Not for IT: Bagian 2 - Lelaki Berbuku Jari Panjang

02. Lelaki Berbuku Jari Panjang

Seperti jam istirahat kantor pada umumnya, beberapa karyawan beramai-ramai menuju tempat makan. Tapi, karena aku sedang puasa, jadilah aku langsung menuju Mesjid di seberang gedung kantor. Tadinya sudah mengajak Mirza, salah satu temanku yang ada di divisi IT Helpdesk, tapi dia malah izin keluar sebentar pas jam istirahat. Katanya sih mau jemput anaknya yang baru pulang sekolah dulu. Berhubung teman-temanku lainnya juga mau makan siang dulu, sendirianlah aku menuju Mesjid.
Itu dia, sepatu oxford warna cokelat dengan sedikit brogue di bagian depannya. Sepatu punya Mas Okto. Jadi, kali ini aku akan ceritakan awal mula kenapa aku mulai menyimpan perasaan aneh terhadap supervisor tim IT Application itu.
Kira-kira, lingkaran kisah ini dimulai sejak enam bulan lalu aku mulai menjadi tim IT Server di tempatku bekerja sekarang.
***
Enam bulan lalu, pukul sebelas lewat empat puluh lima. Menuju jam makan siang, lift selalu penuh. Aku berlari di lorong gedung menuju lift, berusaha mengejar lift yang sebentar lagi tertutup. Tepat berada di depannya, lift itu menutup. Tapi, sebuah telapak tangan berbuku jari panjang, menahan pintu lift tertutup.
Di dalam lift sudah penuh, sebagian besar laki-laki di bagian depan pintu lift, dan perempuan dari divisi di lantai atas ada di bagian belakang. Di sampingku adalah pemilik buku jari panjang.
Sosoknya tinggi, menaungi aku yang mungkin hanya sebahunya. Aku mencoba untuk menyusutkan diriku rapat ke pojok kiri lift, karena himpitan beberapa lelaki dari sisi kananku yang terus berdesakkan di dalam lift. Namun, tiba-tiba saja, tangan kanan lelaki berbuku jari panjang itu mendorong ke pintu lift, menahan non-mahram yang berdesakkan ke arahku.
Ada sedikit ruang di antara tangannya dan aku. Kini, aku benar-benar terlindungi. Dan ia pun tak sedikitpun mendekat untuk menyenggolku, malah terus menjagaku. Entah kenapa, perjalanan lift yang turun hanya dalam hitungan detik, membuat hatiku goyah.
Dan saat aku hendak menuju Mesjid kala itu, aku melihat lelaki itu di depanku. Berjalan menuju Mesjid dengan langkah lebar. Membuka sepatunya, lalu bergegas menuju tempat wudhu saat mu’adzin mengumandangkan adzan. Setelahnya, aku berlalu menuju tempat wudhu wanita dan tak lagi kucari-cari dia. Tetapi, esok harinya, kejadian itu terus berulang setiap menjelang jam makan siang. Hingga akhirnya, secara tak sengaja, aku menghafal sepatunya yang selalu ada di depan Mesjid, bahkan sebelum adzan berkumandang.
***
Nostalgia semacam itu rasanya aneh. Sudah lama aku tidak pernah merasakan sesuatu yang menggetarkan seperti ini. Tapi, apakah ini perasaan yang benar? Mungkin aku harus memperbanyak dialogku dengan Allah, agar jadi lebih tenang dan jelas semuanya.
Melamun aja ih, Hani,” tegur Rinni, teman sekantorku di IT Helpdesk.
Nggak melamun kok. Cuma lagi mikir aja,” jawabku standar.
Berhubung jam istirahat masih lama, kuputuskan untuk bercerita. Di samping Rinni, ada Amanda dan Mirza yang baru saja datang setelah menjemput anaknya dulu tadi.
Mikir apa? Kehidupan? Di antara kita berempat, cuma kamu sama Manda yang belum menikah. Apa lagi mikirin itu?” tanya Rinni tiba-tiba.
Pemikirannya tepat sih. Usia dua puluh lima memang usia yang sedang labil-labilnya.
Itu namanya quarter life crisis,” sambung Mirza sembari menaruh helm di bawah meja.
Baru juga datang, udah nimbrung aja Mbak,” balas Manda sembari tertawa.
Jadi, kuputuskan untuk bercerita pada empat wanita ini. Mungkin kalau sedikit sharing dengan wanita yang lain, jadi agak nyaman.
Memang lagi mikirin soal jodoh sih. Dulu waktu Mbak Mirza sama Mbak Rinni menikah, ceritanya gimana? Kan, kalian berdua udah bekerja di sini, apa suami ada komplain gitu?” tanyaku penasaran.
Komplain? Ngapain harus komplain coba, Han. Yang namanya pasangan itu, tetap support sesuai porsi. Suamiku sih mendukung aku tetap bekerja, asal anakku tetap terurus,” jawab Mirza.
Caranya gimana? Kan kerja? Susah, Mbak,” balasku lagi.
Mirza dan Rinni terlihat berpikir, sementara Manda tak menjawab apa-apa karena sama-sama belum punya pengalaman berkeluarga juga sepertiku.
Akhirnya Mirza angkat bicara, “Passion aku memang di dunia IT. Setelah berkeluarga dan punya anak, memang jadi lebih berat. Tapi, karena aku sudah berkomitmen sama keluarga dan diri sendiri ya harus dijalani sebaik-baiknya. Porsinya harus seimbang. Aku sama suami sama-sama berjuang dan gantian jagain Shafa. Untuk itu, kamu harus tahu dulu, nanti kamu mau gimana setelah menikah. Apa masih kerja? Atau mau off? Bukannya kamu pernah bilang, kalau kamu mau lanjut S2 dan terus kerja sampai jadi kayak GM kita di sini?”
Aku terdiam. Betul juga ya. Dulu, aku pernah bertekad untuk terus bekerja di dunia IT sampai aku benar-benar menyerah. Ambisi yang tinggi itulah yang membuat aku lupa, kalau aku ini perempuan yang punya kodrat tersendiri.
Kalau begini, jadi bingung sendiri. Yang kupikirkan malah dia lagi, si lelaki berbuku jari panjang, Mas Okto.
Kalau Mas Okto, bagaimana ya pandangannya soal istri yang bekerja? Apakah mendukungnya?

You Might Also Like

0 comments