Skip to main content

Preman Pensiun: Angin Segar Bagi Serial TV Indonesia

Kang Komar

"Ngapain kamu ke sini?" ujar Kang Komar--si preman pasar--pada pemuda beranting hitam di hadapannya.

Pemuda itu lalu menjawab sambil cengengesan. "Saya siap untuk gabung lagi Kang."

Kang Komar pun melengos sedikit, lalu menyindir pemuda itu. "Katanya lagi merintis usaha dagang cilok."

"Bangkrut, Kang."

"Masa baru merintis udah bangkrut lagi? Ya udah, karena kamu mau gabung lagi, saya kasih misi pertama buat kamu."

Si pemuda tidak menjawab, hanya memperhatikan Kang Komar yang rambutnya keriting ala Candil Seurieus itu. Si pemuda terlihat antusias. Namun dengan sekali tebas, Kang Komar berkata, "Nah, sekarang beliin kopi!"

Si pemuda melongo. Mau tak mau, ia melangkah dari tempat nongkrong preman menuju warung. Misi pertama, membeli kopi untuk Kang Komar.

***

Penggalan cerita di atas adalah salah satu adegan antara Kang Komar dan bawahannya dalam serial televisi Preman Pensiun. Kang Komar sendiri adalah salah satu preman yang berada di bawah kepemimpinan Kang Mus atau Kang Muslihat. Sejak Kang Bahar (Didi Petet) memutuskan untuk tidak lagi turun ke jalan, hanya di rumah saja dan menyerahkan kepemimpinan 'lapangan' kepada Kang Mus, Kang Mus yang kini turun tangan membenahi kekacauan yang disebabkan oleh preman-preman di bawah kelompok Kang Bahar.

Kang Mus (kiri) dan Kang Bahar (kanan)

Preman Pensiun dihadirkan setiap hari, dan ketika sempat menonton televisi, saya tak sengaja menontonnya. Sebenarnya, sebelum serial keluarga ini tayang di salah satu televisi swasta Indonesia, saya sudah melihat iklannya. Melihat beberapa tempat di dalam serial itu, saya merasa familiar. Dan benar saja, ketika serialnya tayang perdana, suara angklung khas Jawa Barat terdengar beberapa kali di latar musiknya. Wah, tempat syutingnya juga benar-benar familiar, Bandung dan sekitarnya.

Jamal 'Koboy' - Preman Terminal
Jika pada masa kecil dulu, saya menonton serial keluarga seperti Si Doel atau Keluarga Cemara, di tahun 2015 ini, saya cukup senang karena akhirnya ada serial atau sebut saja 'sinetron' yang tidak menyebalkan seperti sinetron televisi kebanyakan. Serial keluarga semacam ini sudah saya nantikan sekian lama, sejak televisi diboikot oleh sinetron yang membuat saya malas menonton televisi. Sejak Preman Pensiun mengisi layar kaca, saya jadi kembali menyukai televisi, tentunya hanya untuk serial itu.

Bagi saya, Preman Pensiun tidak menjual hal yang muluk-muluk. Malah, bisa saya katakan bahwa serial ini begitu realistis. Adegan, tempat, dan dialog yang sederhana itu kadang malah membuat saya ikut berpikir. Bagi saya, Kang Bahar, Kang Mus, Kang Komar, dan preman lainnya adalah Robin Hood. Mereka hanya mengambil jatah keamanan yang mereka kira perlu. Mereka tidak mengganggu orang, tidak menyakiti orang, dan mereka hidup apa adanya. Mereka preman yang manusiawi. Lagipula, dibandingkan sinetron remaja yang agak menyedihkan dan tidak tepat sasaran, serial ini saya rasa lebih baik. Lebih baiknya itu berkali-kali lipat. Selain tontonannya ringan, cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari, pesan moral yang dimunculkan Preman Pensiun ini juga tinggi. Serial seperti inilah yang seharusnya banyak dimunculkan, daripada sinetron. Tingkat konsumtif dan kelahiran remaja 'salah gaul' yang muncul karena tontonan sinetron remaja yang salah kaprah, bisa diminimalisir dengan memunculkan serial serupa Preman Pensiun lebih banyak lagi.

Saya jadi menaruh harapan yang cukup kepada stasiun televisi satu ini (meski tidak terlalu tinggi karena ekspektasi berlebihan bisa menghancurkan). Saya harap ke depannya stasiun televisi ini menampilkan lebih banyak lagi serial yang memperkaya khazanah serial keluarga khas Indonesia. Tak melulu jual harapan, tak melulu percintaan, tak melulu adu domba. Serial keluarga itu ya benar-benar cerita keluarga. Dekat dengan yang menonton, menyerempet kehidupan sehari-hari, realistis, dan pastinya bernilai moral tinggi.

Oh ya, posting blog ini hanya ulasan semata. Tidak ada unsur promosi atau apapun. Yah, meskipun nama stasiun televisinya kelihatan sedikit di gambar postingnya. Adanya cuma gambar itu sih di google images.

Buat yang belum nonton, selamat menonton!

Comments

  1. Stasiun kabel ya? Kok ga ada di sini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di RCTI mba, senin - sabtu tiap jam 5 sore.

      Delete
  2. Saya juga suka banget nonton ini, nggak semua sinetron layak di underestimate :)

    ReplyDelete
  3. Oalah, ini yang kemarin sempet ramai di timeline. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya... Ini sinetron rame bangeeeet! :D

      Delete
  4. Mudah mudahan sinetron ini TUNTAS...karena biasanya sinetron BAGUS tdk berumur panjang...kurang diminati promotor(iklan)...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Pak. Tiga season langsung beres. :(

      Delete
  5. pertama lihat langsung kaget, ada sepupu gua maen film di film preman pensiun

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…