Tuesday, February 20, 2018

Mengenal Sudut Pandang atau POV dalam Fiksi

POV dalam Fiksi
Salah satu elemen fiksi adalah sudut pandang atau point of view (POV). Singkatnya, POV adalah suatu perspektif atau bagaimana cara penulis memandang dan menceritakan kisahnya. Penulis dapat memilih POV untuk cerita mereka dari tiga perspektif di bawah ini.

  • POV 1: Sudut pandang orang pertama, biasanya memakai aku atau kami.
  • POV 3: Sudut pandang orang ketiga, biasanya memakai "dia".
  • POV 2: Sudut pandang orang kedua, biasanya memakai "kamu" atau "kau". POV 2 ini merupakan yang paling jarang digunakan, sekaligus paling tricky, menurut saya.

Sebagai penulis, pemilihan POV juga harus strategis dan tepat. Ada hal-hal yang harus dipertimbangkan saat akan menulis cerita dengan POV tertentu, sebab POV akan mengantarkan Anda pada bagaimana Anda bercerita. Maka, untuk lebih jelasnya, saya akan coba membahas sedikit tentang POV.

POV 1 - Orang Pertama


POV pertama ini membatasi pembaca kepada satu perspektif karakter saja. Seperti buku "On the Road" misalnya, di mana POV orang pertama menempatkan pembaca secara langsung dalam mobil Sal Paradise dan Dean Moriarty. Pembaca mengikuti kisah Sal yang bercerita tentang perjalanannya bersama Dean Moriarty. Orang pertama biasanya membuat cerita lebih personal.

Dalam kisah-kisah misteri, sudut pandang orang pertama ini membuat teka-teki yang harus dipecahkan jadi semakin menarik. Kesulitannya, POV 1 tidak bisa pindah pandangan atau perspektif, sehingga kita akan dibuat menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Kita juga harus menulis linier, hanya di satu garis lurus dan tidak bisa tiba-tiba lompat alur atau lompat adegan.

POV 3 - Orang Ketiga


Pada POV 1, penceritaan akan lebih kuat. Namun, pada POV 3, cerita yang disampaikan akan lebih beraneka. Orang ketiga membuat penulis bisa mengeksplorasi cerita dalam universe yang lebih rumit. Dia bisa melompat ke berbagai macam tokoh dan menjadi "serba tahu". Ini juga biasanya digunakan dalam penulisan cerita-cerita yang memiliki alur cepat, seperti kisah aksi, thriller, dan kadang kisah dramatis.

Orang ketiga pasti selalu menceritakan karakter dengan kata ganti "dia", "mereka", atau malah menyebutkan nama karakter saja jika harus berganti-ganti ke berbagai tokoh. Kemudahan POV 3 ini adalah, Anda bisa memainkan plot sedemikian rupa.

POV 2 - Orang Kedua


POV 2 ini agak sulit dipraktikkan sih sebenarnya, sebab saya pun jarang memakai POV ini. Sudut pandang orang kedua akan memandang Anda, si pembaca. Contohnya begini:

Kamu sedang membaca blog ini ketika kamu akan meminum kopi. Namun, kamu jadi memikirkan, bagaimana aku tahu bahwa kamu hendak meminum kopi?

Kamu pun bergumam, "Apa-apaan sih ini? Sialan!"

Mungkin sama kesalnya seperti saat kamu hendak membuka Instagram tetapi kehabisan kuota.

POV 2 agak jarang digunakan karena menyulitkan penulis saat mengembangkan karakter. Sulit juga untuk mempertahankan model narasi dalam karya yang lebih panjang lagi, seperti novel misalnya.

Jika saya ditanya mengenai POV yang paling saya sukai, tentu saya akan menjawab POV 3. Saya lebih sering memakai POV 3 dalam beberapa novel saya. Namun, saya kini sedang mencoba POV 1 untuk salah satu naskah detektif. Saya coba untuk menulis linier dan menahan teka-teki di belakang. Berbeda dengan ketika saya menulis dengan alur cepat dan memakai POV 3. Masing-masing POV tersebut memberi kesan dan tantangan yang berbeda.

Mungkin, kapan-kapan saya akan coba menulis novel dalam POV 2, kalau sudah mantap. Berhubung sekarang masih coba-coba POV tersebut, saya akan latihan dulu.

Nah, bagaimana dengan kalian? POV mana yang biasa kalian gunakan? Jangan lupa berbagi di kolom komentar ya.

***

Serial "Elemen Fiksi" lainnya:

Friday, February 16, 2018

Tips 14: Menulis Fiksi untuk Pemula

Tips Menulis Fiksi untuk Pemula
Seharusnya, artikel kali ini menjadi tips pertama. Namun, karena baru sempat menuliskannya, jadi ya sudahlah. Artikel ini akan menjadi tips ke-14 dalam serial tips menulis yang saya kembangkan melalui praktik nyata ketika saya menulis fiksi.

Siapapun yang bilang bahwa menulis fiksi tidak bisa dipelajari, berarti ia doyan berkata hal-hal nonsens. Inspirasi memang tidak bisa dipelajari, tetapi teknik menulis tentulah bisa. Teknik menulis merupakan sejenis keahlian, tidak ada bedanya dengan—katakanlah memasak, menjahit, maupun menggambar.

Dalam memasak, beberapa orang memiliki keahlian lebih, suatu sifat alami dalam membentuk rasa masakan yang enak dengan berbagai bumbu. Namun, orang yang punya kelebihan itu bukan satu-satunya yang bisa membuat masakan lezat. Sama halnya dengan menulis. Semua orang bisa merangkai kata dengan baik, jelas, dan bahkan terstruktur. Bahkan, tulisan tersebut juga bisa 'bercerita'. Nah, jika kalian yang mampir ke sini bertujuan untuk menulis cerita, atau ingin belajar untuk menulis fiksi secara lebih baik, artikel ini mungkin akan membantu.

Menulis Secara Bebas

Teknik ini semacam cara termudah untuk tenggelam dalam kata-kata dan biasa disebut freewriting. Selain itu, freewriting bahkan sering digunakan oleh para penulis berpengalaman ketika mereka mengalami writer's block. Beberapa orang merasa lebih nyaman saat menulis tanpa struktur, tetapi jika Anda bukan salah satu dari orang itu, maka mulailah dengan menyusun outline untuk cerita Anda.

Mulai dari Cerpen

Beberapa penulis fiksi berangkat dari menulis cerita pendek. Mereka awalnya menulis beberapa lembar prosa pendek, lalu mereka kembangkan dalam format yang lebih panjang, seperti cerita bersambung, novella, dan bahkan novel. Namun, sebelum memulai, ulaslah terlebih dahulu aturan dasarnya. Walau menulis bisa dibuat sederhana, tetapi perlu ada aturan dasar yang dipenuhi dalam menulis fiksi, seperti alur, latar, penokohan, sudut pandang, dan aturan lainnya. Dengan memulai dari cerita pendek, biasanya akan ada banyak ide-ide muncul dalam kepala. Ide tersebut akhirnya akan memuncul karya-karya lain yang lebih matang. Menulis cerpen juga bisa mengasah kemampuan Anda dalam menyusun plot dan alur cerita, hanya saja dalam format yang lebih pendek.


Plotting Cerita

Setelah belajar menulis fiksi dari cerita pendek, lalu Anda bisa mulai dari elemen lain pada fiksi, seperti alur atau plot. Dengan outline yang sudah Anda susun, mulailah untuk menjabarkan kerangka tersebut ke dalam alur yang ada di kepala Anda. Plot menjadi kunci utama cerita Anda, di mana ia menjadi jalur untuk tokoh-tokoh cerita Anda berjalan atau berlari. Bagaimanapun, plot yang gagal akan membuat cerita dengan tema sehebat apapun menjadi tidak bernyawa.

Karakter

Dalam menulis fiksi, Anda perlu mengenal karakter Anda sendiri. Deskripsikan fisiknya, sifatnya, hal yang disukai dan tidak disukai, pendidikannya, pekerjaannya, kelebihan dan kekurangannya, juga ketakutan tokoh Anda pada sesuatu. Tips mengenai pengembangan tokoh atau karakter ini, sudah pernah saya tulis dalam "Tips Sesat: Penokohan Karakter Fiksi".

Setting atau Latar

Beberapa orang percaya, bahwa latar cerita adalah salah satu elemen terpenting dalam sebuah cerita. Latar akan menentukan segala situasi dalam cerita Anda. Jika Anda baru mulai menulis, elemen ini mungkin akan sedikit abstrak. Namun, Anda bisa mempelajarinya dalam "Tips Sesat 8: Membangun Latar atau Setting dalam Novel". Pada artikel saya yang itu, saya mencoba untuk sedikit menjelaskan bagaimana cara membangun "dunia" dalam cerita Anda. Istilah populernya adalah worldbuilding.

Sudut Pandang dan Dialog

Dua hal ini menjadi dua sisi yang saling bersinggungan, bahkan beriringan. Dalam menulis cerita, Anda harus memutuskan bagaimana Anda akan bercerita? Lewat sudut pandang (POV) orang pertama atau orang ketiga? Hal ini akan membedakan keseluruhan cerita. Ada kelebihan dan kekurangan dari kedua POV ini. Sebagai contoh, dalam POV 1, tokoh aku akan banyak bercerita. Ia akan bertindak sebagai narator sekaligus pemantau jalannya cerita. Namun, ia tidak bisa melihat terlalu banyak, karena apa yang diceritakan hanyalah apa yang ia saksikan. Nah, jika Anda kesulitan, mungkin Anda bisa mulai dari POV 3, di mana narator atau pencerita akan selalu memakai kata ganti orang ketiga atau menyebut nama tokoh. Dengan memakai sudut pandang orang ketiga ini, Anda dapat melihat dari berbagai sudut, dan tidak hanya dari pandangan "aku".

Dialog juga berperan ketika Anda memutuskan suatu sudut pandang. Anda harus merangkainya seteliti mungkin, karena jika ada yang berubah POV-nya, maka akan jadi fatal. Keseluruhan cerita akan mendapat sudut pandang lain atau berbeda, dan pembaca akan kebingungan.

Dari elemen-elemen ini, secara lebih jelasnya akan saya gambarkan kapan-kapan. Untuk saat ini, silakan Anda pelajari beberapa seri "tips menulis" dari saya yang juga telah saya tuliskan di sini. Anda bisa langsung klik menu teratas situs ini dan seri menulis akan muncul semua.

Terima kasih telah mampir. Selamat menulis! Jangan lupa tinggalkan komentar Anda, atau link tulisan fiksi Anda yang telah berhasil diselesaikan. Saya akan dengan senang hati membacanya.

Wednesday, January 24, 2018

Tentang Beta Reader

Tentang Beta Reader | Ayuwelirang.com

Ada yang baru menyelesaikan naskah novelnya?

Kalau ada, saya ucapkan selamat! Selamat karena sudah berhasil melawan distraksi yang muncul saat menulis novel. Selamat juga karena sudah melewati up-and-down karena banyak ide muncul dan si tokoh utama harus dibuang, dibunuh atau dilupakan.

Lantas, setelah naskah novel selesai, apa sih langkah selanjutnya yang harus ditempuh?

Selanjutnya adalah menjadikan mimpimu nyata dengan menerbitkan novelmu! Tapi sebelum mengirimkan naskah ke penerbit impian, ada baiknya untuk meminta saran beberapa orang yang 'gemar membaca'. Tawarkan naskahmu dan kasih alasan mengapa mereka harus membaca naskah itu. Nah, mereka yang kamu tawarkan naskah untuk dibaca, kadang disebut sebagai "beta reader".

Baca Juga: Tips Menulis 12: Memilih Penerbit untuk Novelmu

Apakah yang dimaksud beta reader?

Secara konteks, mungkin definisinya sama seperti kata 'beta tester'. Jadi, seorang beta reader (kadang disebut sebagai alpha reader atau hanya 'beta' saja), pre-reader, dan kritikus, sebenarnya adalah pembaca non-profesional. Tapi mereka biasa membaca sebuah tulisan yang umumnya adalah fiksi dan berformat panjang seperti novella atau novel.

Beta reader atau pembaca beta, berfungsi untuk melihat celah-celah yang ada dalam sebuah karya fiksi. Misalnya pada format novel. Sebelum novel tersebut rilis untuk dikonsumsi publik, pembaca beta akan memperhatikan elemen-elemen dalam novel yang dapat diperbaiki. Elemen itu antara lain seperti kaidah penulisan, ejaan yang disempurnakan, penulisan kata baku, juga saran untuk mengembangkan plot cerita.

Sebenarnya tidak hanya plot cerita saja, pembaca beta juga akan menyarankan pengembangan karakter dan latar penulisan. Mereka memang bukan proofreader atau penyunting naskah secara eksplisit, tapi ketika naskah novel kita belum dirilis sama sekali, pembaca beta dapat berfungsi seperti keduanya.

Baca Juga: 13 Genre Fiksi Terpopuler yang Perlu Disimak


Utamanya, pembaca beta yang memang hobi membaca berbagai macam genre novel dan berbagai macam plot, biasanya akan mengetahui jenis-jenis cerita yang sedang populer. Selain itu, mereka biasanya akan menganjurkan atau menyarankan si penulis untuk membaca karya lain dengan premis serupa. Hal ini diperuntukkan sebagai pembelajaran bagi si penulis untuk mengembangkan lubang-lubang novelnya setelah dibaca oleh pembaca beta.

Nah, jadi jangan sungkan untuk meminta sedikit masukan pada teman yang hobinya memang membaca. Tapi perlu diperhatikan juga, apakah genre novel yang teman kalian baca ini sesuai dengan naskah yang kalian tulis? Jika sesuai, langsung saja tawarkan naskah yang masih segar untuk dikomentari dan diberi kritik juga saran.

Intinya sih, ketika beta reader menyuarakan isi kepalanya terkait naskah kalian, jangan merasa berkecil hati jika naskah itu tidak sesuai ekspektasi mereka. Jangan jadi baper dan tiba-tiba malas menulis lagi. Justru, sebagai penulis yang terus berproses, kritik dan saran beta reader, ibarat angin segar di tanah gersang. *azeg

Jadi... Apakah kalian punya pengalaman soal beta reader? Atau... Kalian juga ada naskah yang ingin ditawarkan ke saya agar dibaca? Boleh banget kalau memang ada! Share di kolom komentar ya! :D

Friday, January 5, 2018

Memaksa Ide Baru untuk Datang

Background [Pexels.com] - Editing [Ayuwelirang.com]
Saya menulis ini di ponsel, ketika sedang dalam perjalanan menuju Jakarta dari Bandung dengan bus Primajasa kesayangan. Kondisi bus cukup penuh pagi tadi dan dipikir-pikir karena tidak mengantuk—juga karena saya tidak mungkin bisa tidur sebab sering curiga pada penumpang lain—saya memutuskan untuk menulis sesuatu yang....yah.... siapa tahu saja bermanfaat.

Ide pembahasan ini muncul begitu saja. Dan seperti kemunculannya yang random, saya jadi ingin membuat teori bahwa ide itu memang tidak perlu ditunggu melainkan harus dipaksa. Bagi saya yang sering terikat tenggat waktu, si ide ini rasanya tidak bisa ditunggu. Hanya pembenaran orang malas saja yang bilang, "Ah, ide gue mah ditunggu aja, nanti juga ada." Lantas bagaimana jika ide tersebut tidak datang-datang? Apakah Anda diam saja? *Oke, sampai sini saya mulai merasa seperti Mario Teguh.

Saya senang menulis dan demi membuang pembenaran-pembenaran penulis seperti di atas, saya kerap memaksakan ide untuk muncul. Karena, bagi penulis fiksi, rasanya kurang nyaman saat tidak ada kisah yang bisa diceritakan. Alih-alih menuliskan kisah pribadi yang biasa saja, penulis fiksi jadi gemar mengomentari dan mengobservasi berbagai jenis manusia ke dalam bentuk fiksi. Isinya ada yang nyata ataupun mendekati nyata. Cerdiknya penulis fiksi, ya tentu karena mereka membungkus cerita orang lain menjadi sebuah drama dengan plot kompleks. Padahal kan aslinya tidak begitu.
Daftar Cerita @ThrillingMysteryClub
Berbekal dari hasil observasi yang terkumpul dan keinginan untuk membuang kebiasaan "menunggu ide", pada malam tahun baru lalu, entah kenapa saya memiliki ide gila untuk membuat klub menulis maraton dengan teman-teman maya. Teman-teman saya ini juga bukan penulis biasa, karena mereka notabene adalah penulis detektif, thriller, misteri, suspense, dan bahkan fantasi bernuansa fiksi sejarah. Sebut saja kami Thriller Author. Ide saya membuat klub untuk "memaksa" ide baru dan mendisiplinkan diri agar bisa menulis fiksi minimal satu minggu sekali, disambut hangat oleh mereka. Lantas, malam itu pula saya membuat akun klub bernama ThrillingMysteryClub di media Wattpad.

Saya sendiri bukan penikmat Wattpad, karena banyak konten tidak menarik yang jadi nomor satu. Tapi, saya mengesampingkan semua itu dan berusaha membuat komunitas bersama teman-teman, dengan harapan sederhana. Harapan Thriller Author hanya agar pembaca Indonesia juga memiliki preferensi bacaan di luar kisah "romantis utopis". Kenapa saya sebut begitu? Ya karena bacaan orang Indonesia di saat ini melulu ada dalam soal cinta dan harapan-harapan menjatuhkan. Tapi, no offense, saya tidak bermaksud mengucilkan penulis romance lho ya. Saya cuma 'ingin menambah pilihan bacaan'.

Singkat kata, proses memaksa ide baru pun berjalan lancar. Kami membagi hari update tulisan kami masing-masing yang akan diunggah oleh admin klub. Sampul cerita juga sudah dibuat. Bahkan, saya pun jadi gemar membuat sampul. Tercatat dua penulis lain di samping saya, yang saya buatkan sampulnya. 

Lalu, apa berakhir di situ? Tentu tidak. Lucunya, mungkin di klub itu hanya saya yang belum kepikiran mau membuat naskah macam apa. Akhirnya saya putuskan menulis naskah detektif bernuansa cozy mystery (penjelasan tentang genre detektif ini bisa kalian temukan di http://detectivestoryid.wordpress.com/).

Setelah memilih genre, saya harus mulai membuat karakter dan mengatur jalan ceritanya akan bagaimana. Bagian paling sulitnya, bagaimana saya mengawali kisah detektif dengan suatu kasus yang harus dipecahkan duo detektif Hira dan Geneva? Di sinilah kemampuan "memaksa" ide dalam diri saya muncul.

Dalam dua hari saja—sejak tahun baru dan dicetuskannya klub ini—saya coba menyusun plot walau banyak lubang. Sebab saya update di hari Rabu, saya berusaha untuk menyelesaikan satu bab sebelum tenggat waktu. Dan ternyata.... Saya bisa! Sungguh ajaib. Padahal, biasanya saya agak sulit kalau memaksa ide, apalagi genrenya susah.

Dari kasus di atas, saya semakin mempercayai bahwa jika kita fokus dan berusaha, maka ide yang tadinya harus ditunggu akan muncul. Mungkin selama ini, ide tidak muncul karena kita memang tidak menginginkannya. Jadi, bagaimana kalau kita ubah pola pikir baru? Jangan menunggu ide datang, tapi paksalah ide untuk datang.

Demikian~

***
 
P.S. 
  • Tulisan ini selesai di KM 72. Wow! Hanya 40 menit dari keinginan awal saya untuk menuliskannya di sekitar tol Cikalongwetan, lalu saya simpan ke WPS mobile dan diunggah ke cloud (untuk penyimpanan sementara).
  • Saat saya cek di WPS desktop, ternyata ada 679 kata. Kuat juga nih mengetik dengan dua jempol.
  • Saya mengunggahnya melalui laptop (bukan dari ponsel) segera setelah sampai Jakarta. Tinggal buka cloud storage barusan. Hmmm, dengan cloud system, semua mudah kan? *udah kayak iklan
Pesan sponsor: 
Bagi yang penasaran dengan akun wattpad @ThrillingMysteryClub, sila klik link berikut: https://www.wattpad.com/user/ThrillingMysteryClub