Skip to main content

Not for IT: Bagian 3 - Bekerja untuk Bermanfaat

03 - Bekerja untuk Bermanfaat

Hari Kamis menuju rangkaian long weekend lainnya yang ada di bulan ini. Semua orang sibuk membereskan pekerjaan mereka agar long weekend tetap santai. Tapi, apakah memang ada istilah long weekend buat pekerja IT kayak aku dan teman-temanku?
Mbak, bisa tolong cek ticket 40450 sekarang nggak?” tanya tim basis data di bawah asuhan Mas Okto.
Aku pun segera membuka aplikasi ticketing dan membuka nomor yang ia maksud. Karena agak aneh dengan isi ticket yang belum sempat aku cek sebelumnya, aku pun bertanya, “Mas, ini masalahnya bukan di active directory punya tim server.
Tiba-tiba saja, orang itu berubah ketus. Ia meletakkan tangan kirinya di atas pembatas kubikel, sementara tangan kanannya berkacak pinggang.
Bukan di server gimana? Ini hasil dump data yang masuk ke database saya kepotong semua. Harusnya kan yang masuk nama lengkap karyawannya nggak kepotong gini,” gerutunya.
Teman satu timku sontak menoleh dan mendekat. Lalu, Iswara, salah seorang kawan dari tim Network yang pindahan dari tim Server pun bertanya, “Memang kepotongnya gimana?”
Orang basis data itu kembali adu argumen, “Ya kepotong. Contohnya nama Agus Abidin munculnya cuma Agus Abid, padahal setting di database saya untuk nama bisa muat sampai 35 karakter, masa iya Agus Abidin nggak masuk? Tolong deh ya, segera aja diberesin!”
Ia berlalu tanpa bilang permisi atau terima kasih sebelumnya. Aku tidak bisa marah, karena aku sendiri belum mengecek letak kesalahannya. Akhirnya aku cari solusinya supaya kemarahan orang itu tidak berlarut-larut. Malas juga aku kalau hari ini harus pulang malam.
Hampir lima belas menit berlalu, aku sepertinya menemukan letak masalahnya. Iswara dan Firdaus menghampiri, lalu bertanya, “Jadi gimana?”
Kayaknya masalah memang bukan di server kita deh. Ini kan yang dikirim bulk data active directory ke servis LDAP punya dia. Nah, kita kan nggak tahu tim database itu pakai data apa untuk dilempar ke tabel nama,” jelasku ringkas. Iswara dan Firdaus mengangguk paham. Mereka pasti juga sudah tahu masalah seperti ini, apalagi Iswara yang mengurus perangkat jaringan, pasti juga ada lintas data dengan active directory.
Terus gimana? Mau disamperin aja itu tadi si Mas Jaya?” tanya Firdaus kemudian.
Harus lah, biar tahu masalahnya. Eh iya, tolong diaccept dulu itu tiketnya ya, Us! Terus langsung diclose aja supaya nggak numpuk di kita,” balasku lagi sembari beranjak menuju meja di mana tim Mas Okto berada.
Di sana, Mas Jaya, orang yang tadi datang melihatku cukup ketus. Beberapa tim aplikasi juga terlihat kurang bersahabat. Padahal, mereka sering menyuruh aku dan teman-temanku mengerjakan sesuatu tanpa ticket terlebih dahulu. Padahal, setiap kasus atau masalah yang masuk ke ticket kan dihitung sebagai pencapaian tim. Kalau begitu terus kan, pencapaian bulanan tim kami jadi rendah.
Nah gimana? Udah beres tuh?” tanya Mas Jaya tanpa basa-basi.
Aku mengambil kursi yang kosong dan menggeser kursi itu. Aku menarik nafas dan mulai menjelaskan, “Jadi gini. Masalahnya memang bukan di server tapi di tarikan data aplikasi Mas ke database.
Mas Jaya terlonjak marah. “Ya nggak lah! Saya kan bikinnya udah mikirin banget, jadi masa iya sih bisa salah?”
Lho, saya nggak bilang salah. Saya cuma bilang, kalau kemungkinan data yang diambil bukan data nama yang benar. Jadi, di active directory kan ada ‘Display Name’ sama ‘CN’ atau ‘Common Name’. Di active directory, kami memang cuma setting untuk 8 karakter aja, tapi kalau Display Name sih sampai empatpuluhan karakter. Nah, sekarang saya tanya, Mas Jaya ambil data yang mana?”
Mas Jaya terdiam dan mengingat-ingat. “Oh gitu ya?” jawabnya sedikit melemah. Tim aplikasi yang lain seolah tak menerima, dan salah satu teman Mas Jaya menukas, “Mbak, apa nggak bisa active directory yang diganti tuh?”
Sesungguhnya, saat itu aku ingin marah-marah dan terbahak dalam sekali waktu, sampai aku tak lagi ingat malu. Soalnya, pertanyaan itu kalau dibilang sangat aneh ya benar-benar aneh.
Aku sedikit tersenyum sopan sebelum menjawabnya, “Nggak bisa Mas. Kalau active directory atau sebut aja AD yang diganti, efeknya akan kena ke seluruh user di Mega Mitra, bahkan sampai kantor cabang yang di luar kota, apalagi AD ini kan dipakai login. Kalau ganti di setting tarikan data ke database kan yang kena efek cuma aplikasi Mas aja. Jadi, itu aja sih jawaban dari saya dan tim. Semoga bermanfaat dan bisa dipahami. Kalau ada yang nggak dimengerti, silakan balik lagi ke meja kami.”
Aku pun berlalu dari meja itu, meninggalkan mereka yang terdiam malas. Satu fakta lain, bahwa di PT. Mega Mitra Komunikasi--tempatku bekerja saat ini sebagai tim outsource project dari vendor PT. IT Sentinel Indonesia--memang kadang memperlakukan karyawan outsource semena-mena. Jadi sedih banget, deh.
Waktu kembali ke mejaku dan menjelaskan hal yang sama pada teman-teman tim server dan network, mereka semua merespon dengan gelengan kepala.
Bahkan Iswara sempat berkelakar, “Nasib memang jadi orang vendor, dianggap pemadam kebakaran kali ya, segalanya harus kita yang siram kebakaran.”
Iya nih, capek banget. Besok masuk pula ya kan? Padahal orang lain libur,” keluhku pada akhirnya.
Lalu Firdaus menambahkan kata-kata penyejuk yang membuat kami semua tak sia-sia bekerja.
Ia bilang, “Namanya juga kerja, ada aja anehnya. Yang penting kan, kita bisa kasih tahu orang lain mana yang salah dan benar, jadi kita kerjanya semangat dan kasih manfaat ke orang lain. Syukur-syukur malah jadi pengetahuan baru buat kita semua. Ya nggak sih?”
Tumben amat sih lo ceramah gitu,” balas Parwita.
Ya sekali-kali lah Mat!” jawab Firdaus lagi.
Ya setidaknya, walau capek, ada saja teman yang bisa saling membantu seperti ini di kala susah. Semoga kami bisa bermanfaat sama-sama selama satu tahun kontrak sebagai vendor di sini. Dan semua cerita aneh juga diskriminasi vendor, kupikir akan terus berlanjut dan tidak berhenti di sini saja. Hmm, bagaimana dengan besok ya?

***

<<<  Episode 2  ---  Episode 4  >>>

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…