Thursday, March 8, 2018

Tentang Penggunaan Kata "Merubah" (Bonus Link PUEBI)

Saya seorang grammar nazi, tetapi tidak terlalu parah sampai di mana-mana harus memakai kata-kata baku. Saya hanya tipe orang yang senang mengomentari kesalahan penulisan dan mengoreksinya, tetapi tidak sampai ribut juga sih. Namun, sampai saat ini, saya masih saja ingin berkomentar "aduh, salah nih" kalau ada yang menggunakan imbuhan me+ubah dan dibaca "merubah". Apakah dia menjadikan rubah? Apakah merubah itu ada di KBBI?

Kata baku ubah, dapat dikombinasikan dengan berbagai imbuhan. Misalnya, diubah, mengubah, perubahan, pengubahan, berubah, terubah, memperubahkan, dan lain sebagainya. Mungkin, sebagian orang masih memakai kata merubah karena alam bawah sadarnya terlanjur membiasakan diri dengan "berubah" atau "perubahan", sehingga menganggap imbuhan me+ubah adalah merubah. Padahal, itu salah besar. Kata tersebut bahkan tidak ada di KBBI versi terbaru. Mengingat kemunculan kata "merubah" ini, saya suka merasa geli sendiri dan saya jadi ingat ketika pertama kali menerbitkan novel dan harus berhadapan dengan editor yang grammar nazi.

Saya pernah diomeli oleh editor saya melalui surel, hanya karena saya menggunakan imbuhan yang tidak tepat. Kala itu, saya hendak menerbitkan novel pertama saya. Tentu saja, sebagai pemula saya bisa dibilang belum terlalu memperhatikan tata bahasa yang baik dan benar. Saat itu pula, saya sempat bingung. Namun, setelah masa itu lewat, kini saya membiasakan diri untuk melakukan swasunting sebelum mengirimkan naskah novel ke penerbit. Hal ini tentunya akan memudahkan saat revisi nanti, sebab secara teknis, tidak banyak yang harus saya koreksi.

Lantas, bagaimana cara saya menanggulangi kurangnya pengetahuan saya itu? Tentu saja dengan banyak membaca. Ya, sesederhana itu.

Sejak menerbitkan novel lewat penerbit skala major, saya jadi banyak membaca. Tak hanya buku fiksi, tetapi juga buku-buku penunjang karir kepenulisan saya. Bagi seorang penulis, ilmu itu tidak akan ada habisnya, karena zaman juga terus berubah. Saya harus terus memperbarui teknik kepenulisan sesuai dengan kaidah tata bahasa yang terus berubah, juga tren bacaan di sasaran pembaca saya. Hal ini tentu saja mengharuskan saya ikut serta menjadi pembaca aktif. Untuk melihat pangsa pasar, saya harus melihat isi buku-buku lain yang genre atau pembahasannya mirip dengan novel-novel yang akan saya terbitkan di masa depan. Kejelian ini juga yang mengantarkan saya menjadi seorang grammar nazi.

Mula-mula saya hanya berkomentar biasa saja. Namun, seiring dengan begitu banyaknya sumber daya tentang ketatabahasaan untuk saya pelajari yang tersebar di jagat daring, saya mulai berubah jadi orang yang kritis pada tata bahasa. Tentu saja, saya juga tak seratus persen benar. Jadi, komentar dan kritik tersebut akan berujung pada diskusi Bahasa Indonesia yang menyenangkan. Saya banyak membuka laman KBBI daring (tentu saja karena saya tak punya versi cetak), juga laman pembaruan EYD menjadi PUEBI yang diunggah oleh Pak Ivan Lanin ke media Github dan media sumber terbuka bernama Read the Docs. Hal ini menyenangkan, karena saya bisa mengubah metode pemilikan buku-buku penting seperti kamus yang terlampau berat, sebab telah ada sumber daya yang tersebar secara daring.

Namun, entah mengapa, masyarakat kita tetap terbiasa berkata, "Rubahlah!"

Bukannya berseru, "Ubahlah!"

Apakah kita semua masih tetap ingin "menjadi rubah" (walau tetap saja, kata merubah tak ada di KBBI) dan bukan "menjadikan lain dari semula"?

Ayolah, teman-teman—yang mengaku—penulis. Upgrade tata bahasa Anda sedemikian rupa, sebab kini telah banyak metode yang bisa dipakai untuk menambah pengetahuan tak hanya dari bangku sekolah. Sebab penulis adalah agen perubahan, maka janganlah menulis dengan tata cara yang kurang tepat.

Untuk memudahkan teman-teman, saya bagikan juga tautan-tautan terkait informasi PUEBI atau KBBI di bawah ini:
Semoga bermanfaat dan tetap semangat! :)

***

Baca juga, seri Tips Menulis Fiksi di bawah ini.

8 comments:

  1. Setuju banget ini mbak, saya juga lagi berusaha banget buat nulis sesuai EYD meskipun cuma di blog supaya semua orang yang baca paham dan tidak salah mengartikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget, Mbak. Sebab, kalau salah arti atau ada miss perception dari pembaca kan, maksud dan tujuan utama tulisan itu malah jadi tidak tersampaikan. :')

      Delete
  2. Denger lagu Adera "dan kau hadiiir merubah segalanyaaa", ku geregetan, haha.

    Kata lain, menyusu vs. menyusui. Geregetan kalau ada yang nulis begini "Bayi saya menyusui ...". Gimana caranya bayinya menyusui, argh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal menyusui = memberi air susu. Masa bayinya yang memberi air susu deh? XD

      Delete
  3. Saya penulis pemula. Belajar menulis bukan karena suka atau bakat, tapi karena saya merasa menulis merupakan kompetensi yang harus saya miliki.

    Awal menulis dulu, fokus saya hanya ke menyelesaikan tulisan. Saya memegang prinsip "tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai". Wong nulis essay pendek saja dulu butuh waktu dua minggu 😅.

    Saat sudah semakin luwes dalam menulis, keinginan untuk memperbaiki tulisan agar sesuai EYD timbul dengan sendirinya.

    Semoga para grammar Nazi tidak galak-galak terhadap pemula seperti saya...haha.

    Terima kasih sudah banyak berbagi tips di blog, Mbak 😍

    Salam Kenal ♥

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Mbak Turseena Amelia.

      Terima kasih telah mampir. Wah, senang sekali kalau ada yang bisa mengambil sedikit manfaat dari blog tips menulis "ala-ala" ini. Semoga dari beberapa pengalaman menulis yang saya bagikan di sini, bisa menambah pengetahuan Mbak dan juga bisa diaplikasikan ketika akan menulis lagi.

      Salam kenal juga, Mbak! :)

      Delete
  4. buat penulis ala2 yang nulis di blog sebagai jalan pengisi waktu kaya aku ... jujur .. aku bukan tipe yg merhatiin tata bahasa. padahal akika anak guru bahasa indonesiah 🙈 #mintadijitak.

    tapi tapi ... sepakat sih .. kalo penulis agen perubahan .. berhubung aku berniat jadi penulis (paling ga blogger), jadi kudu di teke biar melek tata bahasa ya ...

    semoga penyakit malas tidak melanda #jitaklagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jabaning Uni belajar bertahun-tahun berjibaku dengan grammar. 😂😂


      Kak Ayu, aku suka gregetan sama tulisan yang banyak grammar error-nya, apalagi ternyata itu adalah tulisan aku. Makin greget. 😂😂
      Semoga pengalaman edit naskah antologi kemarin ngga bikin Kak Ayu trauma ya. 😅

      Delete