Skip to main content

Tips Sesat: Menulis Thriller dan Menyelesaikannya

Saya sedang menulis thriller. Ya, THRILLER. Seperti novel 7 Divisi yang sedikit thrilling dan berbau petualangan, novel satu ini pun bernuansa thriller-suspense. Meski begitu, novel yang sedang saya garap ini tidak begitu kental akan petualangan. Dunia yang kini saya bangun, mengacu pada salah satu pekerjaan saya terdahulu, yaitu sebagai satpam cyber. Hahaha. Mengapa disebut 'satpam cyber'? Karena, dahulu sebelum saya memutuskan untuk menulis secara lepas, saya pernah bekerja di perusahaan IT dan kadang tidak tidur berhari-hari hanya untuk mengerjakan deployment aplikasi di server, juga melakukan monitoring. Karena keterbatasan SDM di kantor, apapun harus saya kerjakan. Dan yang membuat saya bangga adalah, saya menjadi perempuan satu-satunya yang berkutat di server, sementara lelakinya malah banyak yang menjadi programmer. Nah, di situ saya bangga, meski dampaknya adalah saya sering sakit maag karena telat makan, atau asam lambung terlalu banyak berinteraksi dengan kopi. Dan yang menyenangkan adalah, saya selalu ditraktir makan junk food. Well, biarpun junk food, lumayanlah daripada jajan sendiri. Jadi, uang gajian bisa ditabung (meskipun sebenarnya tabungan saya nggak pernah benar-benar banyak, saya juga bingung uang gajian lari ke mana). *dan ini adalah curhat*

Nah, kembali ke thriller. Kali ini, saya berusaha merampungkan naskah saya yang lolos dalam GWP batch 2. Judul naskah saya ini adalah CIPHER. Nah, untuk sneak-peek naskah ini, bisa dibaca di sini. Dan untuk beberapa bab naskah juga ada di halaman web GWP itu sendiri, karena waktu itu sistem seleksinya melalui web tersebut. Selengkapnya ada di sini.

Sedikit perkenalan singkat mengenai Cipher. Naskah ini ditulis saat pekerjaan sedang santai. Saya mencoba untuk mengeksplorasi dunia IT--khususnya network engineering--dan mengaplikasikannya ke dalam karya tulis (fiksi). Saya ada satu blog khusus IT dan Linux. Namun, tetap saja saya ingin menumpahkan keluh kesah saya tentang dunia IT ke dalam fiksi. Nah, maka dari itu saya membuat novel thriller berbau konspirasi dunia maya dan hacktivism, hingga lahirlah coretan kasar Cipher. Awalnya, saya lancar sekali mengetik. Hingga sampai bab 5, tiba-tiba saja semuanya menghilang. Hahahaha. Mungkin karena naskahnya terbengkalai cukup lama. Saya iseng posting di website GWP, dan ternyata malah jadi naskah 'Pilihan Editor'. Alhasil, karena kemenangan itulah saya harus membuka kembali draft yang sudah lumutan, lalu mengorek lumutnya hingga bersih dan mengilap lagi. :|

Lalu, di tengah-tengah writer's block yang melanda, apakah yang menemani saya dalam melakukan riset dan penulisan lanjutan Cipher?

Nah, berikut ini beberapa langkah yang saya tempuh saat naskah ini mendekati 'pemberhentian ide'. Sebenarnya, ini mungkin berguna bagi penulisan thriller lainnya, tak hanya techno-thriller ala Cipher.

Mari disimak! :D

~ Tetapkan Deadline

Dalam menulis naskah thriller, kalian harus menetapkan tanggal-tanggal penyelesaian agar tepat dan tidak terlalu mengulur waktu. Misalkan, tetapkan target bab. Tanggal sekian, 5 bab. Tanggal sekian, menuju 10 bab. Dan seterusnya, sesuai selera. Mengapa harus begitu? Karena, kalau naskah ini dibiarkan terbengkalai lamaaaaaaa sekali, sampai lebaran monyet mungkin kalian akan lupa naskah kalian sendiri. Apalagi kalau sub genre thriller-nya terkait teknis, misal techno-thriller yang banyak istilah teknik, atau psychothriller yang banyak tokoh sakit jiwa dan kalian malah lupa nama-namanya. Atau thriller lainnya yang 'menurut-saya-sih-ribet-karena-namanya-juga-thriller'.

Deadline ini akan jadi acuan dan pemacu dalam menulis, agar setiap deadline tertentu, kalian bisa mengevaluasi hasil tulisan kalian sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. 

~ Menyiapkan Cemilan

Ini sebenarnya tips sesat. Tapi, menulis thriller yang serius perlu berbagai pertimbangan juga sebab-akibat dalam tiap babnya, agar jalinan cerita menjadi lebih terstruktur. Nah, cemilan ini berfungsi untuk menstimulasi otak agar tidak kelaparan saat berpikir. Daripada saat proses penulisan kelaparan dan harus berhenti untuk cari makanan dulu, lebih baik beli makanan atau cemilannya duluan. Jadi, kalau lapar dan otak sudah susah mikir, bisa langsung makan, nggak usah cari-cari lagi. Lagipula, kalau idenya lagi berapi-api, kan sayang kalau terpotong hanya karena mau jajan dulu? Iya nggak? Ya udah, iya aja deh. :|

~ Membuat Daftar Tokoh

Ini tips perlu banget lho! Saya suka membuat jalinan tokoh sebelum melanjutkan naskah. Naskah thriller biasanya terdiri dari beberapa ornamen di dalamnya, baik yang utama maupun yang hanya figuran. Nah, daftar dan tabel tokoh ini nantinya akan menjelaskan siapa saja yang jadi pemeran utama, lalu apa kepentingannya dalam cerita. Selain itu, naskah figuran juga perlu lho! Dia juga mendapat porsi dan pastinya akan menemui tokoh utama. Harus ada tabel untuk persinggungan antara tokoh ini. Selain itu, trik ini cukup efisien untuk mendeskripsikan tokoh-tokohnya, ciri-ciri fisik, nama lengkap, kebiasaan, pakaian, usia, dan juga tokoh-tokoh yang terdekat dengannya. 

~ Membuat Diagram Alir

Nah, ini sebenarnya cara yang sering digunakan dalam dunia IT. Biasanya sih, para programmer sering membuat diagram alir atau yang dikenal sebagai 'flowchart' sebelum membuat sebuah program. Selain itu, diagram juga kadang dibutuhkan oleh para 'network engineer' untuk mendefinisikan topologi maupun rangkaian kemungkinan dan sistem yang akan dibangun. Dengan diagram yang sama seperti saat saya membuat sistem monitoring dan pembagian perangkat keras, saya pun membuat diagram alir untuk tokoh-tokoh dan sebab-akibat dalam cerita. Nantinya, dari sebab-akibat ini, saya bisa membuat pembagian konflik dan ketegangan ke dalam bab-bab yang saya kerjakan. 

Misalnya, dari tokoh A -> tarik garis ke tokoh B dan kejadiannya -> tarik ke kejadian berikut -> kembali ke tokoh A -> lempar tokoh C -> dan suka-suka Anda saja deh! :)))

Nah, setelah pembagian konflik dalam outline kasar, saya bisa menuliskannya ke dalam bab yang sebenarnya, yang utuh dan tak keropos seperti hatiku.

Tabel Tokoh dan Diagram Alir

~ Membuat Outline

Outline itu ternyata penting lho teman! Dan saya baru menyadarinya setelah sekian lama. Untuk pembahasan outline ini, nanti saya akan jelaskan di posting lainnya ya, soalnya kalau dimasukkan ke posting ini, pasti kepanjangan. Haha. Intinya, saya akan membuat outline dalam menulis naskah novel apapun (tidak hanya untuk thriller), tentunya berdasarkan kepadatan konflik yang sudah saya jabarkan dalam diagram sebelumnya. :)

~ Main Game Untuk Menghilangkan Kejenuhan

Ini tips sesat! Sudah saya ingatkan dari tadi. Kadang-kadang, kalau main game online saat sedang menulis, akhirnya malah jadi nggak melanjutkan penulisan. Tapi, ini efektif sih kalau otak sudah panas karena terlalu banyak menulis tentang pembunuhan, penghancuran, penculikan, atau hal-hal yang terkait teknis yang berhubungan dengan tema cerita (misal tentang hacker, maka si tokoh A lagi bercerita tentang virus komputer yang bisa menghentikan operasional infrastruktur). Nah, main game-lah, tapi hati-hati, game bisa lebih candu dari penulisan thriller itu sendiri. *zzzzzZZZZzzz *sesat

Outline...
(outline games tapinya)

~ Membaca Referensi

Nah, ini sih sudah pasti semuanya juga setuju. Hal terpenting dalam menulis adalah membaca. Karena, kata beberapa tokoh, untuk bisa menulis, kalian harus bisa membaca dulu! Minimal, kalian mempelajari beberapa novel atau cerita yang genrenya sama atau temanya sesuai. Nah, setelah melakukan ini, minimalnya kalian bisa menulis dengan kaidah-kaidah yang ada pada referensi bacaan. Syukur-syukur, kalian malah bisa menemukan kaidah menulis sendiri dengan menggabungkan beberapa gaya penulisan dari beberapa novel, atau melakukan improvisasi gaya penulisan. 

Referensi Thriller dan Cerita Detektif @_@

~ Bersabar dan Tawakal

Hal dan hil yang terakhir tentunya adalah sabar dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika semua langkah telah ditempuh, tapi ternyata naskah thriller masih di situ-situ saja, teman-teman hanya tinggal terus berusaha, sabar, dan berdoa. Saya saja, kadang kalau stuck dan sudah malas sekali, langsung rebahan di kasur dan tidur siang. Lalu, sore-sore bangun, ke warteg, duduk lagi depan laptop tapi tidak mengetik naskah. Karena, mau bagaimanapun juga, otak ini tidak bisa dipaksa. Jadi, kalau sudah stuck ya sudahlah. Mungkin idenya akan datang esok hari. :|

*lalu-digergaji-pembaca* *report-as-spam*

Nah, sekian dulu ya, tips sesat hari ini. Semoga teman-teman semua mendapat pencerahan yang gelap. :p

Selamat menulis dan menjadi gila! :))

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…