Skip to main content

Berkunjung ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Perpustakaan Nasional RI
Teman-teman yang mempunyai hobi membaca atau yang sekedar ingin mencari literatur untuk riset dan memperbanyak referensi, tak ada salahnya untuk mencoba mampir ke Perpustakaan Nasional RI. Kalau ada yang bilang, di Jakarta itu tempat membaca sangat jarang, salah banget! Sebenarnya ada banyak ruang membaca dengan beragam buku yang disediakan oleh pemerintah maupun swasta. Salah satunya adalah Perpustakaan Nasional RI yang berlokasi di Jalan Salemba.

Nah, pada posting blog kali ini, saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya mampir ke Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) atau yang biasa disingkat PNRI.

Memasuki lingkungan PNRI, kita dapat melihat bangunan pendopo utama di depan tiang bendera besar, dan di sebelah kanan terdapat gedung tinggi yang merupakan bangunan perpustakaan. Bagi teman-teman yang baru pertama kali mampir ke PNRI dan ingin membaca, teman-teman harus mendaftarkan diri terlebih dahulu untuk memiliki kartu keanggotaan. Proses pendaftaran langsung melalui lobi tengah gedung perpustakaan atau biasa disebut blok B dan C.

Masuk lobi tengah, kita akan disambut oleh relief dan patung raksasa berbentuk buku. Di sebelah kirinya ada beberapa komputer yang dapat digunakan untuk mendaftarkan data diri teman-teman. Komputer tersebut sudah dalam posisi membuka situs pendaftaran keanggotaan perpustakaan. Ada beberapa menu, seperti syarat dan ketentuan, juga halaman pendaftaran. Nah, silakan menuju menu pendaftaran dan mengisi data diri di sana. Ada beberapa pilihan kartu identitas dan saya sendiri mengisi dengan KTP karena mendaftar sebagai anggota umum. Jenis keanggotaan di perpustakaan ada anggota umum, mahasiswa, dan siswa (minimum SLTA). Kenapa minimum SLTA? Itu berarti, untuk pendaftar yang masih bersekolah, hanya bisa meminjam jika sudah SMA. Jika masih SMP, sepertinya sih belum boleh.

Setelah mengisi data dan submit, akan muncul halaman sukses dan berisi nama juga nomor anggota yang terbentuk saat submit. Catat nomor anggota berikut nama anda di potongan kertas yang sudah disediakan. Biasanya, di bagian bawah komputer atau di atas CPU-nya sudah ada tumpukan potongan kertas. Kalau pulpen sih tidak ada, jadi saran saya, bawa pulpen sendiri.

Di belakang komputer untuk mengisi data, ada ruangan bertuliskan "Keanggotaan". Nah, di ruangan ini nanti anda antri dan memberikan kertas berisikan nomor anggota berikut nama. Nanti akan dipanggil oleh petugas untuk difoto. Foto ini nanti akan dipasang dalam kartu anggota. Kartu anggota sendiri selesai cetak dalam beberapa menit. Perpusnas RI memiliki alat cetak sendiri untuk pembuatan kartu sehingga tidak perlu menunggu lama. Selain itu, pembuatan kartu anggota atau pendaftaran anggota perpus ini tidak dipungut biaya alias GRATIS! Enak kan? Ya kan? :))

Setelah kartu jadi, silakan bersenang-senang! Teman-teman bisa berjalan menuju bagian daftar tamu. Di sini akan diberikan kunci loker untuk menyimpan tas. Oh ya, teman-teman perlu meninggalkan KTP atau tanda pengenal lainnya, untuk ditukar dengan kunci loker. Selain itu, di bagian daftar tamu atau resepsionis ini, kita juga bisa meminta tas transparan jika kita membawa laptop atau buku catatan dan alat tulis. Ransel atau tas yang kita bawa dari luar tidak boleh dibawa masuk ke perpustakaan dan harus ditinggal di loker. Oleh karena itu, kita bisa meminjam tas transparan yang disediakan oleh Perpusnas. Oh ya, sebelum naik ke lantai lain untuk mencari buku, jangan lupa menyempatkan diri untuk mengisi buku tamu di komputer sebelah kanan resepsionis. Dengan mengisi buku tamu, kita sebenarnya ikut memajukan perpustakaan lho! Siapa tahu petugas perpustakaan jadi semakin giat rapi-rapi koleksi dan daftar katalog supaya memudahkan kita yang mau membaca, ya kan?

Setelah menaruh tas di loker dan membawa barang berharga juga barang yang dibutuhkan dengan tas transparan, kita masuk ke perpustakaan dengan kartu anggota. Kartu anggota Perpusnas ini sudah sekaligus untuk membuka pintu menuju perpustakaan. Pintu perpustakaan ini sudah menggunakan pintu otomatis sehingga harus scan kartu. Jadi, setiap kunjungan memang wajib membawa kartu anggota ini.

Isi Bon Pesanan Buku
Oh ya, pertama ke Perpusnas, saya agak bingung. Sempat berputar-putar dari lantai dua ke lantai tiga, lalu ke lantai lima dan balik lagi ke bawah. Waktu coba masuk ke ruas 3B, saya baru membaca informasi tentang Perpusnas. Jadi, Perpusnas Salemba ini sistem peminjamannya adalah sistem tertutup. Untuk meminjam buku di sini, kita harus cari dulu daftar bukunya, lalu mengisi bon peminjaman buku. Bon peminjaman buku ini ada di lantai 2 atau di ruang katalog. Di lantai 2, ada banyak komputer tempat mencari daftar literatur, referensi, tesis, disertasi atau peta dan atlas yang ingin kita baca. Saya kurang tahu berapa batas peminjaman ini, atau berapa batas pengambilan bon peminjaman. Tapi, karena baru pertama kali, saya pinjam dua buku dulu.

Bon diisi, lalu diserahkan ke petugas yang menjaga ruang katalog. Petugas akan mengisi keterangan di mana buku tersebut berada. Oh ya, karena kemungkinan buku berada di lantai dan ruas yang berbeda, maka kita harus jeli. Jika kebetulan buku berada di lantai dan ruas yang sama, kita lebih enak membacanya, karena tidak perlu bulak-balik ke lantai lain. Dan saat buku diserahkan ke kita, kartu perpustakaan kita harus ditinggal. Buku juga tidak boleh dibawa ke lantai lain, dan kalau mau dibawa juga tidak mungkin bisa meminjam buku di lantai lain, karena di lantai lain pasti diminta kartunya lagi saat penyerahan buku yang dipinjam. Jadi, kita harus jeli untuk memilih buku mana dulu yang mau dibaca berlama-lama, mengingat waktu kunjungan perpustakaan yang terbatas hanya sampai jam 6 sore saja.

Kebetulan dua buku yang saya pinjam ada di lantai 3 ruas B (3B). Saya langsung ke petugas di lantai 3B, menaruh bon, mengisi buku tamu lagi dan menunggu petugas memanggil nama saya untuk menyerahkan buku yang saya pinjam. Di ruangan baca juga ada meja-meja, colokan listrik, dan ada Wifi untuk tamu. Jadi, kalau membawa laptop sambil mau mengetik atau browsing juga dipersilakan.

Ruang Baca di Perpusnas
Setelah petugas memanggil nama kita, kita diminta untuk meninggalkan kartu. Kartu anggota ini nanti akan diambil setelah buku selesai dibaca. Jadi, seperti yang saya bilang sebelumnya, buku tidak bisa dan tidak mungkin dibawa ke lantai lain karena kartu kita yang ditinggal.

Di setiap lantai dan ruas juga ada jasa fotokopi. Untuk jasa fotokopi ini dikenakan Rp 200 per lembarnya. Kebetulan, saya meminjam buku yang terlalu asyik kalau tidak difotokopi, makanya saya menyempatkan diri untuk mencoba jasa fotokopi di Perpusnas ini. Hehe. Sistemnya, kalian mengambil kertas kosong di bagian fotokopi, lalu tulis nama dan halaman yang ingin difotokopi. Setelah ditulis, taruh buku berikut kertas tadi dan tunggu dipanggil saja. Sambil menunggu, bisa berselancar di internet dulu.

Fotokopi pun selesai. Saya menghabiskan Rp 7000 untuk memfotokopi 40 halaman buku Cryptography and Network Security yang ditulis oleh William Stalling. Kebetulan buku satunya masih lebih mudah dipahami, jadi buku satunya tidak saya fotokopi, tapi hanya saya catat bagian yang penting di dalam notes.

Dari mendaftar anggota sampai menghabiskan waktu di perpustakaan (dipotong jam istirahat PNS dari pukul 12.00 sampai 13.00), saya menghabiskan waktu 5 jam. Itu juga ditambah kebingungan mencari alur yang tepat saat meminjam buku. Hahaha. Mungkin, di kunjungan lainnya sudah lebih terarah karena sudah pernah. Makanya, saya membuat posting blog ini agar teman-teman yang ingin main ke Perpusnas bisa memahami dulu alurnya sebelum berangkat, agar tidak seperti saya.

Kira-kira begitulah kunjungan pertama saya ke Perpusnas. Lain waktu mungkin akan datang dari pagi sehingga lebih puas membaca di Perpusnas.

Selamat mampir ke Perpusnas!

#GerakanMainKePerpus #MainKePerpus #AyoKePerpus #AnakPerpus

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…