Kepada Cermin dan Masa Depan



Halo, Masa Depan…

Apa kabarmu? Kuharap kau senantiasa baik-baik, sehat, dan sejahtera. Semoga kau selalu ada dalam posisi stabil dan tangguh, karena kau pernah berkata, bahwa untuk bersama-sama menjadi satu, maka setengah bagian dari kita harus sama-sama tangguh. Untuk menjadi satu, maka kita harus sama-sama dapat berdamai dengan apapun yang akan terjadi nanti.
Saat aku menulis surat ini, aku sudah ada di titik mengikhlaskan masa lalu, sudah membereskan sesuatu yang belum selesai dengan seseorang, sudah memohon maaf pada mereka yang pernah tersakiti dan aku sedang dalam proses berdamai dengan diriku sendiri.
Hal yang sedang kulakukan ini cukup sulit, wahai Masa Depan. Berdamai dan bernegosiasi dengan monster yang bisa muncul tiba-tiba dari dalam diriku ini, perlu tingkat fokus yang tinggi. Belum lagi, trik politik yang harus kulakukan untuk mendamaikan monster itu, bayangan dalam cerminku.
Aku kerap kali terlepas dari diriku sendiri, dan tertinggal di dalam cermin. Aku terjebak di sana, dan bayangan itu mengambil seluruh diriku, meninggalkanku di dalam cermin. Kini, aku dan bayanganku terpisah secara sadar, dan kadang aku tak bisa mengendalikannya. Maka, aku perlu sedikit bernegosiasi dengannya, untuk tak mengambil diriku saat bersamamu. Atau, bolehlah ia mengambil diriku dan menaruhnya di dalam cermin, tapi ia usahakan untuk memunculkan sebagian dari diriku pada dirinya, agar seluruh diriku tak tertinggal di dalam cermin.
Rasanya, aku sudah cukup berhasil mengendalikan itu pada waktu-waktu tertentu. Sebab ada dirimu, wahai Masa Depan. Aku bisa sedikit berpijak dan mengingat, di kala diriku yang kau lihat bukanlah diriku yang utuh, melainkan setengah aku dan setengah bayangan dari cermin. Meski begitu, kau tetap maklum dan sabar. Kutanya, “Apakah kau takut dan kesal?” Jawabmu hanya, “Tidak. Aku malah khawatir.”
Maka aku pun belajar berusaha keluar dari cermin. Mendobraknya dengan keras, memecahkannya jadi kepingan. Kuusahakan diriku untuk bangkit, agar kau tak khawatir. Kuusahakan untuk berjalan keluar dari serpihan cermin, dan mencari diriku yang utuh. Aku ingin tetap baik-baik saja. Aku ingin tetap melihatmu melalui diriku sendiri, bukan melalui bayanganku.

Note:

  • Ditulis ketika mendapat jadwal “on duty weekend” dan berusaha memecah kebosanan dengan menulis omong kosong.
  • Ditulis dengan latar lagu berikut: d’cinnamons – loving you; jess glynne – hold my hand; homogenic – untukmu, duniaku; the chainsmokers – roses
  • Ditulis dengan senyum lebar dan tawa kecil yang berirama.



You Might Also Like

3 comments

  1. gitu ya kalo dah jarang-jarang ngepost, nulisnya seakan berdalih memecah kebosanan, dan itu juga yang terjadi ama gue .. *pisss

    ReplyDelete
  2. Semoga kamu di masa depan tiba-tiba membuka bacaan ini, mbak :D
    Kayak time capsule buat diri sendiri gitu jadinya ya :))

    ReplyDelete