November 2014

Wednesday, November 19, 2014

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)


"Tentang Rumahku"
Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini.
Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari keseharian hidup ketiganya, menjadi nafas yang familiar bagi saya, sebab Tentang Rumahku kali ini benar-benar bercerita tentang kerinduan akan kata “pulang”. Dan perbincangan mengenai suatu kepulangan benar-benar sensitif, apalagi bagi perantau seperti saya. Hiks. K
Jika di album-album sebelumnya, berikut single yang sempat diluncurkan oleh DDH agak terdengar lebih bersemangat dan termuat pesan pemujaan terhadap alam raya—semesta beserta isinya—album yang satu ini lebih terkesan sederhana dan terdengar optimis. Kita akan berkontemplasi seiring mendengarkan lirik-lirik dalam Tentang Rumahku yang mengalir santai dan secara garis besar bercerita tentang kerinduan pada rumah. Saya percaya, folks dengan lirik-lirik bak puisi semacam ini, akan sangat mengena di hati pendengar. Saya bahkan selalu membawa Tentang Rumahku ke mana-mana. Sebab, ketika saya ingat “rumah”, maka lagu-lagu di dalam album ini akan sedikit mengobati kerinduan terhadap rumah semasa kecil saya yang kini agak jarang disinggahi.
Setelah memble-memble bicara tentang rumah, sekarang lebih baik saya coba ulas satu per satu lagu di dalam Tentang Rumahku.

Sunday, November 16, 2014

Quality Time Keluarga dan Hiburan Intelektual


Mungkin sudah lama rasanya saya tidak mengalami waktu-waktu berkualitas bersama keluarga. Kehidupan mencari sesendok berlian untuk makan di belantara ibukota yang ganas, telah menumpulkan segenap keinginan saya untuk pulang ke rumah. Padahal, mau ke mana lagi kaki berlari, ketika Jakarta telah menggerus nalar dan perasaan saya dan mengubah saya menjadi robot? 

Datang waktu, di mana doa-doa saya dikabulkan. Resign yang tidak pernah terjawab--mungkin karena bosnya takut ditagih janji dan gaji--hingga saya memutuskan kabur langsung dari pekerjaan. Mengapa? Padahal, banyak yang berkata bahwa bekerja di tempat saya yang terakhir itu sudah jadi pekerjaan paling menyenangkan. Tapi, buat saya sih tidak begitu. Duapuluhempat jam berkutat di kantor, makan tidur dan mencuci di kantor, sampai-sampai tidur saya berubah dari malam ke pagi, membuat saya lelah. Apalagi, di Jakarta tidak ada teman. Rasanya sudah macam Edward Scissorhand di kastil es. Sendirian dan menjadi dingin, bahkan mati rasa.

Maka, setelah resign saya pun pulang ke rumah, Cimahi yang sejuk. Cimahi yang sehari-hari adalah tawa, dan gosip Ibu-Ibu tetangga. Cimahi yang bisa membuat saya sedikit menjadi manusia normal--meski tetap tertidur pasca dua pagi terlewati. Lagipula, di sini semuanya serba menyenangkan. Tak perlu bermacet-macetan, tak perlu mengalami penuaan dini di jalanan, bahkan tak perlu mengantri di warteg untuk sekedar menebus rasa lapar. Yang saya cintai dari Cimahi adalah, meski tempat ini pelan-pelan mulai ditinggalkan para pendahulu dan teman-teman sebaya saya, tapi di tempat inilah masih berdiri rumah yang sebenar-benarnya. Ya begitulah, rumah masa kecil yang kini mulai dipadati pendatang baru, dan dipadati perumahan baru mulai dari kaki gunung Burangrang sampai ke Cipageran.

Seperti Minggu pagi ini. Begitu banyak hal sederhana yang menyenangkan. Minggu pagi yang mendung, yang membuat orang-orang malas bangun, kecuali Ibu saya. Sepagian, Ibu sudah berkutat di dapur, memasak sarapan bagi penghuni rumah termasuk saya. Sementara Bapak, beliau sudah terbangun dan membuka komputer personal milik adik saya. Bapak sedang mengusahakan penghasilan tambahan, karena adik saya sudah bersiap masuk kuliah dan perlu biaya ekstra untuk mewujudkannya. Dan saya? Saya terbangun pukul sebelas siang, karena sebelumnya baru tertidur pukul empat pagi setelah mengerjakan--entah apa pula yang saya kerjakan. 

Begitu nikmatnya bangun kali ini. Setelah mencuci muka dan menyeduh kopi hitam favorit--yang bubuknya saya curi dari teman--saya pun duduk di meja makan. Saya lupa satu hal. Ibadah membaca koran Minggu belum dilakukan, maka saya pun menitipkan uang pada Bapak yang hendak keluar, agar sekalian membeli koran Minggu. Bapak lantas kembali, dengan koran Pikiran Rakyat dan Kompas di tangan.

Setelah sarapan bersama yang seadanya tapi nikmat--apalagi karena ada petai di satu piring besar dan sambal buatan Ibu yang paling nikmat sekompleks Cipageran, saya pun menuju lantai atas untuk melanjutkan ibadah Minggu.

Kegiatan berikutnya adalah, saya, adik, dan Ibu secara bergantian mengisi TTS edisi hari Minggu ini, dari koran yang sudah dibeli tadi pagi, setelah sebelumnya saya menghabiskan kolom seni di koran Kompas yang memunculkan cerpen Seno Gumira dan puisi Joko Pinurbo. Menurut saya secara pribadi--dan diamini oleh Ibu--keluarga kami memang cukup aneh. Jika kegiatan keluarga lain di hari Minggu adalah berjalan-jalan ke Bandung kota atau menghabiskan uang di pusat perbelanjaan, naik kuda di De' Ranch dan segelintir hiburan lain yang tidak ada di Cimahi, maka keluarga saya berbeda. Waktu-waktu berkualitas keluarga kami adalah membaca koran pagi dan mengisi TTS. Bahkan, adik saya menyempatkan diri untuk googling bahasa Jepang ketika di dalam kolom mendatar ada beberapa jawaban yang mengharuskan kami menjawab dalam bahasa Jepang. Ah, sungguh aneh memang. Apa masih ada remaja seusia adik saya yang rela membuka kamus bahasa Jepang hanya untuk menjawab TTS?

Setelah TTS selesai diisi, adik saya malah beralih ke halaman Sudoku koran Pikiran Rakyat. Sudoku adalah teka-teki yang lebih sulit lagi daripada TTS, sebab di dalam sana, kita harus memikirkan probabilitas angka-angka dan perulangannya. Mendatar, menurun, bahkan yang satu ruas kotak kecil di dalam kotak besar. Saya ingat teman saya pernah menegur saya yang kala itu bermain sudoku di dalam telepon genggam. Ia berkata, "Ih, ngapain sih nggak ada kerjaan gitu main sudoku."

Saya tidak menggubrisnya kala itu dan terus berkutat di dalam sudoku sampai saya menang terus dan bisa beralih ke level "Hard". Bagi sebagian orang, mungkin bermain sudoku sebagai hiburan stress malah hanya menambah tingkat stress menjadi lebih tinggi. Tapi, tidak bagi saya dan adik saya. Sudoku adalah permainan yang menyenangkan.

Seperti itulah, hari Minggu ini dilewati tanpa pergi ke mana-mana. Bahkan, sambil menulis ini, saya belum sempat mandi. Ibu saya sudah merongrong di lantai bawah, begitu cerewetnya. Maka, dengan berat hati, saya harus mengakhiri posting siang ini, untuk menyapa air dingin yang muncul secara alami di Cimahi.

Selamat siang! Selamat menangisi akhir pekan!


Cipageran-Cimahi, 16 November 2014

Monday, November 10, 2014

Ketika Buku Konvensional Tak Lagi Jadi Teman


images source from here

Saya mengingat suatu hari pada saat saya duduk sendiri di pojok kereta rel listrik, sebuah transportasi publik yang menghubungkan saya dengan begitu efisien, dari Jakarta menuju Bogor. Pada saat itu, kondisi kereta yang saya tumpangi tidak begitu penuh, namun bisa dibilang cukup padat untuk ukuran siang hari. Saya terduduk di kursi dalam gerbong wanita, di pojok yang dekat dengan sambungan kereta alias bordes. Di sana, saya bersandar.

Beberapa saat kemudian, untuk mengatasi kejenuhan yang melanda, saya mengeluarkan sebuah buku yang bisa dibilang sangat tebal untuk ukuran 'baca santai di dalam kereta'. Karena memang saya ingin menamatkan buku yang asyik itu, maka buku itu sedang mendapat giliran untuk dibawa kemana-mana. Beberapa menit membaca dan membolak-balik halaman, rupanya saya diperhatikan orang. Entah apakah saya yang terlalu percaya diri, entah memang orang-orang melihat saya sebagai alien, saya tak tahu pasti sebab saya membagi perhatian saya pada buku dan pada sedikit lirikan mata saya ke orang-orang di gerbong wanita itu.

Jika alien memang ada, dan spesiesnya membaur di masyarakat, mungkin mereka menganggap saya adalah salah satunya. Adalah tabu, ihwal membaca buku dewasa ini. Di sekian puluh atau sekian ratus manusia dalam gerbong, dapat dipastikan, semua menunduk melihat sebuah layar tipis yang menyala. Segala macam bentuk telepon pintar, ada di tangan masing-masing dari mereka. Saya sendiri merasa jadi satu noktah yang berbeda warna di antara mereka. Mungkin, kalau di gerbong campuran, saya masih bisa melihat bapak-bapak atau kakek-kakek yang membaca koran. Nah, dibanding membaca buku setebal 500 halaman, membaca koran rasanya masih lebih manusiawi. Entahlah, apakah keengganan mereka membaca begitu tingginya dewasa ini?

Saya sendiri tak ambil pusing. Biarkanlah mereka menganggap seseorang yang membaca di dalam transportasi publik sebagai alien. Justru, perbedaan yang mencolok seperti ini tentu akan diperhatikan lebih mendalam, syukur-syukur kalau akhirnya akan lebih banyak orang yang membaca karena meniru orang lain. Tapi, sepertinya itu sulit. Mungkin juga, mereka memang sedang membaca hal yang sama, sebuah literatur yang entah apa, hanya saja medianya berbeda. Jika saya membaca lewat buku yang masih konvensional, berupa kertas-kertas dengan wangi semerbak menyenangkan jika kita baru membuka sampul plastiknya, mereka membaca lewat media elektronik yang sekarang juga sudah banyak memuat aplikasi untuk membaca buku. Tentu ada pro kontra dalam buku model elektronik seperti ini.

Pros:
  • Media buku digital enak dibaca ketika mati lampu.
  • Tidak ribet atau berat dibawa-bawa.
  • Bisa memuat banyak judul dalam satu media.
  • Lebih enak ketika dibawa traveling.
  • Lebih praktis.
  • Yang lainnya entah deh. :P
Cons:
  • Tidak ada nilai prestise atau kepemilikan. Sebab, memiliki buku yang masih 'purba', rasa kepemilikannya beda aja gitu.
  • Tidak bisa dikoleksi di lemari buku. Sekali lagi ini soal prestise.
  • Tidak bisa ditandatangan penulisnya. Hahaha!
  • Dan serangkaian "tidak bisa" lainnya yang mungkin ditemukan pada buku digital, tapi bisa ditemukan pada buku cetak.

Saya sendiri tak bisa memetakan pro dan kontra dari buku cetak dengan buku digital secara lebih mendalam, karena ini adalah persoalan selera. Kalau ditanya selera, ya saya tentu lebih suka membaca buku-buku cetak dan mengumpulkan mereka sebagai koleksi. Ada harga dan ada rasa kepemilikan yang lebih ketika saya memiliki buku-buku dalam bentuk cetak. Meski kadang ada yang tidak terbaca karena ternyata isinya memang tidak enak dibaca, namun tetap saja buku cetak itu bisa jadi penghias lemari. Sesekali, saya bisa membuka lembar demi lembarnya jika ingin menyeruak masuk ke dalam dunia di dalam buku itu.

Ah entahlah. Nikmat membayangkan bahwa saya adalah alien di tengah kerumunan orang yang menghamba pada smartphone mereka. Peduli amat dengan mereka yang memperhatikan saya di transportasi publik atau di tempat-tempat umum seperti kafe. Jika mereka mengatakan bahwa saya adalah penyendiri yang gandrung buku, silakan saja. Saya tak masalah. Hehe. Bagi saya, buku adalah teman baik, dan sekali karya tulis menghipnotis, maka selamanya ia tak akan pergi dari dalam pikiran. Ia terus menemani.


Cimahi, 10 November 2014
sebuah tulisan bagi pejuang karya tulis, penulis, pahlawan kepenulisan dan pahlawan-pahlawan yang lahir dari dan untuk sebuah tulisan.

[Media Archive] Review 7 Divisi oleh Rania Anti


7 Divisi direview sama salah satu pembaca di sini: http://raniaanti.blogspot.com/2014/06/7-divisi-by-ayu-welirang.html

Review yang bikin semangat saya buat nulis macam-macam kisah petualangan lagi. Hehehe. Mungkin kalau spesifik sama satu genre, menyenangkan kali ya? Hehe. Macam Nicholas Sparks yang sukanya nulis drama, atau macam Jules Verne yang sukanya nulis petualangan bercampur fiksi ilmiah gitu?

Ya gitu deh.

Go check it out her blog, fellas! :)


Omaigat guys. Ini kayak pertama kali aku nulis post pake Bahasa Indonesia #gaknanya

BTW, aku kemaren habis beli buku. Aku pergi ke Gramedia PIM bareng kakek nenekku. Pertamanya aku mau beli komik namanya Hai Miiko!. Tapi, belom ada lanjutannya lagi. Jadi beli aja buku random. Waktu aku liat-liat, yang lain buku cinta (aku gak suka buku tentang cinta), terus liat satu-satunya buku dengan tema lain, yaitu 7 Divisi!

Oke, jadi di belakang tulisannya kayak begini :

... 7 hari. 7 pribadi. 7 alasan. 7 kemampuan:
7 Divisi ...

Surat-surat perekrutan misterius menghampiri tujuh anak manusia dengan latar belakang berbeda. Surat tersebut datang kepada mereka masing-masing dengan cara yang tak sama. Gitta, Ichan, Tom, Ambar, Dom, Bima, dan Salman. Tujuh orang ini tak pernah menyangka akan dipertemukan dalam suatu ekspedisi besar, dengan divisi sesuai kemampuan mereka masing-masing.

Pertemuan yang mengubah segalanya. Mengubah ritme hidup, mengembalikan masa lalu, dan menghilangkan yang lain. Berbagai kejadian menegangkan dan misteri-misteri mulai bermunculan ketika mereka mencoba menaklukkan sebuah gunung keramat. Rupanya, ada seorang lelaki misterius di balik ekspedisi besar itu. Dan ketika mereka menyadari sesuatu sedang terjadi, mereka sudah terlambat.

Ketika tim ekspedisi ini mulai solid, satu per satu dari mereka mulai disesaki tragedi. Mereka terpaksa dihadapkan pada pilihan pelik; kehilangan satu orang... atau satu tim sekaligus.

Dapatkah mereka menuntaskan ekspedisi ini? Dan akankah mereka tetap kembali utuh saat pulang?

***

Pokoknya, ceritanya bagus BANGET. Tokoh kesukaanku itu Ichan, Gitta, and Ambar. Mereka itu KEREN banget. Tapi aku agak sedih gara-gara salah satu dari mereka harus meninggal. Aku gak mau kasih tau namanya soalnya nanti aku spoiler. ^^ Temanya bagus ya. Jarang banget ada buku ceritanya tentang gunung. Ada beberapa penulisan istilah teknis yang salah, terus menurutku latar belakang setiap tokoh kurang jelas. Overall, buku ini bagus kok. I recommend this book.

Ratingku : 4,5 stars

Untuk Kak Ayu, keep on writing. :)

Gelombang dan Perjalanan Mimpi


Judul: Supernova - Gelombang (Supernova #5)
Penulis: Dewi 'Dee' Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Tanggal Terbit: 17 Oktober 2014
Tebal: 492 halaman, paperback
ISBN: 9786022910572
Tokoh: Alfa, Troy, Carlos, Nicky, Ishtar, dr. Kalden, Mamak, Bapak, Eten, Uton, Ompu Togu Urat, Ronggur Panghutur, Nai Gomgom, Pemba, dr. Colin, Rodrigo, Tom Irvine, dan Gio.

Sebuah upacara gondang mengubah segalanya bagi Alfa. Makhluk misterius yang disebut Si Jaga Portibi tiba-tiba muncul menghantuinya. Orang-orang sakti berebut menginginkan Alfa menjadi murid mereka. Dan, yang paling mengerikan dari itu semua adalah setiap tidurnya menjadi pertaruhan nyawa. Sesuatu menunggu Alfa di alam mimpi.

Perantauan Alfa jauh membawanya hingga ke Amerika Serikat. Ia berjuang sebagai imigran gelap yang ingin mengubah nasib dan status. Pada suatu malam, kehadiran seseorang memicu Alfa untuk menghadapi ketakutan terbesarnya. Alam mimpinya ternyata menyimpan rahasia besar yang tidak pernah ia bayangkan. Di Lembah Yarlung, Tibet, jawaban mulai terkuak.

***

Ada kesedihan yang luar biasa mengendap setiap kali saya mengakhiri sebuah buku, apalagi jika buku tersebut adalah serial. Penantian yang cukup lama untuk menuju ke seri berikutnya akan menyeruak seperti rindu pada seseorang yang telah lama pergi atau rindu pada kampung halaman. Kira-kira seperti itulah kesan yang muncul ketika saya mengakhiri Supernova: Gelombang. Saya harus menunggu dan bersabar untuk melihat kelanjutan kisah gugus Alfa dalam episode Inteligensi Embun Pagi. Hiks.

Awal mula mengenal Dee adalah ketika saya mengawali kecintaan pada buku dengan kunjungan ke beberapa rumah buku, salah satunya adalah Kineruku di Hegarmanah. Di sana, saya menemukan Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh teronggok di salah satu sudut. Dimulailah petualangan saya dalam dunia Dee, yang konon diawali dengan self publishing berdarah-darah antara ketakutan tidak laku atau euforia para pembaca yang menggunjingkan genre ini yang masih awam. Namun, petualangan awal dalam dunia Dee telah menjadi candu tersendiri yang menyebabkan serial awal Supernova tersebut laku keras dan memaksa Dee untuk melanjutkan ke serial-serial berikutnya. Tak terkecuali saya. Permainan Dee dalam membuat karakter yang kuat namun sepenuhnya memiliki kelemahan jadi kesukaan saya. Tak banyak penulis mampu membuat tokoh yang signifikan dari seri ke seri, ibarat Mama Jo dan Harry Potternya. Akan ada kerinduan yang dalam pastinya, jika seri-seri Supernova berakhir. Saya akan mengingat, kapan lagi saya bisa bertemu tokoh-tokoh ini lagi? Kurang lebih seperti itu.

Namun, sebuah karya yang ditulis dengan jelaga yang terendap lama, tentu akan menimbulkan pergeseran tertentu, seperti semangat yang pudar. Beberapa kali saya temukan kebosanan di awal-awal membaca Supernova yang muncul setelah Petir. Bisa dimaklumi, apalagi karena setelah Petir, perlu waktu 8 tahun bagi Dee untuk memanaskan kembali tungku yang isinya adalah tokoh-tokoh Supernova yang sudah diaduk. Meski kurang memuaskan ketika mengawali Supernova lagi--dari Partikel--setelah sekian tahun lamanya, tapi petualangan saya pada dunia metafisis Dee masih belum berkurang. Ah, kadang saya berandai-andai, bisakah saya menulis kisah fiksi seliar pikiran Dee yang berjelajah lebih jauh daripada jasadnya sendiri? Sepertinya, menulis kisah semacam ini memang penuh perenungan yang mendalam, disusul riset yang kompleks untuk menunjang cerita. Hasilnya? Kalian bisa baca sendiri dari setiap seri Supernova.

Kebosanan membaca pada awal-awal pertemuan saya dengan Alfa bukanlah perkara penting karena setelah cukup lama mengarungi "Gelombang", pada akhirnya saya kembali mengikuti arusnya. Petualangan yang ada bukan hanya petualangan fisik, tapi termasuk spiritual dan ini begitu nikmat.

Mengarungi dunia mimpi sekali lagi tak pernah membuat saya bosan, seperti pada saat saya pergi menjelajah bersama Cala Ibi, naga terbang yang membawa Maya pulang ke kampung halaman, atau seperti pada saat saya membaca Misteri Anjing Karpatia, di mana salah satu tokohnya melakukan perjalanan badan halus, astral projection. Hal-hal semacam ini sudah menarik perhatian saya ketika ia muncul dalam dunia literasi, yang pada akhirnya saya pun jadi terobsesi untuk melihat-lihat beberapa tulisan terkait mimpi--mungkin nanti juga menghasilkan karya semacam itu, mungkin?

Alfa dan dunia di dalam kepalanya, alam bawah sadarnya, memaksa saya untuk merangsek lebih dalam. Seperti yang sudah saya katakan, bahwa kebosanan di awal penceritaan mengenai latar belakang Alfa tidak berlangsung lama. Saya bisa membuang beberapa bagian yang saya rasa tak perlu dibaca dan melakukan scanning bagian mana yang sekiranya lebih mudah untuk dipahami. Dan membaca Supernova memang tak pernah bisa ditunda-tunda. Ada semacam candu yang khusus, yang membuat saya betah berhari-hari tidak beranjak dari kursi hanya untuk membaca. Meski saya paling suka pada tokoh Bodhi dan Elektra dari seluruh seri Supernova, tapi Alfa ini boleh juga diperhitungkan sebagai alien lainnya di samping mereka berdua. Alfa termasuk salah satu dari sekian anomali manusia yang Dee ciptakan untuk menjadi nyata, dan dia memang ada di dunia, sebab penokohannya cukup kuat untuk menjadi nyata.

Jelas sekali, ada kerinduan yang amat sangat mendalam setelah menutup halaman terakhir. Semoga Intelegensi Embun Pagi lekas dimulai agar ingatan saya pada para tokoh ini tak memudar. Sejauh ini, puzzle kehidupan mereka sudah tersusun cukup jelas, tinggal menunggu akhirnya.

***

Cek juga review saya di Goodreads: https://www.goodreads.com/book/show/23252584-supernova

Monday, November 3, 2014

3 Books in 2 Days! - Sebuah Review


Jadi, ceritanya saya ada hutang review buku-buku yang saya baca dalam tempo dua hari lalu. Buku-buku ini sebagai kudapan pembuka, sebelum saya mengarungi Gelombang yang 17 Oktober lalu baru dirilis sama Mamak Suri Dee. Hahahaha. Nah, maksudnya review ini saya gabungkan, ya karena saya malas buat tiga postingan, jadi lebih baik sekalian aja gitu. :P

Buku-buku yang saya baca kemarin ini agak sedikit berbeda dari biasanya. Diprakarsai kegalauan yang sedang melanda dan juga proyek novel romance-thriller yang lagi saya garap sama dua orang kakak saya di Grasindo juga, saya berniat untuk mencoba genre lain dalam tulisan. Udah bukan thriller-suspense ala-ala National Treasure atau Ekspedisi Madewa lagi, tapi saya mau coba menggarap romansa, percintaan yang nggak jelas gitu. Hahaha. Karena kalau melihat pasar, orang galau semakin banyak, kali aja jadi laku. #eh

Kembali ke topik posting kali ini, beberapa buku yang kemarin saya baca dengan sangat lahap ada tiga, yaitu Elipsis karya Devania Annesya (POP KPG, 2014), Satin Merah karya Rie Yanti dan Bram (Gagasmedia, 2010), juga Melodi karya Dedek Fidelis (Mokabuku, 2014). Untuk penjelasannya, monggo diteruskan baca posting ini. Belum bosan kan? Maaf bertele-tele ya, memang sengaja. :P