubang plot karena perubahan POV yang tiba-tiba ini, akhirnya sang penulis meramu kembali naskahnya dan berakhir baik. Lihat kan? Betapa semua orang pun bisa menjadi penulis andal hanya dalam waktu singkat. Itu semua tentu berawal dari kegigihan penulis itu sendiri. :D

Kenangan dan Masa Kini oleh Zahra Zahira: Dalam naskah ini, kita akan dibawa mempelajari pop culture di Jepang. Sang tokoh berbicara dalam bahasa Jepang, dan ini merupakan satu kelebihan karena sang penulis rupanya memang menguasai bahasa Negeri Sakura tersebut. Premisnya sendiri memang sederhana, hanya tentang dua orang yang jarang mengobrol selama kurang lebih lima tahun dan tiba-tiba bisa menemukan begitu banyak hal yang mereka bicarakan setelah kembali bertemu. Itulah mengapa, kenangan yang dipupuk selalu menimbulkan nostalgia. Naskah ini cukup segar dan percampuran antara penggunaan bahasa Jepang dengan Sunda, menyenangkan untuk dilihat. Cross-culture gitu. XD

Teman Alami Dalila oleh Venessa Allia: Naskah selanjutnya ini, termasuk satu yang mencampurkan dua tema, yaitu cinta dan generasi milenial. Kita dibawa masuk dalam hubungan era 2.0 alias era digital. Semua serba video call, semua serba chat. Dari semua hal itu, sampai kita lupa pada apa yang paling dekat. Kita lupa pada apa yang berharga, tetapi kita tetap tak bisa melihatnya. Rupanya, cinta era digital membuat yang jauh seolah-olah dekat, padahal yang dekat itu benar-benar ada dan hanya sejengkal langkah. Tetapi, era digital merusak itu semua. Sungguh sedih~ Pada akhirnya, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa sebenarnya, era digital membuat kita lupa esensi cinta. *Azeg~

Bisikan Rindu oleh Merisa Putri: Ini adalah naskah berisi bahasa Minang yang kedua, yang saya edit dan baca tentu saja. Setelah Gasiang, naskah ini pula yang membuka mata akan satu daerah yang jauh dari jangkauan saya, tetapi ingin saya ketahui. Melalui kacamata sang penulis, kita dibawa pada satu kenyataan bahwa cinta seorang ibu selalu mengalir tatkala sang anak tidak bisa paham akan pengorbanan ibu untuk membesarkannya. Ceritanya sendiri cukup sedih kalau menurut saya, karena ini termasuk salah satu cinta mutlak seorang ibu, bukan cinta suwung anak muda. Namun, membaca ini bisa menghibur sekaligus membuat kita berkaca, apakah selama ini kita telah benar-benar mencintai dan menyayangi Ibu sepenuh hati? :')

Mimpi Tak Selalu Pasti oleh Raya Makyus: Ini naskah kedua yang judulnya saya sarankan pada sang penulis. Saya agak lupa juga sih (karena mengeditnya sudah lama banget), awalnya apa judul naskah ini. Naskah ini juga cukup sederhana. Mengambil tema cinta, tetapi premisnya tentu saja berbeda dari naskah yang lain. Kita akan dibawa menyelami alam bawah sadar sang tokoh, yang berusaha mencari jodoh. Sekian purnama, sekian tengah malam, ia lewatkan dalam doa-doa dan ia mendapatkan sebuah mimpi. Akankah mimpi itu jodohnya? Rupanya, di akhir cerita, kita akan mendapati bahwa sang tokoh ini sedang menyelami memorinya akan sebuah mimpi di masa lalu yang memang tak selalu pasti sampai ke masa depan. :D

Bunda oleh Hani Widiatmoko: Dari naskah ini, saya bisa merasakan bahwa usia dan kedewasaan, rupanya bisa membedakan bagaimana napas dari sebuah tulisan. Naskah Bunda, merupakan salah satu yang menunjukkan bahwa sang penulis tentulah telah lebih matang dalam pemikiran daripada diri saya sendiri. Naskah ini membahas cinta seorang ibu, sama seperti naskah Bisikan Rindu oleh Merisa Putri. Sama-sama membahas tentang cinta seorang ibu, hanya saja dieksekusi dengan cara yang berbeda. Perspektif yang disajikan tentu saja berbeda pula dan bisa membuat kita menyimpulkan bagaimana kerangka berpikir seseorang bisa berawal dari premis yang sama, tetapi dengan perbedaan pengalaman dan perjalanan hidup, hasil yang muncul akan berbeda.

Pelakor oleh Maria G. Soemitro: Naskah ini membahas fenomena paling update pada kancah percintaan orang dewasa, yaitu tentang fenomena perebut laki orang. Pada awal mengedit, saya belum paham betul judul naskah ini, sebab rupanya saya kurang update pada bahasa atau singkatan-singkatan yang sedang merajalela di ranah sosial media. Pelakor sendiri memang berasal dari singkatan kata perebut laki orang—yang mana saya malah tahunya dari suami saya tentang istilah ini. Ada sedikit unsur anak yang jadi berperilaku abusive karena fenomena pelakor ini dan si tokoh utama, mencoba untuk tidak mengajarkan anak lelakinya bersikap seperti itu. Sebab, rantai utama masalah pelakor, harus berhenti di tangannya, dengan tidak membuat sang anak jadi lelaki abusive dan tidak bertanggungjawab.

Ketika Fania Harus Memilih oleh Rahma Mocca: Mengedit naskah ini cukup melelahkan, sebab banyak dialog tag yang kurang tepat. Ada beberapa hal yang harus diperbaiki, walau ceritanya sendiri menarik karena dibangun dari kebingungan tokoh wanita bernama Fania dalam memilih pasangan hidup. Memang sih, saya menganggap ujung cerita ini agak terlalu gimana ya. Saya menganggap si tokoh Fania sungguh plin-plan, bahkan tidak bisa jujur pada Shaddam. Mengapa ia harus bertahan begitu lama dengan seseorang yang bahkan tidak ia yakini untuk ia jadikan pendamping hidup? Dari sana, saya berpikir bahwa, oh mungkin ini memang premis yang ingin ditawarkan penulis, yaitu tentang kehidupan cinta new adult masa kini yang penuh PHP. 

Ia yang Menemaniku oleh Rhoshandhayani KT: Naskah selanjutnya ini memiliki sudut pandang orang pertama. Tokoh aku bercerita tentang lika-liku kehidupan kampus dan organisasi, juga bagaimana ia harus menjalani lay-low relationship (bahasa apa ini? wkwkwk) dengan sang kekasih lantaran mereka ada dalam satu organisasi yang sama. Tokoh utama mengalami dilema, bahwa pacaran yang ia lakukan selama ini menurutnya salah. Ia memang tak pernah melakukan hal-hal yang melawan moral atau agama, tetapi tetap saja, pacaran itu tak tepat walau ia merasa, orang-orang yang sok menceramahinya itu hanyalah sekumpulan orang sok suci. Ini premis menarik, sebab sebagian besar dari kita pasti pernah mengalami dilema yang kadang disebut quarter-life crisis. Usia menjelang 25 tahun alias menuju fase new adult, memang membuat seseorang berada di ambang kebimbangan. Harus menjadi apa? Harus menjadi lebih baik atau menjadi seseorang yang bagaimana jika sudah merasa baik? Mau kerja apa, mau menikah sama siapa? Dan lain sebagainya. Ini pula yang ditawarkan pada naskah dari Kak Ros, tentang dilema kehidupan dewasa-muda.

Cinta Itu Tentang Rasa oleh Devi Fabiola: Kisah dalam naskah ini bercerita tentang pasangan suami istri yang sedang mengalami pilihan-pilihan tersulit dalam kehidupan rumah tangga. Pilihan-pilihan sulit itu, harus diselesaikan bersama, sebagai sepasang suami-istri tentu saja. Bagaimana upaya tetap menghadirkan cinta dalam kehidupan rumah tangga yang pasang surut, dan menyelesaikannya tanpa harus ada perpecahan. Itulah yang ditawarkan oleh naskah ini. Kita akan dibawa pada perjalanan 'rasa' dari dua orang yang sedang dilanda 'hambar'.

Cerita Sekolah Farah oleh Fera Marentika: Cerpen CiFer (begitulah panggilan penulis) adalah cerpen ketiga yang mendapatkan saran judul, setelah saya mengobrol panjang lebar dengan sang penulis. Berkisah tentang seorang remaja bernama Farah yang punya mimpi untuk bersekolah di tempat terbaik dan menjadi signifikan. Namun, perjalanan mencari sekolah di era sekarang ini rupanya tak semudah masa lalu. Banyak pesaing, banyak yang nilainya lebih baik, belum lagi banyaknya tes yang melibatkan fisik juga kondisi tubuh, akan membuat masuk sekolah tingkat atas menjadi lebih sulit. Dari naskah lainnya, naskah ini termasuk berbeda, karena naskah ini seperti menyajikan masalah generasi kini yang sama sekali luput dari pandangan kita semua. Jika banyak orang berkutat dalam kisah cinta, naskah ini tidak berkutat di hal itu. Naskah ini justru membongkar fenomena, betapa anak sekarang mulai sulit mendapatkan sekolah, sejak banyaknya kebijakan yang dirombak terkait pemilihan sekolah tingkat atas.  Kita kerap melupakan, bahwa pendidikan adalah hal yang kini mulai sulit didapat. Oleh orang berpunya saja, uang tak cukup untuk membeli pendidikan, karena ada banyak kompetensi yang harus dimiliki. Dan Farah, dalam cerpen ini, menggambarkan hal-hal itu dalam pergulatannya untuk memilih sekolah.

Kala Hujan oleh Reytia Anindita: Cerpen ini membawa kita pada suatu kisah "fantasi", jika tidak bisa disebut "realisme magis", di mana si tokoh aku mencapai akhir hidup dan diberikan satu kesempatan untuk melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sebelum kembali pada kegelapan absolut. Cerpen ini secara sederhana ingin memberitahu kita, bahwa kita sudah pasti tidak akan bisa kembali ke dunia setelah mati, dan jika memang ada kesempatan, maka gunakanlah kesempatan itu untuk menyelesaikan hal-hal penting dan bermanfaat sebelum kita tiada.

Senja dan Fajar oleh Mega Novetrishka Putri: Penulis cerpen ini mengatakan bahwa ia terinspirasi dari lagu Tohpati feat Shakila yang berjudul Lukisan Pagi. Premis utama adalah tentang pertemuan dua orang yang sama sekali berbeda, tetapi memiliki kecintaan yang sama pada langit, entah senja atau fajar. Keduanya menghabiskan waktu di tepi pantai, mengagumi keindahan cakrawala dan pada akhirnya saling memahami, suatu kebetulan semesta. 

Konde oleh Ismail Sunni: Cerpen ini salah satu yang bernas sih menurut saya, walau sang penulis mengklaim bahwa ini adalah proyek fiksi pertamanya. Selain teknis dialog yang harus diperbaiki, sisanya oke. Jalan cerita juga tidak berlubang dan gaya berceritanya jenaka. Disisipkan dengan detail tentang kegiatan programmer kala senggang, seperti menonton video panda atau video kucing. Hal-hal yang ada di cerpen ini, sadar atau tidak, sangat dekat dengan keseharian kita. Akhir cerpennya juga kocak dan ada sedikit plot twist. Pengalaman mengedit yang menyenangkan, sebab bisa ikut tertawa karena membaca cerita Ismail Sunni.

Rindu Dendam oleh Maryati Imang: Cerpen ini menawarkan kita cerita hantu masa lalu, yang tentunya dimiliki oleh setiap orang. Bagaimana langkah kita menuju masa depan, selalu terikat dengan hantu masa lalu ini. Pada akhirnya, kita akan dipertemukan kembali dengan masa lalu yang tidak bisa kita lompati begitu saja, sebab bagaimanapun, sosok itu pernah berada di kehidupan kita selama beberapa lama. Inilah cerita tentang bagaimana seseorang harus benar-benar memilih untuk move on walau sulit.

Cinta untuk Wayang oleh Lukma Dwi Affandy: Cerpen ini menceritakan tentang bagaimana fenomena informasi bisa menjadi viral dan mendapatkan banyak tanggapan di media sosial. Memang sih, saya akui ada beberapa plot hole dalam cerpen ini, tetapi revisinya akan sulit jika interaksi dengan penulis agak terbatas. Saya akui lagi, bahwa ini seharusnya bisa menjadi lebih berisi jika dilakukan penutupan konflik yang tidak terburu-buru. Sebab, saya merasa ada hal yang kurang nendang dari naskah ini, kira-kira begitu istilahnya. Padahal, sajian premisnya menarik dan sangat dekat dengan generasi milenial, tetapi eksekusinya mungkin kurang halus.

Sepasang Mata Bola yang Menari oleh Peppy Febriandini: Cerpen terakhir ini berkisah tentang nostalgia. Cerpen ke-sekian yang menawarkan tentang nostalgia dan masa lalu. Diilhami dari sebuah lagu lawas kesukaan sang kakek, Lia memutuskan duduk di sebuah kafe. Siapa nyana, duduknya ia di sana, malah mengantarkannya pada masa-masa di mana ia masih tinggal bersama kakek tercinta yang gemar mendengarkan lagu Sepasang Mata Bola. Kisah yang menarik, antara hubungan kakek-cucu berbeda generasi yang saling memaknai hidup dari sebuah lagu lawas.

Nah, itulah 21 naskah yang telah saya edit dan saya bahas sedikit catatannya pada artikel kali ini. Saya ingin mengatakan bahwa ini adalah pengalaman yang menyenangkan. Bisa menyelami berbagai pemikiran seseorang dalam fiksi, tentulah bukan sembarang pengalaman. Biasanya, saya kan memang mengedit dan membaca naskah-naskah kriminal dari kawan-kawan di ThrillingMysteryClub saja. Jadi, membaca naskah cerpen untuk Antologi Cerpen #1Minggu1Cerita ini adalah hiburan tersendiri.

Bagi teman-teman yang berkenan untuk membacanya, nantikan hasil cetak "Antara Cinta, Budaya, dan Generasi Kita", sebuah antologi cerpen dari komunitas #1Minggu1Cerita yang akan terbit Juli nanti. Kalian bisa memilikinya dan juga ikut menyelami cerita-cerita yang disajikan oleh teman-teman blogger di #1Minggu1Cerita. Nantikan di bulan Juli ya! :D

14 comments:

  1. Wah.. menarik banget mbak.. tapi kok aku nggak tau ya? Atau jangan-jangan waktu itu aku belum masuk group wa? Hmm..Kalau tau pasti aku ikutan submit naskah.. hehe.

    Semoga bukunya sukses.. salut sama mbak Ayu yang bersedia meluangkan waktunya untuk menyunting naskah penulis lain. 21 naskah! Wow!

    Semoga proyek antologi seperti ini bisa diadakan secara rutin ya.. amin.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya belum masuk group, Mbak. Soalnya ini antologi sudah diinisiasi dari akhir tahun 2017, tapi proses editing dan revisi yang memakan waktu, membuat naskah ini baru selesai Februari lalu. Ditunggu saja yaa jadwal terbit naskahnya. Ke depannya semoga bisa mengadakan antologi lagi.

      Delete
  2. kak ayu terbaaaaaiiiikkkk ❤❤❤❤❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. kamu jugaaa. wkwk. akhirnya berhasil mengubah POV3 jadi total POV1. :D XDD

      Delete
  3. Kereeenn ihh, emang kece badaiii member #1m1c, jadi pengen segera baca ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ditunggu ya Mbak. Nanti akan dibuka PO sekitar akhir Juni (menjelang terbit). :D

      Delete
  4. ayuuuuu baca bahasan dr kamu bikin aku berbinar2 ... masya allah ... rejeki ketemu org2 keren di 1m1c ... padahal ini lg mabok darat ini .. ga bisa pegang hp dan bela2in nahan muntah buat baca tulisan ini 😆😆😆😆

    sukses terus utk ayu dan 1m1c😍😍😍😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow! Mabok darat? Lagi dimanakah gitu Teh? :o

      Delete
  5. Replies
    1. Terima kasih sudah berpartisipasi ya! :D

      Delete
  6. Wkwkwk.. maaf sudah mmbuat kak ayu merasa kelelahan krn ngeditin naskahku. Emg bnr ya... salut 21 org dan kak ayu mencoba menginterpret kan kemana arah maksud penulisnya ktika mengedit. Barokallahu y. Smoga makin sukses buku2nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat juga yaaa, Teh. Selamat karena telah berhasil merampungkan naskah sebelum tenggatnya lewat. :D

      Delete
  7. wahhh ketinggalan proyek antologi lagi nih,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe. Sorry~ soalnya sudah dari akhir Desember nih mulainya. :)

      Delete