Tips Sesat: Penokohan Karakter Fiksi



image copyright: http://danielkirk.com

Suatu hari, seorang kawan bertanya pada saya mengenai salah satu novel saya. Ia bertanya tentang salah satu tokoh di dalam novel saya, yang menurutnya terlalu banyak merokok sampai-sampai ia takut tokoh saya itu mengalami gangguan pernapasan akut, atau bahkan tidak bisa hamil di masa depan. Berhubung tokohnya memang seorang wanita yang agak urakan dan hidup sembarangan—sebutlah dia seorang cewek tomboy—gaya hidupnya juga tak lepas dari hidup nokturnal. Yang menemani dirinya berkontemplasi hanyalah kopi, rokok, dan tempat tinggi. Sounds like me? No?
Well, menurut saya itulah apa yang dipersepsikan para pembaca. Stigma sebagai perempuan, belum lagi perempuan merokok, atau boleh ditambahkan dengan ‘perempuan-berjilbab-merokok’ sudah terbawa kemana-mana. Tapi, ya itulah adanya. Meski tokoh fiksi, tapi dia tetap berlaku seperti tokoh-tokoh yang hidup dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itulah si perempuan ini dapat diingat.
Nah... Jadi, di tips sesat kali ini, saya ingin sedikit membahas tentang penokohan karakter fiksi. Jika dalam tips sesat sebelumnya, saya pernah membahas bagaimana flowchart para karakter secara singkat, maka sekarang saya akan mencoba untuk membahas tentang bagaimana membuat tokoh yang dapat terus diingat. Memang, banyak penulis dan juga para editor yang menganggap kalau plot adalah yang utama dalam penulisan tokoh fiksi. Tapi, dalam beberapa kesempatan, tokoh-tokoh dalam kisah fiksilah yang membuat plot itu bergerak. Karena tokoh itu hidup dalam fiksi, maka ketergantungan plot menjadi ketergantungan atas hidupnya. (berat amat sih, Yu!)
***

Hampir sebagian besar kisah fiksi yang mendunia, menjadi kanon, berangkat dari karakter-karakternya yang hidup. Sebutlah Danny dan kawan-kawannya yang mengocok perut kita, menggerakkan plot kehidupan dalam Tortilla Flat. Ada pula persona Holden Caulfield yang mendunia, dan menjadi basis ideal persona remaja pada masa ia lahir melalui The Catcher in the Rye. Ada pula Sukab, yang digilai perempuan pecinta senja karena surat-suratnya. Ada para tokoh detektif yang bahkan ketika mereka tidak normal pun, mereka tetaplah seorang manusia. Dan tokoh-tokoh lain yang membekas di ingatan para pembaca ketika pembaca menutup buku.
Meski ada beberapa pengecualian, bagi pembaca thriller yang larut dalam plot cerita, tetapi tidak pernah sepuas ketika membaca kisah fiksi yang tokohnya begitu memberi ilham. Mengapa orang-orang begitu mencintai tokoh fiksi seperti Katniss Everdeen atau tokoh-tokoh fantasi dalam dunia yang tak pernah ada? Itu semua karena tokoh fiksi begitu dekat dengan kehidupan kita semua. Begitu seperti kita. They feel like real people.
Jadi, karena pembaca tidak akan peduli dengan karakter kecuali mereka benar-benar seperti manusia yang pernah ada di dunia ini, bagaimana cara kita membuat karakter dalam fiksi seolah-olah nyata?
Jawabannya sangat sederhana: karakter yang terbaik adalah karakter yang memiliki kelemahan, kebiasaan, bahkan barang-barang bawaan mereka yang orang-orang juga miliki. Tokoh fiksi bukan hanya sebuah nama yang tertulis dalam setiap halaman karya fiksi kita, tetapi mereka juga memiliki kepribadian dan mereka haruslah unik.
Aduh, pusing! Jadi, intinya harus bagaimana?
Intinya... Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika mengembangkan tokoh fiksi kalian agar seperti tokoh yang seolah-olah nyata:
1.       Latar Belakang: Sebagai seorang manusia, kita lahir dengan cara yang sama. Namun, kehidupan yang dinamis membentuk kita menjadi diri kita saat ini. Tokoh fiksi pun begitu. Mereka haruslah memiliki latar belakang sebelum ‘kisahnya’ dimulai. Misalkan, sebelum meteor jatuh, si tokoh adalah seseorang yang introvert, dan suatu kejadian membuatnya menjadi superhero seperti saat ini.
2.      Dialog: Cara bicara seseorang bergantung pada daerah tempat ia tinggal, kultur di mana ia tinggal, dan juga kebiasaan saat ia bicara. Misalkan, tokoh Agus selalu menambahkan ‘Haha’ setelah ia bicara, meskipun yang ia bicarakan tidak lucu. Atau, si Saski selalu bicara dengan logat Jawa medok, meski ia sudah berkuliah di Depok. Dan sebagainya, dan lain-lain.
3.    Deskripsi Fisik: Cara manusia mengidentifikasi seseorang dengan mudah adalah melalui tampilan fisik. Kita cenderung menghafal bentuk wajah, sorot mata, tinggi dan ukuran tubuh orang lain, ukuran kakinya, bahkan cara berpakaian. Sehingga, akan terlihat perbedaannya, ketika orang itu mengenakan pakaian dengan gaya berbeda. Orang pasti akan menilai bahwa sedang terjadi perubahan kepribadian atau minimal perubahan mood pada orang itu. Seperti contoh: Tokoh Tifa selalu memakai kemeja kotak-kotak, celana jins belel, dan sepatu converse. Ketika ia tiba-tiba datang ke suatu pesta mengenakan gaun yang anggun, semua orang pun mengira bahwa Tifa menjadi berbeda, atau sedang berbunga-bunga, atau memang sedang menyesuaikan diri saja di tempat pesta.
4.  Pemilihan Nama: Nama adalah komponen penting dalam penokohan. Jangan sampai salah memilihkan nama untuk tokoh kalian. Sama seperti memilih nama untuk bayi yang baru lahir, kita harus benar-benar memperhatikan pemilihan nama tokoh. Karena mereka akan hidup dalam karya fiksi sedemikian lama dan diingat oleh pembaca, buatlah nama yang memorable dan unik. Tips dari saya sih, tidak perlu membuat nama yang terlalu bule, terlalu mewah, terlalu aneh kalau didengar di dunia nyata. Nama adalah doa, maka dari itu doakanlah tokoh fiksi kalian supaya mendunia lewat namanya. :p
5.    Tujuan Tokoh: Sama seperti latar belakang, seseorang yang lahir ke dunia pasti memiliki tujuan hidup seiring dengan berkembangnya kehidupan. Persinggungan yang terjadi juga akan sedikit menghambat tujuan para tokoh itu (ini akan menjadi konflik dalam plot). Tujuan hidup bisa terdiri dari tujuan-tujuan kecil maupun tujuan utama pada akhir kisah fiksi. Misalkan, tujuan besar Katniss Everdeen ingin menggulingkan tirani Presiden Snow, dan tujuan kecilnya adalah mengumpulkan sisa distrik 12 dan pemberontak dari tiap distrik. Kira-kira seperti itu lah ya.
6.    Kelebihan dan Kekurangan: Agar tokoh yang dibuat tidak terlalu imba (bahasa apa nih IMBA! haha), maka tokoh yang kita buat pastilah memiliki kelebihan dan kekurangan. Misal, di satu sisi, tokoh kita itu jenius dalam setiap pelajaran, namun kekurangannya adalah, ia sering bolos sekolah. Si tokoh kita ini juga moody. He’s always throwing tantrum to his friends and his arch-enemies. Yah, meskipun secara fisik dia lumayan, tapi sifatnya jelek, kan bikin sebal pembaca juga? Tapi, yang menyebalkan biasanya selalu dirindukan. Hehe. Iya nggak?
7.    Teman dan Keluarga: Selain latar belakang dan tujuan hidup, inner circle tokoh kita ini juga akan membentuk kepribadiannya saat ini. Kita  bisa memilah-milah kehidupan sebelum cerita dimulai, dan setelah cerita dimulai. Kita bisa mencampurkan teman-temannya dari masa lalu, dan di masa sekarang. Dari sana, akan timbul konflik di antara dirinya sendiri, dan juga di antara orang lain. Buatlah inner circle yang benar-benar seperti dunia nyata. Untuk referensi, kalian bisa memulainya dengan melihat jaringan pertemanan kalian sendiri. Misal, tokoh Terra (tokoh di novelHalo, Tifa), memiliki teman-teman yang baik, humoris, senang tawuran, tapi mereka merupakan sahabat terbaik Terra. Lalu, ada juga teman lama yang menjadi rival, dan lain sebagainya. Buatlah seperti dunia nyata. Tidak mungkin ada tokoh yang benar-benar penyendiri. Meski tokoh yang ingin kalian buat adalah tokoh penyendiri, tapi dia kan tidak mungkin lahir dari batu—seperti Sun Go Kong. Jadi, pastikan tokoh kalian memiliki jaringan lingkungan terdekat.
8.      Rival: Rival atau nemesis sebenarnya bukan tokoh villain atau antagonis. Dia hanyalah tokoh yang membuat si tokoh utama kadang-kadang bete. Dia ini tokoh yang selalu bersinggungan dengan tokoh utama, meski maksudnya bukan karena suatu persaingan yang ketat. Kadang, tokoh ini juga menjadi rival di masa lalu, tapi kemudian seiring dengan cerita, ia menjadi tokoh yang membuat si tokoh utama berubah. Misal, dulunya ia sering bertengkar dengan tokoh utama, tapi setelah tokoh utama mengetahui latar belakang kehidupan rivalnya itu, pelan-pelan ia belajar jadi dewasa.
9.    Kemampuan Khusus: Skill tokoh-tokoh di dalam karya fiksi sangatlah penting. Kemampuan khusus ini akan membuat tokoh dalam karya fiksi menjadi berbeda satu sama lain. Dan ada hal yang menonjol dari si tokoh. Misal, Katniss Everdeen ahli memanah, sementara Gale ahli membuat bom. Peeta Mellark bisa membuat kue. Atau, Harry Potter yang culun itu, ternyata jadi anggota Quidditch termuda. Dan lain sebagainya.
10.   Kehidupan Tokoh: Sesekali, sisipkan kehidupan normal tokoh di dalam plot. Misal, ketika ia sedang sendiri, apa yang ia lakukan di kamarnya. Atau, apa yang ia kerjakan di hari libur. Apakah ia hobi tidur? Atau ia rajin beres-beres rumah di kala libur? Atau, selain tawuran rupanya si tokoh fiksi ini senang merangkai bunga. Memang, dua hal itu bertolak belakang. Tapi, bukankah pembaca ingin tahu apa yang dilakukan tokoh ketika ia sedang berbelok dari plot utama cerita? J
11.    Gestur dan Kebiasaan: Untuk mengidentifikasi tokoh, selain pada deskripsi fisik, gestur dan kebiasannya pun dapat membedakan ia dengan tokoh lain dalam cerita. Misal, secara fisik, tokoh Terra dan Bram sama-sama tinggi. Mereka sama-sama jago bela diri. Tapi, kebiasaan Terra adalah nongkrong sendirian di atap sekolah, menyendiri dan merenung, sementara Bram senang melakukan kegiatan organisasi. Selain itu, sisipkan kebiasaan kecil mereka. Misal, Tifa senang mengunyah permen karet dan lari-lari di koridor. Kadang ia bicara sendiri, kadang ia tertawa bahagia. Ia jelas berbeda dengan tokoh Yuya yang blak-blakan, dan lebih suka merokok daripada mengunyah permen karet.
12.   Rasa Takut: Jangan lupakan hal yang paling natural dari seorang manusia, yaitu rasa takut. Setiap tokoh fiksi, tentulah harus memiliki rasa takut akan sesuatu atau akan hal-hal yang menjadi kecemasannya. Dengan begitu, tokoh fiksi akan menjelma jadi tokoh yang seolah-olah nyata, karena ia berlaku seperti manusia pada umumnya.
Penokohan karakter fiksi haruslah dibuat se-detail mungkin dan complicated, agar seperti karakter nyata. Gabungkan beberapa poin di atas dan coba untuk membuat kerangka tokohnya, sebelum menuangkannya ke dalam plot. Setelah jelas gambaran tokoh kalian, maka mulailah menghadirkannya pelan-pelan ke dalam plot. Kalian juga harus mengenal tokoh yang kalian ciptakan itu, jangan sampai ia tersesat atau tertukar dengan yang lain. Kadang-kadang hal ini terjadi pada karya fiksi yang memiliki banyak tokoh. Namun, jika kita melakukannya dengan baik, tentu tokoh-tokoh yang tercipta pun akan memorable. Semoga~
Jadi bagaimana? Sudah siap untuk membuat tokoh-tokoh kalian sendiri? Saya tunggu ulasan dan percobaannya! Jangan sungkan-sungkan untuk bertanya maupun berkomentar, saya mungkin akan mampir juga ke lapak kalian!
Selamat menulis!
***
Referensi:

You Might Also Like

6 comments

  1. tiba-tiba ingat dan singgah di sini. Hei mbak, apa kabar?

    *maaf, OOT komentarnya*

    ReplyDelete
  2. saya suka sejarah. jadi saya ciptakan penokohannya jaman dulu (zaman kerajaan). namun saya tidak suka latarnya. jika saya ciptakan penokohannya jadul namun berlatar modern bagaimana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, agak susah juga sih. Kalau mau mengangkat cerita sejarah dengan latar modern, mungkin bikin aja kayak di film National Treasure atau novel DaVinci Code. Jadi tokohnya di masa kini tapi flashback ke kejadian di masa lalu atau kejadian sejarah.

      Delete
  3. oke. akan saya pelajari novel davinci code. saya juga tengah mempelajari sherlock holmes. terima kasih sarannya.

    ReplyDelete