Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2014

Roda Berputar, Dunia Bergulir

Lagu "Superman (It's Not Easy to be Me)" mengalir di sela-sela suara papan ketik yang terus membabibuta. Pikiran saya pun melayang ke mana-mana. Pasalnya, saya baru saja mengambil keputusan yang mutlak akan diketuk palu, yaitu mengakhiri pekerjaan yang dua tahun belakangan saya tekuni dengan berbahagia. Namun, memang tak ada bahagia yang pernah benar-benar abadi. Tak ada kesenangan yang benar-benar niscaya. Sebab, manusia mudah melupa. Agar manusia kembali tertampar kesadarannya, maka harus ada sebuah momentum yang terjadi. Salah satunya adalah beberapa kesulitan di dalam kantor saya.
Saya merasa, akhir-akhir ini saya tidak berproses dengan baik. Entah karena hal-hal teknis semacam konsletnya pikiran, atau non teknis semacam kesakitan fisik, saya merasa saya stuck  di tempat. Belum lagi masalah bertubi yang datang terus menerpa diri. Saya harus kuat, tetap tahan banting. Tapi, jika mental berkata lain, saya harus bilang apa? Fisik menjadi lemah bukan karena kekurangan v…

Sebab Televisi Berbingkai Bangkai

Aku melihat jernih matamu, Sayang. Di sana, di dalam kotak sandiwara, berpariwara. Kelap-kelip nyala mata nyaris membakar kulitku, kulitmu jua, bagai binar neon berpuluh watt. Aku pun melihat bintang, sampai melingkari tubuhmu, wahai kekasih. Penuh teka-teki, siapakah kiranya ilmuwan yang sudi menangkap tali-tali bintang angkasa itu, sampai pada bajumu, Sayang?
Kulihat sandangmu berhias bunga. Alas kakimu berwarna cerah, bagai buah-buahan ranum yang siap dipetik. Untuk seikat bunga pada baju dan sekeranjang buah-buah segar itu, berapakah harga yang kau buang-buang ke lautan, Sayang? Tidakkah kau lebih baik menanam sejarah alternatif bagi dirimu sendiri, di depan beranda rumahmu? Dengan pohon-pohon yang lebih baik kau sirami daripada pohon di bajumu? Dan wahai kekasih, aku bertanya-tanya akan benda-benda itu, akan kau apakan kiranya mereka, ketika kau sudah renta? Kau tanamkah kelak ketika kulitmu memudar dan ditumbuhi belukar?
Kudengar pula, mereka yang menyaksikanmu, wahai kekasih, …

Doa Untuk Kau Yang Akan Segera Mengakhiri Masa Lajang

Bagiku, seluruh aliran hidup hanya akan terbagi menjadi dua bentuk. Bisa ya atau tidak. Bisa nol atau satu, jika kita berbicara bilangan digital. Bisa kosong atau isi, jika kita berbicara akan air yang harus dituangkan dalam gelas atau cawan-cawan rapuh. Bisa jadi, kau memilih berubah atau tidak, karena hanya dua hal itu yang niscaya bergulir. Dan segala sesuatu yang hanya dua itu, apakah tidak ada abu-abu?
Kau pernah bicara, sekali waktu. Yang kuingat, hal itu sudah lama sekali. Kau bicara tentang bagaimana hidup harus dijalani. Memilih ke tujuan pasti atau ke entah. Itu sudah dua pilihan berbeda yang bisa saja jadi percabangan yang lebih luas lagi, sebab kau bilang, semesta ini tidaklah kecil. Meskipun, kadang ada saja hal-hal semacam cosmic coincidence yang membuat semesta luas menjadi sekecil genangan air di atas rumput depan rumahmu. Kau senang bicara tentang hal-hal yang ambigu antara pasti tak pasti. Aku sebut itu abu-abu yang kelak ada pada dua pilihan dalam aliran kehidupan.…

Seseorang Memilih Untuk Membunuh Serangga

Seseorang sedang menerima telepon dari yang terkasih di ujung sana, ketika titik hitam kecil melintas di hadapannya. Titik hitam itu bertengger di kepalanya dan memilinkan jaring tipisnya berputar-putar di tepi dahi seseorang itu.
Detik berikutnya, ia meninggikan suaranya, berteriak kesal. Rasa rindu rupanya telah terburai dari sisi-sisi beta menuju nalar. Hal yang lucu dan bertolakbelakang jika terkait. Semenit kemudian, kekesalan pun mereda. Seseorang itu tertawa kembali. Hari ini hari ulang tahunnya dan kekasih yang pura-pura lupa lantas membuat marah adalah kejutan yang paling klise namun mendulang bahagia. Seseorang itu pun lanjut bercerita.
Sepuluh menit kemudian, ia yang sedang tertawa, melirik ke arah dahi, dimana titik hitam kecil sedang meluncur menuruni dahi menuju matanya. Masih tak ia hiraukan juga titik kecil bersahabat itu. Ia masih sabar, sebab di ujung sana, ada yang dirindukannya masih setia mengajak bicara.
Duapuluh menit kemudian, titik hitam kecil menuruni wajahn…

Manuskrip Kesunyian

Pena baru, terbeli sejak ia
berulangtahun yang ke duapuluhdua
Di tangannya tergenggam
Sekaleng kecil tinta yang belum ingin padamApakah tiap langkah dijadikan alkisah?
Mengalir melalui jemari yang luka, merah
Kadang dibanjiri darah
Apa pena itu saja diisi tinta warna lelah?Pena menolak terisi hitam
Sebab di jemarinya menari-nari warna yang
menyala pekat bagai laut kelam
Menyala riang bagai sajak-sajak dalam lalu lalang
kendaraan di tepi ibukota yang tak pernah lengangLewat mata dan buih-buih asap menjelang pagi
Ia menuliskan kisah-kisah yang
terhidang di atas manuskrip sunyi
atau berlarian di atas nampan kenangSemuanya buyar, buih luber, berceceran
berlari dengan darah yang makin deras
mengalir dari jemari dan segara pikiran
Atau dari ujung kelopak mata yang telah panas
dan bersiap mendidih, menguapkan semua kisah yang lekas
memohon pamitanKisah pun bercerita di dalam naskah-naskah
kesendirian yang niscaya
Atau malam yang terus berdoa tengadah
memohon kembali kasih, kembali kisah pad…

Jika Masih Ada Kedai Yang Buka...

"Menantang rasi bintang, membalik garis tangan, menarikan cerita, menuliskan lagi puisi  yang mulai kehilangan rimanya." -- FSTVLST
Waktu itu aku tidak paham, apa yang aku lakukan di tengah malam buta yang merosot menuju pagi. Sendirian di tepi sebuah kedai kopi yang jam dua pagi nanti akan menutup diri.

Aku duduk di ujung kedai, tepat di sebelah jendela yang mempertontonkan jalanan sendu, dengan lampu sorot yang berkedip-kedip, berada di antara hidup dan tidak. Aku menunggu lampu itu mati sekalian, karena mataku sakit melihatnya. Dari arah jalan raya, aku terus memperhatikan lalu lalang kendaraan yang tak satupun dari kendaraan itu terselip seseorang yang ingin kutemui.

"Sudah hampir pagi. Kemana dia?" gerutuku, gelisah karena aku ingin pulang tapi tak bisa melupakan janji.

Kalau ada yang bilang, di saat-saat seperti ini perempuan butuh siapa saja untuk jadi teman bicara, itu sangat benar. Bahkan, orang yang sama sekali asing. Di tengah penantian membosankan sebagai m…