Tips Sesat 8: Membangun Latar atau Setting dalam Novel


Dalam fiksi, ada yang disebut dengan character building, yaitu cara membuat tokoh atau sistem penokohan dalam fiksi untuk membuat karya fiksi yang kalian buat menjadi lebih manusiawi alias believable. Sekalipun kita akan menulis fiksi fantasi, karakter haruslah tetap dekat dengan keseharian kita, mewakili kehidupan kita, nama-nama kita, budaya, dan bahkan perilaku sehari-hari. Dengan cara itulah, karakter yang dibuat akan terlihat hidup atau lebih nyata.

Selain character building, elemen lain dalam fiksi adalah setting atau latar. Latar ini bisa berarti tempat, waktu, suasana, dan lain-lain, yang berhubungan dengan pembentukan dunia yang ditempati oleh karakter-karakter fiksi. Penulis fiksi fantasi biasanya menyebut latar sebagai universe. Ada pula yang menyebut pembentukan latar sebagai world building.

Nah, pada tips sesat kali ini, saya akan mencoba untuk sedikit berbagi pengalaman ketika membuat latar dalam fiksi. Tips-tips ini berasal dari pengalaman pribadi yang telah mengalami cross reference dengan berbagai sumber agar lebih objektif. Jadi, selamat menyimak tips sesat saya selanjutnya. Hahahaha!

Apa saja elemen kunci dari latar fiksi?

Sebagai elemen, latar juga memiliki sub-elemen. Secara sederhana, sub-elemen kunci dari latar dibagi menjadi empat area, yaitu:
  • Waktu
  • Tempat
  • Mood
  • Konteks

Sedangkan, jika empat sub-elemen umum di atas ingin dijabarkan secara lebih khusus, ada juga sub-elemen latar sebagai berikut, dengan penjelasan rinci.

1. Lokasi. Pembagian tempat berdasarkan negara, negara bagian, provinsi, kabupaten, kota, desa, juga spesifik lokasi seperti perumahan, nama jalan, sekolah, kantor, pantai, gunung, selat, pulau, pertanian, dan lain-lain.

2. Waktu Tahunan. Sub-elemen dari waktu, yang sangat berpengaruh dalam fiksi. Biasanya tahun juga termasuk musim dan hari libur, seperti Natal, Tahun baru, Halloween, Ramadhan, Syawal, dan lain-lain. Tanggal yang signifikan juga bisa digunakan, seperti perayaan tahunan tokoh fiksi yang meninggal atau bahkan perayaan tahunan tokoh asli, dan bahkan perayaan tahunan dari suatu kejadian, misalnya seperti "Hari Kemerdekaan".

3. Waktu Harian. Ini bisa juga digambarkan seperti kronologi kejadian dalam satu hari, atau agenda dalam satu hari. Adegan dalam fiksi harus dibentuk dalam beberapa waktu yang berbeda atau periode waktu pada satu hari atau satu malam, seperti permulaan pagi, atau ketika matahari terbenam. Pembaca akan bisa membedakan perubahan hari dengan simbol-simbol waktu semacam itu, sehingga perubahan waktu lebih mudah digambarkan dalam suatu adegan.

4. Waktu yang Berlalu. Suatu cerita yang telah berlalu beberapa menit, jam, hari, minggu, atau bulan, harus digambarkan agar pembaca tidak bingung dan cerita tidak kekurangan nilai otentiknya. Ketika adegan berubah, ada juga waktu yang dihabiskan antara adegan tersebut, bahkan ketika kita memasukkan kilas balik (flashback), atau ketika karakter melakukan perjalanan jarak jauh.

5. Perasaan dan Atmosfir. Karakter dan suatu kejadian juga dipengaruhi oleh cuaca, suhu udara, petir, atau faktor geografis lainnya, yang mana dapat mengubah intensitas emosi, perasaan, dan atmosfir atau suasana adegan.

6. Iklim. Iklim sangat terhubung dengan kondisi geografis dan topografis suatu tempat, dan dalam dunia nyata, hal ini mempengaruhi kejadian dan manusia. Ombak lautan misalnya. Ombak mempengaruhi angin dan massa udara, garis lintang, ketinggian, aktivitas pegunungan, massa tanah, dan sejumlah besar air juga mempengaruhi iklim. Sangatlah penting untuk menulis tentang latar yang real, untuk mengetahui pengaruh iklim. Iklim yang buruk bisa mempengaruhi kehidupan jadi lebih suram, sedangkan iklim tropis lebih membentuk gaya hidup yang bebas. Sebagai contoh, perbedaan iklim ini terjadi dalam universe milik George R. R. Martin dalam Game of Thrones miliknya yang sudah terkenal. Kita dapat melihat dengan jelas perbedaan gaya hidup Freefolk yang berada di iklim dingin (daerah es), dengan gaya hidup kaum Dorne yang hidup di daerah panas atau iklim tropis. Begitu pula dengan cara berpakaian dan budaya mereka yang berbeda karena kondisi geografis.

7. Kondisi Geografis. Kondisi ini lebih berhubungan dengan bentuk tanah, ekosistem, topografi dalam latar tempat. Geografis juga berisi kondisi iklim, kondisi tanah, tanaman, pohon, batu dan mineral. Kondisi geografis dapat membentuk pengaruh yang cukup besar dalam cerita, seperti daerah pegunungan di mana sebagian besar hidup karakter adalah untuk mendaki gunung, atau sungai yang harus ia seberangi setiap hari, atau hutan gelap yang harus ia hindari untuk tetap aman. Tidak bermasalah di manapun cerita dibuat, apakah itu di pedesaan yang ada di pegunungan Swiss atau dataran tinggi Dieng, hal tersebut harus dituliskan secara nyata, berikut dengan pengaruh terhadap perilaku karakternya.

8. Geografis Buatan. Kondisi ini adalah kondisi geografis yang merupakan buatan manusia, untuk menunjukkan bahwa dalam latar tersebut, ada juga manusia lain yang memberi pengaruh terhadap karakter Anda. Contoh yang dibuat ini seperti bendungan, jembatan, pelabuhan, kota, monumen, pemakaman, bahkan tempat-tempat bersejarah dan terkenal. Juga tunjukkan pengaruh tentang bagaimana kondisi geografis digunakan, seperti penggunaan tanah, efek dari tambang, penebangan pohon di hutan, terasering di daerah petani, irigasi, peternakan, perkebunan kopi, dan lain-lain yang mungkin bisa dieksplorasi dari dunia nyata. Sebaiknya, agar tidak terlalu jauh dari kenyataan, hal-hal seperti ini diriset terlebih dahulu, bisa melalui buku atau melalui kunjungan pada lokasi yang ingin digambarkan dalam fiksi.

9. Era Bersejarah. Kejadian penting, perang, atau masa sejarah yang terhubung dengan plot dan tema boleh juga dimasukkan dalam fiksi. Misalnya, seperti perang sipil, Perang Dunia II, pembantaian kaum pribumi pada masa penjajahan Belanda, wabah penyakit, maupun era lainnya yang mungkin relevan dengan fiksi Anda.

10. Lingkungan Sosial / Politik / Budaya.
Pengaruh sosial, politik, dan budaya dapat mempengaruhi secara luas karakter Anda melalui berbagai cara. Biasanya, setting seperti ini akan mempengaruhi pandangan karakter akan nilai-nilai sosial, peran keluarga, rasa tanggung jawab, dan perilaku karakter lainnya.

11. Populasi. Ini perlu digambarkan secara spesifik, karena jika ada lokasi, maka harus digambarkan seberapa banyak manusia yang menghuni lokasi tersebut. Misalnya, pedesaan di kaki gunung hanya ada 200 kepala keluarga, sementara 10 kilometer ke arah kota, jumlah populasi meningkat hingga 500 kepala keluarga.

12. Pengaruh Leluhur. Pada beberapa negara, pengaruh leluhur sangat berpengaruh pada rakyatnya. Pengaruh leluhur ini akan membentuk perbedaan yang cukup terlihat dan berbentuk warisan budaya seperti makanan, cara dialog, logat bicara, nilai-nilai spiritual, perilaku, cara berpakaian, adat-istiadat, bahkan perbedaan adat pernikahan juga adat lainnya.

Nah beberapa hal tersebut adalah sub-elemen yang bisa dimasukkan dalam pembentukan latar fiksi kalian. Jika memang ingin membuat universe yang sama sekali berbeda dengan dunia nyata (seperti pada fiksi fantasi), kalian bisa memainkan perbedaan satuan waktu, nama-nama daerah yang dibuat anagram dari daerah di dunia nyata, atau benar-benar membuat dunia yang sama sekali berbeda. Tapi, jika ingin membuat fiksi yang latarnya ada di dunia nyata, maka perlu memperhatikan beberapa langkah ini:

1. Membuat latar tempat sesuai dengan lokasi asli atau nyata. Hal ini bisa dengan baca-baca di peta, google maps, atau bahkan datang langsung ke lokasi untuk melihat suasana tempat.

2. Membuat latar waktu sesuai periode waktu yang nyata atau asli. Misal, kejadian yang terjadi di tanggal 17 Agustus 2017, pukul 09.00 pagi sampai 12.00 siang, adalah anak-anak SD yang lomba makan kerupuk di perumahan, maka tuliskanlah sesuai realita. Perubahan waktu ini nantinya akan membantu pembaca untuk memvisualisasikan perpindahan adegan dalam fiksi.

3. Konsisten dengan dunia yang dibangun. Jika memang Anda membangun dunia fiksi fantasi, maka konsistenlah. Anda ingin membuat dunia hanya terbagi dua seperti dalam Game of Thrones, yaitu Westeros dan Essos, berikut kerajaan-kerajaan dan daerah yang ada di dalamnya, maka jangan tiba-tiba memunculkan nama lain di bagian utara atau selatan dunia Anda karena akan mengacaukan imajinasi pembaca akan dunia Anda yang sukar dibangun.

4. Menjaga beberapa hal sesuai aslinya. Jika Anda punya karakter yang ingin melakukan perjalanan waktu, maka coba pahami beberapa teori tentang ruang, waktu, juga perjalanan waktu sehingga hal itu bisa dipercaya. Maka dari itu, sebagai penulis fiksi, kita harus banyak riset dengan membaca universe milik penulis lain. Selain membaca, bisa juga mempelajari universe dari film-film, karena banyak universe yang dieksekusi sangat baik secara visual walau diambil dari buku.

5. Ikuti aturan dari dunia Anda. Jika Anda membuat fiksi fantasi, maka Anda harus membuat aturan-aturan, undang-undang, bahkan norma-norma yang berlaku dalam dunia Anda. Contohnya seperti kisah Harry Potter, lengkap sekali aturan-aturan di sekolah Hogwarts bukan? Nah, kira-kira seperti itu.

Latar adalah elemen penting dalam fiksi, sama pentingnya ketika kalian membuat karakter yang dapat dipercaya dan dekat dengan kalian. Oleh karena itu, banyaklah riset. Bahkan, kalau bisa, bicaralah dengan orang ahli dalam bidang-bidang yang kalian ingin bahas dalam fiksi dan pelajari sebanyak mungkin semampu kalian. Jangan lupa untuk tetap menggambarkan kehidupan standar si tokoh, seperti makan, ke sekolah, ke kantor, mandi, dan lain-lain, tapi tak perlu jadi penanda pengganti waktu. Misalnya, setiap pagi si ini mandi jam sekian, makan ini jam sekian, dan blablabla. Hal ini bisa merusak mood pembaca. Haha!

Kesimpulannya adalah:
Dunia yang kalian bangun tidak akan nyata hingga dunia tersebut benar-benar nyata bagi kalian, penulisnya sendiri.

***

P.S.

Di bawah ini ada contoh cerpen dengan latar negara Inggris, di mana saya menulisnya sambil ngubek-ngubek Google Maps dan membuka tab browser sangat banyak (hampir ratusan) hanya untuk riset. Selamat membaca!

You Might Also Like

0 comments