Ketika Ide Tidak Ditunggu, Melainkan Diraih

***Disclaimer:
Dikarenakan template blog ini baru, dan ternyata tidak bisa menggunakan formatting fonts, jadi mohon maaf kalau ada kata yang harusnya tercetak miring, tidak tercetak miring.***

***

Ketika menulis "a so called writing tips" ini, saya baru saja mengirim naskah terbaru yang selesai ditulis dalam waktu kurang lebih dua bulan. Dimulai sejak akhir November, tapi baru benar-benar ditulis secara intens sejak Desember hingga pertengahan Februari ini. Ya, hitung sendiri lah ya, berapa bulannya, saya juga nggak yakin soalnya. :))

Nah, naskah ini adalah naskah yang saya tulis pasca resign dari pekerjaan saya sebagai System Analyst di salah satu perusahaan konsultasi IT. Untuk mengisi waktu luang yang luang sekali--tentunya sebelum saya mendapatkan proyek menulis trio untuk Monthly Series #2 Grasindo--saya mengerjakan novel ini.

Naskah ini sebetulnya adalah salah satu contoh bahwa ide menulis itu bukanlah ditunggu, melainkan diraih alias dipaksakan. Saya sedang menonton film tentang kenakalan remaja, dua seri dan berulang-ulang, ketika pada akhirnya ide naskah ini saya temukan. Sejenak, saya pause film yang sedang saya tonton dan saya menuliskan ide naskah di buku catatan yang biasa saya gunakan. Saya senang mencatat, karena saat menulis novel, saya tidak harus membuka jendela aplikasi lainnya hanya untuk melihat outline atau melihat garis besar cerita yang saya buat. Kalau ada di buku catatan, sambil menulis, saya masih bisa membaca garis besar cerita melalui buku catatan.

Naskah yang idenya saya cari-cari ini, akhirnya menemukan awal dan akhir. Bagaimana konflik dalam cerita diawali, dan bagaimana cara menyelesaikannya. Hingga bagian awal ditulis, saya belum menentukan seperti apa bagian tengah cerita. Nah, oleh karena itu, kehadiran outline sangat diperlukan. Berbekal pengetahuan minim dan mencari di dunia maya, akhirnya saya mengkombinasikan beberapa tips mengenai pembuatan outline dari penulis yang sudah lebih lama melanglangbuana di dunia kepenulisan. Setelah ilmu itu saya cerna, saya mencoba untuk mencatat outline singkat di buku catatan.

Mulanya, outline ini hanya terdiri dari sekian bab, juga bagaimana epilog akan mengakhiri cerita. Namun, seiring perkembangan cerita yang saya tulis, ternyata ada beberapa kebutuhan adegan maupun plot lain untuk menambah kekayaan cerita. Maka dari itu, saya harus merombak beberapa adegan dalam bab tertentu dan menukarnya ke bab lain. Dengan buku catatan, saya tinggal membuat panah-panah untuk mengarahkan bab yang ditukar itu dan menghubungkannya dengan bab yang bersangkutan. Selain itu, penambahan bab juga saya tuliskan garis besarnya, hingga ketika saya lupa, penambahan itu sudah tercatat di buku catatan.

Nah, ide yang saya cari-cari ini, akhirnya bisa membuat saya merasa puas, apalagi saat saya berhasil menyelesaikannya. Dengan bantuan outline, saya jadi lebih mudah mengembangkan ide yang datang karena saya paksa untuk datang, bukan karena saya tunggu. Kalau saya tunggu, bisa jadi malah tidak datang ide sama sekali. Hehe.

klik untuk memperbesar gambar

Ketika pengalaman ini saya tulis di blog, saya sudah mengirimkan naskah utuhnya ke salah satu penerbit dan sekarang mungkin sedang dalam proses evaluasi oleh penerbit. Naskah ini kira-kira terdiri dari 25 bab utuh, dengan prolog dan epilog. Ada sekitar 228 halaman yang berkembang dari 170 halaman karena faktor-faktor yang saya sebutkan pada paragraf di atas. Sekarang saya tinggal berdoa, semoga memang yang terbaik yang akan terjadi. Saya juga tidak sabar ingin menunjukkan tentang dunia yang saya tuliskan dalam naskah ini, kepada para pembaca yang mungkin akan menemukannya.

Saya percaya, setiap kisah dalam fiksi, akan menemukan pembacanya masing-masing. Banyak ataupun tidak, itu tak jadi soal. Yang jelas, saya tetap senang saat menyelesaikan naskah ini dan menikmati proses menulisnya.

Doakan saja ya! :)

You Might Also Like

2 comments

  1. iya setuju nulis itu harus dipakai santai... kaya di pantai... dinikmati...

    ReplyDelete