Skip to main content

Life is...



Life is precocious in the most peculiar way…

I may be agree with what OASIS said in their song, “Go Let it Out”. All we should do to have a better life is just to click with what we got. We deserve a better life, so if we like ourself a lot, then just let it out. What’s the point in that? The point that Liam Gallagher always sing is “Syukr”. It’s a form of grateful. What should we be grateful of? Of course, it’s life.
Life is a journey. There’s so much things to be seen, to be done, and to be memorized. There’s nothing like a straight and comfort road. Because it’s a journey, you may passed the worst road with the worst vehicles. Or you may walked down the road without a light, without a friend, and just confuse and asked, “Is it the right way? Did I really missed the last bus stop so I should walk alone like this?”
Well, it’s the truth. Life will lead you to every kind of drama. And you will began to distrust your own step. You will began to distrust others that lead you a way to a light. And there’s nothing you can do with that feeling, except you start to throw away all the worries and keep walking. You may find another way, another stop, or another light and sign. Just as The Smiths always said in their epic song, “There is a light that never goes out.”
Why I mumble about something that sounds like a ‘bullshit’ motivation thing? Well, it’s not a bullshit. Maybe it’s cliché, but it’s damn right. I’ve gone through various roads. The good one, the smooth one, the best, the complicated, the pebbled, and even the worst. If life don’t let me passed, then I won’t be here—writing this motivation shit in my personal blog. All the roads that I’ve been through was surely lonely, but then life give me a stop. I can take my last bus and then go to the place that I want. After such a long road, with a dry and cold scenery, I finally find myself sitting in a bus, going to the extra mile with green grass on the roadside. There’s also the atmosphere that I missed this whole time, the atmosphere of my beloved home.
Along the way to my home, I finally smile and laugh. My bus maybe slow, but I enjoy my journey a lot. I’ll never compare my pebbled road with others, because maybe the others have a smooth road but they just got lost in their journey.
Still, with OASIS song played in my head, I keep their words deep inside me. “Try to click with what we got and if you like yourself a lot then just go let it out.”

Happy Monday everyone and happy sleeping in your workplace! :p

Soundtrack:
-         Oasis – Go Let it Out
-         Regina Spektor – Fidelity
-         L’arc~en~ciel – New World
-         Gigi – Bisa Saja
-         D’Cinnamons – Mayday I’m In Love

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…