Skip to main content

Menikah?



Apa yang bakal kamu lakukan kalau ada orang yang tidak dekat denganmu, juga jarang mengobrol denganmu, tiba-tiba menawarkan diri untuk menjadi "imam" bagimu dan calon anak-anakmu nanti?
Apa yang bakal kamu lakukan juga kalau tiba-tiba dia mengirim pesan itu di tengah malam, di saat kondisi dirimu sedang kacau-kacaunya? Mungkin karena kamu lelah bekerja, atau malah masih bekerja di tengah malam buta dan bingung mau melakukan apa, bahkan tersusupi perasaan lapar juga sedang sakit?
Ya mungkin kamu akan berpikir, apakah orang ini gila? Sampai kamu bertanya-tanya, kenapa? Kok aku? Kenapa tiba-tiba? Lho, memang kita dekat ya sampai kamu tanya begitu?
Well.
Semua pertanyaan yang keluar itu hanya dijawab dengan satu kata, “Entahlah. Memang kalau sama cinta yang tiba-tiba, saya lebih percaya.”

Lalu beginilah saya sekarang. Dari jawaban itu, saya mulai banyak pikiran. Hahaha. Apakah ini yang namanya fase “bridezilla”? Di kantor, setiap apa yang saya kerjakan melulu hanya penuh untuk persiapan pernikahan. Mulai dari timeline, pergi sama ‘dia’ untuk mencicil seserahan. Googling tempat pernikahan outdoor (ya, saya mau yang outdoor biar memangkas biaya gedung yang harganya selangit di Bandung – Cimahi sana). Belum lagi komparasi catering yang terlihat enak, banyak, tapi sekali lagi MURAH. Hehe. Ya begitulah. Saya memang cukup mureeee untuk hal begini. Ada baiknya juga terlahir sebagai seorang Libra. Karena mind-mapping saya yang sudah berbau manajerial, maka untuk urusan budgeting biaya pernikahan kami jadi sangat mudah. Saya cukup mengambil beberapa prioritas dari vendor pernikahan terpilih dan membuat matriks atau puzzle yang sesuai dengan benefit yang kami dapat.
Well, sampai ini ditulis, saya sudah punya sedikit gambaran paling tepat untuk pesta pernikahan kecil kami dengan biaya ringan.
Dan dari jawaban ‘dia’ tentang pertanyaan saya itu, saya jadi banyak berpikir mengenai diri saya sendiri. Saya yang ambisius, egois, penuh gengsi terhadap sesuatu, entah kenapa tiba-tiba menjadi seseorang yang keep it low. Bukannya apa-apa. Sifat saya yang seperti ini harus dipertimbangkan jauh ke depan, karena pernikahan itu kan bukan sehari semalam, tapi seumur hidup. Saya yang tak pernah memikirkannya saja bahkan sekarang banyak memikirkan tentang bagaimana merawat suami nanti, bagaimana memasak, bagaimana ini, bagaimana itu. Bagaimana cara menjadi istri yang menyenangkan di kala saya lelah, bagaimana untuk tetap semangat walau banyak masalah, dan bagaimana caranya memandang hidup dari sisi positif.
Hal-hal semacam itu sulit sekali. Sungguh. Apalagi dengan sifat saya yang selalu berkata seenak jidat. “Capek ah, udahan ah!” Commitment issue yang sedari dulu saya alami, mau tak mau kini harus diredam. Karena ini lifetime commitment, saya tidak mungkin bisa main penggal, main putus, main gunting, main udahan. Saya akan menghabiskan sisa hidup saya mengarungi kehidupan pernikahan yang bukan setahun dua tahun, tapi bisa puluhan tahun apalagi jika kami berdua diberi nikmat umur panjang oleh Tuhan. Semua masalah kecil yang kami hadapi, masalah diri kami sendiri, juga masalah bersama, akan lebih banyak lagi di kemudian hari. Pernikahan hanyalah salah satu gerbang untuk masuk ke kehidupan penuh masalah yang tak jauh berbeda dengan sekarang.
Mungkin, masalah pribadi saya sekarang ini hanyalah segelintir masalah kecil yang hanya sebesar debu atau mungkin upil? Hahaha. Akan ada masalah lebih besar yang muncul dan semua itu harus kami lewati dengan kepala dingin.
Oke. Mengenai kepala dingin ini, saya sedang berusaha untuk mendapatkannya. Karena kepala saya mudah panas jika dipaksa berpikir atau ditekan. Dan ini bukan hal baik, apalagi jika nanti sudah menikah. Dalam pernikahan, akan ada dua kepala yang dipaksa berpikir. Dalam kehidupan pernikahan saya nanti, kami berdua harus mencapai konsensus agar semuanya bisa berjalan dengan aman, tenteram, damai dan tetap bahagia.
Ya, saya mau bahagia dengan dia yang juga menawarkan kebahagiaan bersama saya. Saya kini tak muluk-muluk, hanya mohon doa agar lancar.
Dan sampai posting ini selesai, saya sudah berhasil melewati beberapa masalah kecil yang lucu, yang membuat sedih, yang membuat bangkit.
Alhamdulillah, saya sudah bisa belajar dewasa.
Dan karena semua hal yang saya alami itu, saya harus bersyukur.
Betul sekali pernyataan dari suatu blog yang saya baca.
“Good things doesn’t happen overnight. They're never happen in one night. Everything needs a process and it takes time.”
Kata Yuna Zarai juga begitu:
“It takes a little time. It would be fine, it takes a little time. I’ve learned and lost along the way, yeah I make mistakes, yeah I feel all kind of pain.”
Itu klise sih, tapi menurut saya kok benar ya? Hehe. Kalau kita berusaha bangkit dan berubah sih, masalah apapun lewat saja.
Tapi benar-benar, entah kenapa saya menjadi orang yang belajar bersyukur. Bahkan sudah bingung mau post apalagi untuk menunjukkan rasa syukur itu.
Alhamdulillah.
Rahmat Tuhan luar biasa nikmat. :)

P.S: update soal persiapan pernikahannya besok-besok ya, lumayan sekalian menaikkan traffic :)))

Comments

  1. Datang-datang, dan saya disuguhi kabar akan menikah.
    Selamat yah, semoga lancar segala urusannya, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduuuh. Jadi maluuu. XD

      Apa kabar Syam? :D

      Aamiin, lancar. :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…