Ulasan Personal Intelegensi Embun Pagi: "Hidup Memang Hanya Untuk Bertanya"



Tiga hari yang lalu, saya baru saja selesai membaca installment keenam, atau seri terakhir dari Supernova yang diberi judul Inteligensi Embun Pagi. Selesai membacanya, saya seperti menelan makanan yang teramat banyak. Merasa penuh. Kemudian, dalam beberapa detik saja, saya merasa kosong. Ya, seperti muntah karena terlalu kenyang. Atau terlalu mabuk. Meski banyak ekspektasi orang yang terpatahkan di seri terakhir ini, saya tidak merasa demikian. Bagi saya, seri terakhir ini sudah menjelma penutup yang menggantung sempurna. Ini sudah mengenyangkan, meski pada akhirnya saya harus merasa kosong. Ah, kosong. Bukankah kosong adalah isi?
Pada Intelegensi Embun Pagi, kisah dimulai dari pencarian Gio yang belum purna. Ia masih berusaha mencari Diva yang menghilang. Namun, seiring perjalanan, ia malah mendapati fakta lain mengenai dirinya yang seorang Harbinger atau yang familiar disebut sebagai Peretas.
Gio Clavis Alvarado, menyandang tugas sebagai Peretas Kunci. Dari namanya, Clavis. Dan kode namanya adalah Kabut. Maka dari itu, ia selalu dipanggil sebagai Chawpi Tuta—Kabut dalam bahasa Quechua. Gio yang kini mendapatkan fakta baru, diharuskan kembali ke Indonesia, untuk mengikuti kata hatinya sebagai seorang Peretas Kunci. Sebagai Peretas Kunci, ia terbangun begitu cepat, melalui upacara Ayahuasca yang diinisiasi oleh salah seorang Infiltran bernama Luca.
Singkat kata, pencarian Gio kini mengarah pada pencarian Peretas lain yang berlokasi di Indonesia. Sebagai Peretas Kunci, tugas Gio nantinya adalah membangunkan mereka yang terduga Peretas. Gio yang berada di gugus Asko, harus mencari teman satu gugusnya yang terdiri dari lima orang lain. Dengan begitu, gugus Asko akan tergenapi dan Hari Terobosan akan tercapai.
Bagi sebagian orang yang membaca cepat dengan melewatkan banyak informasi dalam novel, mungkin akan menemukan novel ini begitu hambar. Begitu gersang. Banyak istilah aneh yang membuat pembaca tidak nyaman. Banyak istilah ritual shaman yang muncul pada IEP. Meski begitu, saya menikmatinya. Pembahasan samsara yang sesungguhnya berat, terjalin dengan sangat kompleks dan runut di tangan Dee Lestari. Dee Lestari adalah salah satu dari sekian banyak penulis golongan sastra wangi yang berhasil membuat pembaca larut tanpa jidat berkerut. Selain itu, humor yang disisipkan pada IEP membuat pembaca sesekali tertawa. Sungguh, ini pengalaman spiritual sekaligus pengalaman berpetualang dalam dunia ancient astronauts yang menegangkan.
Pertemuan seluruh tokoh yang seperti kebetulan—padahal tak ada yang kebetulan—mulai menguak satu per satu rahasia di antara tokoh, nama tokoh, dan latar belakang mereka. Perlahan, kerinduan pembaca pada tokoh-tokoh Supernova di seri awal pun terbayar. Pada IEP, kita akan bertemu lagi dengan Bodhi, Elektra, Mpret, Kewoy, Kell, dan tokoh-tokoh Supernova lain yang kemunculannya ditunggu sejak edisi Petir lompat ke Partikel selama bertahun-tahun. Momen bertemu dengan mereka pun menyenangkan. Koneksi antar mereka pun akhirnya mulai dikisahkan dalam IEP.
Novel setebal tujuh ratus halaman ini tidak terasa tebal ketika Dee Lestari yang menulisnya. Seperti pencerita yang sangat magis, IEP ini dapat saya habiskan secara kilat. Berbeda dengan proses membaca Bilangan Fu—yang sarat spiritualisme kritis—IEP saya habiskan hanya dua hari kurang. Sedangkan, Bilangan Fu yang sejak lama saya baca, lalu saya ulangi lagi dan ulangi terus, sampai saat ini belum menemukan muara di pencernaan kepala.
Tapi begitulah, kesenangan tak pernah berlangsung lama. Ketika mengetahui kalau halaman IEP sudah sedikit lagi akan menuju akhir, saya merasa tak rela. Saya ingin melompat ke halaman belakang untuk curi-curi baca, tetapi tak tega. Saya mencoba untuk terus bertahan dari halaman ke halaman tanpa penasaran—yang mana tak akan saya spoiler-kan di ulasan personal ini karena pasti akan membuat mereka yang belum membacanya mencak-mencak pada saya. Dari beberapa puluh halaman terakhir, saya mencoba mengikis IEP pelan-pelan. Sebab, saya tahu, jika saya terburu-buru, maka rasa kosong itu akan hadir lebih cepat.
Sungguh, pengalaman membaca IEP adalah pengalaman magis yang membuat saya seperti terbang ke Asko. Saya pun mempertanyakan pula apa arti hidup, apa tujuan manusia hidup. Apakah kita terlahir ke dunia untuk membayar kesalahan-kesalahan di masa lalu, hingga harus berenang dalam lautan samsara? Apakah kisah hidup kita adalah sebagian dari rencana-rencana di masa lalu, yang lantas perlu kita caritahu karena sebagai manusia, kita adalah makhluk amnesia? 
Novel ini memang sesuai seperti yang Dee Lestari katakan pada kalimat penutup personalnya untuk mengakhiri seri Supernova. Bahwa, IEP adalah proses menulis yang menyenangkan dan membuatnya getir. Menulis Supernova IEP, semacam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia lemparkan pada hidup dan kemudian bukannya mendapatkan jawaban utuh, tetapi jawaban itu menarik pertanyaan lain. Bukankah, hidup adalah serangkaian pertanyaan, yang kita tak pernah tahu jawaban mutlaknya?



You Might Also Like

5 comments

  1. Dee lestari memang paling pandai membuat pembacanya jatuh cinta.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meski saya nggak nyangka ini jadi tetralogi. Mungkin dulu tujuannya nggak begitu, tapi terlanjur. *kali *mungkin

      Delete
  2. Supernova, Dee seperti kisah nyata tertuang dalam buku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang elu dah baca Ka? Btw, ke mana aja lu? Ini gue mao menikah minggu depan, elu datang ya.

      Delete
  3. Supernova, Dee seperti kisah nyata tertuang dalam buku

    ReplyDelete