October 2014

Tuesday, October 28, 2014

Roda Berputar, Dunia Bergulir


Lagu "Superman (It's Not Easy to be Me)" mengalir di sela-sela suara papan ketik yang terus membabibuta. Pikiran saya pun melayang ke mana-mana. Pasalnya, saya baru saja mengambil keputusan yang mutlak akan diketuk palu, yaitu mengakhiri pekerjaan yang dua tahun belakangan saya tekuni dengan berbahagia. Namun, memang tak ada bahagia yang pernah benar-benar abadi. Tak ada kesenangan yang benar-benar niscaya. Sebab, manusia mudah melupa. Agar manusia kembali tertampar kesadarannya, maka harus ada sebuah momentum yang terjadi. Salah satunya adalah beberapa kesulitan di dalam kantor saya.

Saya merasa, akhir-akhir ini saya tidak berproses dengan baik. Entah karena hal-hal teknis semacam konsletnya pikiran, atau non teknis semacam kesakitan fisik, saya merasa saya stuck  di tempat. Belum lagi masalah bertubi yang datang terus menerpa diri. Saya harus kuat, tetap tahan banting. Tapi, jika mental berkata lain, saya harus bilang apa? Fisik menjadi lemah bukan karena kekurangan vitamin, tapi sesungguhnya, pemimpin kantor saya harus mengetahui bahwa ini terjadi karena mental saya yang jatuh semakin jauh.

Jadi, saya harus memilih untuk mengakhiri ini, dengan berat hati. Saya besar bersama teman-teman kantor saya yang menyenangkan. Sama-sama membangun kantor dari setengah jadi, sampai menjadi seperti sekarang ini. Jerih payah yang kami terapkan pada kantor, menghasilkan sebuah bangunan fisik yang bisa dihuni oleh kami penghuni kantor. Tapi, lama kelamaan, badai terus menghantam, tak pernah reda. Jika saya sudah memutuskan untuk mundur, maka saya tak akan tarik ulur. Saya sudah mutlak, ini keputusan satu arah, satu pikiran, satu malam panjang yang penuh doa-doa. Sekarang, langkah saya tinggal mencari perhentian lain, agar hidup tetap berjalan. Roda tetap berputar, meski tak lagi ada udara. Roda tetap menggilas terjal jalan raya, meski ia berlubang di sana-sini. Saya harus tetap melangkah, karena dunia tak berhenti. Saya harus tetap berproses, meski tak bersama kawan-kawan saya lagi.

I wish that I could cry
Fall upon my knees
Find a way to lie
'Bout a home I'll never see

It may sound absurd but don't be naïve
Even heroes have the right to bleed
I may be disturbed but won’t you concede
Even Heroes have the right to dream
And it's not easy to be me 

(Superman - Five For Fighting)


Matraman, 28 Oktober 2014
.:menghamba pada koneksi Monster Shaker yang tercinta:.

Tuesday, October 21, 2014

Sebab Televisi Berbingkai Bangkai


Aku melihat jernih matamu, Sayang. Di sana, di dalam kotak sandiwara, berpariwara. Kelap-kelip nyala mata nyaris membakar kulitku, kulitmu jua, bagai binar neon berpuluh watt. Aku pun melihat bintang, sampai melingkari tubuhmu, wahai kekasih. Penuh teka-teki, siapakah kiranya ilmuwan yang sudi menangkap tali-tali bintang angkasa itu, sampai pada bajumu, Sayang?

Kulihat sandangmu berhias bunga. Alas kakimu berwarna cerah, bagai buah-buahan ranum yang siap dipetik. Untuk seikat bunga pada baju dan sekeranjang buah-buah segar itu, berapakah harga yang kau buang-buang ke lautan, Sayang? Tidakkah kau lebih baik menanam sejarah alternatif bagi dirimu sendiri, di depan beranda rumahmu? Dengan pohon-pohon yang lebih baik kau sirami daripada pohon di bajumu? Dan wahai kekasih, aku bertanya-tanya akan benda-benda itu, akan kau apakan kiranya mereka, ketika kau sudah renta? Kau tanamkah kelak ketika kulitmu memudar dan ditumbuhi belukar?

Kudengar pula, mereka yang menyaksikanmu, wahai kekasih, telah berlomba-lomba untuk mengumpulkan tetes keringatmu yang menjelma wewangian surga. Mungkin kesturi, mungkin bunga kamboja? Atau, ekstrak yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, yang hanya Grenouille saja yang bisa menerka, sesungguhnya wewangian apakah yang kau kenakan untuk menutupi borok di balik ketiakmu itu, Sayang? Konon, banyak orang yang kini berlomba-lomba membuka kios murahan, di dekat pasar, di dekat terminal, di dekat pangkalan angkutan desa, agar wangimu yang abadi, masuk ke dalam botol-botol kecil limaribuan. 

Tetapi, apakah aku pernah tahu, Sayang? Aku yang mendambamu dari balik layar datar hitam, tak henti-hentinya mengucap doa-doa, agar kelak pesta-pestamu tak berubah sia-sia. Apakah aku pernah silau karena binar matamu pula? Sesungguhnya bukan aku yang silau, karena layar hitam itupun mati di tengah malam. Jika warung kopi mati, maka tak ada layar datar hitam yang silau, hanya ada sunyi. Kesunyianku adalah doa bagimu, kekasih. Aku tahu, mimpimu kini telah terbeli. Telah luruh bersama jasadmu, bersama seluruh. Yang aku tahu, kekasih... Aku terus mendoakanmu tak putus-putusnya, sebab bila kau lupa, kau sungguh akan menangis sejadi-jadinya.

Sebab kau di sana, di televisi, dan aku di sini, di depan televisi yang berbingkai bangkai.
Mana kutahu wangimu kesturi atau kemboja? Jika yang kuhirup hanya asap kopi hitam di tepi warung kopi penjaga makam.


CMH, 21 Oktober 2014
sebab televisi menjual opera sabun
sandiwara, pariwara...

Wednesday, October 15, 2014

Doa Untuk Kau Yang Akan Segera Mengakhiri Masa Lajang


Bagiku, seluruh aliran hidup hanya akan terbagi menjadi dua bentuk. Bisa ya atau tidak. Bisa nol atau satu, jika kita berbicara bilangan digital. Bisa kosong atau isi, jika kita berbicara akan air yang harus dituangkan dalam gelas atau cawan-cawan rapuh. Bisa jadi, kau memilih berubah atau tidak, karena hanya dua hal itu yang niscaya bergulir. Dan segala sesuatu yang hanya dua itu, apakah tidak ada abu-abu?

Kau pernah bicara, sekali waktu. Yang kuingat, hal itu sudah lama sekali. Kau bicara tentang bagaimana hidup harus dijalani. Memilih ke tujuan pasti atau ke entah. Itu sudah dua pilihan berbeda yang bisa saja jadi percabangan yang lebih luas lagi, sebab kau bilang, semesta ini tidaklah kecil. Meskipun, kadang ada saja hal-hal semacam cosmic coincidence yang membuat semesta luas menjadi sekecil genangan air di atas rumput depan rumahmu. Kau senang bicara tentang hal-hal yang ambigu antara pasti tak pasti. Aku sebut itu abu-abu yang kelak ada pada dua pilihan dalam aliran kehidupan. Tapi, jika berbicara tentang arah mata angin, kau tak pernah memberikan opsi yang dua itu, sebab kau bilang bahwa mata angin pastilah delapan arah. Memang betul, tapi bukankah kembalinya kau berjalan, tetap harus melewati aliran "ya" dan "tidak"? Apakah kau akan ke sana atau tidak? Kukira begitu. Yah, setidaknya hal itu yang kupahami.

Belakangan ini, aku berhubungan kembali dengan teman-teman lamamu. Mereka berkata-kata tentangmu. Mereka bicara tentang hal-hal yang aku sudah tahu. Tentang kebiasaanmu meremehkan waktu yang tak panjang-panjang amat. Waktu yang duapuluhempat jam saja masih tak cukup bagi para pekerja berkantung mata. Waktu yang kadang mungkin kau sia-siakan untuk berjalan mencari ya dan tidak dalam hidupmu. Sungguh, aku tak lelah memperhatikan, aku tak lelah mempedulikan. Aku hanya lelah untuk membicarakannya, sebab aku tahu kau ini kepala batu. Tak jauh berbeda seperti aku yang akhir-akhir ini menjadi lebih batu darimu.

Namun, hari ini aku tercengang. Sebuah kejadian yang pada pesan singkat tadi siang kau sebut sebagai, "mungkin ikatan batin", membuat aku terharu. Sebelum aku mengirim pesan pada adikmu, aku mengirim pesan pada seseorang yang sekarang ini sedang dekat denganmu. Dekat, sangat dekat. Mendengar kabar dari kalian berdua, aku ingin ikut melompat. Aku turut berbahagia, sebab aku tak ingin kau mengingat aku atau kasihan padaku. Kemarin bahkan sudah kutunjukkan seseorang yang kini sedang dekat denganku, dan kau pun memberitahuku lewat pesan singkat tadi siang. Aku bersyukur, kau mendoakan kami yang terbaik, sebagaimana aku akan mendoakan kalian berdua hal yang paling baik. Aku juga senang, karena kau berkata bahwa kami sangat cocok, meski dia yang jauh di timur sana kemarin berkata bahwa, "Ah aku terlalu kaku ya di depan dia?" Aku pikir tidak. Mungkin hanya bingung saja harus memulai pembicaraan lewat apa, sebab ia ingin menjagaku seperti kau dulu menjaga aku.

Sekarang, aku sudah tahu. Bagimu memang tak pernah ada yang abu-abu. Bebas sama sekali, atau terikat sama sekali. Kau kembali pada dirimu yang tegas memilih antara ya dan tidak, nol atau satu, hitam atau putih, hidup atau mati, dan lain sebagainya. Di usiamu yang ke duapuluhtujuh ini, aku sangat menghargai keputusanmu untuk mengubah dirimu sendiri. Berubah dari kau yang pernah berjalan pada garis ambigu, menjadi kau yang kini penuh pertimbangan akan ya dan tidak. Aku sungguh menghargai hidupmu di usiamu kini. Kau telah berproses menjadi seorang yang lebih dewasa lagi, semoga aku pun begitu.

Doa yang terbaik untuk dirimu. Selamat menempuh hidup baru dengan seseorang yang kini harus kau bahagiakan dan kau hidupi setinggi-tingginya hidup. Aku rasa haru biru ini bukan karena aku sedih cemburu atau tak ikhlas, justru semua ini adalah karena aku menghargai kau dalam kondisimu yang paling tidak abu-abu. Aku tak mau mendengar orang lain yang berkata-kata tentang dirimu dan seseorang di sampingmu itu, sebab aku mendoakan apapun pilihan yang kau jalani dari dulu hingga sekarang.

Menuliskan ini, aku teringat Sapardi yang berpuisi:

"Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku menghargaimu...

Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu."

Maafkan aku mengganti kata-kata Sapardi tentang mencintai menjadi sebentuk penghargaan. Kupikir, memang begitulah kini kau di mataku. Kau sudah menjelma kakak, saudara, dan mungkin orang terdekat satu darah bagiku. Sebab itulah aku tak bisa lagi mencintaimu.

Selamat berbahagia selalu!



Karawang-Resinda, 15 Oktober 2014

Wednesday, October 8, 2014

Seseorang Memilih Untuk Membunuh Serangga


Seseorang sedang menerima telepon dari yang terkasih di ujung sana, ketika titik hitam kecil melintas di hadapannya. Titik hitam itu bertengger di kepalanya dan memilinkan jaring tipisnya berputar-putar di tepi dahi seseorang itu.

Detik berikutnya, ia meninggikan suaranya, berteriak kesal. Rasa rindu rupanya telah terburai dari sisi-sisi beta menuju nalar. Hal yang lucu dan bertolakbelakang jika terkait. Semenit kemudian, kekesalan pun mereda. Seseorang itu tertawa kembali. Hari ini hari ulang tahunnya dan kekasih yang pura-pura lupa lantas membuat marah adalah kejutan yang paling klise namun mendulang bahagia. Seseorang itu pun lanjut bercerita.

Sepuluh menit kemudian, ia yang sedang tertawa, melirik ke arah dahi, dimana titik hitam kecil sedang meluncur menuruni dahi menuju matanya. Masih tak ia hiraukan juga titik kecil bersahabat itu. Ia masih sabar, sebab di ujung sana, ada yang dirindukannya masih setia mengajak bicara.

Duapuluh menit kemudian, titik hitam kecil menuruni wajahnya, memilin benang tipis dan bertengger di dagu. Samar-samar suara halilintar, menggelegar. Suhu ruangan naik tiba-tiba. Bunyi tokek mengganggu pendengaran. Semua menguap.

Dan duapuluh menit lewat lima detik kemudian, seseorang itu menampar wajahnya sendiri.

Plak!

"Mampus kau. Ah, anjing! Sinyal bangsat sialan!"

Seseorang itu memaki entah. Titik hitam jadi anjing hitam, terkambing hitamkan. Serangga yang memilin wajahnya, mati syahid. Menutup hidup bahkan saat memilin benang kehidupan. Sinyal teleponlah perkaranya.



Karawang-Resinda, 08 Oktober 2014

Monday, October 6, 2014

Manuskrip Kesunyian


Jamie Baldridge pics from google


Pena baru, terbeli sejak ia
berulangtahun yang ke duapuluhdua
Di tangannya tergenggam
Sekaleng kecil tinta yang belum ingin padam

Apakah tiap langkah dijadikan alkisah?
Mengalir melalui jemari yang luka, merah
Kadang dibanjiri darah
Apa pena itu saja diisi tinta warna lelah?

Pena menolak terisi hitam
Sebab di jemarinya menari-nari warna yang
menyala pekat bagai laut kelam
Menyala riang bagai sajak-sajak dalam lalu lalang
kendaraan di tepi ibukota yang tak pernah lengang

Lewat mata dan buih-buih asap menjelang pagi
Ia menuliskan kisah-kisah yang
terhidang di atas manuskrip sunyi
atau berlarian di atas nampan kenang

Semuanya buyar, buih luber, berceceran
berlari dengan darah yang makin deras
mengalir dari jemari dan segara pikiran
Atau dari ujung kelopak mata yang telah panas
dan bersiap mendidih, menguapkan semua kisah yang lekas
memohon pamitan

Kisah pun bercerita di dalam naskah-naskah
kesendirian yang niscaya
Atau malam yang terus berdoa tengadah
memohon kembali kasih, kembali kisah pada yang tiada

Yang tiada...
Hanya sunyi
yang niscaya.

Karawang-Resinda, 06 Oktober 2014

***

P.s.  sajak random yang dituliskan melalui aplikasi blogaway di kotak 7inchi yang baru saja didownload karena coba-coba

P.s.s diunggah melalui provider seluler yang "hidup segan, mati tak mau" di kota orang

P.s.s.s ditemani nyanyian chris martin yang sendu dan dingin, falsetto hidup dalam "For You"

P.s.s.s.s dan di tengah usaha untuk menahan layang rindu pada seseorang di ujung timur jawa. Sekian. Selamat malam.

Jika Masih Ada Kedai Yang Buka...


"Menantang rasi bintang,
membalik garis tangan,
menarikan cerita,
menuliskan lagi puisi 
yang mulai kehilangan rimanya." -- FSTVLST

Waktu itu aku tidak paham, apa yang aku lakukan di tengah malam buta yang merosot menuju pagi. Sendirian di tepi sebuah kedai kopi yang jam dua pagi nanti akan menutup diri.

Aku duduk di ujung kedai, tepat di sebelah jendela yang mempertontonkan jalanan sendu, dengan lampu sorot yang berkedip-kedip, berada di antara hidup dan tidak. Aku menunggu lampu itu mati sekalian, karena mataku sakit melihatnya. Dari arah jalan raya, aku terus memperhatikan lalu lalang kendaraan yang tak satupun dari kendaraan itu terselip seseorang yang ingin kutemui.

"Sudah hampir pagi. Kemana dia?" gerutuku, gelisah karena aku ingin pulang tapi tak bisa melupakan janji.

Kalau ada yang bilang, di saat-saat seperti ini perempuan butuh siapa saja untuk jadi teman bicara, itu sangat benar. Bahkan, orang yang sama sekali asing. Di tengah penantian membosankan sebagai makhluk pembosan, tapi dikhianati waktu, perempuan seperti aku rasanya butuh juga teman bicara. Siapa saja. Alien mana saja kalau bisa.

Dan benar saja. Ada seorang lelaki di sudut yang berlawanan denganku, sedang membaca 100 Tahun Kesunyian dari salah satu penulis yang gemar bicara cinta dan kematian, si bapak realisme magis yang agung, Sang Marquez. Aku menatapi buku itu cukup lama, dan sepertinya lelaki itu mengetahui bahwa aku tertarik dengan buku yang sedang ia bulak-balik lembarannya.

Tiba-tiba saja, dalam jeda waktu yang tak sampai sepersekian menit, ia menghampiri mejaku.

"Sendiri?" tanyanya.

Aku mengangguk dan mengutip salah satu judul lagu Tame Impala, sambil tertawa getir karena penantian membosankan. "Haha. Solitude is bliss," kelakarku pada diri sendiri.

Lelaki itu duduk dan menaruh bukunya di atas meja. Setelah itu, ia segera mengeluarkan kotak rokok berstiker quotes kematian di atasnya. Kriket untuk menyalakan rokoknya pun ia tempelkan stiker yang sama. Sesungguhnya aku bertanya-tanya, mengapa lelaki ini begitu mencintai hal-hal seputar mati? Aku jadi sedikit ngeri, bercampur kagum. Apa mungkin aku sedang melihat seorang Reaper di depanku? Dengan matanya yang berkantung, dan rambut panjang ikalnya yang digelung itu?

"Mengapa memilih sendiri?" tanya lelaki itu lagi.

Sungguh. Aku pun tak tahu harus menjawab apa. Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata, apalagi menyangkut kesendirian. Jika dibilang pilihan pun, ini bukanlah pilihan yang sesungguhnya benar-benar baik. Mana mungkin ada manusia di dunia yang ingin sendiri? Apalagi perempuan. Jika saja aku bisa memilih untuk bersama manusia yang kuinginkan, tentulah aku tak akan termenung di sini dan berbicara dengan lelaki itu. Malah, kalau ada alien mana pun yang ingin menemani aku mengobrol, itu mungkin lebih baik daripada tenggelam di sudut ruangan, memperhatikan orang-orang yang bercengkrama dengan sesamanya. Aku terlihat paling alien di sini, sendiri, duduk sambil menatap orang dengan waspada.

Lelaki itu lalu melambai di depan mataku. Ia seperti tak menemukan aku di sorot mataku. "Hei kamu melamun?" gumamnya. Aku terduduk tegak. Kaget. Aku lalu membetulkan kacamataku sebentar, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan lelaki itu.

"Kupikir, sendiri itu niscaya. Aku memang selalu iri pada orang yang berdua. Lebih iri lagi pada orang yang mendua, karena kurasa, aku telah bersetia pada orang yang salah. Mereka bisa berdua, bahkan mendua. Sedangkan perempuan, ia diciptakan untuk bersetia sampai mampus," jelasku kala itu.

Lelaki rambut gelung itu mengangguk dan bergumam pelan, "Jadi kau telah berdua rupanya."

Aku mengernyit. Isi kepala lelaki ini sungguh lucu sekali. Aku jadi penasaran. Dia menangkap gelagatku yang aneh dengan pernyataannya barusan. Maka, lelaki itu menambahkan, "Berdua seperti itu apakah senang?"

"Biasa saja," gumamku mantap. Aku selalu bersetia pada orang yang salah. Dari mulai orang yang begitu baik sampai orang yang begitu brengsek. Para lelaki itu sungguh sering membuat aku kalap menelan emosi. Padahal, aku tak pernah berniat untuk marah-marah setiap hari. Aku ingin tenang, tapi rasanya sulit sekali. Aku selalu menyalahkan diriku atas sikap kasihan yang bisa membuat orang lain merasa bahwa aku telah memberi harapan. Padahal, bias antara mengasihani dan mencintai itu, sangat tipis jaraknya.

Dan lelaki itu melanjutkan petuahnya di malam yang sebentar lagi beranjak menuju hari lain.

"Baguslah kalau biasa saja, sebab aku ingat perkataan seorang penulis tua yang berkata bahwa kesenangan adalah tanda bahwa kematian mulai meraba jiwa manusia. Dan seperti yang kau katakan, bahwa sendiri itu niscaya."

Aku mengangguk. Dalam hati aku bergumam, "Aku tahu kata-kata itu. Itu kan Pramoedya Ananta Toer. Sungguh, lelaki yang aneh. Pembaca hidup."

Aku melirik lelaki itu, dari balik kacamataku yang kian malam kian buram. Maklum, aku belum sempat mengganti kacamataku menjadi yang baru, karena terlanjur betah. Ya, seperti kebetahanku pada perasaan yang diberikan untuk orang brengsek, dan baru kusadari malam ini kalau ia semakin menjadi si brengsek yang ulung.

Lelaki itu bukan seperti manusia. Mungkin alien? Atau... Mungkin ia benar-benar malaikat pengantar kematian? Entahlah. Dari postur wajahnya sudah aneh sekali. Dia seperti wajah muda Sang Buddha. Sedikit bercampur Eddie Vedder dengan rambut ikalnya yang tergelung. Matanya berkantung, hitam di lingkar bawahnya. Ketika ia berpindah dari mejanya tadi, ia berdiri dan badannya kurus tinggi. Parka cokelat muda ia kenakan. Celana pipa lurus terlihat pas menemani tungkai kakinya yang kurus itu.

Apa aku sudah gila? Sepertinya tidak juga. Sebab, aku waras sekali. Mataku sehat sekali jika menangkap hal ganjil yang minor. Eh, tapi aku jadi bertanya-tanya, apakah keganjilan ini hanya aku yang tahu? Kalau begitu, aku benar-benar tak waras di mata orang. Ah persetan. Yang jelas, ada yang mengobati kebosananku menunggu di kedai bangsat ini. Lama-lama aku jadi tidak suka minum kopi di sini lagi, sebab ada kenangan yang tertinggal di setiap kopi dan suasana.

Dia pun memecah keheningan di antara kami lagi. Dia berkata, "Kau tahu? Seseorang bisa datang lagi setelah mati, dan seseorang bisa tahu waktu kematiannya. Semuanya ditandai dengan medium ingatan dalam 40 hari yang mulai diwarnai hampa. Kesendirian misalnya. Dan sebenarnya kesenangan atau merindui seseorang itu hal yang lebih hampa lagi."

"Kamu penganut Buddha?" tanyaku kemudian. Tak sopan sekali aku! Ah sial, salah bicara.

Namun, lelaki itu menggeleng. "Bukan. Saya hidup di fiksi. Agama saya imajiner. Tapi, saya baik-baik saja tanpa itu semua."

Ah gila. Orang ini mungkin mabuk. "Kamu mabuk kopi? Atau bir? Atau sebelumnya kamu menelan dextro 40 butir? Atau... Kamu sedang kerasukan Bapa Agung Marquez?"

Lelaki itu tertawa menyeringai. Matanya menyipit kala tertawa. Sialan. Aku jadi gila sendiri melihat lelaki itu. Gambaran manusia surgawi yang benar-benar tak pernah aku lihat. Penuh sesak dalam pikiranku, apa-apa yang aku coba tebak dari lelaki itu. Sambil ikut menyeringai, aku memperhatikan lelaki yang hendak bicara lagi.

"Tidak juga. Saya hanya ingin bercerita tentang sebuah kesenangan dan kesepian. Saya pikir, kau tak perlu merasa sepi, sebab banyak hal yang bisa kau munculkan dari dalam pikiranmu sendiri. Namun, jika kau tak bisa memunculkannya, saya lah orang yang akan datang menemani kau dan orang-orang lain yang terlalu senang atau terlalu sepi," jelas lelaki itu panjang lebar sembari sesekali mengepulkan asap rokok dari kotak "kematian" yang ia miliki.

Lelaki itu lalu membuka beberapa halaman 100 Tahun Kesunyian dan bercerita.

"Aku merupakan gambaran suatu dunia yang ideal; bahwa aku bukan hanya terdiri dari apa yang kuingin, apa yang kupikir -- aku juga adalah apa yang tidak aku cintai; apa yang TIDAK aku inginkan untuk menjelma," gumam lelaki itu sembari terus mengepulkan asap rokoknya. Aku memperhatikan dengan seksama. Lumayan. Cukup untuk membunuh waktu.

Lelaki itu terus bercerita. Sesekali aku melihat jam tanganku. Pintu kedai terbuka, menyuarakan gemerincing yang jelas terdengar. Dari sana, aku melihat dua muda-mudi tertawa bahagia. Aku tersenyum saja. Dalam benakku, aku pernah begitu juga, dahulu. Sampai aku lelah sendiri dan tinggal sunyi yang menemani aku.

Lelaki itu menghalau lamunanku. Ia tak membiarkan pikiranku diisi hal-hal magis yang membuat aku melankolis. Ia lalu berkata, "Sudah, jangan lihat orang lain. Minum saja kopi lagi. Membunuh waktu memang selalu membuat kita membandingkan hidup kita dengan orang yang lain. Ya paling parahnya, pikiranmu kosong saja."

Benar juga. Biasanya, pikiranku kosong saja. Lantas aku menampari pikiranku sendiri. Sekarang, buat apa aku menunggu orang yang tak akan pernah datang tepat waktu, atau mungkin malah tak pernah datang? Buat apa aku duduk di kedai ini sampai pagi? Lebih baik, aku pulang saja ke kostku yang nyaman dan tentram. Berbaring di kasur empuk bersama kucing kesayanganku, dan dikelilingi buku-buku kesukaanku. Itu terdengar lebih menyenangkan sepertinya. Ah, betul. Lebih baik aku pulang.

"Iya ya? Buat apa lihat orang lain. Ah, sudah jam satu pagi. Sebaiknya aku pulang saja. Persetan dengan si pendua. Biar saja dia datang kemari dan menemukan aku tak ada. Dia boleh jalan-jalan dengan perempuan lain, aku akan ikhlas. Haha," tawaku pun pecah. Aku membereskan barang-barangku, merapatkan sweater abu-abu bergambar abstrak yang kubeli di Pasar Senen. Lalu, setelah aku siap, aku pun berpamitan pada lelaki itu.

"Aku naik motor, jadi kamu tidak usah khawatir. Jadi, kapan kita berbincang-bincang lagi soal kematian sambil minum kopi?" tanyaku pada lelaki itu, to the point tanpa tedeng aling-aling.

"Segera. Jika saya sudah membereskan urusan saya di sini, kita pasti ngopi lagi," jelasnya. Misterius.

"Kalau begitu, hubungi aku lewat nomorku saja." Aku lalu menuliskan nomor teleponku di atas kertas bill kedai. Dan aku berikan pada lelaki itu.

"Kabari ya!" jelasku sambil lalu. Aku keluar kedai, mulai memakai helm dan menyalakan motor. Lelaki itu melambai padaku dari dalam kedai sambil tersenyum senang.

Segera aku larikan sepeda motorku ke arah kost dengan dendang riang. Pikiranku terbuka lebar. Selama ini aku bersetia pada orang yang salah. Lalu, mengapa aku masih berusaha untuk bertahan? Padahal, jalan dunia terbuka lebar. Kesenangan menyiksa diri sepertinya adalah nilai kesunyian. Maka, aku putuskan untuk jalan bersisian, menjadi sendiri yang niscaya. Jika mencintainya adalah jalan satu arah, kuputuskan untuk berjalan sendiri saja. Silakan cari arah lain. Haha!

Sepeda motorku kularikan pelan. Dari arah kanan, sepeda motor menyalipku kencang. Ah itu muda-mudi kasmaran yang tadi kutemui di kedai. Senang sekali anak muda sekarang pulang larut malam. Dan sepersekian detik kemudian, hal yang tidak terduga menghampiri.

Menuju kostku, palang kereta tertutup. Dan di depan mata, muda-mudi itu menerobos dengan gila. Kereta telah dekat. Mereka tertabrak, terseret berkilo-kilometer. Beberapa orang yang sedang mengantri palang kereta terbuka, bergumam ramai. Aku sendiri menganga tak percaya. Di seberang palang keretaku, aku seperti melihat lelaki bergelung yang kutemui di kedai tadi. Ia mengepulkan asap rokoknya, menatapku sambil tersenyum. Ia membuyarkan lamunanku. Di telingaku, aku mendengar ajakan minum kopi.

"Sampai ketemu lagi... Mari ngopi lagi... Jika masih ada kedai yang buka, dan orang-orang yang senang atau sunyi, aku ada di sana..."

Kesenangan adalah tanda bahwa kematian mulai meraba jiwa...

Kesenangan adalah tanda bahwa kematian...

Kesenangan adalah tanda...

Kesenangan adalah...

Kesenangan adalah kesunyian......

Yang niscaya.

Dan dalam tempo waktu yang tak tertangkap mataku. Lelaki itu hilang.

Aku merogoh saku jaketku. Ada bill punyaku di sana, dengan nomor telepon genggam yang aku tulis sendiri dan sebuah pesan...

"Saya, aku, kami turun ke bumi, menengok apa-apa yang belum tergenapi. Waktumu belum tiba... Sudahilah apa yang belum sudah. Syukurilah semua yang pasti indah. Hidup itu sekali dan mati itu pasti. Bisa jadi nanti, atau setelah ini. Jangan tenggelam dalam sunyi, sebab sunyi telah niscaya. Shalom."

Aku menoleh kesana-kemari. Jalanan berubah sunyi. Palang kereta belumlah tertutup.

***

Karawang, 06 Oktober 2014
cerita pendek yang sunyi
"karena hidup cuma mampir berfestival." 
:)