Me Time Tidak Selalu Ringan

[Image Source] Pexels - Edited by me.
Bagi saya, hidup di kota besar adalah salah satu hal yang membuat stres. Apalagi waktu dulu masih kos sendiri tanpa sanak saudara sama sekali di Jakarta ini. Belum lagi pekerjaan yang menyita waktu, dan akhir minggu yang dihabiskan untuk mengenyam sekolah tingkat tinggi. Dalam satu minggu, nyaris tak ada waktu untuk saya bersenang-senang atau melakukan kegiatan lain untuk diri sendiri. Selain itu, menurut beberapa penelitian, kadar stres wanita jauh lebih tinggi daripada pria. Hal ini menyebabkan, me time sangat penting dimiliki oleh para wanita, baik yang sudah berumah tangga, sudah memiliki anak, masih lajang dan bekerja di kota besar, atau yang masih berstatus pelajar.

Kalau ditanya soal me time, saya malah kadang melakukan hal-hal yang bisa dibilang lebih stres daripada pekerjaan saya dalam lima hari kerja. Mungkin memang aneh sih, tapi menurut Treadway (1998), seperti dilansir dalam harian online Kompas.com, keterkaitan dan hubungan yang positif dengan diri sendiri dan juga lingkungan bisa menjadi pencegah stres dan kecemasan yang sering dialami oleh seseorang. Menurut saya pribadi, hubungan positif dengan diri sendiri itu ya saya lakukan dengan mengerjakan hal-hal yang "berat", tapi tetap menyenangkan bagi diri saya pribadi. Aktivitas yang menyenangkan untuk diri sendiri inilah yang bisa kita sebut "me time".

Selain itu, me time merupakan momen krusial bagi seseorang untuk menjadi individual sehingga dapat memanjakan dirinya sendiri. Hal ini penting karena setelah satu minggu mengerjakan hal-hal sederhana bahkan hal sulit bagi orang lain, ada saatnya kita butuh rehat dari hal tersebut untuk memanjakan diri sendiri. Banyak cara dan aktivitas yang setiap orang miliki untuk me time, dan sudah pasti setiap orang memiliki me time atau persepsi me time yang berbeda.

Untuk saya sendiri, jujur saja me time yang saya lakukan tentunya tak jauh-jauh dari hal yang berhubungan dengan menulis. Misalnya saja, saya kadang riset untuk novel dengan cara menonton banyak drama Jepang, drama Korea, atau serial televisi Hollywood. Kadang juga saya membaca buku. Namun, hal yang paling sederhana yang bisa saya lakukan adalah browsing saja sampai berjam-jam.

Tak jarang pula me time saya diisi dengan branching git dan coding automation dengan ansible, mengerjakan sesuatu yang bisa dibilang bukannya sederhana atau istirahat, tapi malah menambah stres. Bagi saya, mengerjakan sesuatu yang membuat saya senang walaupun bagi sebagian orang malah menambah stres, adalah definisi me time saya. Banyak orang menganggap me time itu harus liburan atau belanja hingga menghabiskan uang, tapi sejujurnya bukan hal-hal semacam itu karena liburan dan belanja adalah mispersepsi tentang me time. Menurut Ayoe Sutomo, M.Psi, salah seorang psikolog, seperti dilansir melalui Wolipop, aktivitas me time setidaknya harus dapat memenuhi empat manfaat, yaitu:
  • Bisa memahami diri sendiri jadi lebih mendalam dan lebih baik, juga memandang sesuatu jadi lebih positif atau optimis.
  • Meningkatkan mood, merasa bahagia, dan tidak ada penyesalan dalam kegiatan me time yang dilakukan. Misal, menyesal karena belanja terlalu banyak hingga tagihan kartu kredit membengkak.
  • Siap berkomunikasi dan berinteraksi dengan lebih baik terhadap lingkungan sekitar, baik keluarga, teman, maupun pekerjaan.
  • Membuat kondisi mental jadi lebih baik, sehingga dapat menyongsong kembali rutinitas dengan mental prima.

Nah, jika empat manfaat di atas telah dirasakan, me time dengan bentuk apapun tetaplah me time. Misalnya saja me time sederhana dengan hanya tidur seharian, atau me time yang lebih berat seperti membaca buku berjam-jam atau mengerjakan coding YAML seperti saya, maka itu tetap disebut me time. Mengapa? Ya tentu saja karena tujuan me time selain untuk istirahat dari rutinitas membosankan, adalah untuk menemukan diri kita sendiri setelah hilang di dalam kerumunan rutinitas itu. Dengan me time, kita akan menemukan diri kita yang lebih baik, lebih terasa bermanfaat bagi orang lain, berpikiran positif, dan tentu saja menyongsong rutinitas lain dengan mental yang lebih kuat.

Jadi, me time saya ya memang berat-berat begitu dan tetap menyenangkan. Nah, bagaimana dengan me time kalian? Coba share cerita me time kalian di kolom komentar. :)

You Might Also Like

6 comments

  1. Waduh... beneran bakalan stres deh saya kalo me time nya koding2 gt. Hahahaaa... kagak ngarti pisan euy...😉 tp bener deh selama bisa dinikmati dan membuat bahagia kenapa tidak ya? 😊 sukses terus deh ya. Me timenye kereeennn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Blogging juga termasuk meee timeeee kan yaaa? Ahahaha.

      Delete
  2. Luar biyasyaaaakkkk , me timenya ngodingggg... *daebak

    tapi namanya juga me time ya, pasti beda-beda tiap orang, ehehehe.

    btw, Nice post!
    salam kenal yaa..

    ardeviwiharjo.wordpress.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pokoknya selama me time itu bisa membuat kita jadi orang bermanfaat dan memandang kehidupan dengan lebih positif, kenapa tidaaaak. *yailah manfaat

      Delete
  3. Hihihi. Kadang-kadang gue pikir, nyuci baju, nyapu rumah, atau nyetir mobil, asal dilakukan dengan happy, bisa jadi me time juga yaaa :).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaaa Al. Yang penting happy dan bisa bikin semangat, walau kalo dipikir-pikir sama orang lain mah berat. :))

      Delete