Skip to main content

Untuk Joya


Hai. 

Kalau kalian membaca ini, itu artinya kalian nggak bakalan ketemu gue lagi. Gue sudah di neraka, mungkin malah di surga. Atau, gue malah nggak ada di mana pun, hanya melayang. Entahlah. Who knows? Surga - neraka, belum ada yang pernah masuk ke sana dan kembali lagi, bukan?

Gue Bong. Orang mengenal gue sebagai pria bertato biomekanik, bertampang sangar, dan bergaya rambut punk. Gue punya tindik di beberapa bagian wajah dan gue hampir nggak pernah pakai kaus, cuma pakai singlet. Kalian semua tahu singlet kan? Itu lho, kaus dalaman. Gue punya singlet cuma dua biji, itu pun dua-duanya sobek di bagian pinggang sampai ke ketiak. Ya, memang begini lah gue. Sejak keluarga gue meninggal dalam kebakaran rumah susun, gue hidup sendirian. Gue menemukan teman, sahabat, bahkan mereka yang gue anggap saudara sendiri, dalam perjalanan hidup yang penuh kebebasan.

Satu-satunya kaus yang gue punya adalah kaus abu-abu, bertuliskan "Nematodes are people too". Kaus hibahan Joya, seorang perempuan yang sering nongkrong bareng gue dan kawan-kawan gue di lantai satu rumah susun busuk ini. 

Why nematodes? Kata Joya, kaus itu dia sablon sendiri. Gue, teman-teman gue, dan Joya, hanyalah sekumpulan nematoda yang nggak bakal pernah jadi ancaman bagi siapapun. Joya menyablon kaus itu setelah ia menonton salah satu episode kartun Spongebob di kamar gue dan Jarwo--teman gue. Setelah menonton itu, Joya kabur ke kamarnya, mengaduk buntalan kaus yang nggak pernah dia cuci dan menemukan kaus polos itu. Dia menyablonnya di lantai satu rumah susun bagian timur, tempat Kris nongkrong sambil madat. 

"Kita ini semacam nematoda, tapi nematoda juga tetap manusia." Itulah yang Joya bilang saat memberikan kaus ini buat gue. Sambil minum alkohol oplosan, menghabiskan berbatang-batang rokok kretek, dan berbahagia dalam kefanaan rumah susun busuk, gue sama Joya saling adu kata-kata. Waktu itu, Joya lalu terbahak-bahak. Dia bilang lagi, "Yah, setidaknya Spongebob dan Patrick bilang gitu."

Mendengar itu, mau nggak mau gue juga ketawa. Lalu, bergabunglah Kris dan Jarwo. Sore itu, lengkaplah kebahagiaan gue di rumah susun yang nggak pernah bisa gue tinggalkan. Tapi, siapa yang sangka, kalau langit hitam sore itu, mengawali perpisahan gue sama Joya, Kris, dan Jarwo.

Satu-satunya yang gue ingat terakhir kalinya dari Joya adalah, rambut tebal perempuan itu. Terus, alis perempuan itu yang kayak ulet bulu, tinggi badannya yang cuma sebahu gue, dan pelukan terakhir gue buat dia yang mengawali tangisnya di antara hujan. Hujan yang mengantar gue ke medan tempur antara tiga geng besar di Rusun, dan mengantar kepergian diri gue sendiri. Siapa yang sangka, pelukan terakhir itu mendarat di tubuh Joya hanya untuk sementara. Gue bahkan nggak bisa memenuhi janji gue untuk menjaga Joya sampai akhir, sampai Joya keluar dengan selamat. Gue juga nggak tahu, bagaimana akhir pertempuran itu. Apa Joya selamat? Apa Joya bahagia? Apa Kris dan Jarwo menjaga Joya dengan baik? Yang gue ingat, pandangan gue sudah kabur. Semuanya menghitam dan sosok bayangan menarik gue dari pertempuran. Lalu, gue pun hanya bisa berjanji untuk mengirimi Joya surat, sebagai ganti janji gue yang nggak akan pernah bisa gue lunasi kepada Joya.

Nah... Sekarang, gue benar-benar menulis surat. Untuk Joya. Surat yang gue tulis dengan susah payah, sebab kata-kata mulai terbang jauh. Gue udah sulit mengingat diri gue sendiri, apalagi mengingat kenangan bersama Joya. Gue harus menorehkannya di mana-mana, agar kata-kata itu abadi. Gue harus menuliskan ini, karena sebentar lagi, gue akan benar-benar lupa.

Sebelum gue mencapai lupa yang gue juga nggak inginkan, izinkan gue bilang satu hal:

Joya, di mana pun lo berada, gue akan tetap ingat sama lo. Walaupun seribu tahun lagi, walaupun gue mati, hidup lagi, lalu mati lagi, gue akan tetap ingat lo. Entah bagaimana caranya, tapi gue akan selalu bisa menemukan lo. Tolong berjanji hal yang sama buat gue, Joya. Tolong, jangan pernah lupain gue, sampai kapanpun, sampai lo hidup - mati - dan hidup lagi berulang kali. 

Sosok hitam itu, memperhatikan gue. Sudah saatnya bagi gue mengakhiri surat yang gue tuliskan di atas awan hitam ini. Sudah saatnya gue membiarkan awan ini luruh menjadi butiran hujan, yang kelak akan mengirimkan surat-surat gue, agar sampai kepada Joya.

Gue percaya, hidup dan mati adalah siklus. Gue percaya, di kehidupan lain, gue pasti akan kembali bertemu Joya.

[Bong]

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…