ABookReview 7: Lenka oleh Sarekat Penulis Kuping Hitam

Hari Selasa dalam minggu kedua bulan April ini, sudah saatnya saya mengulas kembali apa yang saya baca minggu lalu. Dan setelah mencapai buku ke-16 di tahun ini, sudah saatnya saya menceritakan tentang buku bacaan yang sama sekali berbeda dengan genre yang kemarin. 
Buku ini dipinjamkan oleh seorang blogger dan juga kakak dari kampus tetangga, seorang jurnalis sekaligus tukang baca.
Sarekat Penulis Kuping Hitam

Buku novel sastra-kontemporer ini ditulis secara bersama-sama alias keroyokan. Komunitas penulis yang menamai diri mereka dengan sebutan “Sarekat Penulis Kuping Hitam” ini adalah para kader-kader penulis yang dihasilkan dari Bengkel Penulisan Novel DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) pada tahun 2008 dan 2009. Setelah sekian lama bergelut dengan emosi dan elegi masing-masing, akhirnya mereka bisa menghasilkan satu novel beralur campuran yang diberi judul LENKA.


Sekilas, saya agak kaget ketika membaca. Saya pikir, judul bukunya Lekra. Ternyata saya salah baca judul. Setelah memperhatikan lebih lanjut, judulnya benar-benar LENKA. Kalau Lekra kan kesannya jadi sangat ‘kiri’ sekali buku ini. Kenapa? Kalau kalian menghafal cerita-cerita komunisme Indonesia, pastilah akan mengenal Lekra alias Lembaga Kebudayaan Rakyat.

Kembali pada LENKA. Buku ini ditulis oleh kurang lebih tujuhbelas penulis muda dari berbagai status sosial dalam masyarakat dan menamai kelompok mereka “Sarekat Penulis Kuping Hitam”. Dimoderasi oleh dua penulis sekaligus sastrawan-kontemporer A.S. Laksana dan Yusi Avianti Pareanom, buku ini lahir dari buah pikir yang difermentasi selama beberapa tahun lamanya sampai menjadi sebuah karya utuh.

Novel berjudul Lenka ini, ditulis bersama dengan 16 orang lainnya yang dulu pernah menjadi peserta Bengkel Penulisan Novel DKJ periode 2008-2009, dimulai dari sebuah situasi : “Pada sebuah acara penggalangan dana, seorang perempuan muda bergaun wisnu jatuh dari lantai lima. Namanya Magdalena, biasa dipanggil Lenka mengikuti kebiasaan orang Eropa Timur (neneknya orang Magyar, Hungaria), 22 tahun, mahasiswa dan model. Bunuh diri, kecelakaan, atau sengaja didorong oleh seseorang?” 

Seperti yang kita baca dari sinopsis mini di atas, novel ini bercerita tentang sosialita atau kehidupan kalangan atas. Penuh dengan drama dan intrik romansa yang terbaca dari setiap alur novel. Bagian-bagian yang tak pernah terbayangkan kerap kali muncul dalam cerita. Dan uniknya, alur campuran yang ada dalam novel ini benar-benar campuran! Kita hanya bisa menangkap rentang waktu yang terbaca dari sub judul pada buku ini. Setiap babnya hanya diberi sub judul begini: “1. (Keterangan Waktu) xxx Malam Pesta”.

Contoh penggambaran sub judulnya ialah sebagai berikut:

  1. Malam Pesta
  2. Dua Puluh Lima Tahun Sebelum Malam Pesta
  3. Tiga Hari Setelah Malam Pesta
  4. Dan sebagainya
Cover Depan LENKA
Nah, penggambaran sub judul itulah yang memberikan kita ruang satu-satunya untuk berdaya khayal seputar latar waktu pada novel. Bagi yang tak peka, pastilah terkecoh. Dan alur campuran yang memutarbalikkan antara masa kini dan masa-masa sebelum kini itulah yang membuat novel ini begitu sarat dengan kebingungan dan misteri.
Misteri tentang Lenka, apakah mati bunuh diri atau dibunuh? Lenka yang menjadi model namun memiliki otak super cerdas dengan mengambil studi filsafat di kampusnya. Lenka yang begitu menelan bulat-bulat apa yang dia pahami dari filsafat dan Albert Camus. Juga tentang Lenka yang menjadi model “fotografi pembebasan” bersama Helong Lembata–seorang fotografer sekaligus kekasih terakhir Lenka–dan melancarkan aksi “sadomasokisme” yang perlahan dia anut.
Semua itu tak sebanding dengan keluarga Lenka yang dikenal sebagai kalangan sosialita paling tinggi di kota mereka saat itu. Ayahnya, Tiung Sukmajati, adalah seorang komposer musik yang terkenal. Ibunya, Luisa-Bathory, adalah seorang sosialita yang dipandang di kalangan atas dan kakanya, Pandan Salas, adalah seorang pecatur muda yang sedang digandrungi oleh kalangan pecatur dan dunia muda pada masa itu. Dan semua itu memang tidak sebanding dengan kematian Lenka yang masih menjadi misteri. 
Membaca ini seperti membaca depresi. Depresi yang didapat dari seorang sosialita yang tidak pernah merasa bahwa dirinya ingin menjadi seperti itu. Dan depresi itu kita lewati juga dalam setiap lembar buku. Seolah ada pesan tersirat yang ingin disampaikan Lenka dari kematiannya. Dan hati-hati membacanya kalau kalian selalu menelan bulat-bulat bacaan kalian. Pahami dahulu, sebelum akhirnya mencoba menjadi sama seperti buku. [Ayu]

Judul: Lenka
Penulis: Sarekat Penulis Kuping Hitam, Yusi Avianti Pareanom, A.S. Laksana
Penerbit: Banana Publisher
Genre: Sastra-kontemporer, Drama, Sedikit Filsafat
ISBN: 9789791072
Halaman: 262
Harga: Rp 45.000,-
Rating: 5 / 5
Gambar: random Google

Author: Ayu Welirang

Hi! My name is Ayu. I'm a fiction writer based in Tangsel x Bandung, Indonesia. I also work as an IT System Administrator. I wrote posts on several blogs. My daily updates was written at: https://www.ayuwelirang.com.

Scroll Up