Tips: Belajar Mengembangkan Plot Novel dengan Three-Act Structure

sumber: raindance.org
Setelah sekian lama hiatus dari riset dan baca-baca tentang tips menulis fiksi, rasanya saya berkewajiban untuk menulis hal itu lagi. Kalau dibaca dari artikel ini, elemen fiksi itu secara sederhana hanya ada enam elemen. Elemen itu antara lain adalah plot, setting, karakter, konflik, PoV, dan simbol. Untuk karakter kan sudah pernah saya bahas secara sesat di sini, dan pada posting blog kali ini, saya akan mencoba untuk membahas plot dalam karya fiksi (yang pastinya akan dikupas secara sesat).

Apakah plot itu?


Terkadang, para ahli kepenulisan sering menyebutkan bahwa plot bukanlah hal penting dalam karya fiksi, dan pembaca yang memperhatikan plot hanyalah yang tidak dewasa. Namun, plot dalam fiksi sebenarnya adalah hal yang juga penting, karena plot adalah satu hal yang membuat kita sebagai pembaca pertama-tama memiliki keinginan untuk menghabiskan bacaan. Plot dapat digambarkan seperti umpan pada kail, yang menarik ikan. Plot adalah elemen dalam karya fiksi yang pasti akan membuat kita penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Jadi, salah sekali kalau dibilang plot itu kurang penting atau porsinya tidak sebesar karakter, konflik, dan lain-lain.

Nah, setelah tahu tentang plot, biasanya banyak orang yang bertanya, "Bagaimana sih cara membuat plot cerita kita supaya waw?" Atau pertanyaan lainnya yang lebih standar, "Bagaimana sih cara supaya bisa menulis cerita?"

Baiklah. Ini pertanyaan mudah dengan jawaban yang cukup sulit, sebab tugas plotting cerita bukanlah tugas mudah. Karena dalam membuat plot, kita harus memikirkan series of events, atau serangkaian kejadian yang membuat orang tetap membalikkan halaman dan tidak berkata, "Hah? Gitu doang? Apaan sih ini?"

Sebelum sampai pada bagaimana mengembangkan plot, mari kita simak empat hal mendasar yang sekiranya harus kita pahami dari sebuah plot.

1. Suatu plot adalah rangkaian kejadian yang saling berkaitan. Jadi, ketika kita menulis kejadian seorang anggota dewan yang tertabrak mobil dan tidak berkaitan dengan kejadian  pengangkatan Kapolri baru, itu berarti dua hal ini bukanlah hal yang berhubungan, melainkan hanya sebuah kebetulan. Padahal, lebih baik kalau dua kejadian itu menjadi saling berhubungan dan memunculkan misteri.
2. Karakter utama menginginkan sesuatu yang penting. Dan ketika mereka gagal, tingkat risiko yang harus ditempuh karakter utama semakin tinggi. Hidup mereka juga seperti bergantung pada keinginan itu.
3. Apapun yang mereka inginkan, tidak akan mudah didapat. Faktanya, semua yang kita punya dan kemungkinan risiko yang kita kembangkan, kita lemparkan saja pada tokoh utama.
4. Kejadian-kejadian itu harus mencapai kesimpulan yang memuaskan. Dalam hal ini, plot novel pada akhirnya tidak harus happy ending, menggantung, atau ambigu, tapi harus ada kesan bahwa plot ditutup, entah ke depannya akan dilanjutkan ke serial berikutnya atau tidak.

Struktur "Three Act"

Angka tiga adalah angka sakti dari plot, tidak hanya untuk novel, tapi juga untuk cerita pendek, film, dan dalam pementasan teater.

Setiap cerita, biasanya memiliki tiga bagian plot, yaitu awal, tengah, dan akhir. Tiga bagian ini memisahkan fase-fase dalam cerita. Pada pementasan teater, biasanya disebut Act I, Act II, dan Act III, dan biasanya tirai dibuka atau ditutup pada setiap Act.

Pada novel, plot dibagi menjadi beberapa bagian atau bab, bukan dalam "Act", meskipun terkadang pada setiap fase bab, kita juga bisa melihat perpindahan dari fase awal ke tengah, lalu dari fase tengah ke akhir cerita.

Istilah yang lebih manusiawi, bisa kita simak pada penjelasan di bawah ini:
1. Beginning / Awal: Karakter utama membuat pilihan untuk beraksi.
2. Middle / Tengah: Aksi tersebut dimulai dan dibumbui berbagai konflik.
3. End / Akhir: Konsekuensi dari aksi dan resolusi akhir.

Contohnya akan coba saya tuliskan di bawah ini. Sebut saja ini plot "Ninad dan Eunoia", yang juga ada dalam naskah distopia berlatar Indonesia tahun 2050-an yang sedang saya garap.

  1. Ninad sudah memasuki usia dewasa muda, yaitu awal delapanbelas. Ia bermaksud untuk mengikuti seleksi anggota "Demokrasi Empat Pilar" agar bisa mengungkap kasus hilangnya orangtua Ninad yang tergabung dalam Dewan Perluasan Agung, divisi Virtuoso.
  2. Selama proses seleksi rupanya tidak mudah, sebab Ninad berasal dari daerah Tepi Batas yang dinilai kurang dalam segi pendidikan maupun pengembangan daerah. Tetapi, Ninad dapat lolos dengan hasil baik bahkan masuk ke dalam Dewan Pembangunan Agung, divisi Arsitek. Karena domisili Ninad tersebut, banyak calon anggota lain yang mencoba untuk menjatuhkannya dari mulai tahap seleksi sampai ketika ia sudah berada di dalam gedung dewan.
  3. Aksi-aksi pada bagian tengah cerita, memiliki konsekuensi dan pada novel, hal ini menyebabkan perubahan pada karakter utama maupun karakter pendukung (ingat-ingat saja ketika Joanna Mason dan Katniss yang bermusuhan akhirnya bersahabat kembali). Hal ini, dengan kata lain, Ninad--si tokoh--menyadari kekurangannya, berubah menjadi lebih kuat dan mencapai keinginan atau kebenaran yang ia cari. Ia menemukan kembali titik terang dan penyelesaian kasus hilangnya kedua orangtuanya dan berhasil menjadi pembangun handal di salah satu dewan Demokrasi Empat Pilar.

Dari cerita pendek ke novel dengan 200 halaman atau lebih; dari opera ke bioskop; struktur klasik "three act" inilah yang menyatukan semua cerita dan rangkaian kejadian - termasuk novel kalian.

Tentu saja, hal ini belum menjelaskan bagaimana caranya membuat plot dalam novel dengan keren, tapi jangan khawatir karena pada posting berikutnya, saya akan coba menjelaskan hal tersebut.

Sedikit petunjuk: Dari "three act structure" ini, kalian juga bisa membagi kerangka novel kalian dan memasukkannya dalam fase, apakah kerangka A masuk fase awal, atau masuk fase tengah, atau bahkan akhir.

***

Posting blog ini dibantu oleh beberapa referensi berikut:

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Keajaiban di Pasar Senen

Weekly Song - Oksigen (Sastra Akustik Dialog Dini Hari)