Skip to main content

Not for IT: Bagian 1 - Pagi, Hanisya!


image source from here. edited with: GIMP


01. Pagi, Hanisya!

Libur panjang yang sebenarnya hanya tiga hari, makin pendek saja rasanya. Mungkin, karena selama liburan kemarin aku tidak mengerjakan kegiatan yang bermanfaat. Sekarang, aku malah sudah berdiri lagi di Transjakarta koridor Pulogadung - Dukuh Atas. Bertahan dari manusia yang berebut masuk di halte Pasar Genjing dan bertahan dari bau ketiak pagi hari. Ya begitulah. Setidaknya, ada Mas Akhdiyat Duta Modjo yang setia di kuping ini, menyanyikan lagu semangat cuma buat aku seorang.
 
Lagi santai-santainya bersenandung, tiba-tiba saja bis reyot ini ngerem mendadak. 

“Astaghfirullah!” teriak seorang Ibu di samping kananku.
 
Dan persis efek domino, Ibu ini jatuh ke arah kiri. Aku pun terdorong. Pegangan terlepas. Secara slow motion, gerakan lunglai khas pegawai kantoran yang belum sarapan, aku jatuh cantik ke samping kiri, menimpa mbak modis pegawai bank. Aku nggak tahu apakah karena aku jatuh ke arah dia yang sedang PMS, atau memang karena tertimpa diriku yang berat ini, dia jadi marah. Dia lalu menyerocos tak jelas, bahkan sampai bawa-bawa jilbabku.
 
“Aduh, pegangan yang bener dong Mbak! Makanya pakai jilbab nggak usah panjang-panjang, ribet sendiri kan!” teriak pegawai bank itu ke kupingku.
 
“Dan kau bisikkan kata cinta,” seling Mas Duta di dalam kepalaku.
 
“Ya ampun! Pak Supir, yang bener dong nyupirnya!” gerutu ibu-ibu yang sebelumnya jatuh ke arahku. 

“Pastikan kita seirama,” kata Mas Duta lagi.
 
“Oalah, bajaj bodoh!” jawab Pak Supir, tak mengindahkan gerutuan para penumpang di belakangnya. Sementara semua orang menggerutu, yang aku dengar cuma lagu Sheila on 7 di dalam kepala. Bagaimanapun, aku tidak boleh dan tidak bisa marah. Sebab, kata ibuku, marah itu hanya nafsu semata. Setan lah yang akan tertawa, kalau aku marah-marah hanya karena bajaj yang belok suka-suka dirinya. 

Ya Allah. Kenapa sih Senin pagi harus kayak gini? Semoga sampai sore nanti, pekerjaan tetap aman.  

***   

Jam baru menunjukkan pukul setengah sembilan kurang saat aku mengempaskan pantat ke kursi. Baru mau bernapas, eh si Hagian udah nyamperin. Kalau Hagian yang nyamperin, pasti bukan kabar baik. Ya itu karena, Hagian ada di bagian IT Monitoring, yang pekerjaannya bakal memonitor kegiatan server dan jaringan di kantor perusahaan retail terbesar di Jakarta. Ya, di sinilah aku bekerja. 
“Han, server database-nya Pak Joni nggak report ke aplikasi monitoring tuh. 
"Bisa tolong cek enggak? Soalnya gue mau kirim laporan shift tiga,” jelas Hagian saat aku baru saja akan duduk. 
Bla bla bla bla katanya. Aku pun menutup mata sejenak. 
 
Hagian malah mengetukkan jarinya di meja kerjaku. 
 
“Aduh, Yan. Bentar yah, belum buka laptop, nih. Baru juga mau duduk,” kataku sabar. Sabar, sabar. Tidak boleh marah, supaya seharian ini lebih berkah.
Hagian berkacak pinggang. Kaus belelnya yang sepertinya sudah berkerak air liur itu terlihat menyebalkan di pagi hari. 
 
“Yeee. Kok malah gitu sih? Kalo elo ngantuk, apa kabar gue? Gue juga dari shift dua lanjut shift tiga kemaren nih belom molor!” balas Hagian tak sabar. 
Baiklah, aku mengalah pada lelaki cuek itu. Ini karena aku tak mau ada masalah di pagi hari. Maka, setelah menyalakan laptop, aku mengonfirmasi password proxy di dalam jaringan kantor dan mulai mengerjakan titah Hagian. 
 
Hagian senyum-senyum girang. Sambil menguap lebar tanda lega, ia pun berlalu. “Makasih ya Hani yang baik hati pake banget.” 
 
Dan sepagi ini, ingin rasanya aku mencakar satu orang rekan kerja. Si calon korban tercakar tertawa geli sambil merapikan barang-barang di mejanya, sementara aku sudah mengecek server yang dimaksud Hagian. Sabar, sabar. Pokoknya hari Senin ini harus berlalu tanpa masalah, supaya tak jadi monster day.
 
“Pagi, Hanisya.” 
 
“Apaan lagi si....” kata-kataku berhenti. Aku nyaris marah-marah.
 
Ternyata Mas Okto yang menyapa. Dia itu, Mas Duta versi KW super! Memang sih, dia nggak bisa nyanyi. Tapi, suaranya mirip Duta Sheila on 7! Dan, melihatnya selalu membuat adem, karena dia itu orangnya ramah. Ingin rasanya aku....
 
Aduh, lagi mikir apa sih! Kalau ada yang bilang, cuma disapa begitu doang bisa bikin perempuan layu, lemah, dan baper, itu benar! Dan kayaknya perempuan labil kayak aku ini mudah lemah sama sapaan sepele di pagi hari yang kelabu. 
Tiba-tiba aja, pagi jadi semarak. Mengerjakan titah Hagian tadi jadi lebih ringan hanya karena memikirkan yang tidak-tidak. Duh, Gusti Allah. Apakah ini permasalahan yang kerap dirasakan oleh perempuan usia duapuluhan tanggung? Semoga aku tidak terlalu banyak memikirkan yang tidak-tidak.
 
Untung saja, lamunan tidak berfaedahku di pagi hari ini, dihentikan oleh Hagian. “Woi! Udah belum!”
 
“Eh, iya sebentar!” Mimpi utopik soal Mas Okto yang berhadap-hadapan dengan Bapakku untuk meminangku pun hilang begitu saja. Yah, ketahuan deh mimpiku. Hehe. 
 
Waktu Hagian nyuruh-nyuruh kayak mandor bangunan gitu, Mas Okto hanya tertawa penuh wibawa. Udah gitu, dia lantas mendongak ke Hagian yang tinggi badannya agak lebih tinggi daripada dia. “Pagi, Yan. Lembur?” 
 
“Iya Mas. Double shift nih. Ini gue nunggu Hani beresin servernya. Per pagi tadi nggak kirim report tuh,” jawab Hagian. Hagian lalu beralih lagi padaku, “Jadi kenapa tuh server Pak Joni?” 
 
“Service SNMP-nya mati, jadi datanya nggak ketarik,” jawabku singkat sembari mengerjakan solusinya. 

“Oh gitu. Sekarang udah bisa?” 
 
Udah. Gih, kamu cek dulu. Terus balik sana. Pusing deh pagi-pagi udah diberisikin.” 
 
Hagian langsung berlalu, pamit pada Mas Okto dan segera menuju meja kerjanya yang berbeda dua blok kubikel dengan kubikel punyaku. Hagian berada di kubikel tim support, termasuk di dalamnya adalah IT Monitoring (tim di mana Hagian berada), lalu meja tim Onsite Support dan Helpdesk. Sedangkan aku ada di kubikel tim infrastruktur, termasuk di dalamnya adalah tim Server (posisiku sekarang), tim Network, dan tim Infra Provisioning. Dan kubikel lain ada di belakang. Lantai IT ini tidak terpisah dinding. Satu lantai besar hanya terdiri dari kubikel-kubikel yang tidak tertutup penuh. Aku masih bisa melihat kepala orang yang tertutup kubikel hanya dari tiga perempat wajah mereka dan masih bisa kulihat sekeliling, termasuk lokasi kubikel tim aplikasi di mana Mas Okto berada. 

Aduh, Mas Okto lagi. Memikirkannya saja membuat hatiku di hari Senin ini jadi gundah gulana. 

Soal Mas Okto, akan kuceritakan nanti. Yang jelas, Senin ini bakalan agak sibuk. Ternyata banyak server yang bermasalah dari semalam. Tapi, ini mungkin lebih baik daripada seharian penuh hanya mengkhayalkan Oktomadya Rayala.


***

Episode  2 >>>

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…