Menikah adalah Perkara Mental, Bukan Perkara Solusi Bokek!

Menikah adalah Perkara Mental, Bukan Perkara Solusi Bokek!
(Sebuah Curhat) 


Di era serba gadget ini, tren pasangan sudah bukan lagi relationship goals macam Dek Awkarin, atau artis Ibukota yang doyan jalan-jalan ke luar negeri, lalu foto dengan pose cium pipi. Kalau diperhatikan, tren terkini adalah foto berdampingan dengan pasangan dan berhiaskan cincin tunangan yang harganya bikin menjerit. Buat nambal ban motor aja, duitmu diirit-irit, apalagi buat beli cincin tunangan? 

Muda-mudi kita yang terkena tekanan karena scroll feed Instagram lalu kepingin menikah walau sudah jomblo menahun, kini malah semakin dipanas-panasi. Para motivator hijrah dadakan, bakulan hijab dan gamis yang sebenarnya nggak ada korelasi itu, malah tambah memanas-manasi dengan berbagai anjuran seperti, “Laper, ya makan. Haus, ya minum! Bokek, ya nikah dong, Shalihaat!” 

Atau yang bunyinya begini, “Mau travelling? Mending travelling sama suami kamu, Ukh! Selain lebih hemat kan lebih aman. Makanya nikah!”

“Udah putusin aja! Kamu aja cuma di-PHP-in, apalagi Tuhan kamu!” 

Jangan lupa ketika anak seorang ulama kondang menikah muda. Banyak yang tiba-tiba kepingin dan berujar, “Wah, jadi pingin nikah muda ya! Kayaknya asyique!” Nikah kok kagetan, kayak pasar malam. 

Dari berbagai pesan iklan ala layanan masyarakat berbalut strategi pemasaran di atas, mari garisbawahi maksud “hemat” dan “bokek”, yang kemudian diselingi dengan embel keagamaan agar pembaca semakin ‘ketik amin biar varokah!’ Nah, dari hemat dan bokek itu, urgensi pesannya apa ya? 

Mas Anang tahu? 

Nggak, ya? Kalo Mas Hamish Daud tahu? Hmm, Eren Jaeger mungkin tahu? 

Karena mereka nggak tahu, saya pun mencari korelasi hal yang hil itu. Saya lantas teringat percakapan dengan dua orang teman. Yang satu betulan, yang satu imajiner. Si teman betulan, seorang pujangga ternama di Pasar Burung Pramuka. Kalau teman imajiner ini ya diada-adain aja supaya enak ngobrol bertiga, biar nggak berdua banget. Kan yang ketiga adalah setan. Ciye gitu. Nggak ding, biar enak aja patungannya. Ngewarkop kok patungan, dasar kere!
Baiklah. Sebut saja nama teman saya ini Mbe dan Kucrit. 

Si Kucrit tiba-tiba mendatangi saya dan Mbe yang sedang nongkrong di warkop ternama Kayu Manis. Dia duduk dengan lesu. Wajahnya gusar. Sementara saya, asyik makan mi rebus Bang Warkop, yang kalau dibuat sendiri kok biasa aja. 

Melihat si Kucrit yang kusut mukanya, Mbe lalu bertanya, “Napa lu?” 

Si Kucrit menjawab, “Kerjaan banyak banget! Bete gue! Mana gaji nggak seberapa. Kalo gini mah, rasanya pengen dihalalin aja deh!” 

Mbe menjawab dengan wajah datar sembari mengembuskan rokok kreteknya, “Dihalalin? Emang elu daging babi?” 

Dengan jawaban begitu, kontan kuah mi rebus saya berpindah ke wajah Mbe. Tetapi, alih-alih ribut, Mbe dengan suara berat berwibawa mendakwahkan hal yang bisa jadi benar, bisa jadi salah, tergantung dengan siapa lawan bicaranya. Kalau lawan bicaranya yang suka pentung, ya pasti salah. 

“Elu mau menikah itu alasannya apa? Dah males kerja? Biar keren? Esek-esek? Atau mencari rahmat Tuhan? Kalau alasannya nggak penting, jangan! Entar kalo kebetulan lagi sulit finansial, emang elu mau tiba-tiba cere gitu? Atau kalo udah nggak bisa esek-esek lagi, gimana tuh? Bosen karena laki lu nggak mirip Fedi Nuril, apa bakalan menyesal? Nikah itu dasarnya mental, bukan perkara rekreasional apalagi materi. Kalau elu terus mengikuti standar media sosial dan ter-brainwash lalu menikah, nggak ada faedahnya. Lagipula, nikah itu kan seumur hidup, harus dipikirin. Nah, makanya deh gue jomblo mulu, soalnya gue males mikirin! Gue nggak akan kepinginan sama social standard semacam itu. Nggak boleh lah memaksa diri kayak Mas Pras sama Arini yang bahagia juga bersama Meirose.” 

Saya coba mengamini perkataan Mbe itu. Menikah memang bukan perkara lain-lain, tapi perkara revolusi mental. Bukan supaya hidup jadi ringan dan nggak perlu keluarkan duit sendiri, bukan karena bokek lalu mengharap ada yang bakal menafkahi, dan bukan masalah ‘dapur’ rumah tangga yang jadi makanan netizen supaya menunjukkan kalau kita berhasil nikah muda tapi tetap bahagia. Padahal, realita dunia pernikahan lebih keras dari hal-hal trivial macam itu. Menikah justru malah suatu cara di mana kita harus belajar untuk memikul beban berat suami, jadi dipikul berdua. Menikah itu mengubah mental dari yang tadinya suka jajan di kafe ter-hits yang instagramable, ke mental di mana makan gereh, nasi, sama kerupuk itu rasanya surga. Jangan dikira menikah itu seperti gambar-gambar ciamik yang selalu lewat di feed medsos, lho! Di dalam pernikahan, rumah tangga itu benar-benar banyak tangganya dan akan menjegal suatu hari, kalau keseringan lihat rumput tetangga. 

Sesungguhnya anjuran nikah berbalut strategi pemasaran itu hanya gambaran utopis atas dunia pernikahan yang bahkan si admin medsosnya saja mungkin belum menikah. Banyak hal yang lebih pantas untuk diangkat sebagai pesan anjuran pernikahan daripada hanya sekedar masalah materi belaka yang tidak akan kuat menjadi dasar atau alasan seseorang menikah. Menikah adalah kesakralan yang tak main-main, bukan rekayasa sinetron ribuan episode dan tak seindah obral diskon lebaran di Ramayana. 

Ah sok tahu kamu! Kata seorang teman yang kena sindrom tiba-tiba ingin menikah. 

Bukan mau sok tahu, tapi dua bulan setelah saya mengobrol dengan si Mbe di warung kopi, tahu-tahu saya menikah. Nggak ada angin, nggak ada hujan. Puji Syukur ternyata masih ada yang mau. Perang yang sebenarnya baru dimulai saat itu, ketika usaha merevolusi mental benar-benar harus dijalani. Mental ‘tiba-tiba istri’, harus jadi Wonder Woman yang segala bisa namun tetap update dunia persilatan dan isu-isu global. Jangan lupa update juga diskon panci sama wajan dan tips rumah tangga dari yang sudah lebih senior. Pastikan tetap belajar serta melek ilmu dan teknologi. Sebagai wanita dan calon ibu, kamu adalah madrasah pertama anak-anakmu, jadi jangan malah kerjaanmu hanya update foto bayi di Instagram setiap lima menit sekali. Kurang-kurangi juga baca terlalu banyak pesan motivasi nir-faedah, karena rumah tangga nggak sesederhana udel mereka.
 
Wahai para motivator hijrah dadakan, kurangilah positioning pesan kalian pada jomblo, karena bukannya mengajak jomblo mengubah mental, tapi malah memojokkan jomblo. Mereka jadi memaksakan diri cari pasangan, padahal sudah tahu muka pas-pasan, atau bersedih hati karena mau menikah, padahal belum punya alasan ‘wajib nikah’. Banyak juga yang jodohnya sudah ada, tapi dianya banyak mau, macam pernikahan harus tujuh hari tujuh malam, tema Yunani, cincin tulang ikan dori, dll dkk, tapi pas cek dompet ternyata nggak nguati. Lebih baik duitnya ditabung buat beli panci, lebih berfaedah. Kamu kenyang, suami kenyang. Rumah bocor, tampung saja pakai pancimu. Daripada duit berjuta-juta cuma jadi album foto yang bahannya kertas murahan, memangnya itu album bisa buat masak ikan mas asam padeh?

***

P.S.
Artikel ini pernah dikirim ke Mojok, tetapi ditolak. Mungkin kurang lucu, kurang sinis, atau kurang nakal. Wk~ Sad lyfe~

You Might Also Like

6 comments

  1. kalo menurut saya perkara nikah itu bukan persoalan secepatnya, tapi lebih ke persoalan setepatnya.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget kaaak. Kalau mentalnya 'tepat', ya udah silakan nikah. Gitu deh pokoknya. XD

      Delete
  2. aduh kak setuju banget :')
    aku masih jomblo dan (pernah) merasa terintimidasi liat feed IG yang banyak 'motivasi' seperti itu.

    padahal mah semua akan nikah pada waktunya ya kan :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, betul banget. Menikah itu saat tepat aja, jangan karena tekanan visual di IG. XD

      Makasih udah mampir yaa. :)

      Delete
  3. menikah perkara, biaya resepsi yang mahal. itu bikin perkara. hehehe

    ardentusstory.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Resepsi mah nggak wajib-wajib amat. Cuma gengsi yang bikin resepsi jadi wajib. :)))

      Delete