Skip to main content

[Review K-Drama] Signal (2016)

*pics: Dramafever

[Review K-Drama] Signal (2016)

Sutradara: Kim Won-Suk
Penulis Naskah: Kim Eun-Hee
Jaringan: tvN
Episode: 16
Tanggal Tayang: 22 Januari - 12 Maret 2016
Jadwal Tayang: Fri & Sat 20:30
Bahasa: Korea
Pemain: Lee Je-Hoon, Kim Hye-Soo, Cho Jin-Woong, Jang Hyun-Sung, Jung Hae-Kyun, Kim Won-Hae, Lee Yoo-Joon, dll

Sinopsis:
Terinspirasi dari kisah nyata kasus pemerkosaan dan pembunuhan di Korea pada tahun 1986 - 1991, detektif dari masa lalu dan masa sekarang berkomunikasi lewat sinyal walkie talkie misterius dan membuat mereka dapat bekerja bersama melewati rentang waktu yang berbeda. Dengan perspektif di masa depan dan masa lalu, detektif ini mencoba memecahkan kasus-kasus kepolisian yang mengerucut pada satu kasus besar.

*

Sejak akhir 2015, industri perfilman di Korea mengalami perkembangan. Drama Korea pun kini menyuguhkan cerita dengan tema luas dan beragam. Mulai dari kisah perjuangan para dokter, psychological-thriller, petualangan, coming-of-age, cerita investigasi ala detektif, sejarah, fantasi, dan lain-lain.

Sebenarnya dari dulu tema yang disuguhkan sudah beragam tapi belum terlalu banyak yang berani keluar dari pakem romantisme dalam kisah-kisah drama Korea, dan saat ini mulai banyak drama Korea yang bahkan tidak menyajikan unsur percintaan yang dominan, malah lebih banyak air mata. *tsah

Nah, salah satu drama Korea yang tahun lalu saya selesaikan dengan rasa penasaran di setiap akhir episode berjudul Signal. Signal rilis sekitar awal tahun 2016 dan disiarkan melalui jaringan televisi kabel TVn. Bisa dibilang, TVn ini adalah jaringan televisi berbayar di Korea, namun rating Signal cukup tinggi. Mungkin ini karena kisah yang ditawarkan Signal adalah kisah yang menegangkan dan sarat misteri.

Tokoh utama adalah seorang profiler kriminal di kepolisian bernama Park Hae-Young. Hae-Young terkadang menggunakan kemampuannya itu untuk menganalisis skandal selebriti Korea untuk memuaskan hobinya. Haha! Sampai ia tertangkap oleh detektif Cha Soo-Hyun karena seorang selebriti merasa dikuntit dan melaporkan Hae-Young ke polisi. Namun, semua hal yang ada di hidup Hae-Young berubah sejak ia menemukan sebuah walkie talkie atau HT tua.

HT ini sudah tidak berbaterai dan rusak, namun entah kenapa di waktu-waktu tertentu, HT ini selalu menyala dan orang di seberang HT mengenal Hae-Young. Ia memberitahu tentang mayat seorang lelaki yang dikubur di bekas rumah sakit jiwa. Hae-Young yang memang penasaran akhirnya memberanikan diri untuk datang ke halaman belakang rumah sakit jiwa itu, dan ia menemukan kerangka manusia.

Singkat kata, kerangka manusia ini diidentifikasi sebagai tersangka penculikan dan pembunuhan seorang anak kecil di masa lalu yang ternyata adalah teman Hae-Young saat SD dahulu. Hae-Young mengingat bahwa jelas bahwa teman kecilnya itu dibawa oleh seorang perempuan dan ia pun menghancurkan investigasi polisi dengan membeberkan ke wartawan bahwa pembunuhnya masih hidup. Cha Soo-Hyun pun marah besar dan menghalau wartawan yang penasaran dengan kisah Hae-Young. Dibantu oleh Hae-Young yang menjadi satu-satunya saksi, Cha Soo-Hyun dan tim bekerja untuk mengungkap tersangka sebenarnya, sebelum undang-undang pembatasan kasus berakhir. Sekedar untuk informasi, kasus kriminal di Korea memiliki pembatasan waktu, yaitu sekitar 15 tahun sejak investigasi awal dan waktu dimulainya kejadian kriminal tersebut.

Teringat dengan Ibu teman kecil Hae-Young yang terus menunggu di depan kantor polisi demi mendapatkan kejelasan hukum atas kasus yang menimpa anaknya--yang bahkan tidak ditemukan sampai saat Hae-Young dewasa--membuat Hae-Young ingin membantu menangkap tersangka. Dengan kemampuan profilernya, Hae-Young pun berhasil menangkap tersangka dan pada akhirnya membuat masyarakat mempertanyakan undang-undang pembatasan. Oleh karena itu, kepala polisi akhirnya membentuk tim investigasi khusus kasus dingin, yaitu kasus-kasus lama yang belum selesai sampai sekaran alias unsolved crimes.

Tim baru pun dibentuk, berisikan Hae-Young, Soo-Hyun, satu detektif, dan satu forensik. Setumpuk kasus tua pun dikeluarkan dari arsip kepolisian, dan sepanjang episode, saya terjangkit virus penasaran. Bagaimana tidak? Bukan hanya karena saya menunggu bagaimana kasusnya selesai, tapi Hae-Young juga terus berkomunikasi dengan detektif di masa lalu yang misterius. Jadi, Hae-Young mencoba menyelesaikan kasus dengan meminta petunjuk dari detektif di masa lalu itu, yang mana detektif di masa lalu itu juga mendapat petunjuk dari masa depan sehingga ada beberapa hal yang berubah di masa depan.

Ini semua memperkuat kemungkinan imajinasi saya tentang kita yang hidup di rentang waktu paralel, tidak linear namun sirkular, dan kita dapat memegang atau mengubah apa yang terjadi di masa lalu dan masa depan. Apapun letupan kerikil yang dilempar di masa lalu, akan mengubah kemungkinan kecil di masa depan.

Uniknya, beberapa kasus dingin yang diambil pada drama Signal ini juga diambil pada beberapa kasus yang nyata terjadi di Korea. Di antaranya adalah kasus yang terkenal di Korea pada tahun 1986-1991, yaitu pembunuhan berantai Hwaseong. Bahkan pembunuhan berantai Hwaseong ini sempat dipadupadankan setara dengan Zodiac Killer. Korban yang ada sangat beragam dan random, mulai dari nenek usia 71 tahun sampai gadis kecil usia 13 tahun. 10 korban diperkosa dan dibunuh, dengan radius tempat tinggal mereka sekitar 2km. Mereka dicekik sampai mati dengan pakaian mereka sendiri. Dan kasus ini sampai sekarang belum terselesaikan, selain karena kurangnya bukti dan metode investigasi juga alat canggih pada masa dahulu, juga karena pembatasan kasus yang berakhir pada tahun 2006.

Dan menonton drama ini sedihnya bukan karena kisah romantis atau mengaduk perasaan, tapi karena beberapa tokoh figuran yang berdampingan dengan tokoh utama harus mati sia-sia atau mati karena berkorban. Hiks.

Serial drama ini jadi salah satu serial paling mengesankan dan thrilling, yang saya tonton dari Korea. Berbeda dengan serial Jepang yang memang sudah banyak thriller-suspense disajikan dari dulu.

Rating untuk serial ini adalah 5/5 dari saya! Yeay!

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…