August 2014

Thursday, August 28, 2014

Pernikahan dan Hal-Hal Yang Tak Pernah Selesai


"Mbak, ada undangan nikahan nih, dari temen Mbak kayaknya. Mamah taruh di meja buku."

Pesan singkat Ibunda memasuki telepon seluler saya, di antara ribuan sinyal provider kartu yang berseliweran di atap gedung Hartono Elektronika. Surabaya agak panas menyengat beberapa hari ini dan pembawa sinyal agak tak berirama. Tapi, mengapa pesan Ibunda masuk seketika?

Pesan itu, seperti pesan yang sudah-sudah. Pesan dari Ibu itu, semacam pengulangan pada kejadian yang sebelumnya pernah ada. Intinya, saya diminta pulang. Untuk apa? Sudah barang tentu, selain untuk bertukar kabar dengan keluarga di rumah, saya harus pulang untuk menghadiri undangan-undangan yang terbengkalai itu. Meski terlambat mengucap, tak apa lah. Setidaknya, saya setor wajah pada teman-teman yang kiranya sedang berbahagia agar tak dicap sebagai "wanita gila kerja", "kawan pencari sesuap berlian", "kawan yang lupa", atau lebih parah lagi jadi kawan yang dicap dengan kata-kata, "sok sibuk lo Yu!"

Sebelum pulang, saya menghitung helaan nafas yang keluar dari diri sendiri, sebagai refleksi langkah-langkah kehidupan. Ah, bukankah saya belum begitu tua? Umur dua puluh dua saja belum tergenapi sempurna. Usia produktif untuk berkeluarga rasanya masih agak lama (karena mungkin memang standar saya saja yang kelewat berbeda dengan perempuan kebanyakan), jadinya saya anteng-anteng saja bekerja tak kenal depresi, padahal titik didih otak sudah mencapai batasnya dan siap luber ke permukaan meja. Kata beberapa kawan saya yang sudah menikah, di saat-saat seperti ini saya memang butuh pendamping. Kata mereka, "Lo butuh temen cerita Yu, kalo pas lo kerja lagi depresi berat, ada yang nemenin ada yang dicurhatin."

Oh begitukah? Rasanya, sejauh saya hidup, saya tak pernah meminta pada siapapun. Saya tak pernah menaruh tangan saya di bawah tangan yang lainnya, semacam meminta belas kasihan atau paksaan pengertian pada pekerjaan saya yang kadang menyebalkan. Ya, menjadi seorang developer di tengah rimba industri multinasional dan segala politiknya. Saya bukan apa-apa, tapi agar menjadi apa-apa, saya harus bertahan di sana.

Depresi berat itu, kemarin menuju titik puncaknya. Teman-teman satu project saya, seperti itu pula. Dan ketika bercerita pada seorang kawan perempuan, dia berkata, "Lo mungkin harus bikin hidup lo stabil. Dengan cara, lo cari pendamping."

Apa memang harus seperti itu? Rasanya, memiliki pendamping di saat semangat sedang menggebu-gebu begitu, agak sulit juga. Saya harus bisa membagi waktu, membagi pekerjaan saya yang gila-gilaan dengan kehidupan nyata. Realita. Saya belum tentu bisa kembali bekerja seperti sedia kala. Karena saya perempuan dan saya hidup dalam tatanan patriarkis yang mau dirontokkan itu sudah pasti tak akan bisa mudah, saya pasti harus menurut pada satu rule utama dalam pernikahan bahwa, "Istri adalah pendamping suami dan pemenuh kebutuhan suami. Pendengar setia. Pecinta. Penolong saat sedih. Apalah."

Ya ya ya ya. Saya tahu semuanya akan lari ke sana. Jadi, apa benar saya butuh pendamping seumur hidup untuk membenahi emosi saya yang naik turun atau depresi-depresi kecil akibat pekerjaan yang menumpuk tapi melecut semangat berproses saya? Entahlah. Saya tidak berani berpikir jauh, sebab esok hari saja belum terlihat muaranya. Jadi, saya hanya menghidupi hari yang sedang berlangsung dengan sebaik mungkin, agar besok menjadi lebih baik, atau setidaknya stabil. Tapi, ya siapa yang tahu kalau ternyata esok hari lebih buruk. Maka, saya tak pernah melego hidup pada satu putaran dadu yang bernama "kehidupan rumah tangga."

Ah maaf, ralat. Bukan tak mau, tapi belum mau.

Kalau teman-teman mengatakan saya ini gila kerja, silakan lah. Itu hal yang wajar. Perempuan seperti saya ini apalah jenisnya. Di usia yang sama, banyak teman-teman perempuan yang kelihatannya berbahagia dengan keluarga kecil mereka, dengan anak-anak mereka. Sedangkan saya, saya ingat satu teman lama berceloteh, "Cuma kamu Yu, satu-satunya anak TKJ cewek yang masih bertahan di Jakarta."

Ya, teman-teman saya tumbang satu per satu dari ibukota yang keras ini. Yang segalanya serba dituntut untuk berburu. Berburu busway paling pagi agar tak kena quota masuk busway. Berburu taksi paling pagi agar tak kena macet menuju bandar udara. Berburu nasi uduk di depan kost agar tak kelaparan dalam perjalanan menuju ke kantor yang dihiasi macet. Ya itu, Jakarta yang tiba-tiba menjadi hutan belantara, tak terprediksi pula isinya. Teman-teman yang berbahagia itu, seperti sedikit mencibir, "Ngapain kamu kerja. Kamu nikah aja. Punya suami, enak. Nggak usah kerja, cuma ngurus anak, beres-beres rumah. Udah. Mau belanja, kan suami yang kasih."

Aduh. Apa saya bisa begitu? Sedangkan, selama ini saya membereskan apa-apa sendiri. Membetulkan langit-langit kost, menempelkan poster di kost, mengangkut lemari, dan segalanya bersama teman perempuan satu kost. Pindahan kost, saya cari motor sana-sini dan pindahkan sendiri barang-barang, diangkut ke motor, bolak-balik saja. Karena serba sok mandiri itu, saya terlecut dan membentuk mindset, "Saya bisa sendiri. Apa-apa sendiri sudah biasa. Lalu, bukankah jadi berbeda kalau saya memutuskan menikah segera?"

Sebab menikah bukanlah hal main-main seperti main lotere. Kalau menang dapat uang, kalah ya hilang uang. Mungkin mudah hilang uang, tapi apa mudah jika komitmen dipermainkan karena keputusan buru-buru yang tidak dipikirkan rasional dan matang?

Kata orang, menikah tak butuh biaya blablabla. Menikah tinggal menikah saja. Bukan itu sebenarnya yang saya garisbawahi. Bukan biaya, sama sekali bukan. Komitmen keterikatan itulah yang membuat saya harus berpikir matang-matang untuk memilih antara "menikah", "menikah nanti juga bisa", atau "tidak menikah deh". Ya begitulah. Banyak pertimbangan yang berkelebatan dalam pikiran jika membicarakan hal-hal sensitif semacam pernikahan ini. Saya juga jadi takut sendiri, setelah tadi sore berbicara delapan mata dengan kawan project kantor dan pimpinan saya langsung. Hal yang langsung menohok saya:

"Kalian laki-laki mah nanti kan enak kalo udah umur sekian tinggal lari project sana-sini, nggak harus coding lagi. Nah, Ayu juga. Sepuluh tahun lagi kan enak Yu, tinggal jagain project nggak usah turun coding. Eh, itu juga kalau masih sama kita. Nggak tahu juga kan nanti suaminya bolehin kerja kayak gini lagi atau nggak."

Hal itu yang saya takutkan. Hidup saya selama ini berproses terus menerus. Banyak hal baru dan yang saya tak tahu, hadir pada saya melalui pekerjaan saya yang menyenangkan, meski membuat saya depresi setengah mampus. Sebenarnya, depresi kan hanya hal temu solusi atau tidak. Kalau ketemu, ya lewatlah depresinya. Kalau belum ketemu, ya selamat berkutat dulu sampai pagi. Seperti itu. Tapi, apa nanti masih bisa seperti ini jika saya sudah menikah?

Ah entahlah. Bicara visi misi untuk satu orang saja belum khatam benar, apalagi bicara visi misi untuk dua orang? Tiga orang (kalau anaknya satu)? Empat orang (kalau anaknya dua atau anak kembar)? Dan jumlah yang terus meningkat itu kala kita berkeluarga. Sebab, katanya berkeluarga itu bukan hanya menyatukan dua orang saja, tapi seluruh keluarganya juga.

Ah saya belum siap. Entahlah. Mungkin ego masa muda yang masih lekat menempel dalam diri, untuk sebuah pengakuan atau sebuah transmisi manfaat bagi orang sekitar, yang mungkin saja ketika sudah menikah nanti, tidak bisa sepenuh hari ini.

Saya tak lagi ingin bicara visi dan misi 'kita', 'saya dan kamu'. Mungkin saya akan menemui hari di mana saya benar-benar harus ditemani sepanjang usia, punya anak-anak lucu yang meramaikan beranda rumah, punya tempat di mana saya akan selalu kembali berpijak. Mungkin saya akan memilikinya, suatu saat nanti. Saat-saat yang pasti tak akan bisa diputuskan dalam waktu dekat ini.

Mungkin ketika lelah nanti, atau ketika saya sudah tak lagi sanggup melakukan apa-apa sendiri sebab beban hidup semakin tinggi. Tapi, apakah ada 'nanti'? Apakah ada yang akan menanti? Sungguh jadi perdebatan yang serba salah, tentunya perdebatan dalam diri saya sendiri. Jika nanti tak pernah ada, berarti saya akan menyesal. Tapi, jika tak perlu ada nanti dan saya lakukan sekarang, apa nanti itu tetap menyesal?

Entahlah. Bicara pernikahan dan keluarga cemara seperti Abah dan Emak memang tak akan pernah selesai. Saya tak pernah tahu, kapan milestone hidup tercapai. Kapan batu pijakan menuju fase-fase hidup selanjutnya akan saya lewati, saya tak pernah tahu.

Yang saya tahu, saya sedang hidup untuk menuju entah apa. Saya sedang menghidupi hari ini. Itu saja cukup, tak ada embel-embel lain.


Surabaya, 28 Agustus 2014
log 01:33 AM

sambil setel Nirvana - Sappy

/// And if you save yourself / You will make him happy / He'll keep you in a jar / And you'll think you're happy
He'll give you breathing holes / And you'll think you're happy / He'll cover you with grass / And you'll think you're happy now ///

Monday, August 11, 2014

Bincang-Bincang Dengan Bli Robi: Seniman, Petani Kopi dan Pemikir yang Membumi


"The good man is the friend of all living things." -- Mahatma Gandhi


Di tengah-tengah musik Jesus and Mary Chain yang mengalun ke gendang telinga dan rumah siput yang diam saja di dalam sana, saya menulis artikel sederhana ini. Sedikit artikel atau opini pribadi saya mengenai sosok Gede Robi Supriyanto atau yang biasa orang kenal dengan sebutan Bli Robi, salah satu dedengkot sebuah band asal bali bernama Navicula.

Bisa dibilang, saya bukan orang yang mudah move on terhadap suatu kejadian atau situasi yang menyenangkan dan membuat saya betah. Perbincangan-perbincangan kecil dengan seorang teman yang berujung pada perbincangan sepagian dapat membuat saya susah tidur. Sudah lelah, malah ditambah kegiatan berpikir. Otak saya selalu berputar, bekerja tak kenal waktu setelah mendapatkan nutrisi dari sebuah diskusi. Ya, diskusi yang singkat dengan seseorang atau sekelompok orang.

Kali ini, saya mendapatkan kesempatan itu, bincang-bincang singkat dengan salah satu orang yang hanya sempat saya minta foto bersama, atau bicara kecil-kecilan yang numpang lewat saja. Saya jadi mengerti, perihal susah move on seperti ini memang kerap kali terjadi. Seperti halnya Aris Setyawan yang begitu ingin bertemu dengan Ucok Homicide a.k.a Herry Sutresna, ketika berkunjung ke Bandung, dan tak bisa move on beberapa hari kemudian. Sampai harap-harap cemas ketika berada di kereta yang lajunya hampir memakan waktu sebelas jam. Haha. Saya merasakannya, Ris. Jadi, kita senasib wahai Aris, meskipun Chairil Anwar berkata, "Nasib adalah kesunyian masing-masing." :))

Banyak orang berkata, bahwa seseorang yang telah menjadi "orang besar" tak pantas lagi diajak berbicara, tak pantas diajak duduk sama rata dan tak perlu diajak menenggak kopi yang sama dari gelas plastik murahan. Saya rasa, hal itu tidak relevan, apalagi jika kau tak pernah mencoba untuk menyapa orang-orang yang menurutmu besar itu. Saya tak berniat untuk mentertawakan orang-orang itu, sebab saya juga pernah menilai orang dengan stereotip yang sama.

Namun, saya ingin tertawa ketika salah seorang teman menaruh nama Bli Robi ada di dalam daftar "orang yang tak pantas diajak minum kopi bersama". Hahahaha. Mungkin, teman saya harus diajak berbicara dan ngopi bareng dulu, sehingga malu sendiri. Sayang, ketika kemarin saya hadir di acara Surabaya yang bertajuk "Grunge Terror 2" untuk silaturahmi pasca lebaran sekaligus meliput bahan zine, teman saya ini tidak turut serta. Padahal, bisa malu-malu serigala dia jika dihadapkan pada kondisi saling bertatap muka dengan Bli Robi yang kala itu menenteng botol bir besar sambil bertelanjang kaki. Bli Robi yang lelah menghibur partisipan acara dengan lagu-lagu legendaris dan masih bisa diajak bicara santai sampai pagi. Malah, sebelum memulai permainan gitar akustiknya, Bli Robi mempersiapkan sendiri segala kebutuhannya dan berkomunikasi dengna operator di pertengahan gedung serbaguna mengenai settingan audio yang memenuhi kriterianya. Wah, saya terkesan. Bli Robi yang saya baru tahu pada dini hari ini, bahwa beliau adalah orang yang bisa diajak bicara apa saja. Bukan hanya ramah pada sesama tapi ramah juga pada alam raya.

Awal mulanya, saya mencoba bertanya pada Bli Robi pada sesi diskusi singkat malam 10 Agustus itu, ketika acara musik disudahi dan sisanya tinggal santai-santai saja. Saya bertanya tentang efektivitas musik dalam kegiatan aktivisme dan solidaritas, sebab di Indonesia ini cukup banyak musisi yang menyuguhkan lagu dengan isu-isu yang berkembang di masyarakat dan sangat dekat dengan kita. Namun, seberapa besar tingkat efektivitasnya, kita juga tak bisa menebak. Hanya saja saya menangkap, bahwa tugas Bli Robi dan Navicula sebagai musisi sudah cukup sampai pada posisi "penggerak poros", sebagai pemersatu insan yang progresif revolusioner. Sisa perjuangan, setidaknya dari 10 pendengar lagu-lagu yang diusung Navicula, ada satu atau dua orang yang kelak bisa meneruskan atau membuat sebuah pergerakan berdasarkan lagu-lagu milik Navicula, tidak hanya berkutat di esensi lagunya saja, melainkan turun langsung ke dalam implementasi terkait perubahan yang tersugesti lagu. Malam itu, saya begitu berapi-api mendengarkan. Saya melupakan tugas kantor sejenak dan memutuskan untuk mengakhiri malam sampai semua perbincangan benar-benar selesai.

Diskusi yang tidak seberapa lamanya, dengan beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh orang yang itu-itu saja, akhirnya selesai. Semua bangkit berdiri dan pulang ke tempat singgah masing-masing. Sementara saya dan beberapa orang yang masih ada di acara--kebetulan teman-teman dekat saya juga--memutuskan untuk berlama-lama di gedung serbaguna Kampoeng Ilmu Surabaya. Saya tak ingin melewatkan kesempatan untuk berbincang-bincang atau mendengarkan cerita dari Bli Robi, karena saya tahu bahwa kesempatan kecil tak datang dua kali. Maka, setelah menunggui dan sedikit membantu kawan-kawan SGA (Surabaya Grunge Army) untuk membereskan kembali lokasi acara, kami semua turun. Kami menyambung perbincangan yang sebelumnya telah terdistraksi debu-debu, remah langit-langit, dan botol kosong sisa minuman. Di dekat bale bawah, kedai kopi masih buka rupanya. Saatnya menggenapi hari Minggu yang lelah dengan perbincangan sederhana yang dihiasi kepul asap dan kopi pekat.

Ada beberapa ilmu baru yang didapat dari perbincangan singkat. Ilmu-ilmu tentang menghidupi sebuah komunitas dan bagaimana cara mengintegrasikan elemen-elemen yang ada di dalamnya agar bisa sama-sama bermanfaat dan berfungsi sesuai kapasitas masing-masing. Ada juga ilmu yang sungguh sederhana, mengenai budidaya tanaman kopi lokal dan bagaimana cara mengolah kopi yang masih berbentuk buah sampai jadi kopi bubuk. Ada ilmu-ilmu lain juga yang relevan dengan beberapa isu terbaru di negeri ini, yang rasanya sangat pas jika dibicarakan dalam keadaan random, santai dan serba tidak terduga seperti pemilihan presiden--yang baru-baru ini panas sekali--misalnya. Atau, bicara dolly yang bisa jadi akan memunculkan ancaman baru bagi suami-suami para ibu? Hehe. Seperti berbicara dengan teman dekat ketika minum kopi dalam satu gelas yang sama, kata-kata dan pemikiran-pemikiran mengalir dengan derasnya. Maka, nikmat Semesta manakah yang kau dustakan?

Pemikiran saya ketika menghadapi bincang-bincang dengan Bli Robi, persis seperti pemikiran yang Aris tuliskan dalam artikelnya mengenai Ucok. Bli Robi sangat cocok dianggap sebagai teman bicara yang begitu membumi, dengan wawasan seluas lautan yang masih bisa diseberangi. Saya bukan penikmat teori-teori berat mengenai filosofi kehidupan, tapi saya lebih menikmati bagaimana hidup dibaca dari perputaran logika dan realita. Dari sana, teori-teori itu sebenarnya relevan, tanpa kita harus menelan bulat-bulat teori itu hanya sebatas textbook. Begitu banyak kajian filsafat kehidupan dari perbincangan dengan Bli Robi. Bli Robi bukanlah orang yang jauh di atas langit, seperti yang teman-teman saya dakwahkan. Mungkin... Ini mungkin saja. Bung Teman memang belum pernah berbicara langsung atau sekedar menyapa Bli Robi, mungkin Bung Teman segan dan malu, sehingga ia membuat sebuah stereotip bahwa, orang-orang yang sudah besar atau terkenal seperti Bli Robi, tak perlulah diajak berbincang dan minum kopi bersama. Bung Teman saya ini sepertinya menanamkan majas pars pro toto. Batang hidung untuk seluruh. Padahal, tak semua orang seperti yang dia utarakan. Saya jadi ingin mengajaknya bertemu langsung dengan Bli Robi, mungkin nanti kita ke Bali? Hehe.

Maka, saya menganggap bahwa Bli Robi adalah buku pengetahuan berjalan yang bisa kapan saja ditanyai, dan dimintai pendapat. Bli Robi begitu terbuka. Ilmu kehidupan yang didapatkan benar-benar bebas disebar dan difotokopi maupun diperpanjang. Anggaplah saya sedang belajar, sebagai orang yang baru-baru ini melihat kisruh dalam realita kehidupan, saya belumlah jadi apa-apa. Saya menjura.

Setelahnya, anggaplah Bli Robi sebagai teman bicara yang rumahnya selalu terbuka, sebab ketika saya berbicara dengannya, dengan beberapa teman (Mbak Wenny dan Mbah Man), saya seperti sedang menghadapi teman sepermainan yang sedang melakukan pertukaran pikiran. Saya hanya ingin membuang stereotip bahwa Bli Robi bukanlah legenda lama yang hidup di Bali, yang bergerilya membawa nafas grunge dan lupa ketika telah besar. Sesungguhnya, Bli Robi masih berada di dalam lingkaran komunitas itu sendiri, dekat dengan semua manusia dan alam raya. Masih bersuara dengan lantang memikirkan nasib-nasib orang yang tertindas yang mungkin sebenarnya tak kita kenal, atau malah kita komentari, "Siapa sih dia? Untuk apa kita bela dia?" Tapi, Bli Robi mau. Pun dengan Navicula. Bli Robi dengan Navicula-nya, bukanlah dewa atau nabi yang dikultuskan. Mereka hanyalah sekumpulan manusia yang sama dengan kita. Manusia yang besar dari dukungan manusia lain. Makhluk sosial pada umumnya. Bernafas dengan kita. Peduli dengan kita dan negeri kita yang kaya. Kalau mereka saja peduli, mengapa kita pura-pura tidak peduli? Padahal, kita hidup di sini, memiliki sumber daya melimpah ruah tapi setengah mati untuk hidup di dalam arus modernisasi dengan mengonsumsi barang jadi berlabel "West" yang dilempar mentah ke sana, diolah sedikit, dicap "West" lalu kembali ke negeri kita untuk dikonsumsi. Coba mengutip kata-kata, "Kita adalah tikus yang mati di lumbung padi." 

Sungguh lucu sekali rasanya.

Ah sudahlah. Artikel testimoni ini, rasanya jadi semacam sentilan tak berujung yang akan sangat panjang isinya jika saya teruskan kemana-mana. Berhubung banyak sekali orang yang minat bacanya terkikis, alangkah baiknya, testimoni saya untuk Bli Robi Navicula kali ini, saya cukupkan saja sampai di sini. Oh ya, jika kawan-kawan menunggu artikel berikutnya yang berisi diskusi singkat hasil menyimak seadanya pada acara 10 Agustus lalu, harap bersabar. Maklum lah, keinginan menulis banyak hal kadang tak sejalan dengan momentum yang saya miliki pada saat ide tersebut muncul di kepala. Mungkin, saya akan coba menyusunnya tak lebih dari akhir minggu ini. Ditunggu saja.

Pada akhirnya, saya hanya ingin mengucapkan syukur pada Semesta dan kebetulan-kebetulan kosmos yang membuat saya bisa berada di Surabaya pada saat yang tepat dan tak terduga. Semua hal sudah dirancang dan tak ada kebetulan mutlak. Yang ada hanyalah kebetulan yang sebenarnya telah dirancang oleh semesta. Pertemuan, perbincangan, dan aliran hidup yang sudah terjalur akan menemukan muaranya. Dan saya percaya, setiap pertemuan akan memberikan pelajaran berharga pada irisannya.

Saya berpesan pada kawan-kawan untuk tak melihat buku hanya dari harga, melainkan dari isinya. Harga dan sampul bisa menipu, tapi isinya belum tentu. Hehehe. Tetaplah percaya, bahwa tiap-tiap manusia, selalu punya cara untuk memanusiakan manusia lainnya, walaupun setitik. *udah gitu aja*



Surabaya, 11 Agustus 2014

*thanks God, for the fastest Wi-Fi connection from Providence Homestay! :p
*special thanks for SGA, Grunge Terror 2 all participant, Mbak Wenny, and Mbah Man

ngobrolin apa sih ini? oh ngomongin si Ongen tidur di lantai sampe mau kesapu :))

Friday, August 8, 2014

[Sedikit Prolog] Cipher


Jadi, ada naskah yang terbengkalai di folder draft dan menolak untuk dilupakan, sebab naskah ini sudah separuh jalan. Ibarat hidup segan, mati tak mau. :))

Jadi, sedikit pembukaan dari naskah saya yang kelak akan saya beri judul "Cipher" ini akan saya tampilkan. Baiklah, selamat mencecar! :))

---

Prolog

Semua orang berbicara dengan sandi mereka masing-masing, secara verbal. Sandi-sandi itu secara simultan diartikan oleh mereka, para pemecah sandi. Bahasa, adalah salah satu hal paling ajaib di dunia, sebab bahasa dapat memecahkan sandi-sandi purba. Dahulu, semua orang yang berbicara dengan sandi dan isyarat, akhirnya menemukan satu hal yang absolut, bahasa sebagai pemecah sandi.

Bahasa, sebagai pemecah sandi, sama halnya seperti pemecah sandi dalam sistem teknologi informasi. Sebut saja beberapa perkara. Para pejuang Amerika, biasa berkomunikasi dalam bahasa Indian Navajo, dengan bantuan windtalkers—pembicara angin. Para tentara Jerman, menggunakan mesin enigma yang menerjemahkan huruf, menjadi huruf baru. Mesin itu berputar sesuai rotari. Mesin enigma melakukan enkripsi dan dekripsi pesan rahasia. Arthur Scherbius, insinyur yang mematenkan mesin ini, membuatnya dengan teknis rotor elektromekanik. Ribuan pesan rahasia ditransformasikan hanya untuk dan kepada tentara Jerman Nazi. Namun, pada akhirnya, sistem dekripsi mesin ini dipecahkan juga. Enigma atau aenigma yang berarti teka-teki, pada akhirnya tak lagi menjadi teka-teki.

Lantas, bagaimana dengan persandian yang kini berenang di dalam lautan teka-teki di dunia maya sana? Bagaimana semua rahasia itu bisa terbang bebas dalam jagat manusia yang seakan-akan menjadi virtual? Seakan berbicara dengan bahasa yang sama, padahal tak dimengerti lokasi aktualnya? Rasanya, jika dunia maya adalah enigma, tingkatnya sudah bukan lagi tingkat enigma biasa. Kriptografi dan berbagai macam tingkat keamanan yang diterapkan di dalamnya, sudah lebih dari kompleks. Dunia maya, bukan lagi tempat bersembunyi yang abadi, sebab di dalamnya, ada setan dan malaikat. Dunia maya menjadi pisau bermata dua. Melukai dan menyembuhkan.

Apalagi jika orang-orang sudah bicara tentang…

...sebuah rahasia.

Dan rahasia itu, menuntun satu raksasa untuk memainkan para boneka, yang rela membunuh demi sebuah rahasia.

Sebuah rahasia yang samar namun dapat terbaca.