Skip to main content

Seumpama Sedih, Hidup Memang Tugas Manusia

Kalau sedang susah tidur, biasanya saya menghabiskan waktu hingga mengantuk dengan memainkan game browser bernama Travian. Kalau tidak main game, saya menulis omong kosong yang panjang. Berlembar-lembar kertas bekas cetakan laporan pekerjaan, atau bekas tugas kuliah ekstensi biasanya jadi korban omong kosong itu.

Tapi, ternyata waktu tidur yang diinginkan nggak datang juga. Terpaksa saya rebah di ranjang, lalu menyumpal lubang telinga dengan earphone dan memutar playlist "Bobo" di telepon pintar.

Playlist "Bobo" ini cenderung sendu. Kebanyakan sih lagu-lagu Padi. Lagu semacam "Cahaya Mata" atau "Seperti Kekasihku". Ada juga lagu-lagu lainnya yang tidak Indonesia, semisal Coldplay atau yang agak bernuansa santai--biasanya ini untuk nangkring di hammock--semacam Matchbox 20. Ya, maaf kalau pilihan lagunya agak tua. Alasannya cuma satu sih. Itu karena lagu-lagu yang sudah tua, nggak pernah lekang dimakan rayap.

Lagu sampai pada Sisir Tanah. Yang ini tentu nggak masuk jajaran "lagu tua" di playlist. Mas Danto meninabobokan saya dengan suara beratnya dan permainan gitar apik. Tapi, yang jadi masalah adalah, mendengar Mas Danto bernyanyi, saya malah jadi tak bisa tidur. Mata saya tetap terbuka, menerawang ke sudut kamar kost yang penuh poster. Di sela-sela Mas Danto bernyanyi, saya malah memikirkan soal hidup.

Mas Danto membereskan intro dan bernyanyi, "Seumpama sedih, hidup memang tugas manusia." 

Tiba-tiba saja saya ingat kehidupan. Padahal, biasanya saya cuma menjalani hari-hari seperti biasa, tanpa memikirkan remeh-temeh hidup. Kalau diingat-ingat, sudah empat bulan sejak saya memutuskan berhenti bekerja, dan kini saya tetap di kota orang. Bertahan hidup dengan apa yang saya punya dan belum mau pulang. Saya punya arti tersendiri bagi kata "merantau". Bagi saya, "merantau" adalah istilah yang saya gunakan untuk menunjukkan bahwa saya bisa pulang ke rumah dengan kemenangan atau minimal membawa kebahagiaan. Kalau saya pulang dengan keadaan serba 'pas' seperti ini, apa yang disebut menang? Entahlah. Sebut saya keras kepala. Sebut saya terlalu sinis pada sebuah kata bernama 'pulang', hingga saya memutuskan seperti ini.

Tapi, saya mulai menikmati ritme hidup saya ini. Hidup dengan bertahan di belantara kota yang ganas, serupa hutan sebenarnya. Saya kira, ritme hidup ini sedang mulai saya tata baik-baik, agar tetap berjalan baik. *ini gimana sih bahasanya?*

Namun, seperti permainan Travian, atau Clash of Clans, bertahan tentunya akan seimbang jika kita juga menyerang. Menyerang apa? Ya entahlah. Menyerang kawan mungkin, menyerang beberapa perusahaan raksasa yang menolakmu karena kamu perempuan atau hanya lulusan STM, atau mungkin menertawai mantan kolega dan pimpinanmu di kantor sebelumnya karena masih menunggak gajimu tapi kamu asyik-asyik saja hidup tanpa kekurangan. Nah, serangan seperti itulah yang bisa membuatmu tetap waras, walau di kota besar. Saya kadang menyebut ini secara sederhana sebagai 'rasa syukur'. Ya, tetap bersyukur dan menjalani hidup. Karena, seperti yang Mas Danto bilang, "Seumpama sedih, hidup memang tugas manusia." Tak berhenti di situ, Mas Danto bahkan menambahkan, "Jarang ada benar, takkan pernah ada tempat yang sungguh merdeka."

Itu juga bukan akhirnya, karena Mas Danto tetap bernyanyi. Ia mengingatkan kita bahwa hidup hanya harus terus dijalani, tanpa keluhan sana-sini. Menurutnya, "Seumpama lelah, masih tersisa banyak waktu. Menjelmakan mimpi, menggerakkan kawan, hadirkan perubahan."

Kawan-kawan yang bisa melewati masa sulit bersama, menjelmakan mimpi-mimpi dan mendatangkan damai. Hal ini yang paling penting, karena hanya dengan memiliki kawan setia, hidup yang sulit ini dapat ditertawakan dengan bahagia. Ingat sendiri bagaimana Danny dan para paisano melewati masa krisis kehidupan dengan meminum Anggur Torelli. Bagi mereka, lebih baik tidak makan daripada tidak minum anggur. Haha. Ini adalah sebuah perumpamaan, menurut saya. "Lebih baik mabuk, daripada menjadi waras di tengah kegilaan." Hal ini juga diamini oleh Khalil Gibran, yang bahkan puisinya disadur dalam drama Korea seputar pekerja kontrak, berjudul Misaeng.

"Mesti selalu mabuk. Terang sudah, itulah masalah satu-satunya. Agar tidak merasakan beban ngeri Sang Waktu yang meremukkan bahu serta merundukkan tubuhmu ke bumi, mestilah kau bermabuk-mabuk terus-terusan. Tetapi dengan apa? Dengan anggur, dengan puisi, dengan kebajikan, sesuka hatimu. Tetapi mabuklah!"

Mabuklah sesuka hatimu, begitu kata Khalil Gibran. Lebih baik tak merasakan beban ngeri Sang Waktu dengan mabuk bersama teman-teman, daripada sendirian mencari legenda hidup yang menurut orang-penting-yang-pernah-memimpinmu agar kau cari dan kau temukan. Padahal sejujurnya, hal itu bukanlah legenda hidup yang kau inginkan, melainkan tujuan si-pemimpin-yang-pernah-menahan-bayaran-kerjamu.  Padahal, kau jelas mengetahui apa yang menjadi legenda hidupmu, sebab memang benar, seperti kata mantan pemimpinmu itu, legenda hidup ternyata ada di halaman depan rumahmu sendiri, tanpa pernah kau cari ke mana-mana. Rupanya, legenda hidup itu seperti legenda hidup milik Santiago dalam The Alchemist, si gembala kambing yang memutuskan untuk berkelana hingga akhirnya kembali ke rumah dengan menemukan legenda hidup yang sejak dulu tertanam di pekarangan rumah.

Jadi, setelah kini saya berkelana mencari legenda hidup yang tidak pernah saya amini itu, saya akhirnya menemukan legenda hidup yang sejak dahulu tidak pernah beranjak ke mana-mana. Legenda hidup saya itu selalu ada di samping saya, bahkan di dalam kepala dan hati. Legenda hidup itu adalah dunia tulis-menulis yang saya pelajari sejak saya mulai menyadari bahwa saya terikat dengan dunia itu.

Ya sudah. Begitu saja akhirnya. Walau kini saya harus bersusah-susah dengan pilihan kecil yang akan menjadi sebuah pilihan besar--seperti kata Han Suk Yool si ahli mesin yang memutuskan jadi pekerja di perusahaan trading--saya akhirnya berbahagia karena menemukan legenda hidup di pekarangan rumah sendiri.

Comments

  1. You're such a stubborn girl living dangerously in the big and strange city. If it isn't frightening enough, you even left your job to pursue your passion in writings. Wow. I admire you so much, Ayu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeah. Buat menggapai mimpi, kadang-kadang perlu mengorbankan sesuatu dulu. :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…