Sunday, April 29, 2018

Teknik Naratif Fiksi dan Contoh


Dalam fiksi, terdapat literary devices atau kadang dikenal sebagai teknik naratif. Teknik naratif yang dimaksud ini adalah salah satu unsur intrinsik yang lebih mendalam dari sekadar "plot" dan "teknik penulisan". Teknik naratif (literary device) adalah suatu teknik yang digunakan oleh penulis dalam memberi efek spesifik dan khusus untuk cerpen atau novel yang dibuatnya.

Penulis kerap membuat cerita yang tak sekadar membeberkan fakta dalam bentuk fiksi, atau sekadar membeberkan kejadian seperti suatu laporan. Penulis juga harus bisa memainkan alur dan teknik penceritaan alur tersebut untuk menarik reaksi yang berbeda dari para pembaca. Hal ini juga membantu pembaca untuk melihat dari berbagai sudut. Dengan teknik naratif, cerpen atau novel akan menjadi lebih menarik dan tidak terlalu datar. Berikut ini akan saya deskripsikan beberapa literary devices yang sering dipakai dan dapat Anda coba dalam pengembangan narasi kisah fiksi Anda.

Alusi

Teknik ini mengacu pada referensi yang dibuat oleh seorang penulis, tetapi tidak membuat pembaca terlalu pusing untuk memikirkan istilah karena pembaca sudah terhubung dengan referensi Anda. Alusi ini termasuk majas perbandingan yang merujuk secara tidak langsung atas tokoh atau peristiwa dalam karya sastra, berupa kilatan atau sedikit penceritaan.

Contoh: saat kita membuat cerita tentang hubungan dua orang kekasih yang direferensikan sebagai 'Romeo dan Juliet', kita tidak perlu menjelaskan secara lebih lanjut tentang Romeo dan Juliet itu, karena pembaca sudah familiar dengan drama Shakespeare berjudul sama. Penulis juga telah mengetahui bahwa mayoritas pembaca memang familiar dengan hal tersebut, sehingga tidak perlu berhenti dan mencari penjelasan atas referensi yang dipakai.

Deus ex Machina
Teknik ini berasal dari istilah Latin yang berarti 'god from the machine', yang memberikan petunjuk. Hal ini merujuk pada suatu kondisi di mana plot dan klimaks konflik cerita, tiba-tiba terselesaikan dengan kemunculan sebuah objek atau karakter lain, entah dari mana.

Contoh: Pada salah satu karya William Golding berjudul 'Lord of the Flies', tokoh protagonis bernama Ralph, selamat dari kematian dengan kedatangan sebuah kapal ke pulai terpencil secara tiba-tiba.

Foreshadow

Teknik ini digunakan saat seorang penulis memberikan petunjuk atau teka-teki yang mengantarkan pembaca pada plot selanjutnya. Petunjuk yang disajikan bisa samar atau bisa jelas sekali. Keduanya sama-sama berfungsi untuk memberi sugesti kepada pembaca tentang apa yang akan terjadi selanjutnya dalam cerita. Jenis teknik naratif ini biasa digunakan dalam cerita misteri, detektif, thriller, atau fiksi kriminal.

Framing Device
Teknik ini mencoba untuk membingkai cerita utama ke dalam cerita lain (sekunder), sehingga membuat 'cerita ada di dalam cerita'. Cara paling umum yaitu membuat karakter yang sedang menceritakan sesuatu pada karakter lain, untuk menceritakannya pada pembaca. Pada banyak kasus, framing device digunakan untuk membuat pembaca bingung dan mempertanyakan reliabilitas dari narator (akan dibahas pada bagian unreliable narrator).

In medias res
Istilah ini berasal dari bahasa Latin, yang artinya 'into the middle of things'. Seperti maksud dari istilah ini, cerita akan dimulai saat beberapa aktivitas telah terjadi. Biasanya dipakai untuk menarik perhatian pembaca dengan backstory atau kisah-kisah flashback, sehingga pembaca pun dibuat menebak apa yang sebenarnya terjadi pada saat kisah dalam fiksi tersebut belum dimulai.

Contoh: Beberapa kisah dalam novel James Bond karangan Ian Fleming, cerita dimulai dari agen rahasia yang ada di tengah misi, sebelum terjadi flashback saat agen tersebut baru akan memulai misi. Teknik ini juga digunakan pada beberapa film sebagai plot device.

MacGuffin
Teknik ini menggunakan suatu benda sebagai motivasi untuk membawa cerita melangkah maju. Sebagai contoh, pada beberapa kisah thriller menurut Alfred Hitchcock, MacGuffin berupa kalung yang dicari-cari oleh tokoh pendukung, sementara dalam fiksi mata-mata, MacGuffin biasanya berupa kertas-kertas atau data rahasia yang ingin dicari. Meski benda tersebut penting, tapi sebenarnya benda tersebut tidak begitu banyak relevansinya dengan plot cerita.

Contoh: The Maltese Falcon yang ditulis oleh Dashiell Hammett. Tentang seorang PI bernama Sam Spade, yang memburu patung hitam nan berharga, Maltese Falcon. Padahal, inti cerita tidak akan berubah walau tak ada patung itu.

Poetic Justice
Teknik ini bekerja seperti konsep 'karma', di mana karakter akan diberikan hadiah untuk perilaku yang baik dan akan dihukum karena jahat. Poetic justice adalah teknik yang umum dalam fiksi. Hal ini dikarenakan, memakai poetic justice cukup mudah dan cerita akan cenderung berakhir menyenangkan (happy ending).

Red Herring

Dalam fiksi, red herring mengacu pada petunjuk atau teka-teki yang biasanya akan berujung pada misleading. Teknik ini dipakai untuk mengalihkan pembaca dari plot twist yang akan muncul, sehingga hasilnya akan mengejutkan pembaca.

Contoh: beberapa cerita detektif dan cerita misteri, yang membuat pembaca selalu menebak apa yang akan terjadi. Dalam The Da Vinci Code oleh Dan Brown, karakter Bishop Aringarosa digambarkan sebagai tokoh antagonis, padahal sebenarnya dia hanya berfungsi sebagai red herring, untuk mengecoh kita dari penjahat sebenarnya.

Tragic Flaw
Teknik ini mengacu pada kekeliruan yang tragis dari karakter utama. Kadang juga terjadi pada tokoh pahlawan dalam cerita. Teknik ini memberikan ciri-ciri perilaku tokoh yang bermasalah sehingga akhirnya tokoh tersebut bisa kalah. Masalah yang muncul bisa berupa kebanggaan, keserakahan berlebih, balas dendam, atau atribut lain. Hasil dari sifat tersebut selalu sama, yaitu kehancuran karakter dan akhir yang tidak bahagia.

Contoh: tragic flaw muncul pada beberapa seri novel George R.R. Martin, 'A Song of Ice and Fire'. Yang paling terkenal adalah komitmen Eddard Stark yang tidak tergoyahkan untuk menghormati orang lain, sampai hal tersebut menghancurkan dirinya sendiri.

Unreliable Narrator

Teknik ini menggunakan teknik narator yang tidak bisa dipercaya. Narator utama dalam cerita, diduga telah menutup kebenaran yang utama, bahkan menyebutkannya secara salah dengan sengaja dan dengan sadar. Perkembangan teknik ini pada literatur muncul pada kisah detektif Agatha Christie, yang berjudul The Murder of Roger Ackroyd.

Ada beberapa tipe narator yang tidak bisa dipercaya ini. Menurut William Rigan, ada lima unreliable narrator, yaitu The Picaro (terlalu banyak membual dan hiperbola), The Madman (orang gila atau depresi), The Clown (narator yang tidak serius dan bermain dengan ekspektasi pembaca), The Naive (narator yang persepsinya kurang dewasa dan memiliki perspektif terbatas, dan terakhir adalah The Liar (narator yang sengaja salah mengartikan diri mereka sendiri, juga sering mengaburkan masa lalu mereka yang tidak pantas dan kredibilitasnya dipertanyakan)

Sunday, April 1, 2018

Catatan Editing Naskah Antologi Cerpen 1Minggu1Cerita


Di awal tahun 2018 ini, beberapa anggota dan administrator komunitas #1Minggu1Cerita menginisiasi sebuah proyek menyenangkan. Kami mengerjakan sebuah antologi fiksi, berdasarkan hasil voting akhir saat memilih fiksi atau non fiksi. Dari banyaknya peserta, hanya 21 orang yang berhasil menyelesaikan naskah pasca tenggat waktu.

Setelah itu, naskah pun dikirim melalui surel atau tautan Google Drive, agar bisa saya baca dan sunting. Proofread dibantu oleh Uda Dharma. Kegiatan mengedit secara pro bono alias pekerjaan sukarela ini juga bertujuan untuk menambah portofolio dan pengalaman mengedit naskah fiksi. Ya... walaupun saya menyadari bahwa selera juga kemampuan mengedit saya mungkin bisa dibilang belum cukup, tetapi saya berusaha untuk memberikan insight yang siapa tahu dapat bermanfaat bagi teman-teman blogger di 1Minggu1Cerita.

Saya menyadari bahwa, semua orang pada dasarnya itu mampu menulis, fiksi apalagi. Yang membedakannya tentu hanya kegigihan juga kesempatan. Jika ada kesempatan atau ruang, tentu saja siapapun bisa menjadi penulis andal. Maka, dengan memolesnya sedikit, tulisan-tulisan kawan blogger 1Minggu1Cerita, menurut saya cukup beragam dan memiliki gaya juga daya tarik masing-masing.

Naskah antologi cerita pendek 1Minggu1Cerita yang pertama ini, saya beri judul "Antara Cinta, Budaya, dan Generasi Kita". Judul ini mengacu pada tema utama dari naskah fiksi yang dikumpulkan, yaitu membahas cinta, budaya, dan generasi milenial, maupun gabungan ketiganya. Sampai artikel ini dibuat, naskah utuh kami telah selesai dan sedang berada di penerbit, masuk antrean cetak di bulan Juli. 

Sambil menunggu naskah diproses, saya ingin menuliskan beberapa catatan atau bisa dibilang, unofficial report atas proses editing antologi cerpen ini. Satu kata yang bisa saya kemukakan adalah: melelahkan, walau prosesnya sendiri sih menyenangkan. Mengapa lelah? Tentu saja karena mengedit 21 naskah dengan masing-masing penulis menyampaikan cerita mereka dalam 5 sampai 8 halaman, membuat saya harus ekstra kerja keras dalam membaca isi kepala orang yang berbeda-beda. Rupanya, pekerjaan editor naskah fiksi itu bukan pekerjaan yang mudah dan saya mengakuinya. Sebab proses panjang mengedit naskah ini penuh liku, saya akan coba mengemukakan pendapat saya (di luar hal-hal teknis), mengenai naskah ini. Ada beberapa judul yang saya sukai dan kalian—baik penulis naskah maupun calon pembaca buku kami—selamat menikmati catatan editing ini! :D

Gasiang oleh Dharma Poetra: Dari sekian banyak naskah, menurut saya ini yang paling matang. Mengangkat kearifan lokal dan budaya mistik di Sumatera Barat. Penulis meramu kisah cinta dan obsesi, ke dalam praktik mistisisme dan perdukunan. Selain itu, membaca naskah Uda Dharma ini, tak banyak revisi yang perlu dilakukan. Sisanya hanya masalah teknis. Untuk alur atau logika cerita sendiri, menurut saya sudah runut, tidak membuat kepala pening atau banyak berpikir. Saya merasa terhibur sekaligus amazed dengan naskah ini.

When Two Strangers Meet oleh Ikhwan Alim: Naskah satu ini saya sunting melalui format suggestion pada Google Docs. Saat awal mengedit, cukup banyak masalah teknis pada naskah, juga tidak adanya resolusi atas konflik pada akhir naskah. Namun, menariknya, penulis sepertinya memang mencintai dan paham betul simbol utama dalam naskah, yaitu tentang klub sepak bola. Kisah ini mulanya hanya kisah cinta, tetapi dikemas dengan pendekatan non fiksi, di mana dua orang fans sebuah klub sepak bola di Inggris, saling adu pendapat dan berujung pada pertemuan selanjutnya. Untuk judulnya sendiri, sebenarnya sang penulis belum mengemukakan apa judul yang tepat, hingga akhirnya saya mengusulkan judul tersebut. Menurut saya sih tepat, karena premisnya adalah dua orang asing, sama-sama fans Chelsea dan mereka pun bertemu lalu mengobrol lebih intensif. Menarik dan asyik untuk diikuti.

Cowok Taksiran oleh Annisaa Nurhayati: Naskah ketiga yang saya edit ini bercerita tentang dunia remaja, dunia yang mungkin kita semua telah lama tinggalkan. Namun, rasanya memang hal-hal sederhana remaja yang ada di naskah ini, pernah pula kita rasakan. Hal-hal sederhana seperti saling taksir dan suka, lalu berujung pada perubahan yang terjadi dalam diri. Intinya sederhana, seseorang bisa berubah menjadi lebih baik dengan suatu motivasi, walau motivasi itu hanya sesederhana cinta. Kalau bisa jadi lebih baik karena cinta, tidak masalah kan? :D

Dalam Jiwa Menari Serimpi oleh Reyningtyas Putri: Naskah ini membahas tentang seorang penari pensiun dini, sebab harus mengikuti arahan orang tua dalam memilih karir dan melupakan kecintaannya pada tarian tradisional Jawa Tengah. Pada suatu hari, sang penari bernostalgia dengan kota kelahirannya sembari mencari-cari sanggar tari peninggalan almarhum neneknya. Kita akan dibawa menelusuri kota Solo secara singkat pada naskah ini. Terasa sekali kedekatan antara penulis dengan tema dan latar yang dibahasnya, sebab rasanya kita seperti seorang turis yang dibawa berkeliling dengan orang Solo asli. Temanya memang sederhana, tentang nostalgia, tetapi menurut saya penulis cukup lihai meramu konflik sederhana menjadi sebuah cerita yang membuat kita pun akan mempertanyakan akar kita sendiri.

Merindu Langit oleh Octy VZ: Naskah ini awalnya saya edit dan komentari pada bagian perubahan sudut pandang yang tiba-tiba. Setelah mengobrol singkat dengan penulisnya, akhirnya sudut pandang tokoh dalam naskah ini, tidak berubah-ubah, melainkan tetap satu POV, yaitu POV1 alias tokoh aku. Awalnya, naskah ini memiliki POV3 di akhir. Mungkin tujuannya untuk menciptakan plot twist singkat. Namun, setelah melihat ada lubang plot karena perubahan POV yang tiba-tiba ini, akhirnya sang penulis meramu kembali naskahnya dan berakhir baik. Lihat kan? Betapa semua orang pun bisa menjadi penulis andal hanya dalam waktu singkat. Itu semua tentu berawal dari kegigihan penulis itu sendiri. :D

Kenangan dan Masa Kini oleh Zahra Zahira: Dalam naskah ini, kita akan dibawa mempelajari pop culture di Jepang. Sang tokoh berbicara dalam bahasa Jepang, dan ini merupakan satu kelebihan karena sang penulis rupanya memang menguasai bahasa Negeri Sakura tersebut. Premisnya sendiri memang sederhana, hanya tentang dua orang yang jarang mengobrol selama kurang lebih lima tahun dan tiba-tiba bisa menemukan begitu banyak hal yang mereka bicarakan setelah kembali bertemu. Itulah mengapa, kenangan yang dipupuk selalu menimbulkan nostalgia. Naskah ini cukup segar dan percampuran antara penggunaan bahasa Jepang dengan Sunda, menyenangkan untuk dilihat. Cross-culture gitu. XD

Teman Alami Dalila oleh Venessa Allia: Naskah selanjutnya ini, termasuk satu yang mencampurkan dua tema, yaitu cinta dan generasi milenial. Kita dibawa masuk dalam hubungan era 2.0 alias era digital. Semua serba video call, semua serba chat. Dari semua hal itu, sampai kita lupa pada apa yang paling dekat. Kita lupa pada apa yang berharga, tetapi kita tetap tak bisa melihatnya. Rupanya, cinta era digital membuat yang jauh seolah-olah dekat, padahal yang dekat itu benar-benar ada dan hanya sejengkal langkah. Tetapi, era digital merusak itu semua. Sungguh sedih~ Pada akhirnya, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa sebenarnya, era digital membuat kita lupa esensi cinta. *Azeg~

Bisikan Rindu oleh Merisa Putri: Ini adalah naskah berisi bahasa Minang yang kedua, yang saya edit dan baca tentu saja. Setelah Gasiang, naskah ini pula yang membuka mata akan satu daerah yang jauh dari jangkauan saya, tetapi ingin saya ketahui. Melalui kacamata sang penulis, kita dibawa pada satu kenyataan bahwa cinta seorang ibu selalu mengalir tatkala sang anak tidak bisa paham akan pengorbanan ibu untuk membesarkannya. Ceritanya sendiri cukup sedih kalau menurut saya, karena ini termasuk salah satu cinta mutlak seorang ibu, bukan cinta suwung anak muda. Namun, membaca ini bisa menghibur sekaligus membuat kita berkaca, apakah selama ini kita telah benar-benar mencintai dan menyayangi Ibu sepenuh hati? :')

Mimpi Tak Selalu Pasti oleh Raya Makyus: Ini naskah kedua yang judulnya saya sarankan pada sang penulis. Saya agak lupa juga sih (karena mengeditnya sudah lama banget), awalnya apa judul naskah ini. Naskah ini juga cukup sederhana. Mengambil tema cinta, tetapi premisnya tentu saja berbeda dari naskah yang lain. Kita akan dibawa menyelami alam bawah sadar sang tokoh, yang berusaha mencari jodoh. Sekian purnama, sekian tengah malam, ia lewatkan dalam doa-doa dan ia mendapatkan sebuah mimpi. Akankah mimpi itu jodohnya? Rupanya, di akhir cerita, kita akan mendapati bahwa sang tokoh ini sedang menyelami memorinya akan sebuah mimpi di masa lalu yang memang tak selalu pasti sampai ke masa depan. :D

Bunda oleh Hani Widiatmoko: Dari naskah ini, saya bisa merasakan bahwa usia dan kedewasaan, rupanya bisa membedakan bagaimana napas dari sebuah tulisan. Naskah Bunda, merupakan salah satu yang menunjukkan bahwa sang penulis tentulah telah lebih matang dalam pemikiran daripada diri saya sendiri. Naskah ini membahas cinta seorang ibu, sama seperti naskah Bisikan Rindu oleh Merisa Putri. Sama-sama membahas tentang cinta seorang ibu, hanya saja dieksekusi dengan cara yang berbeda. Perspektif yang disajikan tentu saja berbeda pula dan bisa membuat kita menyimpulkan bagaimana kerangka berpikir seseorang bisa berawal dari premis yang sama, tetapi dengan perbedaan pengalaman dan perjalanan hidup, hasil yang muncul akan berbeda.

Pelakor oleh Maria G. Soemitro: Naskah ini membahas fenomena paling update pada kancah percintaan orang dewasa, yaitu tentang fenomena perebut laki orang. Pada awal mengedit, saya belum paham betul judul naskah ini, sebab rupanya saya kurang update pada bahasa atau singkatan-singkatan yang sedang merajalela di ranah sosial media. Pelakor sendiri memang berasal dari singkatan kata perebut laki orang—yang mana saya malah tahunya dari suami saya tentang istilah ini. Ada sedikit unsur anak yang jadi berperilaku abusive karena fenomena pelakor ini dan si tokoh utama, mencoba untuk tidak mengajarkan anak lelakinya bersikap seperti itu. Sebab, rantai utama masalah pelakor, harus berhenti di tangannya, dengan tidak membuat sang anak jadi lelaki abusive dan tidak bertanggungjawab.

Ketika Fania Harus Memilih oleh Rahma Mocca: Mengedit naskah ini cukup melelahkan, sebab banyak dialog tag yang kurang tepat. Ada beberapa hal yang harus diperbaiki, walau ceritanya sendiri menarik karena dibangun dari kebingungan tokoh wanita bernama Fania dalam memilih pasangan hidup. Memang sih, saya menganggap ujung cerita ini agak terlalu gimana ya. Saya menganggap si tokoh Fania sungguh plin-plan, bahkan tidak bisa jujur pada Shaddam. Mengapa ia harus bertahan begitu lama dengan seseorang yang bahkan tidak ia yakini untuk ia jadikan pendamping hidup? Dari sana, saya berpikir bahwa, oh mungkin ini memang premis yang ingin ditawarkan penulis, yaitu tentang kehidupan cinta new adult masa kini yang penuh PHP. 

Ia yang Menemaniku oleh Rhoshandhayani KT: Naskah selanjutnya ini memiliki sudut pandang orang pertama. Tokoh aku bercerita tentang lika-liku kehidupan kampus dan organisasi, juga bagaimana ia harus menjalani lay-low relationship (bahasa apa ini? wkwkwk) dengan sang kekasih lantaran mereka ada dalam satu organisasi yang sama. Tokoh utama mengalami dilema, bahwa pacaran yang ia lakukan selama ini menurutnya salah. Ia memang tak pernah melakukan hal-hal yang melawan moral atau agama, tetapi tetap saja, pacaran itu tak tepat walau ia merasa, orang-orang yang sok menceramahinya itu hanyalah sekumpulan orang sok suci. Ini premis menarik, sebab sebagian besar dari kita pasti pernah mengalami dilema yang kadang disebut quarter-life crisis. Usia menjelang 25 tahun alias menuju fase new adult, memang membuat seseorang berada di ambang kebimbangan. Harus menjadi apa? Harus menjadi lebih baik atau menjadi seseorang yang bagaimana jika sudah merasa baik? Mau kerja apa, mau menikah sama siapa? Dan lain sebagainya. Ini pula yang ditawarkan pada naskah dari Kak Ros, tentang dilema kehidupan dewasa-muda.

Cinta Itu Tentang Rasa oleh Devi Fabiola: Kisah dalam naskah ini bercerita tentang pasangan suami istri yang sedang mengalami pilihan-pilihan tersulit dalam kehidupan rumah tangga. Pilihan-pilihan sulit itu, harus diselesaikan bersama, sebagai sepasang suami-istri tentu saja. Bagaimana upaya tetap menghadirkan cinta dalam kehidupan rumah tangga yang pasang surut, dan menyelesaikannya tanpa harus ada perpecahan. Itulah yang ditawarkan oleh naskah ini. Kita akan dibawa pada perjalanan 'rasa' dari dua orang yang sedang dilanda 'hambar'.

Cerita Sekolah Farah oleh Fera Marentika: Cerpen CiFer (begitulah panggilan penulis) adalah cerpen ketiga yang mendapatkan saran judul, setelah saya mengobrol panjang lebar dengan sang penulis. Berkisah tentang seorang remaja bernama Farah yang punya mimpi untuk bersekolah di tempat terbaik dan menjadi signifikan. Namun, perjalanan mencari sekolah di era sekarang ini rupanya tak semudah masa lalu. Banyak pesaing, banyak yang nilainya lebih baik, belum lagi banyaknya tes yang melibatkan fisik juga kondisi tubuh, akan membuat masuk sekolah tingkat atas menjadi lebih sulit. Dari naskah lainnya, naskah ini termasuk berbeda, karena naskah ini seperti menyajikan masalah generasi kini yang sama sekali luput dari pandangan kita semua. Jika banyak orang berkutat dalam kisah cinta, naskah ini tidak berkutat di hal itu. Naskah ini justru membongkar fenomena, betapa anak sekarang mulai sulit mendapatkan sekolah, sejak banyaknya kebijakan yang dirombak terkait pemilihan sekolah tingkat atas.  Kita kerap melupakan, bahwa pendidikan adalah hal yang kini mulai sulit didapat. Oleh orang berpunya saja, uang tak cukup untuk membeli pendidikan, karena ada banyak kompetensi yang harus dimiliki. Dan Farah, dalam cerpen ini, menggambarkan hal-hal itu dalam pergulatannya untuk memilih sekolah.

Kala Hujan oleh Reytia Anindita: Cerpen ini membawa kita pada suatu kisah "fantasi", jika tidak bisa disebut "realisme magis", di mana si tokoh aku mencapai akhir hidup dan diberikan satu kesempatan untuk melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sebelum kembali pada kegelapan absolut. Cerpen ini secara sederhana ingin memberitahu kita, bahwa kita sudah pasti tidak akan bisa kembali ke dunia setelah mati, dan jika memang ada kesempatan, maka gunakanlah kesempatan itu untuk menyelesaikan hal-hal penting dan bermanfaat sebelum kita tiada.

Senja dan Fajar oleh Mega Novetrishka Putri: Penulis cerpen ini mengatakan bahwa ia terinspirasi dari lagu Tohpati feat Shakila yang berjudul Lukisan Pagi. Premis utama adalah tentang pertemuan dua orang yang sama sekali berbeda, tetapi memiliki kecintaan yang sama pada langit, entah senja atau fajar. Keduanya menghabiskan waktu di tepi pantai, mengagumi keindahan cakrawala dan pada akhirnya saling memahami, suatu kebetulan semesta. 

Konde oleh Ismail Sunni: Cerpen ini salah satu yang bernas sih menurut saya, walau sang penulis mengklaim bahwa ini adalah proyek fiksi pertamanya. Selain teknis dialog yang harus diperbaiki, sisanya oke. Jalan cerita juga tidak berlubang dan gaya berceritanya jenaka. Disisipkan dengan detail tentang kegiatan programmer kala senggang, seperti menonton video panda atau video kucing. Hal-hal yang ada di cerpen ini, sadar atau tidak, sangat dekat dengan keseharian kita. Akhir cerpennya juga kocak dan ada sedikit plot twist. Pengalaman mengedit yang menyenangkan, sebab bisa ikut tertawa karena membaca cerita Ismail Sunni.

Rindu Dendam oleh Maryati Imang: Cerpen ini menawarkan kita cerita hantu masa lalu, yang tentunya dimiliki oleh setiap orang. Bagaimana langkah kita menuju masa depan, selalu terikat dengan hantu masa lalu ini. Pada akhirnya, kita akan dipertemukan kembali dengan masa lalu yang tidak bisa kita lompati begitu saja, sebab bagaimanapun, sosok itu pernah berada di kehidupan kita selama beberapa lama. Inilah cerita tentang bagaimana seseorang harus benar-benar memilih untuk move on walau sulit.

Cinta untuk Wayang oleh Lukma Dwi Affandy: Cerpen ini menceritakan tentang bagaimana fenomena informasi bisa menjadi viral dan mendapatkan banyak tanggapan di media sosial. Memang sih, saya akui ada beberapa plot hole dalam cerpen ini, tetapi revisinya akan sulit jika interaksi dengan penulis agak terbatas. Saya akui lagi, bahwa ini seharusnya bisa menjadi lebih berisi jika dilakukan penutupan konflik yang tidak terburu-buru. Sebab, saya merasa ada hal yang kurang nendang dari naskah ini, kira-kira begitu istilahnya. Padahal, sajian premisnya menarik dan sangat dekat dengan generasi milenial, tetapi eksekusinya mungkin kurang halus.

Sepasang Mata Bola yang Menari oleh Peppy Febriandini: Cerpen terakhir ini berkisah tentang nostalgia. Cerpen ke-sekian yang menawarkan tentang nostalgia dan masa lalu. Diilhami dari sebuah lagu lawas kesukaan sang kakek, Lia memutuskan duduk di sebuah kafe. Siapa nyana, duduknya ia di sana, malah mengantarkannya pada masa-masa di mana ia masih tinggal bersama kakek tercinta yang gemar mendengarkan lagu Sepasang Mata Bola. Kisah yang menarik, antara hubungan kakek-cucu berbeda generasi yang saling memaknai hidup dari sebuah lagu lawas.

Nah, itulah 21 naskah yang telah saya edit dan saya bahas sedikit catatannya pada artikel kali ini. Saya ingin mengatakan bahwa ini adalah pengalaman yang menyenangkan. Bisa menyelami berbagai pemikiran seseorang dalam fiksi, tentulah bukan sembarang pengalaman. Biasanya, saya kan memang mengedit dan membaca naskah-naskah kriminal dari kawan-kawan di ThrillingMysteryClub saja. Jadi, membaca naskah cerpen untuk Antologi Cerpen #1Minggu1Cerita ini adalah hiburan tersendiri.

Bagi teman-teman yang berkenan untuk membacanya, nantikan hasil cetak "Antara Cinta, Budaya, dan Generasi Kita", sebuah antologi cerpen dari komunitas #1Minggu1Cerita yang akan terbit Juli nanti. Kalian bisa memilikinya dan juga ikut menyelami cerita-cerita yang disajikan oleh teman-teman blogger di #1Minggu1Cerita. Nantikan di bulan Juli ya! :D

Wednesday, March 21, 2018

Cara Mendaftar VPS DigitalOcean Tanpa Kartu Kredit


Halo!

Kali ini saya lagi nggak mau bagi-bagi tips menulis dulu. Artikel hari ini akan menceritakan tentang bagaimana caranya mendaftar VPS DigitalOcean tanpa harus memiliki kartu kredit. Selain daftarnya gratis, kita juga akan mendapatkan DigitalOcean credits sebesar $10 lho! Lumayan. Bisa untuk deploy droplets dengan SSD sebesar 25GB dan bandwidth 1TB. Asyik~

Kebetulan saya bekerja sebagai DevOps (SysAdmin merangkap deployment gitu) dan sering merasa geli sekaligus kepinginan aja gitu sama yang namanya cloud servers. Hampir semua layanan cloud servers itu saya pernah daftar, mulai dari AWS (yang paling terkenal), Google Compute Engine (GCE), Linode, DigitalOcean, bahkan yang terbaru ini, saya mencoba AliBaba Cloud (Alicloud).

Hal ini berawal dari hijrahnya saya dari shared hosting. Selain karena punya cloud servers tentu saja rasanya seperti kita punya server sendiri. Bedanya, kita tidak perlu mengatur atau me-manage data center secara fisik. Kita hanya perlu klik sana dan sini, lalu server kita jadi. Bagi mereka yang punya kemampuan OS Linux berikut perintah-perintah terminal, pastilah senang mengutak-atik instance tanpa tampilan desktop. Namun, sistem mumpuni seperti ini tentu saja sulit digunakan atau dimiliki, jika kita tidak punya kartu kredit yang bisa dipakai sebagai alat pembayaran global.

Akhirnya, setelah banyak surel saya yang mampir di berbagai macam penyedia cloud system, atau biasa disebuat IaaS (Infrastructure as a Service), saya memutuskan untuk membuka akun personal di DigitalOcean. I'll stick with DigitalOcean.

Pilihan saya jatuh pada DO, karena DO agak lebih mudah untuk provisioning, tidak seperti AWS atau AliCloud yang masing-masing fungsi cloud itu terpisah. Satu instance di AWS, dibuat dengan berbagai fitur untuk akhirnya dapat terhubung dengan dunia maya.
Satu instance EC2, membutuhkan block storage di fitur EBS, lalu butuh image yang bisa dipilih dari berbagai template server di AWS dan butuh konfigurasi lain yang jika hanya akan saya pakai sebagai akun personal, tentu saja buang-buang waktu. Karena pertimbang 'malas buang-buang waktu' inilah, saya memilih DigitalOcean.


Jadi, singkat kata, saya mendaftarkan diri. Setelah berhasil mendaftar dan login, halaman pertama yang ditemui tentu saja halaman 'verifikasi pembayaran'. Bagaimana cara saya masuk ke dashboard untuk membuat server saya jika tidak punya kartu kredit?

Solusinya adalah......

Memanfaatkan akun PayPal saya. Selama ini, saya tidak mendaftarkan kartu kredit atau debit, melainkan hanya mendaftarkan informasi bank ke PayPal. Tidak perlu top up atau semacamnya. Hanya biarkan PayPal login di browser saja.

Setelah itu, kembali ke akun DigitalOcean yang memunculkan halaman verifikasi kartu kredit. Tinggal pilih tab kedua, yaitu PayPal. Di sana, barulah kita diminta mengisi credits, semacam tabungan atau deposit untuk nanti membeli droplet. 


Harga lima dolar ini, setara dengan harga satu bulan Standard $5 droplets (sebutan untuk instance di DigitalOcean). Standard $5 sendiri adalah sebuah droplets yang memiliki sumber daya RAM 1GB, 1 CPU core (tentu saja tidak shared seperti sistem hosting), SSD 25GB, dan data transfer sebesar 1TB. Untuk size droplets lain, silakan cek di bawah ini.


Nah, setelah berhasil verifikasi pembayaran, saya checkout PayPal sebesar $5 dengan memakai virtual credit card. Biasanya, bank di Indonesia seperti BCA, BNI, BRI, Mandiri, dan lainnya, memiliki fitur VCC untuk diaktifkan. VCC ini berlaku seperti kartu kredit, hanya saja kita tidak akan berutang. Kita hanya akan memindahkan saldo di tabungan atau rekening bank, ke dompet online. Virtual credit card sebenarnya berfungsi seperti kartu debit pada umumnya, tetapi uang bisa dilewatkan ke proxy seperti PayPal.

Pembayaran pun berhasil, dan akhirnya saya bisa memiliki akun personal di DigitalOcean. Tidak perlu iseng create and destroy lagi deh, seperti di akun DO saya yang lain (sebab di akun yang satu lagi, DO-nya punya orang sekantor. Hehe).

Digitalocean's Dashboard

Akhirnya, bisa mulai provisioning sumber daya dari droplets yang diinginkan, lalu instalasi aplikasi yang diinginkan. Mungkin dimulai dari bikin box Wordpress dengan tambahan redis atau varnish? :D

Oh ya, saya ada bonus nih! Yang mau coba DigitalOcean secara gratis, bisa mendaftar ke DigitalOcean lewat link saya di sini: https://m.do.co/c/4bf509b54e96

Nanti, kalian akan langsung dapat $10 ke credits DO kalian dan bisa langsung digunakan untuk launch server kalian.

Terima kasih telah membaca! Jangan lupa tinggalkan kesan juga tulis pengalaman kalian di kolom komentar ya. Selamat mencoba!