Saturday, December 16, 2017

Nukilan Novel Mata Pena dan Sepotong Kisah Proses Menulis



Saat post ini diunggah ke ayuwelirang.com, naskah novel thriller saya yang pertama sudah ada di meja penerbit dan sedang mengalami pendedahan. Akhirnya, naskah sebanyak 57.000 kata dengan jumlah halaman 189. Ini merupakan naskah thriller pertama saya yang selesai (karena bisa dibilang saya memiliki 2 judul naskah thriller lain yang menunggu diselesaikan). Naskah ini menjadi naskah thriller pertama yang bisa diselesaikan dalam jangka waktu 10 bulan. Haha. Lama ya? Maklum lah, sedang kurang produktif dan sering terdistraksi hal-hal lain.

Naskah ini telah saya swasunting sebanyak dua kali sebelum mengirimnya ke penerbit. Bisa dibilang hasil swasunting juga belum terlalu maksimal, karena saya masih kurang tega sama naskah sendiri. Banyak adegan yang masih tidak saya potong, tentu saja karena saya tidak tega. Tapi, sambil menunggu informasi dari editor, saya coba untuk merapikan naskah ini sehingga nantinya tidak terlalu sulit saat revisi.

Untuk proses penulisan sendiri, saya melewatinya dengan banyak membaca buku serupa, menonton film yang bertema investigasi dan kewartawanan, juga banyak riset mengenai posisi di kepolisian maupun di redaksi koran harian juga majalah mingguan dengan banyak tulisan feature yang mendalam. Kemudian, teknis penulisan atau pembagian porsi tokoh (kebetulan tokoh di novel ini cukup banyak), jadi saya membaca novel-novel thriller Indonesia yang melibatkan banyak tokoh, seperti Katastrofa, Spammer, Rencana Besar, Sudut Mati, Metropolis, dan lain-lain.

Nah, tanpa banyak bicara lagi, saya lampirkan nukilan novel saya yang rencananya akan diberi judul "Mata Pena". Selamat membaca!

P.S. 
Untuk mengikuti proses penulisan Mata Pena lainnya, silakan cek dan klik label Mata Pena.

***

Mata Pena - Bagian 1

Sejak pagi, Saski sudah sibuk merapikan portofolio artikel berita yang ia tulis dan juga riwayat hidup. Setelah melahap nasi goreng, minum kopi, dan kumur-kumur membersihkan gigi, ia lalu bergegas untuk berangkat menuju wawancara kerja yang ke-10 kali di tahun ini. Sudah setahun ke belakang ia menganggur, dan kini ia butuh uang. Ibunya yang pensiunan guru, membuat ia merasa tak enak kalau kerjanya hanya menganggur saja di rumah. Dan setelah melewati renungan panjang, ia pun memutuskan untuk bekerja.

Saski pun keluar rumah. Berlari kecil, ia menuju ibunya yang sedang menyiram bunga-bunga di halaman rumahnya, sambil sesekali menghalau ayam peliharaan keluarga yang penasaran dengan bunga-bunga.

“Bu, Saski berangkat dulu. Doakan!” seru Saski senang. Ia lalu mencium punggung tangan Ibunya dan bergegas keluar pagar yang langsung menghadap gang kecil di belakang dinding tinggi Balai Sudirman.

Interview ke berapa ini?” tanya Ibunya prihatin. Pasalnya, sudah beberapa panggilan kerja ia datangi, tapi belum ada satu pun yang berhasil.

Sambil berlari meninggalkan rumah, Saski berseru, “Semoga yang ini lolos, udah tinggal user interview!”

Sampai di stasiun Tebet, kereta yang Saski akan tumpangi masih berada di stasiun Cawang. Saat bunyi lonceng stasiun terdengar, ia bersiap menaiki kereta jurusan Bogor - Jatinegara yang melewati stasiun Sudirman. Dengan begitu, ia tak perlu transit di Manggarai untuk berpindah kereta. Kereta pagi sudah pasti penuh seperti biasa dan kemungkinan di Manggarai, penumpang akan berjubel jumlahnya. Saski memutuskan untuk berdiri di dekat pintu keluar kereta agar tidak harus berdesakkan dengan pekerja lainnya yang menuju tengah kota Jakarta.

Diliriknya jam di pergelangan tangan kanannya, dan ia beberapa kali menghela napas khawatir. Pasalnya, tiga puluh menit lagi waktu wawancara kerja akan dimulai dan kereta yang ia tumpangi masih tertahan di antara Manggarai - Sudirman. Sudah jadi rahasia umum kalau kereta jurusan yang satu ini memang kadang sering tertahan di jalur menuju Sudirman. Sambil menunggu kereta melanjutkan perjalanan, Saski mengecek telepon genggamnya. Dibukanya situs berita dan mulailah ia mempelajari isi dari berita yang disediakan oleh situs berita itu.

***

“Mas Satria! Rayi ada info nih,” seru seorang reporter perempuan sambil berlari kecil ke arah Satria--pria berambut gondrong ikal sebatas leher, berusia 28 tahun yang menjadi ujung tombak terbitnya headline  kontroversial harian Lugas.

Sambil mengikat rambut gondrongnya lalu menyiapkan kamera, Satria menjawab, “Ada apaan dia? Penting nggak nih infonya? Gue buru-buru mau ke konferensi pers Priyanka sama Subono.”

“Rayi bilang, rangkaian hilangnya mahasiswa itu kemungkinan ada sangkut-pautnya sama organisasi militannya Barus Purna. Dia tanya, selanjutnya dia ke redaksi dulu atau gimana? Dia mau kejar narasumber lain,” jelas Fira, reporter perempuan yang badannya mungil itu.

“Barus Purna?” Satria menghentikan kegiatan merapikan kamera. Sesungging senyum antusias terbit di bibirnya. Ia lalu bergegas memasukkan peralatan ke dalam ranselnya sebelum benar-benar pergi. “Ya udah, nanti gue hubungi Rayi langsung deh. Lo sekarang rapikan aja hasil laporan soal kasus korupsi pengadaan buku braille untuk tuna netra. Oh ya, nanti tolong info Ibu Bos ya kalau beliau tanya gue ke mana.”

“Siap Mas!” seru Fira antusias. Ia lalu kembali ke meja, beriringan dengan Satria yang segera menuju parkiran kantor redaksi harian Lugas. Beberapa menit kemudian, ia sudah berada di atas motornya menuju acara konferensi pers calon gubernur pasangan Priyanka Mukti dan Bagus Subono.

***

Ruangan berpendingin yang kini Saski singgahi adalah ruangan rapat para redaktur dan reporter Majalah Integral. Saski menggoyangkan paha kanannya ke atas dan ke bawah, tanda ia cemas dan grogi. Ia sedang menunggu salah satu redaktur di Integral untuk mewawancarainya. Hari ini adalah tahap wawancara langsung dengan user atau yang biasa disebut user interview. Dan user yang dimaksud adalah salah satu redaktur dari majalah tersebut. Sambil melihat sekeliling, ia mengintip melalui sela-sela kaca ruang rapat yang tidak tertutupi pelapis. Di sana, ia melihat kondisi redaksi yang sangat sibuk. Telepon berdering, suara orang berteriak dan lalu lalang, juga suara orang mengetik dengan cepat di atas papan ketik komputer. Sementara itu, ruangan rapat di mana Saski berada begitu sunyi. Saski memfokuskan pikirannya dan menghalau grogi yang menjalari dirinya. Dilihatnya jam dinding di bagian atas papan tulis, dan setelah itu diperhatikannya jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Kedua jam itu berbeda sepuluh menit. Saski lalu menyamakan jam di tangannya dengan yang ada di dinding. Meski ia belum tahu apakah akan diterima atau tidak, ia bersiap untuk menyamakan ritme detik pada kedua jam itu.

Pintu ruangan rapat terbuka, dan suara ramah perempuan menyapa Saski. “Aduh maaf ya menunggu lama. Saya tadi nunggu berkas kamu dari HRD dulu nih.”

Saski pun berdiri dan hendak menyalaminya, namun perempuan itu berkata, “Duduk aja, nggak apa-apa.”

Saski tersenyum ramah dan kembali duduk. Kemudian, mereka pun bersalaman. “Saya Saski Prasanti, Bu,” jelasnya ramah.

“Saya Saraswati Liman, redaktur desk Lingkungan, Kesehatan, dan Teknologi atau Lingkestek. Panggil saya Mbak Saras aja,” balas Saras, perempuan ramah berambut pendek dan memakai kacamata tebal menghiasi tulang hidungnya yang mancung. Ia lalu melanjutkan, “Nah, kita mulai aja wawancaranya ya. Silakan perkenalkan tentang diri kamu dan kenapa kamu tertarik melamar sebagai reporter desk Kriminal? Oh ya, santai aja ya. Anggap aja sedang ngobrol-ngobrol.”

Saski mengangguk dan ia pun mulai bercerita tentang ketertarikannya melamar ke Majalah Integral. Sedangkan Saras sesekali melihat rekam jejak kehidupan Saski yang dituliskannya dalam sebuah curriculum vitae sederhana, tanpa banyak pengalaman kerja.

Sambil berdehem kecil, Saras bertanya, “Jadi, kamu belum pernah kerja secara formal sama sekali ya, di dunia pers?”

“Belum Mbak. Saya hanya mempraktikkan jurnalisme warga aja biasanya. Beberapa berita yang saya temukan dari berbagai sumber, atau yang sedang terjadi di sekitar saya, biasanya saya bagikan melalui situs jurnalisme warga yang cukup banyak tersebar di dunia maya,” jelas Saski.

“Contohnya situs apa saja?”

Saski berdiam agak lama sebelum akhirnya melanjutkan, “Biasanya saya bagi lewat matapena dot com dan inspirasikini dot net, Mbak.”

Saras mengangguk paham. Ia pun bertanya lagi, “Tapi, kamu bisa pastikan berita yang kamu tulis itu objektif tanpa menyudutkan pihak tertentu? Saya pernah dengar sedikit selentingan, inspirasikini dot net itu pernah terlibat kasus saat pemilihan presiden pada tahun 2014 silam. Kantor redaksinya yang tidak seberapa itu juga pernah didatangi pihak tak dikenal dan dilempari batu, bukan?”

“Kalau dari sisi saya pribadi, saya pastikan kalau berita yang saya tulis sudah objektif. Tapi, biasanya kontributor tidak tetap seperti saya itu tulisannya dikirim lewat surel dan tidak pernah melihat langsung proses editorial yang berlangsung di kantor redaksi. Jadi, kalau masalah isi beritanya yang sering diputarbalik, saya juga tidak paham. Waktu itu, yang saya pikir hanyalah kesenangan saya menulis berita. Saya tidak tahu kalau ujungnya jadi seperti itu,” jelas Saski tanpa ragu. Saski lalu mengelap keringat yang meluncur dari dahinya. Ruangan berpendingin yang kini berisi Saski dan Saras itu entah kenapa jadi lebih mengintimidasi. Saski jadi semakin grogi.

Saras yang memperhatikan Saski dari lirikan kecil, akhirnya sedikit tertawa. “Aduh maaf ya, jadi serius gini. Kamu nggak grogi kan?”

Pertanyaan retoris. Sudah pasti Saski grogi. Tapi, ia hanya mengangguk malu dan mengambil tisu di meja setelah dipersilakan oleh Saras.

“Nah saya lanjut lagi ya. Kalau Mata Pena sendiri saya kurang tahu. Ini media independen ya?” tanya Saras melanjutkan.

Kali ini, Saski membangun kembali kepercayaan dirinya dan menjelaskan dengan runut.

“Mata Pena ini sejujurnya media independen yang saya kembangkan bersama beberapa teman semasa kuliah yang satu UKM dengan saya. Namun, karena beberapa teman sudah memiliki pekerjaan tetap, mereka hanya menyumbang artikel saat sempat saja. Untuk memastikan bahwa situs ini tetap valid sebagai media independen dan konten alternatif untuk pembaca, saya yang masih nganggur harus banting tulang untuk mengisinya. Jadi, alasan saya setahun belakangan belum mencari pekerjaan formal dalam dunia pers, karena saya bertindak sebagai penanggung jawab Mata Pena sekaligus untuk mengisinya dengan informasi dan berita terkini agar situs tersebut tidak mati. Bagi saya, media independen ini penting, karena dari yang saya lakukan setahun belakangan hasilnya cukup terlihat. Media ini tidak berat sebelah dan netral. Untuk lebih jelasnya Mbak Saras bisa melihat langsung ke halaman situs tersebut. Oh ya, ini juga ada beberapa artikel yang sudah saya cetak. Mbak bisa baca artikel asli dan artikel yang sudah memasuki proses sunting di Inspirasi Kini.”

Saras tertarik melihat persiapan wawancara Saski. Semua hal sudah dipersiapkan secara matang dan sepertinya ia memang siap. Dilihatnya waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang, dan Saras harus menutup wawancara kali itu.

“Nah, sepertinya sekian dulu wawancara kali ini. Saya sendiri tertarik dengan kamu dan penjelasan kamu, tapi saya harus diskusi dulu dengan redaktur pelaksana di Integral dan Bapak Pemred. Kebetulan, mereka berdua sedang tidak ada di tempat, jadi mungkin akan ada proses wawancara terakhir. Untuk berkas artikel punya kamu ini boleh saya bawa ya?”

Saski mengangguk lega dan ia pun menjawab, “Boleh, Mbak. Silakan dipertimbangkan.”

Mereka berdua lalu berdiri dan bersalaman. Saski lalu keluar dari ruangan diikuti dengan Saras, sembari mengobrol singkat. Saras mengantar Saski sampai ke pintu keluar dan mereka pun berpisah di sana, karena Saras harus memberi pengumuman pada para reporter dan redaktur untuk bersiap rapat sebelum makan siang untuk mengulas hasil investigasi dan laporan dari masing-masing.

***

Setelah keluar dari kantor Majalah Integral yang berlokasi di sekitar Latuharhari, dekat Komnas HAM, Saski memutuskan untuk balik arah menuju stasiun Sudirman. Tak ada kegiatan lain, ia bermaksud mengunjungi Diki, sahabatnya yang bekerja di Pondok Cina, Depok. Saski pun berjalan santai menyusuri pinggiran Latuharhari sampai Jalan Kendal yang sejuk karena pohon rindang berdiri di sepanjang jalan itu. Pohon-pohon itu menaungi jalanan di depan rumah-rumah besar dengan arsitektur mewah dan tua, meski Saski tak yakin apakah di rumah itu ada manusia yang menghuninya? Saski melihat ke langit yang cerah dan berawan. Sambil tersenyum, ia berdoa agar usahanya kali ini membuahkan hasil. Ia sangat ingin bekerja dan membantu ibunya agar tidak kesulitan menghidupi mereka berdua hanya dari sisa uang pensiun. Namun, di balik alasan penghidupan keluarga, masuknya Saski ke Integral juga didominasi alasan lain.

6 comments:

  1. semoga cepat terbit!
    penasaran sama lanjutannya..
    ehehehehe
    .
    .
    salam,
    ardeviwiharjo.wordpress.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lanjutannya bisa dibaca ketika bukunya sudah terbit ya Kaaaak. Hihihi. :D

      Delete
  2. selalu salut sama penulis buku, begitu mudahnya merangkai ribuan kata, sedangkan aku nulis di blog aja kadang kehabisan kata qiqiqi.... semoga cepat terbit dan meledak di pasaran mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terima kasih sudah mampir ya Mbak Retno. :)

      Delete
  3. Sama kyak kedua buku yg uda aku baca, keknya buku yg ini juga bakalan bikin penasara deh. Gudlak buat karya2nya ya kakaaaak.. sukses dan jaya selalau di darat laut dan udara 😙

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wihiiii, udah selesai baca dua-duanya kak? Cepats yaaaa. :D

      Delete