Ada Kultur di Wrath of the Titans

Kenapa judul artikel ini saya beri tagging kategori “culture”?
Sebelum menjawab itu, saya akan membahas judul kali ini. Judul posting kali ini saya buat begitu karena memang hari ini hari Minggu dan saatnya kita belajar dari sebuah “tontonan” atau film. Entah kenapa, saya akhir-akhir ini sedang membuang jenuh terhadap segala rutinitas. Membaca di lantai teratas gedung yang setengah jadi di daerah Cilandak, berteriak-teriak di pinggir pantai, menonton film sampai bosan, dan berkumpul bersama orang-orang baru yang menyenangkan. Karena kejenuhan itulah, rutinitas saya pun berganti. Dari seorang yang disiplin dan sangat struktural, menjadi orang yang cuek, ceplas-ceplos, dan apa adanya. Hehe.
Hari Minggu ini saya mau membahas sebuah film yang tidak lain membuat saya berpikir, apakah memang sudah seharusnya mitologi Yunani menjadi seperti itu? Nah, dari sinilah saya menarik kesimpulan bahwa film yang kali ini saya tonton, mengandung muatan kultural atau budaya yang mengakar, yaitu budaya Yunani dan mitologi akan dewa-dewanya.
Film ini saya tonton di Fx Sudirman bersama teman-teman training yang akan mengisi sub kantor di Lampung. Niatnya sih, saya juga mau ke sana, kerja di sana. Tapi, setelah dipikir-pikir, kok saya lebih baik di Jakarta saja ya. Hehe. Nah, sebelum kepulangan mereka ke Lampung–yang nyatanya diundur oleh pihak kantor–mereka mengajak nonton film yang rilis di tahun 2012 ini. Dengan bermodalkan tiket bioskop seharga 25.000 saja untuk bioskop se-lux itu, kami pun masuk ke teater satu dan menonton film “Wrath of the Titans”
Wrath of the Titans
Film ini mengisahkan tentang salah satu anak Dewa Zeus, bernama Perseus (diperankan oleh Sam Worthington) yang menjadi nelayan bersama anaknya, Helius, setelah memutuskan untuk menjadi manusia setengah dewa. Pada suatu hari, ketika dia sedang mencari ikan, Perseus didatangi oleh Zeus. Zeus datang untuk memberitahukan bahwa dinding Tartarus–neraka yang dijaga Hades (adik Zeus)–mulai melemah.
Ares si Dewa Perang, mengkhianati ayah sendiri
Dinding Tartarus ini adalah dinding yang dibuat untuk memenjarakan Kronos, ayah Zeus sendiri. Kronos yang telah berbuat kekeliruan, harus dipenjarakan dalam Tartarus dan dijaga oleh Hades, sehingga Hades sendiri membenci Zeus karena menganggap kalau dia itu diasingkan. Setelah kedatangan Zeus itu, Zeus sendiri pergi ke Tartarus dan Perseus mulai berpikir bahwa perang besar akan terjadi.
Di tengah hidup Perseus yang menyenangkan, tiba-tiba saja Zeus dan Poseidon (adik Zeus yang satunya, paman Perseus), dikhianati oleh Hades dan juga Ares–anak dari Zeus yang berbeda ibu dengan Perseus. Zeus ditangkap dan diikat pada ujung Tartarus, sehingga Kronos–ayah yang berkhianat–bisa menyerap kekuatan Zeus dan bangun dari Tartarus.
Perseus membunuh Chimera
Tartarus yang semakin rusak pun akhirnya hancur dan melepaskan berbagai makhluk mengerikan seperti Chimera, makhluk terbang berkepala dua yang menyemburkan api. Chimera mengobrak-abrik perkampungan Perseus. Perseus yang berhasil membunuh Chimera, mengajak anaknya untuk memanggil Zeus ke tanah tempat dewa datang. Tampilan tempat ini sekilas memang mirip dengan reruntuhan Acropolis di Yunani sana. Perseus memanggil ayahnya, namun yang datang adalah pamannya, dewa Poseidon itu sendiri. Dan Poseidon pun memberikan informasi bahwa Zeus ditangkap. Perseus harus mencari “Yang Terbuang” lewat perantara Agenor, anak Poseidon.
Perseus pun pergi ke tempat Ratu Andromeda yang sedang mempersiapkan perang. Dia menemui Agenor di penjara bawah tanah, yang sedang disiksa karena kasus pencurian. Dalam hal ini, kita bisa mengambil kesimpulan atau budaya yang mengakar, bahwa anak Poseidon memang dilahirkan sebagai anak yang tidak berguna. Padahal, sebenarnya Agenor sendiri memiliki potensi dalam satu hal, strategi dan navigasi (menurut dia sendiri, sih. Hehe). 
Perseus, Ratu Andromeda, dan Agenor di tengah jalan pintas Tartarus
Setelah bertemu Agenor, mereka pun sama-sama menemui Hephaestus, suami dari Aphrodite. Hephaestus ini adalah dewa jenius yang membuat tombak petir Zeus, trisula Poseidon, dan garpu milik Hades. Ketiga tongkat dewa ini jika disatukan akan membentuk tongkat Triam  yang dapat membunuh Kronos.
Pencarian Hephaestus mengarungi lautan, sampai pada pulau terpencil dengan kependudukan raksasa Cyclops. Dari Cyclops inilah semuanya diantarkan pada Hephaestus yang bisa menunjukkan jalan pintas Tartarus. Di tengah jalan, kebodohan Korrina, salah satu prajurit Andromeda membuat Hephaestus mati di tangan Ares. Di tengah gentingnya kondisi, Korrina malah berdoa pada Ares sang dewa perang dan membuat Ares membunuh Korrina dan juga Hephaestus. Mereka pun kehilangan satu-satunya orang jenius yang dapat membantu mereka menuju Tartarus. Setelah melewati keributan di antara orang yang tersisa, akhirnya mereka pun sampai ke Tartarus. Mereka melepaskan Zeus, meninggalkan Hades dan Ares, lalu pulang ke barak Ratu Andromeda.
Cyclops di pulau terpencil mengingatkan kita akan Dajjal, #eh
Masalah selanjutnya muncul ketika Perseus harus mengambil petir Zeus yang ada di tangan Ares. Dengan menculik anak Perseus, Ares pun membuat strategi. Perseus datang dan harus bertarung dengan Ares dan juga Kronos di depan anaknya, sebagai manusia setengah dewa.
Akhir kisah ini cukup menyenangkan, karena Hades dan Zeus pun saling memaafkan. Hades tak menjadi dewa lagi. Helius menjadi anak pemberani, Perseus hidup bersama Ratu Andromeda, dan tokoh-tokoh jahat pun mati. Beberapa yang belum dianggap pahlawan, akhirnya pun menjadi pahlawan, seperti Agenor. Beberapa yang baik, tak jarang mati lebih dulu. Yang sejak dulu kisah dalam mitologi Yunani memang sudah seperti itu, digambarkan kembali secara gamblang namun berbeda kisah. Hasilnya masih tetap sama seperti mitologi Yunani yang sebenarnya. Dan dari film inilah, kita bisa mempelajari budaya perdewaan kuno di Yunani dan mitologinya. Siapa menikahi siapa, memiliki anak siapa, dewa ini istrinya siapa, dan anaknya siapa. Tidak begitu buruk bagi film fantasi untuk sekaligus memberikan pengajaran akan pemahaman lain dari sebuah budaya. Dan karena itulah saya memberikan rating tinggi untuk film ini. Bagi yang belum sempat nonton, atau ingin lihat trailer-nya, silakan cari sendiri yaaa di Youtube. Hehe. [Ayu]
Judul: Wrath of the Titans
Sutradara: Jonathan Liebesman
Sequel: Clash of the Titans
Pemain: Sam Worthington (Perseus), Rosamund Pike (Andromeda), Bill Nighy (Hephaestus), Edgar Ramirez (Ares –> ganteng ^^), Toby Kebbell (Agenor), Danny Huston (Poseidon), Ralph Fiennes (Hades), Liam Neeson (Zeus), John Bell (Helius)
Distribusi: Warner Bros Films
Rilis: 30 Maret 2012
Rating: 4.5 / 5 
Gambar: random google

Author: Ayu Welirang

Hi! My name is Ayu. I'm a fiction writer based in Tangsel x Bandung, Indonesia. I also work as an IT System Administrator. I wrote posts on several blogs. My daily updates was written at: https://www.ayuwelirang.com.

Scroll Up