September 2014

Saturday, September 20, 2014

Langitmu Bukan Pembenaran


Mari sini, sayangku…
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku…
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung…
Kita tak pernah menanamkan apa-apa,
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa…
(Soe Hok Gie, 11 November 1969)

Kau perlu tahu, aku menulis ini di sela-sela hari yang begitu menyenangkan. Aku menuliskan ini di tengah suasana hidupku yang akhir-akhir ini kubiarkan mengalir dengan santai. Aku tak peduli lima menit lagi akan bagaimana, atau lima menit lagi makan atau tidak, atau malah lima menit lagi masih hidup atau tidak. Aku menuliskan pesan-pesanku untukmu, yang tentu tak akan bisa kusampaikan tersebab dirimu sudah bersama dengan seseorang yang mungkin ingin kau jaga dengan baik.

Kemarin, kawanmu bertanya padaku, sesungguhnya bagaimana separuh kehidupan yang pernah aku bagi untukmu, apakah ia masih nyata dan mengada? Kawanmu berkata bahwa kau seringkali membicarakan aku ketika malam tiba, atau ketika kesepian melanda. Karena kamu berpikir bahwa kawanmu itu benar-benar dapat kau andalkan untuk urusan percintaan yang tak pernah ada ujung pangkalnya, maka kau pun bercerita.

Begitu juga dengan perempuanmu, seseorang yang hadir ketika aku bahkan sudah jauh melangkah di depanmu, tak lagi menoleh ke belakang, menoleh padamu. Perempuan yang setiap malam menemani hari-harimu. Di hari kedatanganmu ke kota di ujung timur pulau Jawa, kau tak datang. Kawanmu marah-marah dan ia pun bercerita tentangmu. Perempuanmu yang menyusulmu dari pulau seberang pun sempat berkata dengan kesedihan yang kulihat sekelebat, ia berkata bahwa ia akan sedikit marah jika kau yang memintanya datang dan kau malah tak datang menghampirinya. Pengorbanan menuju cinta memang sangatlah menyakitkan.

Aku maklum. Diriku sudah pernah menghadapimu dua tahun lebih. Dua tahun yang cukup melelahkan. Dua tahun tarik ulur hidup dan perasaan. Dua tahun di mana aku mungkin menyakitimu dengan bertubi-tubi dan kau menyakitiku tanpa kau tahu. Dua tahun lalu di mana semuanya kita sudahi, tak berlanjut lagi. Setahun kehilanganmu dan setahun berdiri dengan sebelah perasaan yang sudah mulai membaik. Bersih dari borok dan masa lalu. Aku yang sekarang ini, bukan jelmaan dari akibat yang kau timbulkan, jadi kau tak perlu mengkhawatirkan aku.

Dan sekarang, mengapa kau muncul? Apakah benar-benar untuk sebuah maaf yang sudah lama kuberikan tapi kau tak pernah tahu? Apakah benar-benar kau kembali untuk ketakutanmu akan diriku yang kesepian? Sepi itu niscaya, maka kau tak perlu repot untuk mengingatkanku agar mencari teman. Kau tahu? Kau memang Virgo yang sebenar-benarnya. Virgo awal yang lahir di saat rasi bintang itu muncul pada malam pertamanya. Virgo yang senang memahat kenangan dan tak bisa membuangnya walau telah lama ia kubur sambil sesekali ia gali. Kau Virgo yang selalu menghilang dan seperti tak menginginkan ada orang yang mempedulikanmu. Padahal, aku sungguh peduli padamu, tanpa pamrih. Sejak dulu, aku selalu memikirkanmu, namun rasanya semua itu telah binasa seiring waktu. Aku Libra yang bangga akan diriku yang mudah menata apapun secara cepat. "A sign recovery come to to the broken ones." Aku mudah menyembuhkan diriku. Mungkin, hanya Libra yang mampu melakukan self healing. Aku siluman. Aku mudah melupa. Aku tak pernah mengembalikan ingatan menyakitkan, meski sesekali kubuka dan kutengok ala kadarnya. Aku tak pernah menyirami kenangan, karena aku tak ingin hidupku tumbuh seperti bunga yang layu jika tak kusiram. Aku ingin jadi kaktus. Hidup dengan duri, pilih-pilih teman.

Jika kau anggap aku kini menjadi sangat aeng, sangat sombong atau bahkan aneh, kau tak perlu khawatir. Semua ini bukan akibat dari apa-apa yang pernah kau lakukan padaku, termasuk menyakiti perasaanku. Semua ini bukanlah hasil dari yang kau perbuat. Semua jalan hidup yang kupilih adalah salah satu caraku untuk menghidupi hidupku yang dari dulu memang sudah baik-baik saja. Maka, aku berpikir, untuk apa aku menyakiti diriku sendiri dan menyiksa diriku dengan kenangan tentangmu. Jadi, aku mohon maaf jika beberapa waktu lalu, aku bicara seperti diriku yang tak mengenalmu. Atau, mungkin kau tersinggung dengan sikapku yang keras seperti batu. Maaf juga jika aku terlihat seperti orang yang tinggi hati, karena sesungguhnya memang beginilah aku.

Aku tak pernah menyalahkan kau, dan apa-apa yang terjadi pada kita. Aku hanya ingin kau berhenti memupuk kenangan. Aku hanya ingin kau menjadi Virgo yang tidak melakukan pembenaran atas ke-Virgo-anmu. Hidup ini dijalani, bukan diteliti seperti engkau mencari setitik kuman dalam makanan. Hidup ini bukanlah apa-apa yang ada dalam zodiakmu, melainkan apa yang kau usahakan berubah. Karena itulah, aku bangga menjadi diriku. Aku tak melakukan pembenaran atas zodiakku yang mungkin berseberangan dengan dirimu. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku kini baik-baik saja. Mereka bilang, Libra itu melodramatik. Namun, aku berusaha untuk tak menjadi seperti itu. Semoga kau paham, mengapa pada akhirnya aku menjadi manusia yang keras kepala dan skeptis terhadap sebuah hubungan yang mengandung status.

Jadi, kupikir, sudahilah kenanganmu. Jalanilah hidupmu yang baru. Di depan sana, masih banyak hal yang perlu kau pikirkan daripada sekedar mengasihani aku. Aku tak pernah mengasihani diriku sendiri seperti orang terbuang, lalu mengapa kau harus repot-repot memikirkan aku?

Matraman, 20 September 2014

Thursday, September 11, 2014

Jangan Datang Malam Ini


Aku tak pernah jatuh cinta dan aku tak pernah bisa mengerti tentang cinta. Yang aku tahu, cinta itu selalu menyesatkan. Tak ada manusia yang benar-benar mencinta dan dicinta. Semua hal berbau cinta, hanyalah fana. Bukan karena aku penganut aliran Tong Sam Chong, biksu yang mencari kitab suci ke barat dan mengatakan kalau cinta itu fana. Bukan karena dia aku begini. Aku hanya tidak ingin jatuh cinta, karena aku pernah merasakan pahitnya sebuah kata ‘cinta’. 

Bagiku, jatuh cinta itu hanya menghancurkan hidup… Dan aku, Tiko, lelaki tak bermasa depan dengan usia dua puluh tujuh tahun, mengembara mencari arti cinta yang sesungguhnya dan patut disebut cinta, di sudut Jakarta yang menyuguhkan berbagai kisah dramatisasi cinta…

***

“Ko, malem minggu ada acara nggak?” tanya seorang teman padaku, ketika aku baru saja memasukkan gitarku dan berniat untuk istirahat sejenak dari pekerjaanku sebagai pengamen. Ya, aku mengamen dan apakah itu dosa? Tidak juga kan? Jadi, aku mohon, jangan protes dulu.

“Nggak ada. Emang kenapa?” Aku balik bertanya, sekedar basa-basi.

“Ke Kotu yuk! Ada bar, baru buka. Si Liam mau traktir minum katanya,” kata temanku.

Aku beranjak pergi dan menjawab sekenanya, “Oke. Minuman mahal ya! Aku nggak biasa minum oplosan. Haha!”

Aku pun pergi dan mengembara lagi. Mencari tempat istirahat yang tepat untukku merenung dan menghisap rokok. Dan aku pun sampai di sebuah lapangan luas yang basah karena terhujani. Mungkin hujan semalam. Aku duduk di pinggiran lapangan, mulai menyulut rokok dan saat itu, seorang wanita melintas di depanku, menuju sebuah warung yang tak jauh dari tempatku duduk.

Ah, tubuhku berdesir. Dan aku tak tahu apa maksudnya semua ini. Wanita itu menoleh dan tersenyum. Semakin membuat aku kikuk. Ada badai kupu-kupu di perutku. Apakah ini jatuh cinta? Kurasa bukan. Mungkin aku hanya sedang kelaparan kala itu. Wanita itu beranjak pergi setelah membeli yang diinginkan.

Satu pelajaran yang aku dapat dari perenunganku hari ini. Wanita itu sederhana. Tanpa berdandan dan merayu. Hanya tersenyum dan bisa membuatku jatuh cinta. Cinta datang dari kesederhanaan dan aku mulai membuka hati akan cinta.

***

Malam Minggu kali ini, aku menyanggupi ajakan teman-temanku untuk minum bersama di bar daerah Kota Tua. Bar murah. Minuman murah. Dan mabuk secara murahan. Perempuan murahan, yang bisa aku habiskan dalam semalam. Kebetulan, sejak bertemu wanita sederhana, di lapangan itu, tubuhku berdesir terus. Nafsu pun memburu dan di saat seperti ini, aku tak tahu harus menyalurkan pada siapa. Pacar, tak ada. Istri? Tentu saja aku belum berminat. Dan itu berarti, pelacurlah satu-satunya pilihanku. Malam itu, semua temanku mabuk dan bergulung dalam dada perempuan mereka masing-masing. Aku minum di meja paling ujung. Beberapa botol minuman murahan yang membuat beberapa temanku muntah, tersaji di depanku. Aku mabuk, sendirian. Sampai seorang wanita tuna susila di bar itu, menghampiriku.

“Mabuk kok sendirian?” tanya wanita itu padaku.

Aku tidak menggubrisnya dan dia mulai duduk di pangkuanku sambil menciumi telingaku. Oh beginikah cara seorang wanita tuna susila untuk merayu? Kadang, aku kasihan. Tapi mau bagaimana lagi. Mungkin hanya itulah pekerjaan mereka.

“Aku nggak punya duit buat bayar kamu,” kataku padanya.

Dia lalu menunjuk ke arah Liam—teman pentraktir—yang sedang bergumul dengan wanitanya di seberang mejaku.

“Maksudnya?” tanyaku pada wanita yang mulai berhenti menciumiku.

“Dia yang bayar,” jawabnya.

Aku lalu menarik wanita di depanku untuk keluar dari bar dan kami pun berjalan menyusuri Kota Tua.

Dia menggamit lenganku dan bertanya, “Kamu nggak suka bercinta ya? Temen kamu udah bayar aku lho?”

“Lagi nggak pengen gitu-gituan. Pengen ngobrol aja, tanya-tanya soal perempuan,” kataku sambil melepas jaket dan memasangkan pada tubuh wanita itu.

Saat itulah, baru aku sadari. Wanita itu… Wanita itu adalah wanita sederhana yang aku inginkan dan aku lihat di lapangan perenungan. Ah. Kenapa? Kenapa begitu kompleks hidupku? Aku lebih baik melihat dia sebagai wanita sederhanaku, bukan sebagai wanita tuna susila. Dan kenapa aku dipertemukan lagi dengannya? Apakah ini kebetulan atau memang takdir?

“Hei, mau tanya apa?” katanya padaku sambil tersenyum.

Aku mengajaknya duduk dan berkata, “Stop kerja kayak gitu. Kamu bisa cari suami yang baik dan kaya. Kamu bisa hidup layak. Kamu….” Kata-kataku tercekat.

“Ya?”

“Kamu kan cantik. Kamu tidak pantas menjajakan tubuhmu,” kataku lagi.

Dia diam. Aku lebih diam, tenggelam. 

Dia pun beranjak pergi dan aku tak bisa menahan dirinya yang menjauh. Aku hanya bisa berdiri, dan berteriak, “Kalau ada lelaki yang mau melamar kamu. Apa kamu mau berhenti kerja kayak gini?”
Dia berhenti melangkah dan berbalik, lalu berkata, “Aku nggak tahu. Aku butuh uang sekarang, untuk ibu dan adikku. Kalau aku berhenti sekarang, mereka nggak makan!”

Dia lalu pergi, meninggalkan aku yang termenung di tengah lautan manusia di Kota Tua.

***

Keesokan harinya, aku buka buku tabunganku. Aku rapikan kamarku dan segera kutelpon Liam.

“Kenapa bro Tiko? Gimana kemaren? Servis cewek-cewek di bar itu mantep kan?” tanyanya padaku.

“Mantep bro. Makanya, tolong telpon bar itu, kirim cewek yang sama kayak kemaren ke kost ya!” kataku pada Liam.

“Haha! Ketagihan dia! Oke gampang bro. Pake duit gue aja ya! Kebetulan gue masih mau hura-hura duit gue sendiri.”

Setelah mengiyakan, segera kututup telepon dan menunggu wanitaku. Dia harus berhenti menjadi pelacur.

Sekitar jam duabelas siang, suhu di kontrakanku yang sedang panas-panasnya, mulai membuat aku kesal. Aku nyaris kehilangan kesabaranku kalau saja pintu kontrakanku tidak diketuk, olehnya.

“Masuk!” kataku dari dalam.

Wanita pujaanku, datang dengan pakaian yang sopan. Dengan lihai, dia langsung mengunci pintu kontrakanku dan memelukku dari belakang. Dia memelukku erat, dan mulai melepaskan kancing bajuku. Oh, Tuhan! Apakah memang begini adanya, seorang pelacur?! Blak-blakan dan tak berbasa-basi.

Aku berbalik dan kudapati dirinya yang kaget. Dia mundur ke pintu kontrakan.

“Kamu lagi! Sebenarnya apa maumu!” desaknya.

“Aku mau kamu berhenti kerja dari bar itu!” teriakku sambil mendekatkan wajahku padanya.

“Aku nggak bisa!” teriaknya sambil berusaha membuka pintu dan keluar.

Aku menahan pintu dan mulai berkata lirih, “Please, kamu nggak usah dateng ke sana malam ini. Di sini aja. Kamu harusnya tau, aku ini cinta kamu.”

Dia terdiam dan mulai terduduk lesu di lantai. Menangis.

“Aku harus kasih makan keluarga. Aku nggak bisa lihat adik-adikku menangis kelaparan,” katanya lirih, tersamar isak tangis.

Please… Kamu bisa hidup sama aku sekarang. Aku kan kerja,” kataku.

“Kamu cuma pengamen,” sahutnya.

“Setidaknya, pekerjaanku lebih halal dan hasilnya juga lumayan.”

Dia menangis tersedu-sedu. Aku paling tak tahan melihat wanita menangis, sehingga aku berkata, “Jadilah wanitaku.”

Kupeluk erat dirinya dan perlahan, kucium keningnya. Kulumat bibirnya dan kudekap dirinya lebih erat. Dia tak menolak dan balas memelukku erat. Aku bercinta dengannya. Dan kali ini, aku jatuh cinta juga. 

Pupan Raya, 04 Februari 2012

---

cerpen interpretasi ini dibuat sembari mendengarkan lagu:
Padi - Jangan Datang Malam Ini


Sunday, September 7, 2014

Menginterpretasikan Lagu Melalui Bundel Cerita


Jenuh melanda. Pekerjaan yang kadang dikerjakan setengah-setengah membuat saya bingung harus mengisi kekosongan pada jeda pekerjaan itu dengan apa. Terlintaslah kegiatan yang sebenarnya tidak jauh-jauh dari dunia tulis-menulis. Ya. Sebuah kegiatan yang kadang mustahil untuk dilakukan secara konsisten, sebab ide kadang tak muncul sama sekali di hari-hari tertentu, seperti malam Minggu misalnya. Malam yang secara harfiah diartikan sebagai transisi Sabtu ke Minggu, dan dilewati oleh pasangan muda-mudi kasmaran untuk bertebaran di tengah kota. Sedangkan para jomblo? Ya sudah, hal apa yang paling membahagiakan para jomblo selain tertidur di kasur empuknya. Atau mencuci baju sehingga Minggu pagi bisa bersantai, bangun siang. Atau mungkin, menyeterika sambil memutar lagu Konservatif - The Adams, alih-alih membayangkan sedang diapeli oleh kekasih era 70-an. Duduk di dipan, sambil curi-curi pandang pada si gadis karena ayah si gadis pura-pura membaca koran Pikiran Rakyat, padahal sedang menjaga anak gadisnya dari tangan jahil kekasih. Ya Tuhan, kok menyedihkan sekali para jomblo? Hahaha. Membayangkan hal seperti itu sampai betisnya tersundut setrika yang sudah menyala merah.

Ya ampun. Tolong skip dahulu, sebab saya kali ini tak akan bercerita tentang jomblo. Saya hanya ingin menyampaikan sebuah pengumuman, bahwa setelah postingan ini dibuat, maka saya akan "memaksa" diri untuk mengisi halaman blog yang sudah usang ini dengan postingan tak penting, utamanya cerita pendek yang saya buat untuk mengasah kemampuan berimajinasi. Sebab, "sebuah cerita adalah bentuk skizofrenia yang paling dapat dipercaya." 

Begitu saja sudah. Setidaknya, ada sedikit kegiatan di kala jeda dari pekerjaan yang mungkin akan tetap membuat saya berpikir dan tidak diam di tempat. Setidaknya, ada sarana latihan dari kegiatan aneh bin lucu ini. Syaratnya hanya satu, dengarkan lagu. Dari lagu yang didengarkan, diharapkan akan hadir bayi-bayi cerpen baru. Entahlah. Mau cerpen model apa, yang penting cerpen!

Jadi, para jomblowan dan jomblowati yang budiman, yang mungkin mampir ke sini hanya karena ingin mengumpat, tolong doakan saya! Doakan saya dapat mengisi #30harimenuliscerpeninterpretasi!

Maafkan saya, kalau kurang kerjaan. Yah daripada blognya tidak terpakai atau tidak ada yang menghuni, lebih baik diisi sampah-sampah orang kurang kerjaan. Betul tidak? Setuju tidak?

Matraman, 07 September 2014

Monday, September 1, 2014

Lima Lagu Pengantar Agustus


Agustus berganti September. Ah September ceria. September yang dirindukan. Musim panas yang mungkin akan menyenangkan. September yang bagi saya bukan hanya sebagai bulan di mana saya lahir, tapi juga bulan refleksi, sebab di bulan inilah usia saya bertambah satu.

Di bulan Agustus, banyak hal yang terjadi. Hal-hal yang mungkin akan membantu saya mendewasakan diri. Beberapa hal juga membuat saya jadi (sok) bijak, (sok) memberi petuah padahal hidup saya sendiri saja tidak sesuai petuah tersebut. Hehe. Tapi, tak apalah. Setidaknya, saya belajar dari refleksi orang lain akan petuah-petuah tak penting itu. Harapannya, semoga penting bagi mereka meski setengah mati bagi saya untuk mengaplikasikannya.

Hal-hal yang sempat terjadi itu sempat membuat saya sedikit melantur tentang hidup. Bagaimana kalau A? Bagaimana kalau B? Dan bagaimana yang lainnya. Padahal, dulu saya pernah berjanji pada diri sendiri, untuk tidak mempermasalahkan 'bagaimana'. Saya pernah menorehkan hutang pada diri sendiri untuk tetap menjalani hidup seperti hari yang sudah-sudah, acuh saja pada halangan. Sebab, saya juga pernah memberi petuah pada seorang kawan di Surabaya yang bunyinya, "Hidup pasti ada ujiannya. Kalau nggak ada ujian, ya pasti nggak akan belajar kan?"

Jadi ingin tertawa sendiri. Padahal saya saja setengah mati susah bergerak dari sebuah ujian kehidupan. Bahkan setengah buahnya tak selesai sudah ditimpa ujian lain. Tapi, ya itulah. Dari sana saya banyak belajar.

Ada beberapa soundtrack kehidupan yang terputar selama bulan Agustus. Lagu-lagu ini cukup merefleksikan bagaimana saya menjalani beberapa ujian hidup di bulan Agustus. Dan kenapa harus bulan Agustus sih? Hmmm.

1. Yeah Yeah Yeahs - Runaway
"I was feeling sad. Can't help looking back. Highways flew by.
Run, run away. No sense of time. Like you to stay. Want to keep you inside.

Run, run, run away. Lost, lost, lost my mind. Like you to stay. Want you to be my prize."


Lagu ini sering menemani di kala saya galau karena pekerjaan. Project Surabaya begitu menguras tenaga dan emosi. Cekcok mulut dengan client dan gontok-gontokan di email berantai seringkali membuat saya ingin lari. Hahaha. Tak jarang juga saya kabur dari pekerjaan dan memutuskan untuk tidur saja di homestay sampai sore tiba. Baru setelah bangun, saya mandi dan lanjut bekerja dari homestay. Tak banyak yang membuat saya tertawa ketika di Surabaya, selain karena lelucon kawan satu kantor yang masih bisa memaksakan tawa. Dan, mendengar lagu-lagu sendu entah kenapa jadi pilihan sementara.

2. Yuna - Coffee




Kopi memang sudah jadi partner terbaik dalam menggalau. Hahaha. Galau di sini dalam artian tulis-menulis. Sebab, yang galau yang meracau. Racau dihalau dengan tulisan. Berapa banyak kata mengalir melalui bulir-bulir kopi yang meluncur ke tenggorokan. Tanpa asap (sebab saya sudah tak mengasapi paru-paru lagi). Kopi dan kata, seperti yang Yuna bilang dalam salah satu baris lagunya, "Sipping coffee and nothing to look forward to. Savoring my solitude."

Sedikit banyak merenung ditemani lagu ini yang samar-samar terdengar di headset. Beberapa naskah lama, seperti salah satu naskah novel distopia dan novel tentang kebetulan kosmik yang sedang saya garap, selesai bab demi bab. Semoga, kopi tetap menemani saya sampai naskah ini selesai utuh. Saya berharap naskah ini selesai, sebagai bentuk hadiah dari tiap soliloquy saya di malam buta.

3. Luluc - Reverie on Norfolk Street



Mengetahui lagu ini dari situs pembajakan lagu terfavorit. Hahaha. Lagunya leak sebelum sempat rilis. Sudah berniat ingin membeli rilisan fisiknya tapi memang Sub Pop ngehe belum bersedia membalas email-email tentang pemesanan karena saya orang Indonesia (gitu kali ya?). Tapi nggak apa-apa. Nanti kalau memang dibalas, ya tinggal beli kan?

Lagu ini memang seperti judulnya. Tentang lamunan-lamunan. Entah lamunan semacam apa yang Zoe Rendell maksudkan. Yang jelas, ini quiet reverie. Saya ikut melamun kalau mendengar lagu ini, sebab lagu ini mengantarkan saya pada rindu yang benar-benar ingin bermuara. Ah, sialan. Lagu ini terus terngiang di mana-mana. Di pohon, di bayangan pohon, di bayangan tangga, di matahari yang membias jingga dari balik gedung Ciputra World. Membias juga di panggilan kota dan sirene mobil para pengendara mobil Surabaya yang kadang menyebalkan. Membias juga lagu ini pada tiap langkah kaki saya yang menjejak trotoar berdebu, trotoar yang bisu.

Intinya dari lamunan lagu ini cuma satu, "Halo... Aku kangen." *ter-Raisa*

4. Five for Fighting - The Devil and The Wishing Well




Kata pepatah entah, "Di mana ada hari-hari yang gelap, di situlah ada setitik cahaya."

Nggak tahu apakah lagu ini mengantar cahaya? Tapi lagu ini yang membuat saya bangkit ketika mudun alias down. Dia jadi sahabat baik Agustus. Haha. Saya hanya menggarisbawahi bagian lirik di mana FFF bernyanyi dengan nafas pendek:

"I took a guess and cut a portion out of my heart. He said that's nowhere close enough but it's a damn good start. I wrote the secret that I buried on the wishing well wall. He said I've seen one... it follows that I've seen them all. We spoke of human destination in a perfect world. Derived the nature of the universe (found it unfulfilled). As I took him in my arms he screamed I'm not insane. I'm just looking for someone to understand my pain..."

Ya begitulah. Ketika ada yang menolong saya ketika melantur, saya hanya akan berkata, "Saya bukannya gila. Saya cuma cari seseorang untuk mengerti kesakitan (dalam kegilaan) saya." Gitu kali ya. Ya sudahlah, nggak penting juga kalau harus dideskripsikan.

5. Jason Mraz ft James Morisson - Details in the Fabric





"Calm down. Deep breath. And get yourself dressed instead of running around and pulling on your threads, and breaking yourself up. 
If it's a broken part, replace it. If it's a broken arm, then brace it. 
If it's a broken heart, then face it. 
And hold your own. Know your name and go your own way.
And everything will be fine."

Ini lagu tenang. Lagu masa tenang. Saya rasa para capres kemarin yang kalang kabut harus dengar lagu ini. Biar tenang, biar selow. Jangan lupa seduh teh sedikit manis dengan sedikit perasan jeruk nipis. Nongkrong saja di dekat kipas angin, sambil bersandar (maklum saya nggak punya AC). Kipas-kipas saja pakai kertas, kalau kipas angin juga nggak ada. Dan dengarkan setiap baris kalimat liriknya. Dengarkan baik-baik. Semuanya akan merefleksikan ujian-ujianmu dari awal hingga akhir Agustus ini. Sebab September bagi saya adalah bulan sakral, maka saya harus merefleksikan Agustus dengan sangat barbar. Bukan karena apa-apa, Agustus saya kali ini agak sedikit memuakkan. Tapi, seperti yang saya bilang, refleksi Agustus saya putar rekam jejaknya untuk sekedar mengingat, "Apakah ini karma saya?" Memutar rekam jejak Agustus saya secara keseluruhan, ketika itu saya ditemani dengan lagu ini dan sekaleng kopi dingin. Saya tidak minum teh dahulu, meski saya menyuruhmu begitu. Jadi, suka-suka saja lah ya. Yang jelas, dengar ini jadi adem. Aral terjal sedikit rata, mungkin karena digilas roda setum kehidupan (maaf saya nggak tahu bahasa Indonesianya untuk penggilas aspal itu apa).

Akhirnya, refleksi kehidupan itu ada. Hidup selalu berputar. Posisinya selalu berganti. Kalau hari ini kau berbahagia, belum tentu besok begitu. Setidaknya, saya mencoba belajar terus untuk menghargai kebahagiaan kecil yang ada, yang mungkin akan bisa saya nikmati meski hanya sekedar jadi kenangan di esok hari.

"Semua akan baik-baik saja pada akhirnya." -- Calendula yang berubah setiap jam 10 malam

"Everything happens for a reason." -- Dinda, gadis pecandu Kebetulan Kosmik di Mama Cake

“Thank Life For Happening, Thank Every Twist And Turn, There Is A Reason For Every Single Thing, There Is A Reason For Every Worry And Concern.” -- Dante Jannicelli (quotes colongan goodreads)

"Mamam tuh quotes!" -- Penggila Mario Tegars yang baru gulung tikar

"Gue nggak butuh quotes, gue cuma butuh peluk!" -- Tante Seberang yang butuh pelukan anak muda

Ya udah gitu aja. Ini postingan nggak penting juga sih. :))

Selamat September! Selamat menempuh musim panas!