Pengalaman Singkat Memakai Linux yang Berumur Panjang

Happy 10th Years in Using Linux!
Terhitung tahun ini, berarti saya sudah memakai sistem operasi Linux selama 10 tahun. Sejak 2007, saya aktif menggunakan dan melakukan segala kegiatan komputerisasi dengan Linux. Walau banyak orang awam yang belum terbiasa dan bilang kalau Linux itu tidak bisa dipakai apa-apa, karena jelas saja mereka terlalu terbiasa dengan Windows. Tapi, saya punya prinsip untuk tidak pakai perangkat lunak bajakan. Jadi, kalau kurang uang untuk beli lisensi perangkat lunak, bukannya lebih baik pakai yang bersumber terbuka?

Pertama kali saya memakai Linux tentu saja Ubuntu, walau sebenarnya dulu saya pernah nongkrong di warnet yang semua komputernya terpasang Fedora. Salah satu hal yang tabu mungkin di dunia per-warnet-an. Haha. Tapi, salah satu petugas warnet tersebut adalah kakak kelas saya ketika di STM dahulu, di mana kami sama-sama siswa Teknik Komputer Jaringan. Tapi, saya memulai petualangan Linux justru malah pada saat kelas 3 SMP, di mana saya punya laptop pertama kalinya, dan saat itu Ubuntu sedang gencar melakukan program pengiriman CD gratis. Versinya pada saat itu masih Hardy Heron (baru saja transisi dari Gutsy Gibbon). Ada 3 edisi yang mereka kirimkan dari Belanda. Saya memesan sekitar 4 CD untuk masing-masing, yaitu Ubuntu, Xubuntu, dan Edubuntu, dengan bonus stiker Ubuntu dengan logo khasnya itu.

Setelah sampai dalam 8 hari (dari Belanda, dengan gratis pengiriman dan saya juga tidak bayar apa-apa), langsung saya coba instalasi Ubuntu dengan dual boot di laptop saya. Bayangkan saja anak SMP yang sedang menunggu pengumuman lolos ujian masuk STMN Pembangunan Bandung mencoba hal seperti itu. Saya merasa paling hebat se-Indonesia sebagai anak SMP, hanya karena di kompleks saya belum ada yang punya laptop dan bahkan belum bermain komputer, karena masih lebih senang main PS. Sayangnya saya tidak punya PS saat itu, karena kata orang tua saya, itu tidak membantu saya jadi pintar. :))

Dan ternyata, instalasi dual boot rupanya tidak semudah yang saya kira. Pekerjaan instalasi dual boot itu saya hampir lupakan hingga saya masuk STM jurusan TKJ. Di TKJ, rupanya ada mata pelajaran Sistem Operasi, di mana guru yang mengajar termasuk Linux fans juga. Dan, akhirnya saya mulai jadi sering nongkrong di workshop TKJ, bahkan sampai tidak pulang hanya untuk membereskan instalasi dual boot yang kurang support di laptop saya. Pada saat itulah, saya menemukan cara instalasi dual boot untuk mengakali VGA Sis yang tidak support untuk Linux, apalagi Ubuntu yang kala itu masih mengusung GNOME sebagai desktop environment-nya.

VGA Sis membutuhkan boot parameter acpi, pada saat instalasi karena Sis merupakan VGA generik yang tidak support desktop environment berat semacam GNOME. Pemasangan boot parameter sendiri saya dapat dari beberapa sumber di internet selama tiga hari dan baru berhasil setelah beberapa kali gagal mencoba. Setelah berhasil terpasang pada laptop dan membiasakan diri, barulah saya mulai menghapus sistem operasi Windows bajakan dan hanya memakai Ubuntu saja. Rasanya senang bukan main, padahal hanya memasang sistem operasi open source lho. Ya itulah, namanya hobi dan kesenangan, tentu akan memberikan kepuasan lebih kalau kita berhasil mencapai sesuatu yang menantang dari hobi kita itu. Kenapa menantang? Tentu saja menantang, karena sistem operasi Linux pada saat itu belum banyak dikenal dan bisa membuat panik kalau GRUB error. :P

Saya terus mengeksplorasi Linux dari masa ke masa, termasuk mencoba beberapa distro Linux lain mulai dari yang keren seperti Linux Mint (masih fork Ubuntu juga), Slackware, Mandriva (sekarang di-fork ke Mageia), OpenSUSE, CentOS, Backtrack (sekarang Kali Linux), Fedora, bahkan sampai Arch Linux yang instalasinya susah luar biasa. Semua itu saya pasang di laptop sendiri dengan mode dual boot, atau menggunakan virtual machine. Instalasi dengan package management dan instalasi aplikasi dengan mode compiling juga saya coba. Semua itu saya lakukan hanya untuk mendapatkan pengalaman lain yang pasti akan bermanfaat.

Apalagi ketika saya mulai bekerja sebagai IT System Administrator, saya memulai dari Linux di area hosting, kemudian merambah ke vm, container, bahkan pada cloud AWS, Digitalocean, dan Linux yang ada di cloud lainnya. Dari pekerjaan saya itu, saya mendapatkan kesempatan training RHCSA (RedHat Certified System Administrator) dan mengambil exam. Saya senang, karena Linux membawa saya ke berbagai kesempatan yang berharga dan juga bergabung ke banyak komunitas praktisi Linux dari berbagai belahan dunia, baik yang masih newbie seperti saya sampai yang sudah level dewa. Teman-teman kantor yang juga pengguna Linux pun menambah wawasan saya menjadi lebih luas. Dengan ini, saya bergerak ke arah yang lebih tinggi, di mana ketidaktahuan saya semakin bertambah dan rasa haus akan ilmu di dalam dunia Linux dan open source pun semakin banyak. Saya bersyukur, karena dulu sempat mengecap pengalaman berharga yang tidak saya sangka-sangka, di saat perempuan sebaya seperti saya saat itu sibuk dengan dunia gadis remaja, saya malah menghabiskan waktu di workshop Teknik Komputer Jaringan untuk mengulik Linux dan meminta izin Pak Guru untuk nongkrong dengannya sembari memakai internet sekolah. Haha.

Tapi memang, sesuatu yang berbeda, di masyarakat kita kurang bertahan lama. Contohnya saja, warnet dengan OS Fedora yang sempat saya ceritakan di atas, kini sudah tidak ada. Padahal, di warnet itu semua hal terasa lebih secure daripada kita nongkrong di warnet Windows (sudah banyak virus, banyak spam, scam, dan malware, juga tidak licensed). Warnet bernama Barda itu sudah tutup dan tidak ada lagi cerita warnet dengan Fedora yang mengawali kecintaan saya pada Linux.

Tapi, kecintaan saya tentu saja tidak akan berakhir. Hingga saat ini, saya masih aktif memakai Linux dan masih setia dengan xfce. Selain itu, saya juga mengerjakan blog senang-senang bersama beberapa teman yang berisi materi tentang Linux dan open source bernama HeyTUX. Barangkali teman-teman penasaran dengan dunia Linux, teman-teman bisa mampir ke halaman www.heytux.com, dan kami pun membuka kontribusi bagi teman-teman baik pemula maupun advance, yang punya pengalaman dengan Linux.

Akhir kata, saya cuma bisa katakan, "Stop membajak Windows. Kalau tidak berniat membeli license, beralihlah ke Linux saja!" :p

***

Tulisan ini dibuat dalam rangka merayakan hari jadi diri saya sendiri sebagai pengguna setia Linux selama 10 tahun berturut-turut~

You Might Also Like

0 comments