Khalayak Bertanya, Penulis Menjawab

The Secret to Writing [Credits: Jonathan Gunson]
Ada beberapa pertanyaan yang kerap mampir ke surel, DM instagram, atau komentar blog. Pertanyaan-pertanyaan yang paling sering muncul akhirnya saya kumpulkan dan akan coba saya jawab pada artikel ini. Mungkin saja jawaban saya membantu, mungkin juga tidak. Tapi, semoga memang jawaban-jawaban ini bisa memberikan sedikit pencerahan.

1. Pertanyaan tentang cara menerbitkan buku.


Q: "Kak, gimana sih caranya supaya buku saya bisa terbit?"

A: "Hmmm, memang kamu lagi menulis atau sudah membereskan novel seperti apa?"

Lalu, percakapan selanjutnya pun dimulai.

"Ya belum nulis buku apa-apa sih."

*tatapan kesal menghakimi*

Ya elah bro. Dimana-mana, kalau mau menerbitkan buku itu yaaa ditulis dulu bukunya. Kalau sudah beres, baru deh bisa melanjutkan pertanyaan macam tadi. Pas dapat pertanyaan kayak gini, saya suka agak gimanaaaa gitu ya. Mau jawab juga bingung, wong bukunya aja belum beres. :))

Tapi, kalau memang bukunya sudah beres, ada beberapa cara untuk menerbitkan buku, seperti:

a) Kirim ke penerbit, di mana ini mungkin cara yang paling mudah, tapi untuk menunggu kabar dibaca atau tidaknya saja agak lama, apalagi kabar akan terbit atau tidak. Karena para penerbit menerima ratusan bahkan ribuan naskah setiap bulannya. Editor membaca naskah itu melalui sinopsis, maka buatlah sinopsis novel dengan baik dan menarik. Sinopsis ini memuat keseluruhan cerita secara garis besar, mulai dari awal, konflik, hingga penyelesaian. Jangan bubuhkan pertanyaan ambigu di akhir sinopsis novel seperti: "Apakah Reni akan bertemu dengan mantan suaminya?"

Hindari hal semacam itu dalam sinopsis, karena akan membuat gerah editor. 

b) Kalau malas lewat penerbit konvensional (dan major), maka kalian bisa cari beberapa penerbit yang memberi opsi penerbitan independen (indie), dengan kontrak atau "terms and condition" tiap penerbit yang berbeda-beda.

c) Kalau kalian kebanyakan duit, maka kalian bisa pilih opsi self-publishing, di mana proses editing, buat sampul, dan lain-lainnya kalian urus sendiri. Lalu, kalian urus ISBN dan cetak buku kalian sendiri sekian eksemplar, untuk akhirnya kalian jual sendiri dengan kemampuan marketing kalian yang harus canggih banget, supaya buku lekas terjual dan menemukan jalan kepada pembacanya.

2. Pertanyaan tentang teknis menulis.

Q: "Gimana ya bikin karakter yang keren?"

A: "Karakter itu nggak harus keren, yang penting memorable."

Jawaban di atas memang nggak membantu sih. Oleh karena itu, kalian harus mampir ke "a so called writing tips" yang udah saya susun dan ada di sini -> "Tips Sesat: Penokohan Karakter Fiksi". Silakan baca dan pahami, kalau kurang paham, silakan komentar atau kirim surel lagi.

3. Cara menyelesaikan novel.

Q: "Aduh, gimana sih beresin naskah ini? Susah banget. Ada saran, Yu?"

A: *youtube-an* *lalu buka IG* *blogging* *makan, lalu tidur*

Saya sering melewatkan pertanyaan macam ini. Hmm. Cara membereskan naskah? Itu sebenarnya gampang banget. Kalian tinggal menulis, lalu membereskan naskah alias menghentikan kegiatan dengan penutup yang membuat kalian lega. Caranya? Ya, cara inilah yang beda-beda. Satu langkah dari pertanyaan ini yaitu, STOP BERTANYA, STOP SOSIAL MEDIA, MENULIS SAJA DAN JANGAN BANYAK DRAMA. Kurang lebih seperti itu sih.

Tidak membantu? Ya maaf. Karena memang hal seperti ini dialami oleh siapa saja. Banyak yang menyebut jalan buntu ini sebagai "writer's block", tapi sesungguhnya istilah seperti itu hanya dibuat-buat. Kalian sulit membereskan tulisan bukan karena tidak ada ide, tapi karena banyak distraction alias gangguan yang membuat ide itu terpinggirkan. Coba kalau kalian konsisten menulis dalam sehari itu sekian jam dan menetapkan deadline menyakitkan untuk diri sendiri, saya jamin tulisan pun selesai. Saya pernah coba hal seperti itu. Mengurung diri di kamar kos hanya untuk menulis naskah. Kalau lapar, saya keluar kos dan cari makan, lalu setelah makan dan melakukan kegiatan lainnya, saya kembali ke depan laptop untuk membereskan naskah. Sesederhana itu sih caranya, hanya saja manusia terlalu sering membesar-besarkan masalah yang sebenarnya nggak penting-penting amat. Yha kan~

4. Outline?

Q: "Harus bikin outline dulu nggak ya?"

A: "Haruskah gue makan telur mata sapi atau telur mata ikan hari ini? Haruskah gue campur mecin ke sayuran? Haruskah gue mandi dulu sebelum nulis?"

Ya nggak tahu laaaah. :))

Truth is, semua orang punya cara masing-masing saat akan memulai naskah novel mereka. Ada yang membuat outline dulu, ada yang langsung menuangkannya dan membongkar pasang ide juga alur cerita seiring waktu. Bahkan, ada yang salto-salto dulu sebelum menulis. Semua itu untuk menemukan pace masing-masing saat mereka menulis. Haruki Murakami punya kebiasaan untuk berlari. George Orwell malah dikenal suka handwriting sembari tidur-tiduran santai di tempat tidurnya. Sedangkan saya... Saya sih tidak terkenal, jadi saya menulis dengan cara yang biasa-biasa aja. Hehe. Tapi, kalau buat saya pribadi sih, outline cukup membantu saya karena dari outline sederhana, saya bisa mengembangkan alur cerita sedemikian rupa. Yang saya butuhkan dalam outline hanyalah adegan kunci saja. Tapi, semua itu kembali lagi ke kalian. Kalau merasa nyaman dengan outline, ya tulis dulu outline. Kalau tidak, ya sudah. Langsung saja menulis naskah sebebas-bebasnya dengan tetap memperhatikan review pada saat keesokan hari akan melanjutkan naskah itu.

5. Writing Distraction


Q: "Gimana ya cara mengurangi gangguan atau selingan kalau lagi menulis?"

A: "Kill them without mercy! Attaaaaaackkk!"

Beneran. Kalian harus membunuh gangguan itu tanpa belas kasihan. Kecuali, gangguannya itu makhluk hidup seperti anak balita yang lagi pengen main atau kucing yang lucu, ya jangan dibunuh dong! :)))

Ada beberapa tips cepat untuk menghilangkan gangguan:

a. Ikut program scheduling yang udah ramai di internet, bisa menutup situs yang terindikasi menjadi selingan selama jadwal menulis kalian.
b. Membuat ruang menulis sendiri.
c. Melindungi ruang menulis itu supaya nggak diambil sama musuh. :))
d. Membuat jadwal menulis yang spesifik.
e. Lindungi juga jam menulis yang sudah dijadwal.
f. Kelilingi diri dengan orang-orang yang bisa menghargai dan menghormati proses menulis kalian supaya kalau kalian kena selingan, bisa mereka bantu.

6. Ngoceh-ngoceh lanjutan

Dear friends, i hear that. Haha. Saya cuma bisa kasih solidarity fist-bump buat kalian orang-orang yang menulis. Menulis itu sulit, apalagi menerbitkan. Sedikit gambaran tentang "Apa yang Kita Lakukan" akan muncul seiring dengan jawaban yang berada di batas antara kejelasan dan ketidakjelasan: jika kalian ingin menjadi penulis, tentu kalian harus menulis. (Dan kalian harus benar-benar menyelesaikan apa yang sudah dimulai.)

Dan sebagai penulis ingatlah bahwa:

"None of us know WTF we’re doing".

You Might Also Like

0 comments