Skip to main content

5 Langkah Dasar dalam Membuat Plot Novel

sumber gambar: plot whisperer
 
Teori ini sebenarnya merupakan lanjutan dari pembahasan tentang plot yang ada pada posting sebelumnya. Beberapa teori di sini juga yang sering saya coba praktikkan tiap kali menulis novel, karena beberapa novel keren yang pernah saya baca memang bermain pada sisi plot, penuh ketegangan dengan dinamika naik-turun yang tak berkesudahan. Nah, beberapa teori berikut adalah dasar dari aturan plot yang mungkin akan memudahkan kita semua dalam membuat plot novel.

1. Membuat Kerangka Plot
Kerangka plot akan memudahkan kita dalam menyusun tiap bab atau bagian dalam novel. Jika kita menyusun kisah yang kompleks, kita akan membutuhkan kerangka ini untuk membuat diagram alir pada tiap bab dan kasus. Meski kadang membuat kerangka adalah hal yang beberapa orang hindari (mungkin karena malas), tapi membuat kerangka tidak sulit. Lagipula, dalam pengembangan kerangka, pasti akan ada bab atau kisah tambahan sebagai bumbu. Nah, karena itulah kerangka plot akan sangat membantu untuk memberi rambu-rambu pada plot cerita agar tidak keluar jalur atau "out off topic".

2. Memberi Ruh pada Plot
Hiasi plot yang tadinya hanya jasad saja dengan ruh agar lebih hidup. Hiasi dengan karakter yang kompleks dan latar yang akan menambah kuat plot dan menarik perhatian pembaca. Pastikan untuk memperhatikan detail kecil dan tetap fokus karena plot yang baik akan hancur jika isi cerita terlalu semrawut karena penulis pasti punya banyak pikiran yang ingin diutarakan sepanjang novel berkembang. Meski kompleks dan warna-warni, ruh plot ini harus mengarah pada titik balik novel yang utama yaitu, solusi akhir.

3. Bawa Plot ke Solusi Akhir yang Kuat
Apakah kisah pada tiap bab mengarah ke solusi akhir? Jangan biarkan pembaca kecewa. Resolusi ini adalah titik balik terakhir; bagaimana karakter berubah dari awal cerita sampai akhir. Pembaca menghabiskan waktu untuk membaca novel bukan hanya untuk melihat akhir yang datar (tentu saja meskipun banyak novel yang begitu sih). Tapi, setidaknya jangan membiarkan pembaca lelah dengan satu novel hanya karena resolusi yang biasa. Terserah kalian, mau cliffhanger, mau sad ending, happy ending, twist ending, bersambung atau apapun, yang pasti buatlah kisah akhir dengan kesan mendalam. *tsah

4. Akhir Bab yang Alami
Setelah klimaks pada tiap adegan, bagian, atau bab novel, bungkus semua kejadian klimaks itu secepat yang kita bisa. Jangan mengulur waktu atau menambah kesan berputar-putar karena pembaca bisa bosan dan karakter berikut plotnya akan menderita. Ingatlah bahwa akhir cerita akan menjadi hal paling menyegarkan dalam pikiran pembaca ketika mereka selesai dan menaruh bukunya.

5. Buat Karakter Menyelesaikan Konfliknya Sendiri
Jangan membuat waktu atau pahlawan kesiangan melakukan pembersihan pada konflik karakter utama di akhir-akhir cerita. Hal ini akan membuat karakter utama tidak terlihat seperti karakter utama. Pembaca biasanya ingin melihat bagaimana perkembangan karakter utama dan bagaimana ia menyelesaikan masalahnya, melalui plot cerita.

Catatan Akhir: 
Membuat plot yang baik tidak semudah yang dipikirkan, meski teori menyebutkannya semudah yang saya tulis di sini. Haha. Sebenarnya hal yang paling penting adalah berlatih menulis terus, karena saat kita sudah menemukan pace kita, menulis novel akan benar-benar mengeluarkan imajinasi liar kita (saya kadang sampai tertawa sendiri, atau kadang suka mempraktikkan adegan yang saya tulis sendiri). Kurang lebih seperti itu.

Tidak ada hal yang instan, semua bayi saja lahir belum bisa jalan, lalu belajar merangkak, lalu jalan, baru bisa berlari. Jadi, menulis plot yang baik bukanlah hal instan melainkan karena terus dilatih.

Jadi, giatlah menulis barang berapa halaman, baca ulang, kasih ke teman dan minta tolong baca juga, lalu mintakan saran dan kritiknya. Dengan begitu, kita akan lebih mudah belajar.

Selamat menulis!

***

Posting blog ini dibantu oleh beberapa referensi berikut:

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…