Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2015

Seumpama Sedih, Hidup Memang Tugas Manusia

Kalau sedang susah tidur, biasanya saya menghabiskan waktu hingga mengantuk dengan memainkan game browser bernama Travian. Kalau tidak main game, saya menulis omong kosong yang panjang. Berlembar-lembar kertas bekas cetakan laporan pekerjaan, atau bekas tugas kuliah ekstensi biasanya jadi korban omong kosong itu.
Tapi, ternyata waktu tidur yang diinginkan nggak datang juga. Terpaksa saya rebah di ranjang, lalu menyumpal lubang telinga dengan earphone dan memutar playlist "Bobo" di telepon pintar.
Playlist "Bobo" ini cenderung sendu. Kebanyakan sih lagu-lagu Padi. Lagu semacam "Cahaya Mata" atau "Seperti Kekasihku". Ada juga lagu-lagu lainnya yang tidak Indonesia, semisal Coldplay atau yang agak bernuansa santai--biasanya ini untuk nangkring di hammock--semacam Matchbox 20. Ya, maaf kalau pilihan lagunya agak tua. Alasannya cuma satu sih. Itu karena lagu-lagu yang sudah tua, nggak pernah lekang dimakan rayap.
Lagu sampai pada Sisir Tanah. Yang i…

Ketika Ide Tidak Ditunggu, Melainkan Diraih

***Disclaimer: Dikarenakan template blog ini baru, dan ternyata tidak bisa menggunakan formatting fonts, jadi mohon maaf kalau ada kata yang harusnya tercetak miring, tidak tercetak miring.***
***
Ketika menulis "a so called writing tips" ini, saya baru saja mengirim naskah terbaru yang selesai ditulis dalam waktu kurang lebih dua bulan. Dimulai sejak akhir November, tapi baru benar-benar ditulis secara intens sejak Desember hingga pertengahan Februari ini. Ya, hitung sendiri lah ya, berapa bulannya, saya juga nggak yakin soalnya. :))
Nah, naskah ini adalah naskah yang saya tulis pasca resign dari pekerjaan saya sebagai System Analyst di salah satu perusahaan konsultasi IT. Untuk mengisi waktu luang yang luang sekali--tentunya sebelum saya mendapatkan proyek menulis trio untuk Monthly Series #2 Grasindo--saya mengerjakan novel ini.
Naskah ini sebetulnya adalah salah satu contoh bahwa ide menulis itu bukanlah ditunggu, melainkan diraih alias dipaksakan. Saya sedang menonton fi…

Februari: Ecstasy

beli di sini: PengenBuku.net | SCOOP | BukaBuku

[judul] Februari: Ecstasy
[penerbit] Grasindo Publisher
[jenis] Novel
[genre] Romance Thriller
[terbit] 09 Februari 2015
[tebal] 200 halaman

Mayang Napasku memburu. Bayangan Nugie mati di tanganku mulai berputar. Bagaimana aku bisa membunuh dia? Aku tumbuh besar bersamanya. Aku mencintainya.
Nugie Joya terus menatapku. Kutatap dia jauh lebih dalam, bila perlu sampai menembus harinya. Biar aku bisa menatap di sana. Ya, aku harus bisa menguasai Joya.
Joya Kubakar ujung lintingan yang lebih besar, kuisap dalam-dalam asap organik itu. Sejenak aku lupa akan Nugie dan Mayang. Kalau aku boleh meminta, aku ingin melupa semuanya.
***
Mayang, Nugie dan Joya dicurigai sebagai pembunuh Sukoco, Sang Pemimpin Geng dan juga merupakan ayah Nugie. Si kembar Mayang dan Joya dibesarkan Sukoco setelah pria itu membunuh kedua orang tua mereka 12 tahun lalu. Tapi semua orang juga tahu, Nugie sangat membenci ayahnya sendiri. Hanya ada satu pemimpin yang boleh m…

Menulis Berbagai Omong Kosong dan Bergembira

“Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi.” ― Helvy Tiana Rosa
***
Ternyata, banyak hal yang terjadi sejak saya iseng mencoba dunia kepenulisan. Berawal dari menulis omong kosong di blog pribadi, lalu masuk ke komunitas menulis dan terus menulis omong kosong yang lain. Tak cuma itu, tertawa sendiri dan berandai-andai tentang bayangan yang perlahan menjadi nyata. Kadang saya berpikir, benar ataukah tipu daya? 
Semua itu adalah suka-duka yang saya rasakan ketika mulai menulis. Menulis apapun. Sajak, curahan hati, ulasan yang 'sok nyeni dan tendensius', catatan harian, jurnal perjalanan, dan omong kosong. Dari semua itu, tentu saja omong kosong lah yang menempati urutan pertama. Sebut saja bahasa tenar omong kosong saya ini dengan 'fiksi'.
Tentu sudah banyak fiksi yang saya tulis. Semuanya berawal dari khayalan yang tinggi. Khayalan itu notabene adalah buah pikir saya yang kelewat liar. Saya ingin menjadi seora…

Preman Pensiun: Angin Segar Bagi Serial TV Indonesia

"Ngapain kamu ke sini?" ujar Kang Komar--si preman pasar--pada pemuda beranting hitam di hadapannya.
Pemuda itu lalu menjawab sambil cengengesan. "Saya siap untuk gabung lagi Kang."
Kang Komar pun melengos sedikit, lalu menyindir pemuda itu. "Katanya lagi merintis usaha dagang cilok."
"Bangkrut, Kang."
"Masa baru merintis udah bangkrut lagi? Ya udah, karena kamu mau gabung lagi, saya kasih misi pertama buat kamu."
Si pemuda tidak menjawab, hanya memperhatikan Kang Komar yang rambutnya keriting ala Candil Seurieus itu. Si pemuda terlihat antusias. Namun dengan sekali tebas, Kang Komar berkata, "Nah, sekarang beliin kopi!"
Si pemuda melongo. Mau tak mau, ia melangkah dari tempat nongkrong preman menuju warung. Misi pertama, membeli kopi untuk Kang Komar.
***
Penggalan cerita di atas adalah salah satu adegan antara Kang Komar dan bawahannya dalam serial televisi Preman Pensiun. Kang Komar sendiri adalah salah satu preman yang b…

Untuk Joya

Hai. 
Kalau kalian membaca ini, itu artinya kalian nggak bakalan ketemu gue lagi. Gue sudah di neraka, mungkin malah di surga. Atau, gue malah nggak ada di mana pun, hanya melayang. Entahlah. Who knows? Surga - neraka, belum ada yang pernah masuk ke sana dan kembali lagi, bukan?
Gue Bong. Orang mengenal gue sebagai pria bertato biomekanik, bertampang sangar, dan bergaya rambut punk. Gue punya tindik di beberapa bagian wajah dan gue hampir nggak pernah pakai kaus, cuma pakai singlet. Kalian semua tahu singlet kan? Itu lho, kaus dalaman. Gue punya singlet cuma dua biji, itu pun dua-duanya sobek di bagian pinggang sampai ke ketiak. Ya, memang begini lah gue. Sejak keluarga gue meninggal dalam kebakaran rumah susun, gue hidup sendirian. Gue menemukan teman, sahabat, bahkan mereka yang gue anggap saudara sendiri, dalam perjalanan hidup yang penuh kebebasan.
Satu-satunya kaus yang gue punya adalah kaus abu-abu, bertuliskan "Nematodes are people too". Kaus hibahan Joya, seorang pe…