Skip to main content

Sajian Rohani dalam Dongeng Imajiner: Semua Ikan di Langit

Setelah sebulan lebih membuka-tutup Semua Ikan di Langit karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, akhirnya buku Ziggy yang memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016 ini, selesai juga. Menurut dewan juri, novel ini memiliki kemampuan bahasa di atas rata-rata, sehingga finalis lainnya tidak mendapat tempat juara dengan angka melainkan hanya juara favorit. Ketika saya baca, sebenarnya kemampuan bahasa di atas rata-rata ini menurut saya malah seperti kemampuan mendongeng di atas rata-rata, karena sang penulis bercerita dengan sangat antusias hingga berbusa-busa, bahkan mengulangi apa yang ia inginkan, walau masih dalam satu bab yang sama.

Kisah yang dituturkan dalam Semua Ikan di Langit bukanlah kisah sederhana. Berawal dari seonggok bis kota yang menarik penumpang dari Dipatiukur, hingga akhirnya bis tersebut bisa berkelana ke luar angkasa. Lalu, bis tersebut mengalami serangkaian kejadian yang mengilhami dirinya sehingga ia, sebagai bis kota, bisa memiliki keyakinan terhadap suatu Dzat yang ia sebut 'Beliau'. Banyak kisah yang dijalani dan banyak yang ia coba pahami mengenai apa yang disukai, tidak disukai, dicintai, dirindukan, dan ditangisi oleh Beliau. Sebagai Dzat yang mencipta apa-apa dari cahaya, dari ikan julung-julung, dan dari jahitan kain perca, Beliau memiliki berbagai sisi yang selalu dipikirkan oleh bis kota sampai kebingungan.

Padahal, sebagai Dzat yang Maha Segala, Beliau tidak pernah menuntut hal yang lebih, selain hanya kecintaan hamba yang Beliau cintai pula. Itu seperti yang dikatakan oleh pohon pengantar kisah hidup, bernama Chinar. Pohon ini seperti gambaran Lauh Mahfuz yang diyakini oleh umat Muslim, sebagai suatu bidang yang telah tertuliskan nasib dan kisah hidup segala hal yang ada di dunia dari penciptaan hingga akhir zaman. Bis kota pun mulai bertanya-tanya tentang apa saja yang Chinar kerjakan dan apa saja hal menarik dan kisah hidup menarik yang Chinar ketahui. Bis kota juga betanya-tanya tentang bagaimana cara mencintai Beliau, dan sekali lagi, Beliau hanya ingin dicintai dengan sederhana tetapi penuh, daripada dipuja-puja dengan agung hanya sebagai bentuk pemujaan simbolis.

Banyak yang membandingkan novel ini dengan Le Petit Prince atau karya-karya Hayao Miyazaki dan Studio Ghibli-nya, tetapi sebenarnya esensi dari novel ini jauh berbeda, dengan segmentasi yang juga tak sama dengan Le Petit Prince maupun Studio Ghibli. Segmentasi dari novel Ziggy satu ini mungkin lebih kepada para pencari spiritualitas, dengan eksekusi sajian rohani tersebut melalui dongeng imajiner. Sesungguhnya, apa yang disajikan dalam Semua Ikan di Langit ini adalah perjalanan seorang hamba yang berupa benda mati bersama dengan Beliau untuk memaknai penciptaan, akhir, dan penciptaan kembali.

Mungkin perjalanan bis kota ini seperti perjalanan linier, tetapi sebenarnya ia bergerak sirkular, tak mengenal batas waktu, sebab banyak kisah yang tidak mengenal akhir atau awal. Tak ada yang tahu kisah penciptaan apakah lahir dari kekosongan mutlak atau dari ledakan zat yang lama-lama mampat hingga meledak, seperti apa yang Stephen Hawking bahas melalui The Big Bang Theory. Fragmen-fragmen yang ada di dalam Semua Ikan di Langit adalah bentuk sajian kerohanian yang bisa dipersepsikan melalui keyakinan masing-masing orang. Jadi, tak perlu perdebatan tentang apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Ziggy melalui novel ini. Tak perlu ada juga perdebatan tentang simbol-simbol yang muncul dalam novel, seperti topi komunis Shosanna, kecoak Rusia, kucing padang pasir yang menjelma Sphynx, dan lain-lain. Simbol tersebut hanyalah satu dari sekian nasib yang sebenarnya sudah tertulis dalam ibu seluruh kitab dan nasib, Lauhul Mahfuz.

Jadi, perdebatan simbol hanyalah kesia-siaan, karena apa yang diceritakan dalam Semua Ikan di Langit, lebih dari sekedar simbol dan pemetaan. Lebih baik membacanya sebagai salah satu terapi rohani karena jika kau mencari dongeng yang bisa membuatmu tertawa-tawa, tentu tak akan kau temukan dalam novel ini. Namun, jika kau mencari sajian kerohanian yang penuh, dengan gambaran syaitan yang lahir dari pengeluh yang doyan bir dan rokok hasil minta-minta, bagaimana negeri dengan domba-domba tersesat diluluhlantakkan, dan bagaimana bis kota bisa ikut memulai suatu Kejadian, maka novel ini bolehlah kau baca dalam sepi dan waktu-waktu yang cocok untuk kontemplasi.

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…