Skip to main content

[Book Review] Bermain Puzzle dalam Katastrofa

Judul: Katastrofa
Penulis: Jodhi P. Giriarso
Penerbit: Moka Media
Tebal: 360 halaman, paperback
ISBN: 97979599082
Tokoh: Milan, Youri, Reza, Savo, Harsya, Dilla, Paris, Mena, Haris, Vandy, Andini, Ratih, Prof. Anggito, Arif, dll (baca sendiri yaa)

Profesor Anggito menghilang. Di saat yang yang bersamaan dua orang asing terbunuh secara brutal, dan sekelompok orang diduga hendak mengulangi fenomena Tahun Tanpa Musim Panas.

Seorang pria yang dibakar dendam.
Wartawan dengan keingintahuan yang bisa melahap bison.
Polisi dengan kebanggaan tinggi dan karier cemerlang.
Peneliti yang sedang bersiap berangkat ke Italia ketika ia harus mengejar sekelompok orang dengan misi mengerikan.
Perempuan cantik mengikuti petunjuk yang membawanya pada petualangan yang harus dibayar mahal oleh pasukan elitnya.

Mereka bersilangan jalan, memulai dari berbagai tempat yang berbeda: namun bertemu pada satu titik yang sama... Berkelindan dengan hasrat akan kekuasaan, mereka harus menghentikan segala upaya penghancuran Indonesia.

***

Cukup lama waktu yang saya tempuh untuk menyelesaikan novel thriller ini. Secara keseluruhan, saya memberi rate 4.5 untuk novel ini. Ulasan ini sendiri, sebenarnya hanya saya copy paste dari halaman Goodreads saya. Yah, hitung-hitung isi blog.

Novel ini bercerita tentang sekumpulan orang yang berkumpul dan berlomba-lomba untuk menyelesaikan teka-teki konspirasi yang nantinya mengerucut pada satu pihak. Saya sedikit teringat dengan drama Korea yang berjudul "Ghost", di mana sekumpulan orang yang berbeda latar belakang mencoba untuk melacak kejahatan dunia maya atau cyber crime yang mengerucut pada salah satu orang yang membuat ledakan kejahatan dunia maya itu hanya untuk satu tujuan. Kadang, saya jadi ingat juga dengan naskah novel saya yang masih saya rombak ulang dan berisi kisah dengan tema serupa. Balas dendam, konspirasi, politik, dan kejar-mengejar penjahat yang tak tersentuh. Yah begitulah, jatuhnya saya ke dunia thriller membuat saya senang membaca novel lain yang bergenre serupa dengan aksi heroik dan kemunculan villain di kisah-kisahnya sebagai penggerak alur. Saya juga berencana membuat novel yang benar-benar thrilling, sehingga saya perlu mempelajari thriller ala Indonesia. Dan satu hal yang saya dapat dari Katastrofa adalah: this is really thrilling, Man! Hahaha. Meski di awal-awal saya sempat kebingungan mempelajari tokoh-tokoh yang saya pikir hanya muncul sekali lewat saja, tapi ternyata tokoh-tokoh itu rupanya akan saling berhubungan dan saling bersinggungan. 

[*] Membaca Katastrofa, Seperti Merangkai Puzzle
Membaca novel ini, seperti sedang merangkai puzzle yang rumit atau bermain game "memories" bersama Pou. Mainan semacam itu membutuhkan ingatan fotografik--setidaknya bagi saya. Kadang, saya hilang acuan di tengah cerita, sehingga harus menengok bagian puzzle yang lainnya terlebih dahulu. Setelah memastikan bahwa tempat puzzle itu sesuai dengan potongannya, saya pun baru melanjutkan ke cerita berikutnya. Namun, saya acungkan jempol buat penulis novel ini, karena bisa membuat persinggungan antar tokoh ini tidak terkesan memaksakan, malah benar-benar rapi strukturnya. Pada akhirnya, saya pun berhasil menyelesaikan novel ini dengan baik, meski akhir cerita menyisakan komentar dari adik saya yang duluan menyelesaikan novel ini ketika teronggok di meja makan rumah saya. Adik saya berkomentar, "Yah, terakhirnya gantung!" Begitu katanya. Saya hanya tertawa karena saya sendiri suka sekali membuat ending yang "ya-udahlah-gitu-aja-mau-diapain-lagi". Kira-kira begitu.

Karena review ini semacam curhat personal saya, kini saya coba menarik plus dan minus dari novel ini, yang pastinya akan menyenangkan juga dibeberkan, terutama untuk saya pribadi.

(+) Lagi-lagi Mokabuku mencuri perhatian dengan menerbitkan novel dengan kualitas sampul yang baik. Sampulnya lucu, eye catching, meski jadi agak kurang thrilling. Tapi, nggak apa-apa sih menurut saya. Malah, daya jual sebuah buku itu kan terletak dari sampulnya. Betul tidak?
(+) Plotnya asyik. Aksi-aksi para tokoh dan persinggungan tokoh juga asyik. Jadi, penokohan yang banyak ini setidaknya ada artinya, bukan cuma sekedar menempelkan tokoh di sembarang tempat untuk dibuang lagi.
(+) Pembagian jadi tiga part, dengan bab yang disusun di dalam part tersebut masih enak diikuti. Ini salah satu trik sih sepertinya, untuk membagi banyak cerita menjadi tidak buang-buang bab. Karena, kalau ditulis tanpa part dan hanya menuliskan per bab pasti akan menyebalkan juga, mengingat bab di dalam novel ini sampai 80 lebih.
(+) Yah, pokoknya asyik, meski kadang saya harus bulak-balik halaman lagi untuk membereskan bab berikutnya, karena saya cepat lupa.
(+) Nama tokohnya keren-keren. Kadang bertanya-tanya, benarkah semua orang di dalam novel ini lahir di Indonesia? Hehe. Nama-nama mereka seperti "bule".

(-) Tokoh figurannya banyak juga. Seperti orang-orang yang mati karena geng motor, lalu si tokoh Fahmi yang ke Bali mencari Rahmi dan malah menjadi saksi mata kasus penembakan polisi, rasanya gimana gitu ya. Porsi dia di dalam bab itu kecil tapi dituliskan juga. Haruskah detail sampingan seperti itu ditulis? Hmmm.
(-) Ada beberapa cerita yang tiba-tiba terjadi, seperti kematian Mena dan hilangnya Savo atas kematian istrinya itu. Kalau cerita figuran saja dijelaskan dengan detail dalam bab tunggal, kenapa kisah tokoh utama malah hanya dikisahkan hanya sekilas saja? Untuk penekanan saja begitu? Kan, rasanya jadi ganjil. Tahu-tahu istrinya mati, sedangkan cerita penembakan polisi di Bali malah dibuat bab tersendiri. Gitu.
(-) Karena saya membaca novel ini dengan begitu cermat dan hati-hati, saya jadi menemukan beberapa typo. Di awal sih lancar tanpa typo, tapi di pertengahan ternyata ada typo juga. Seperti Harsya jadi Harysa, lalu ada typo untuk kata-kata apa ya? Lupa lagi. Pokoknya ada deh di tengah-tengah. *lupa halamannya* 
Tapi, typo ini masih dalam batas wajar kok, nggak mengurangi kenikmatan membaca. Wajaaar. Benar-benar wajaaaaaar. :D

Saya pikir, cuma itu sih yang mengganjal buat saya dan jadi minusnya novel ini. Selebihnya, novel ini cukup thrilling dan sangat memperkaya khazanah novel dengan genre lain di Indonesia--karena saya pikir di Indonesia terlalu banyak novel romanceyang begitu-begitu saja. Membaca ini saya mendapatkan perasaan yang sama seperti ketika saya membaca Metropolisnya Mbak Windry Ramadhina yang terbit jauh sebelum novel ini terbit. Tapi, saya rasa keduanya sama-sama bagus meski ceritanya berlatar belakang kisah yang berbeda.

Jadi, terima kasih buat Mas Jodhi P. Giriarso selaku penulis. Novel ini asyik. Berhubung saya sedang mempelajari naskah thriller Indonesia, saya jadi menikmati Katastrofa ini. Semoga, kelak Anda dapat menulis lagi novel yang lebih asyik dari ini. Sebagai pembaca--dan sama-sama penulis--thriller, saya dukung!

***

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…