January 2017

Tuesday, January 31, 2017

Berkunjung ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia


Perpustakaan Nasional RI
Teman-teman yang mempunyai hobi membaca atau yang sekedar ingin mencari literatur untuk riset dan memperbanyak referensi, tak ada salahnya untuk mencoba mampir ke Perpustakaan Nasional RI. Kalau ada yang bilang, di Jakarta itu tempat membaca sangat jarang, salah banget! Sebenarnya ada banyak ruang membaca dengan beragam buku yang disediakan oleh pemerintah maupun swasta. Salah satunya adalah Perpustakaan Nasional RI yang berlokasi di Jalan Salemba.

Nah, pada posting blog kali ini, saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya mampir ke Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) atau yang biasa disingkat PNRI.

Memasuki lingkungan PNRI, kita dapat melihat bangunan pendopo utama di depan tiang bendera besar, dan di sebelah kanan terdapat gedung tinggi yang merupakan bangunan perpustakaan. Bagi teman-teman yang baru pertama kali mampir ke PNRI dan ingin membaca, teman-teman harus mendaftarkan diri terlebih dahulu untuk memiliki kartu keanggotaan. Proses pendaftaran langsung melalui lobi tengah gedung perpustakaan atau biasa disebut blok B dan C.

Masuk lobi tengah, kita akan disambut oleh relief dan patung raksasa berbentuk buku. Di sebelah kirinya ada beberapa komputer yang dapat digunakan untuk mendaftarkan data diri teman-teman. Komputer tersebut sudah dalam posisi membuka situs pendaftaran keanggotaan perpustakaan. Ada beberapa menu, seperti syarat dan ketentuan, juga halaman pendaftaran. Nah, silakan menuju menu pendaftaran dan mengisi data diri di sana. Ada beberapa pilihan kartu identitas dan saya sendiri mengisi dengan KTP karena mendaftar sebagai anggota umum. Jenis keanggotaan di perpustakaan ada anggota umum, mahasiswa, dan siswa (minimum SLTA). Kenapa minimum SLTA? Itu berarti, untuk pendaftar yang masih bersekolah, hanya bisa meminjam jika sudah SMA. Jika masih SMP, sepertinya sih belum boleh.

Setelah mengisi data dan submit, akan muncul halaman sukses dan berisi nama juga nomor anggota yang terbentuk saat submit. Catat nomor anggota berikut nama anda di potongan kertas yang sudah disediakan. Biasanya, di bagian bawah komputer atau di atas CPU-nya sudah ada tumpukan potongan kertas. Kalau pulpen sih tidak ada, jadi saran saya, bawa pulpen sendiri.

Di belakang komputer untuk mengisi data, ada ruangan bertuliskan "Keanggotaan". Nah, di ruangan ini nanti anda antri dan memberikan kertas berisikan nomor anggota berikut nama. Nanti akan dipanggil oleh petugas untuk difoto. Foto ini nanti akan dipasang dalam kartu anggota. Kartu anggota sendiri selesai cetak dalam beberapa menit. Perpusnas RI memiliki alat cetak sendiri untuk pembuatan kartu sehingga tidak perlu menunggu lama. Selain itu, pembuatan kartu anggota atau pendaftaran anggota perpus ini tidak dipungut biaya alias GRATIS! Enak kan? Ya kan? :))

Setelah kartu jadi, silakan bersenang-senang! Teman-teman bisa berjalan menuju bagian daftar tamu. Di sini akan diberikan kunci loker untuk menyimpan tas. Oh ya, teman-teman perlu meninggalkan KTP atau tanda pengenal lainnya, untuk ditukar dengan kunci loker. Selain itu, di bagian daftar tamu atau resepsionis ini, kita juga bisa meminta tas transparan jika kita membawa laptop atau buku catatan dan alat tulis. Ransel atau tas yang kita bawa dari luar tidak boleh dibawa masuk ke perpustakaan dan harus ditinggal di loker. Oleh karena itu, kita bisa meminjam tas transparan yang disediakan oleh Perpusnas. Oh ya, sebelum naik ke lantai lain untuk mencari buku, jangan lupa menyempatkan diri untuk mengisi buku tamu di komputer sebelah kanan resepsionis. Dengan mengisi buku tamu, kita sebenarnya ikut memajukan perpustakaan lho! Siapa tahu petugas perpustakaan jadi semakin giat rapi-rapi koleksi dan daftar katalog supaya memudahkan kita yang mau membaca, ya kan?

Setelah menaruh tas di loker dan membawa barang berharga juga barang yang dibutuhkan dengan tas transparan, kita masuk ke perpustakaan dengan kartu anggota. Kartu anggota Perpusnas ini sudah sekaligus untuk membuka pintu menuju perpustakaan. Pintu perpustakaan ini sudah menggunakan pintu otomatis sehingga harus scan kartu. Jadi, setiap kunjungan memang wajib membawa kartu anggota ini.

Isi Bon Pesanan Buku
Oh ya, pertama ke Perpusnas, saya agak bingung. Sempat berputar-putar dari lantai dua ke lantai tiga, lalu ke lantai lima dan balik lagi ke bawah. Waktu coba masuk ke ruas 3B, saya baru membaca informasi tentang Perpusnas. Jadi, Perpusnas Salemba ini sistem peminjamannya adalah sistem tertutup. Untuk meminjam buku di sini, kita harus cari dulu daftar bukunya, lalu mengisi bon peminjaman buku. Bon peminjaman buku ini ada di lantai 2 atau di ruang katalog. Di lantai 2, ada banyak komputer tempat mencari daftar literatur, referensi, tesis, disertasi atau peta dan atlas yang ingin kita baca. Saya kurang tahu berapa batas peminjaman ini, atau berapa batas pengambilan bon peminjaman. Tapi, karena baru pertama kali, saya pinjam dua buku dulu.

Bon diisi, lalu diserahkan ke petugas yang menjaga ruang katalog. Petugas akan mengisi keterangan di mana buku tersebut berada. Oh ya, karena kemungkinan buku berada di lantai dan ruas yang berbeda, maka kita harus jeli. Jika kebetulan buku berada di lantai dan ruas yang sama, kita lebih enak membacanya, karena tidak perlu bulak-balik ke lantai lain. Dan saat buku diserahkan ke kita, kartu perpustakaan kita harus ditinggal. Buku juga tidak boleh dibawa ke lantai lain, dan kalau mau dibawa juga tidak mungkin bisa meminjam buku di lantai lain, karena di lantai lain pasti diminta kartunya lagi saat penyerahan buku yang dipinjam. Jadi, kita harus jeli untuk memilih buku mana dulu yang mau dibaca berlama-lama, mengingat waktu kunjungan perpustakaan yang terbatas hanya sampai jam 6 sore saja.

Kebetulan dua buku yang saya pinjam ada di lantai 3 ruas B (3B). Saya langsung ke petugas di lantai 3B, menaruh bon, mengisi buku tamu lagi dan menunggu petugas memanggil nama saya untuk menyerahkan buku yang saya pinjam. Di ruangan baca juga ada meja-meja, colokan listrik, dan ada Wifi untuk tamu. Jadi, kalau membawa laptop sambil mau mengetik atau browsing juga dipersilakan.

Ruang Baca di Perpusnas
Setelah petugas memanggil nama kita, kita diminta untuk meninggalkan kartu. Kartu anggota ini nanti akan diambil setelah buku selesai dibaca. Jadi, seperti yang saya bilang sebelumnya, buku tidak bisa dan tidak mungkin dibawa ke lantai lain karena kartu kita yang ditinggal.

Di setiap lantai dan ruas juga ada jasa fotokopi. Untuk jasa fotokopi ini dikenakan Rp 200 per lembarnya. Kebetulan, saya meminjam buku yang terlalu asyik kalau tidak difotokopi, makanya saya menyempatkan diri untuk mencoba jasa fotokopi di Perpusnas ini. Hehe. Sistemnya, kalian mengambil kertas kosong di bagian fotokopi, lalu tulis nama dan halaman yang ingin difotokopi. Setelah ditulis, taruh buku berikut kertas tadi dan tunggu dipanggil saja. Sambil menunggu, bisa berselancar di internet dulu.

Fotokopi pun selesai. Saya menghabiskan Rp 7000 untuk memfotokopi 40 halaman buku Cryptography and Network Security yang ditulis oleh William Stalling. Kebetulan buku satunya masih lebih mudah dipahami, jadi buku satunya tidak saya fotokopi, tapi hanya saya catat bagian yang penting di dalam notes.

Dari mendaftar anggota sampai menghabiskan waktu di perpustakaan (dipotong jam istirahat PNS dari pukul 12.00 sampai 13.00), saya menghabiskan waktu 5 jam. Itu juga ditambah kebingungan mencari alur yang tepat saat meminjam buku. Hahaha. Mungkin, di kunjungan lainnya sudah lebih terarah karena sudah pernah. Makanya, saya membuat posting blog ini agar teman-teman yang ingin main ke Perpusnas bisa memahami dulu alurnya sebelum berangkat, agar tidak seperti saya.

Kira-kira begitulah kunjungan pertama saya ke Perpusnas. Lain waktu mungkin akan datang dari pagi sehingga lebih puas membaca di Perpusnas.

Selamat mampir ke Perpusnas!

#GerakanMainKePerpus #MainKePerpus #AyoKePerpus #AnakPerpus

Tuesday, January 17, 2017

Between the Clear Night, Traffic Jam, and Hypocrisy


Between the Clear Night, Traffic Jam, and Hypocrisy

“Do you know what Minangkabau means?”

“I don’t know.”

“I bet that Kabau means ‘Kerbau’?”


And he laughs. It’s not as expensive as the all jewelry in Cikini gold center, but it’s meaningful. And we spend the night, go through all the sidewalk, find the cheapest and the best coffee shop. Just to talk about random things. About non sense.


“Look, it’s a cafe. I didn’t bring my eyeglasses, so could you read the menu that written on the wall?”


“Where?” he asks.


“There.” I pointed my finger to the cafe while saying that. I really can’t read anything, since i have myopia.


He really look at the cafe, and mention all the menu that written on the cafe’s wall. Like a fool, we stood for a long time in front of the cafe. Because there’s no coffee or any interesting things, we continue our journey. It’s eight o’clock already, but I think it’s too early to sleep, since the sky was so clear. I think it’s best to take a walk and talk about randomness.


As we reach the main street, with trucks, cars, buses, and peoples, I began to sing. It’s Vindicated, you know? One hit that Dashboard Confessional made. I don’t even know why I’m singing that song, but It’s good. I feel like the energy and the sky already meet. It’s like a show.


So, I said, “The street is my stage. Well, what is Vindicated exactly?”


“I don’t know. Hmm, vin--di--ca--ted?”


“It’s strange, isn’t it? We sing a song that we don’t know what it means. But we enjoyed it,” said I.


“Maybe it’s just a good song,” he replies.


He laughs again. I can’t see him laughing, but I knew it. Every time he laughs, his eyes turn to a line, with no eyelid. And he always said that he is a Chinese, with that eyes. But it doesn’t matter, since he is the one that give me applause in the middle of a traffic jam.


People may say that we’re just a fool. But we enjoyed it. As we say, this street is our stage. And then he said, “Ah! I forgot to bring my feather duster.”


“Just forget it, we can start cleaning the vehicles with your jacket! But, is it your jacket our my jacket?”


"Just said that is it ours, since you gave this to me and I'm the one that wearing this."

And we laugh again. I don’t know exactly what is so funny, but since this night is still early to sleep, let’s just enjoy the journey.


***


As we reach the Salemba’s sidewalk, we began to think about, “Where is the shadow?”


Ah, we forgot that the sidewalk’s lamp is on the right side of us, so our shadow should be at our back. And we played a games about ‘Guess where is our shadow?’. And someone is following us and it’s turned to be a pedestrian that dodge us. Maybe he thinks that we’re crazy? And what is craziness anyway? Is it us or them that crazy? We don’t even know, since every reality and imagination in this big city was scattered and mixed up.


It’s not the first time we walked around every pedestrian sidewalk, to somewhere, or to search for something. But it’s been a pleasure to waste a tight time in Jakarta like this. People can be so busy and can’t think about anything but weariness. But for me and him, a clear night skies is just a good time for us to talk outside, not always over coffee. The clear sky guided us to every corner that’s good. And just like every walking tour that I spend with him, it’s always meaningful. It’s always been beautiful. I may ended up crying, or talking about some randomness and hypocrisy over my life, but the beginning of this stories was always good. 

And in the cheap coffee shop that we finally reached, I asked a question, "Why do we still calm when we're going to be married next month?"
"It's just a marriage, right? And we will cherish all the surprises that we might find."
"Yeah, we will. We do."