Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2014

Langitmu Bukan Pembenaran

Mari sini, sayangku… Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku… Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung… Kita tak pernah menanamkan apa-apa, Kita takkan pernah kehilangan apa-apa… (Soe Hok Gie, 11 November 1969)
Kau perlu tahu, aku menulis ini di sela-sela hari yang begitu menyenangkan. Aku menuliskan ini di tengah suasana hidupku yang akhir-akhir ini kubiarkan mengalir dengan santai. Aku tak peduli lima menit lagi akan bagaimana, atau lima menit lagi makan atau tidak, atau malah lima menit lagi masih hidup atau tidak. Aku menuliskan pesan-pesanku untukmu, yang tentu tak akan bisa kusampaikan tersebab dirimu sudah bersama dengan seseorang yang mungkin ingin kau jaga dengan baik.
Kemarin, kawanmu bertanya padaku, sesungguhnya bagaimana separuh kehidupan yang pernah aku bagi untukmu, apakah ia masih nyata dan mengada? Kawanmu berkata bahwa kau seringkali membicarakan aku ketika malam tiba, atau ketika kesepian melanda. Karena kamu berpikir bahwa kawanmu itu benar-b…

Jangan Datang Malam Ini

Aku tak pernah jatuh cinta dan aku tak pernah bisa mengerti tentang cinta. Yang aku tahu, cinta itu selalu menyesatkan. Tak ada manusia yang benar-benar mencinta dan dicinta. Semua hal berbau cinta, hanyalah fana. Bukan karena aku penganut aliran Tong Sam Chong, biksu yang mencari kitab suci ke barat dan mengatakan kalau cinta itu fana. Bukan karena dia aku begini. Aku hanya tidak ingin jatuh cinta, karena aku pernah merasakan pahitnya sebuah kata ‘cinta’. 
Bagiku, jatuh cinta itu hanya menghancurkan hidup… Dan aku, Tiko, lelaki tak bermasa depan dengan usia dua puluh tujuh tahun, mengembara mencari arti cinta yang sesungguhnya dan patut disebut cinta, di sudut Jakarta yang menyuguhkan berbagai kisah dramatisasi cinta…
***
“Ko, malem minggu ada acara nggak?” tanya seorang teman padaku, ketika aku baru saja memasukkan gitarku dan berniat untuk istirahat sejenak dari pekerjaanku sebagai pengamen. Ya, aku mengamen dan apakah itu dosa? Tidak juga kan? Jadi, aku mohon, jangan protes dulu.

Menginterpretasikan Lagu Melalui Bundel Cerita

Jenuh melanda. Pekerjaan yang kadang dikerjakan setengah-setengah membuat saya bingung harus mengisi kekosongan pada jeda pekerjaan itu dengan apa. Terlintaslah kegiatan yang sebenarnya tidak jauh-jauh dari dunia tulis-menulis. Ya. Sebuah kegiatan yang kadang mustahil untuk dilakukan secara konsisten, sebab ide kadang tak muncul sama sekali di hari-hari tertentu, seperti malam Minggu misalnya. Malam yang secara harfiah diartikan sebagai transisi Sabtu ke Minggu, dan dilewati oleh pasangan muda-mudi kasmaran untuk bertebaran di tengah kota. Sedangkan para jomblo? Ya sudah, hal apa yang paling membahagiakan para jomblo selain tertidur di kasur empuknya. Atau mencuci baju sehingga Minggu pagi bisa bersantai, bangun siang. Atau mungkin, menyeterika sambil memutar lagu Konservatif - The Adams, alih-alih membayangkan sedang diapeli oleh kekasih era 70-an. Duduk di dipan, sambil curi-curi pandang pada si gadis karena ayah si gadis pura-pura membaca koran Pikiran Rakyat, padahal sedang menja…

Lima Lagu Pengantar Agustus

Agustus berganti September. Ah September ceria. September yang dirindukan. Musim panas yang mungkin akan menyenangkan. September yang bagi saya bukan hanya sebagai bulan di mana saya lahir, tapi juga bulan refleksi, sebab di bulan inilah usia saya bertambah satu.
Di bulan Agustus, banyak hal yang terjadi. Hal-hal yang mungkin akan membantu saya mendewasakan diri. Beberapa hal juga membuat saya jadi (sok) bijak, (sok) memberi petuah padahal hidup saya sendiri saja tidak sesuai petuah tersebut. Hehe. Tapi, tak apalah. Setidaknya, saya belajar dari refleksi orang lain akan petuah-petuah tak penting itu. Harapannya, semoga penting bagi mereka meski setengah mati bagi saya untuk mengaplikasikannya.
Hal-hal yang sempat terjadi itu sempat membuat saya sedikit melantur tentang hidup. Bagaimana kalau A? Bagaimana kalau B? Dan bagaimana yang lainnya. Padahal, dulu saya pernah berjanji pada diri sendiri, untuk tidak mempermasalahkan 'bagaimana'. Saya pernah menorehkan hutang pada diri s…