July 2014

Wednesday, July 23, 2014

Akibat Lagu-Lagu Sendu


Saya mohon maaf, kalau orientasi burung hantu kali ini mulai menjurus ke hal-hal tak penting macam curahan kehidupan yang melulu sedih. Ya tapi, memang begitulah yang namanya hidup. Saya ingat perkataan seseorang yang akhir-akhir ini sedang dekat, bahwa kesedihan itu kadang adalah pelengkap kebahagiaan. Kita tidak akan pernah bersyukur atas bahagia kalau kita tidak sedih. Kira-kira begitu.

Akhir-akhir ini, saya yang biasanya memutar lagu sendu dan melempar ekspresi biasa saja, jadi berbeda. Belakangan, kondisi hidup sedang tidak jelas. Bukan hanya karena masalah pekerjaan, tapi karena banyak hal yang tidak bisa dengan mudah diputuskan. Ibarat pergi ke toko dan bingung mau memilih apa, saking banyaknya benda yang baik dan juga yang terburuk. Ujung-ujungnya, main ke toko hanya sekedar melihat-lihat, seperti hidup yang kadang lewat dan sekedar melihat-lihat, padahal kita sangat ingin membelinya tapi tak bisa.

Mohon maaf pula, kalau akhir-akhir ini kadang saya tidak jelas. Emosi naik turun. Tertawa lima menit, marah-marah lima jam. Lalu, misuh-misuh di sosial media sampai ada yang berkirim jaring pribadi ke telepon genggam, atau malah langsung menelepon dan bertanya, "Kamu lagi kenapa?" Maaf saja, saya sedang ada di titik equilibrium paling tinggi dan akan meluncur. Semacam culture shock kalau ada di mata kuliah Komunikasi Antar Budaya. Ha. Ha.

Biarpun begitu, saya masih ingin memaksa diri agar bisa terus tertawa. Sebab, saya percaya hidup ya pasti begini, bukan begitu-begitu saja. Selalu ada titik menukik tajam, agar kita semata-mata ingat bahwa hidup diraih dari titik terendah, menuju tinggi, dan pasti menurun lagi. Hal itu semata-mata supaya kita tidak sombong dan angkuh terhadap hidup yang bukan kita sendiri yang usaha, tapi juga pemberian Dzat Maha Kuasa.

Ya begitu. Semacam self-note, agar saya tak lupa, bahwa hidup pasti baik-baik saja biarpun masalah-masalah besar mendera. Yang perlu saya lakukan mungkin bukan melihat sepatu, tapi lebih baik melihat langit. Saya harus bangkit. Pasti bisa.

Ah sial. Ini semua pasti akibat lagu-lagu sendu. :)

Tapi biar. Biar rasa, biar tahu kalau hidup ya begitu. :)

Monday, July 21, 2014

Petrichor, Cokelat Hangat, dan Pengampunan Dosa


"The shimmering heat. The bold, hot sun. Best dawn endlessly.
The rains will come, wash down and done.
I sit and then I dream of the way we used to be." -- Gold on the Leaves, Luluc

---

Langit akhirnya menghujani jalanan Surabaya yang sejak dua minggu belakangan ini gersang dan kering. Jalanan macet ketika jam huru-hara. Sebelum dan sepulang bekerja. Apalagi, bulan puasa yang makin mendekati puncaknya membuat orang-orang naik pitam di jalan raya. Ingin segera pulang, ingin segera berbuka, atau malah ingin berbelanja. Selama dua minggu ini, saya mengamati kehidupan Surabaya yang mulai menjelma ibukota. Saya ada di tengah-tengah lautan manusia, di jalanan, menuju tempat singgah sementara.

Kabar demi kabar datang dari teman-teman seperjuangan saya di Jakarta. Rupanya, ada yang memanas di sana. Saya dan satu orang teman saya di sini pun tak bisa tenang. Pikiran jadi bercabang, berada di antara keinginan membereskan project dan menyatukan kembali pecahan vas yang resmi hancur. Belum lagi kabar kepindahan yang tiba-tiba, membuat beberapa barang terbengkalai. Rasanya, jika saya dapat memiliki pintu ke mana saja, yang saya tuju hanyalah tempat singgah saya di sana. Masih singgah sementara.

Tiba-tiba saja, saya jadi ingin mengasihani diri sendiri. Sejak kapan saya punya rumah? Dari dulu, bukannya memang hanya tempat sementara untuk singgah?

Kadang, apa yang diinginkan dan diharapkan selalu menemukan muara pada apa yang tak berkesudahan. Perang dan kebencian misalnya. Atau, boikot kehidupan dan tarik ulur yang semena-mena. Kadang, kenyataan membuat kita bertanya-tanya tentang rencana-rencana masa lalu yang hingga saat ini, bahkan belum terpenuhi. Apalagi, rencana itu adalah rencana kolektif. Kemarahan yang sulit terungkapkan pun menjelma sedih panjang, bagai tanah Surabaya yang belakangan gersang.

Namun, sore ini hujan. Aroma petrichor merebak ke indera penciuman saya yang sudah tak lagi mencium aroma kesenangan. Hujan sore ini, dibarengi dengan pesan kawan seperjuangan di Jakarta, bahwa barang-barang kami yang ikut Bapak Satu, sudah dipak sebagian. Sedangkan, Bapak Dua tidak mau ambil pusing dan berencana untuk merumahkan karyawan yang ada.

Termasuk saya dan kawan saya yang saat ini sedang di Surabaya. 
Termasuk OB yang anaknya sakit-sakitan.
Termasuk si A, si B, dan si C yang anaknya sedang di rumah sakit.

Tapi Bapak Dua, tak ambil pusing. Beliau beralasan, bahwa tempat kami bekerja ini akan disewakan pada yang lain.

Tega benar.

Jadi, selama ini, kerja keras kami dianggap apa? 

Akhirnya, kami yang ikut Bapak Satu, memutuskan pindah tiba-tiba. Kebingungan melanda, sebab saya belum punya rumah.

Seperti tadi saya katakan, sejak kapan saya punya tempat singgah permanen? 

Tapi Tuhan tetap mengerti, bahwa kalut hati ini bisa sembuh karena kehadiran orang-orang yang saya anggap penting dan memang mengobati sedih.

Di tengah hujan, wangi petrichor yang membuat saya optimis bahwa hidup selalu bisa diselamatkan meskipun ada di ujung jurang sekalipun, di aroma pengampunan dosa dari secangkir cokelat hangat, dan pesan-pesan darinya yang terus bergulir, saya masih percaya bahwa saya dan teman-teman akan selamat.

Maka, saya memutuskan tak ambil pusing juga dengan hari esok, meski sebelumnya saya sudah bersedih-sedih sepanjang siang. Saya memutuskan untuk memasang lagi headset, memutar Luluc dan Sayde Price dari laptop saya, sembari melihat pesan-pesan client yang mungkin akan menyelamatkan hidup semua kawan seperjuangan di Jakarta.

Di meja, cokelat panas masih menguarkan kepulan uap yang menenangkan.
Dan di meja, telepon genggam masa kini masih menebarkan getar dari pesan-pesannya yang selalu menyelamatkan.

Terima Kasih, A.

Terima kasih pula, pada hidup yang menjelma roda.

Menjura saya, selalu.

Monday, July 7, 2014

Menanti Riuhnya Gegap Gempita Menjadi Tangis Balada


Sampai saat tulisan ini disusun, saya masih bertanya-tanya, hal apa yang bisa membuat duaribuempatbelas tidak menjadi tahun yang begini-begitu saja dengan gegap gempita pemilihan presiden yang membutakan mata teman-teman baik saya. Saya melihat mereka begitu akrab kala dulu, tapi tiba-tiba berubah menjadi dua orang yang sama sekali berbeda, "when it comes to their side". Saya jadi ingin tertawa, dan menangis seketika. Sepertinya, teman-teman baik saya yang saling hina secara tiba-tiba itu, kurang piknik.

Ada banyak hal yang perlu diperjuangkan di negeri kita yang hijau subur ini. Ada banyak hal perlu dipupuk untuk jadi pelecut semangat, di kondisi negeri yang "hidup segan mati tak mau" ini. Sepertinya, saya perlu membuka mata saya sendiri, agar saya tetap waras ketika orang lain mulai gila. Saya ingin jadi orang yang tetap bebas, tanpa harus memilih sisi mana yang akan saya tekuni. Saya paham, karena tidak dari kedua sisi itu yang bisa memberi saya benefit apapun. Dengan atau tanpa dua sisi itu--baik si satu dan dua jari--dunia akan tetap membosankan. Regulasi-regulasi pemerintahan terkait sumber daya alam, akan tetap dijalankan. Indonesia masa depan, akan tetap jadi tambang produksi. Dikeruk habis-habisan. Dinodai. Rakyatnya dibumihanguskan.

Jadi, pentingkah bagi saya untuk memilih sisi mana yang lebih baik atau lebih pantas, padahal tidak satupun dari kedua sisi itu yang sepertinya maju tanpa kepentingan di baliknya? Masih pantaskah teman-teman saya mengata-ngatai saya agar tidak golput, padahal tak satupun dari mereka yang mengerti akan ajakan mereka?

Orang boleh punya pilihan, orang boleh memilih untuk melakukan apa yang dia inginkan bagi hidupnya sendiri. Orang boleh berdemokrasi untuk dirinya sendiri, tanpa harus memilih masa depan yang belum tentu sesuai dengan visi-misi atas nama demokrasi.

Saya tidak paham, mengapa mereka begitu gencar mempercayai visi-misi atas nama demokrasi, pro rakyat, kebangkitan negeri, padahal mereka bicara itu sambil minum bir atau minum kopi mahal di beranda franchise kopi kapitalis?

Saya ingin tertawa. Kalau boleh, sambil menghina-hina wajah teman-teman saya. Ups, maaf. Ini bulan puasa tapi saya terbawa emosi.

Dengan atau tanpa pilihan, saya akan tetap memperjuangkan apa yang saya yakini. Dengan atau tanpa pilihan, saya akan mencoba melihat hal-hal yang sudah lahir sejak kedua jari-jari calon pemimpin negeri ini belum membentuk angka, belum membentuk slogan dan jargon kemenangan.

Kalau teman saya bilang, "Indonesia memang sedang tidak memilih. Ada hal penting lain di pelosok bumi tani, yang perlu diperhatikan. Kita sedang melawan korporasi yang membawa nama pembangunan usang. Pembangunan tua, dengan bentuk baru dan diusung secara ramah meski tetap menuai darah."

Masih banyak hal yang harus diperjuangkan. Bukan hanya dukungan menggebu-gebu bagi para calon pemimpin. Masih banyak hal yang harus dilihat secara nyata. Rupanya, masih banyak yang tersakiti di pelosok-pelosok negeri, yang tidak sempat terkatakan karena tertutupi berita-berita saling menjatuhkan, di televisi, koran, dan radio.

Tiba-tiba saja saya ingin menutup semua.

Saya ingin berkata-kata selagi bisa.

Saya ingin bilang bahwa...

Indonesia sedang menangis. Tangis para petani-petani, masyarakat penghuni tanah leluhur, dan para pekerja-pekerja ladang yang kelak tanahnya akan diduduki tank baja, dibumihanguskan bom atom, dan diduduki beton-beton penghasil asap.

Coba dengarkan, teman-teman. Tangis mereka bukan tangis kemarin sore. Bukan tangis isu menjelang pemilihan pemimpin. Tangis mereka adalah amarah, yang tentu berbeda dengan hasrat menggebu kalian dalam membela jagoan masing-masing.

Mereka, tak menjagokan siapa-siapa. Mereka, hanya sedang berjuang untuk kebebasan mereka sendiri. Mereka, justru sedang melawan negara dan korporasi raksasa yang kelak akan menduduki tanah mereka. Mereka bukan siapa-siapa, dan tidak akan memilih siapa-siapa.

Cipinang, 07 Juli 2014
.:log 10.31 PM
di tengah intermezzo mengetik naskah dystopia


Sunday, July 6, 2014

Sembunyi di Tepi Jendela Lantai Dua


Lelaki itu datang lagi. Ia datang menawarkan beribu cinta kasih dan tabungan masa depan yang menjanjikan. Sebuah rumah di pinggiran kota yang katanya masih subsidi tapi mahal minta ampun, mobil-mobil terbaru, dan kebun belakang rumah dengan pagar-pagar batu yang tinggi.

"Rumah kayak gini, tahun-tahun besok pasti jadi mahal banget. Makanya, aku beli sekarang, buat nanti kita tinggal bersama, kalau udah menikah," gumam lelaki itu padaku.

Aku terhenyak. Cinta macam apa lagi yang ia tawarkan? Kepedulian apa lagi yang ia tawarkan pada perempuan kepala batu sepertiku? Aku sungguh tidak mengerti. Kemarin-kemarin, aku melempar gelas anggur di restoran mahal yang ia reservasi untuk makan malam kami. Anggur berwarna merah pekat itu terburai di lantai. Sisa-sisa kepingan kaca gelasnya memantulkan bayanganku, yang berdiri mematung. Gelisah pada entah apa. Aku meninggalkan lelaki itu di tengah keremangan malam dan gumam penyanyi jazz di tepi panggung restoran. Lelaki itu pasti kebingungan, tak dapat menebak kemarahanku yang sepertinya datang tiba-tiba. Aku meninggalkan restoran, menanggalkan sepatu mahal yang lelaki itu belikan untukku. Sepatu dengan perasaan palsu. Hujan turun malam itu dan aku pun menari-nari, melepaskan kegelisahan diri.

Di hari sebelum makan malam mewah itu, aku menerima sebuah pesan dari seorang perempuan anonim. Perempuan itu berkata padaku untuk melepaskan lelaki itu. Lelaki yang sudah bertahun-tahun ada di sampingku. Lelaki yang aku sendiri tak pernah tahu, seperti apa rupanya jika ia tidak bersamaku. Akankah tetap seperti ini ataukah benar-benar berbeda? Berwajah serigala? Yang aku tahu, perempuan anonim ini mengatakan kalau ia tengah mengandung seorang bayi lelaki, sudah masuk bulan ke tujuh. Ia dan lelaki itu bertemu di sebuah rapat besar jaringan perusahaan tempat lelakiku bekerja. Mereka menjalani ikatan tiba-tiba, dan itulah hasilnya. Aku tak pernah sangka, kalau ia begitu beraninya menyakiti perasaanku dan perasaan perempuan itu. Kalau saja ia bilang sejak awal, ia ragu-ragu memilihku dan masih membutuhkan perempuan lain sebagai katalog pilihannya, aku lebih mudah menerima. Tapi, seharusnya ia tahu, bahwa aku yang begitu rapuh tak bisa diperlakukan semacam itu. Aku pun limbung dan memutuskan untuk melempar gelas-gelas anggur di restoran, dengan alasan agar ia segera meninggalkan aku tanpa menyakiti dirinya. Lebih baik aku yang menyakiti diriku sendiri. Aku sudah terbiasa dengan hal itu.

Aku mungkin hanya terlalu takut menerima kenyataan, jika pada suatu hari ia tak seperti yang aku bayangkan saat ini. Aku hanya terlalu takut menerima masa depan yang mungkin akan jadi sangat berbeda setelah aku bersamanya dalam sebuah ikatan yang masih tak aku mengerti hingga saat ini. Ikatan yang benar-benar tak bisa terputus seperti ketika aku menggunting benang-benang jahit, menggunting pita, menggunting kertas jadi bentuk-bentuk indah. Ikatan yang bisa membuat seorang lelaki baik, berubah drastis menjadi seorang pemarah, pemukul, pelecut perempuan. Dan kemarin, ia menawarkan keping teka-teki yang membuatku makin terhenyak ke dasar, lekat ke dalam duniaku sendiri. Dunia yang sendirian. Aku bertanya-tanya, harus aku apakan ia?

Dan pada suatu malam yang basah oleh gerimis, lelaki itu meninggalkan cincin yang ia beli dari toko mahal, di meja beranda rumahku. Setelah kukatakan pada Ibu, bahwa aku sedang malas bertemu sapa dengannya, lelaki itu pun pergi dan meninggalkan sekotak kebahagiaan kecil bagi setiap perempuan. 

Di dalam kamar, aku menatapi kotak kebahagiaan itu. Kini, kotak kecil itu ada di depanku. Aku menatapinya dengan murung, melihat sebuah cincin emas putih dengan mata berliannya yang mengkilat dan dapat membuat mata perempuan lain menyala-nyala. Tapi tidak denganku. Sebuah lagu berdendang manis, menggema di dalam kamarku, dengan suara-suara kepalaku yang hilir-mudik. Suara pikiranku yang memutuskan untuk menolak segala kebahagiaan itu. Masa depan yang masih semu.

Through the warmest cord of care
Your love was sent to me

I'm not sure what to do with it
Or where to put it*



Pada bait pertama lagu, aku menepi ke jendela kamarku di lantai dua. Aku menulis sebuah surat dengan lirik-lirik lagu itu. Aku membayangkan lelakiku yang manis. Lelaki yang pernah menciumku mesra, di bawah hujan. Lelaki yang belakangan begitu memaksaku agar aku hidup dengannya. Aku membayangkan lengannya yang kokoh, memeluk aku kala sedih dan sekali waktu, pernah memukul wajahku, membuat lingkar mataku biru.

I'm so close to tear
And so close to simply calling you up
And simply suggesting

We go to that hidden place
That we go to that hidden place


Aku memikirkan lelaki manisku yang benar-benar manis, dan pada suatu hari merah wajahnya membenamkan debur di dadaku menjadi depresi. Lelaki manis yang pada keesokan harinya, kembali menjadi lelaki manis.

Now, I have been slightly shy
But I can smell a pinch of hope
To almost have allowed once fingers
To stroke
The fingers I was given to touch with
But careful, careful

There lies my passion hidden
There lies my love
I'll hide it under a blanket
Lull it to sleep

Aku melihat lelaki manisku di masa depan. Rahangnya yang kokoh itu, menatapi aku dengan bengis. Hingga aku tertidur dan ia memohon maaf pada esok paginya. Lelaki yang akan marah jika pakaiannya tak aku setrika dengan benar. Lelaki yang akan melempar gelas kopi jika kopi yang ia minum tak sesuai yang ia inginkan. Lelaki yang pulang larut malam, dengan wangi-wangi parfum vanila di tubuhnya, yang aku tahu bukan miliknya.

He's the beautifulest
Fragilest
Still strong
Dark and divine
And the littleness of his movements
Hides himself


He invents a charm
That makes him invisible
Hides in the hair

Can I hide there too?
Hide in the hair of him
Seek solace
Sanctuary

Aku sakit. Tepian jendela sudah terbuka. Aku lupa akan lebam-lebam biru. Aku ingat bahwa aku punya hidupku, yang mungkin masih bisa menjadi indah, dengan warna-warna pelangi. Dengan cericit pagi, setelah malam berhias bintang. Dengan ciuman-ciuman bayangan pada pertengahan malam.

Surat ini kuakhiri. Aku ingat gerimis masih wangi. Bisakah lelaki manisku menemani aku, bersembunyi?

Kuletakkan cincin pemberiannya di atas lipatan surat laguku. Lagu yang aku kutip dari gema di kamarku. Kutorehkan warna cinta di ujung surat itu agar lelaki manisku tahu, bahwa cintaku benar adanya, walau tak bisa dimiliki siapa-siapa. Lelaki manisku, yang kucintai, namun tersakiti oleh ulahnya sendiri. Aku torehkan warna hatiku untukmu lelaki manis. Warna merah. Alir darah... 

Bagian lagu terakhir mengalun indah. Echo dari para paduan suara, saling bersahutan.

I'll keep it in a hidden place...
Keep it in a hidden place...

Hatiku ada di sana, cintaku ada di sana. Di sejuknya pelukan lelaki manisku yang memiliki wajah-wajah berbeda. Lelaki manis yang membuat aku takut untuk memulai sebuah masa.

Lagu selesai, aku menghirup aroma segar. Bunga kamboja di beranda rumah. 

Langkahku ringan. Aku melaju, menggapai tepi jendela rumah. Aku terjun bebas, menutup mata dan tersenyum. Tepat saat tubuhku menerjang paving block di depan pintu rumahku, aku tertawa. Aku bebas dan bahagia. Lelaki manisku akan tahu hal itu. 

Wangi ini, wangi cintaku...
Warna merah, alir darah...

Berpuluh kilometer dari rumahku, seekor burung gagak hitam menghampiri jendela kamar lelaki manisku. Burung gagak itu tersenyum pada lelaki manisku... 



Cipinang, 6 Juli 2014
log 5:47 AM

*lirik lagu yang ditulis adalah lagu Bjork - Hidden Place
album Vespertine, 2001

Thursday, July 3, 2014

Mixtape: Angin Juli


~angin juli~
Beberapa hari lalu, saya sakit. Senin dan Selasa, saya memutuskan untuk bermalas-malasan di rumah saya yang sudah lama ditinggalkan. Rumah tempat saya besar dan berproses. Mungkin, beberapa bulan terakhir ini saya rajin pulang ke rumah, hanya untuk menengok keluarga dan pergi bersama teman-teman yang mungkin hanya ditemui beberapa bulan sekali. Dan karena pertemuan-pertemuan dengan teman yang jarang itu, saya kadang menemui mereka di dunia maya.

Bertegur sapa hingga pagi, membicarakan hal-hal yang kata orang mungkin tak penting, tapi bagi saya itu adalah warna lain menjelang pagi.

Dan hasilnya, saya sakit. Tidak parah, tapi cukup untuk membuat saya sendu selama beberapa hari. Puncaknya, awal Juli kemarin itu. Saya izin pada pimpinan kantor, dan memutuskan untuk beristirahat di rumah. Cuaca Cipageran kala saya sakit rupanya sedang bersahabat. Awan berarak, semarak. Angin kemarau menghembus ke jendela ruangan kontemplasi saya dan gemerisik pepohonan kering mengindahkan semuanya.

Di tengah-tengah pikiran yang carut-marut oleh entah apa, saya menemukan setitik ketenangan ketika suara gemerisik pohon kering itu beradu dengan lagu-lagu di laptop adik, yang lagunya langsung saya impor dari harddisk eksternal. Harddisk yang tidak begitu besar kapasitasnya, tapi cukup untuk membuang jauh rasa haus kala saya ingin dengar musik saya sendiri. Maka, beberapa lagu yang menambah suasana awal Juli jadi lebih sendu ini, muncul samar-samar, kadang bersamaan dengan angin yang memasuki jendela.

Berhubung kalau saya bermonolog terus-terusan, akan makin panjang, jadi saya akan tampilkan sepuluh lagu yang lekat dengan angin sore awal Juli saya. Angin kemarau, angin sakit tapi sendu. Dengan durasi yang hanya empatpuluhtiga menit lewat empatpuluh detik saja, mixtape ini dapat menyalurkan kesenduan saya pada kalian semua.

  1. Mazzy Star - Fade Into You
  2. Arctic Monkeys - 505
  3. Alice in Chains - Nutshell
  4. Coldplay - Sparks
  5. Copeland - The Day I Lost My Voice (The Suitcase Song)
  6. Cascade - She Pretend
  7. Nirvana - Oh Me
  8. The Trees and The Wild - Noble Savage
  9. Wild Nothing - Nocturne
  10. The Swell Season - In These Arms

Selamat menikmati dan mengunduhnya!

***

i wanna hold the hands inside you / in my imagination you waiting lying on your side 
with your hands between your thighs / we chase misprinted lies, we face the path of time / but 
i promise you this, i'll always look out for you, oh that's what i'll do / you see love is a drink 
that goes straight to my head. and time is a lover and i'm caught in her stead / she talks like winds, i wrote her name in the line of my stories / i can't see, the end of me. my whole expanse, i cannot see. i formulate infinity, stored deep inside me / move inside your skin i don't mind dying, down to your heart inside and out / i know where to find you, i know where you go and i just want to let you know. oh you can have me, you can have me all / maybe i was born to hold you in these arms...


Wednesday, July 2, 2014

Review Album Baru OK|Karaoke - Sinusoid (2014)


Setelah lama tidak mengulas karya-karya musisi lokal, saya akhirnya mencoba untuk mengulasnya lagi. Dan kali ini, saya memutuskan untuk memindahkan ulasan yang ada di sana ke sini saja. Karena di blog yang lama itu dulunya kan memang campur-campur, banyak mengulas buku dan musik lokal, tapi akhirnya nyerempet juga ke blog travel, yang isinya membahas tentang jalan-jalan tak sengaja dan penemuan-penemuan saya terhadap beberapa lokasi indah dan sepi, cocok untuk berkontemplasi. Hahaha.

Blog lama yang akhirnya malah jadi blog travel writing itu, sudah lama dibiarkan menjadi blog yang cukup tendensius. Penuh paksaan dan passion terhadap perjalanan. Jadi, tempat bagi ulasan-ulasan buku dan musik lokal, sudah dilempar jauh ke dasar laut. Makanya, di blog "burung hutan" ini saya mengangkat ulasan-ulasan di dasar laut untuk kembali ke permukaan.

Oke, mungkin segitu aja kali ya basa-basinya.

OK|Karaoke - Sinusoid
Nah, posting pertama di bulan Juli, sekaligus kembalinya ulasan-ulasan di si owly ini, saya mau mengulas karya band lokal asal Semarang, yang ternyata masih ada hubungannya sama Klepto Opera juga (kalau lihat dari halaman "salute"). Yah saya cuma kaget aja sih, ternyata jaringannya para pemusik independen ini memang guyub banget ya. :)

Band ini namanya OK|Karaoke. Jujur saja, saya baru dengar lho. Ya mungkin karena saya memang sudah jarang dengar band-band lokal kecuali ada teman yang merekomendasikan. Kebetulan, di salah satu sosial media, seorang teman membagikan informasi pemesanan album terbaru OK Karaoke yang bertajuk Sinusoid. Waktu itu, saya tak benar-benar memperhatikan. Tapi, saya coba mencari OK Karaoke di google, dengan kata kunci yang tepat dan mendapatkan akun soundcloud milik mereka.

Kebetulan juga, akhir-akhir ini saya lagi suka mendengarkan Wild Nothing, yang rada-rada indie rock apa dream pop atau apalah gitu (buat saya sih nggak penting-penting amat lah penyebutan genre, saya sih telan apa saja). Ini juga rekomendasi dari teman, dan saya nggak bisa move on dari lagu-lagu Wild Nothing. Eh, pas mampir soundcloud OK Karaoke, ternyata nggak ada lagunya. Hiks. Tapi, saya membatin, lihat dari gaya-gayanya, pasti mirip-mirip deh ini sama Wild Nothing. Haha! *maksa*

Jadilah, saya langsung pesan ke teman saya di sosial media itu, namanya mas Jiwa Singa. Kebetulan sedang ada rezeki juga, dan kebetulan mau pulang ke Cimahi. Jadi, CD-nya langsung saya pesan dan minta dikirimkan ke alamat rumah Cimahi aja biar nggak nunggu lama.


Sajak Untuk Perempuan Yang Menunggu Kucing Bulan


gambar dari sini

Teruntuk Moira...

Moira, belum genap duapuluhempat jam aku sampai di ibukota
yang panas, ganas, dan penuh debu pekat
Tapi, aku lagi kembali teringat
pada senyummu saat temu di sebuah senja

Aku yang tak sadar, atau memang dungu
sebab kita sudah sejak dulu beradu pandang
sejak kau masih kanak, dan kita bermain di padang
yang tiap sore dipenuhi anak-anak desa kau dan aku

Moira, aku tahu ini hari aku tak akan bisa tenang
kalau tak melihat senyummu yang menyipit
bagai bulan sabit
di penghujung bulan Juni, kala cuaca menegang

Senja yang sendu waktu itu
kau duduk sendiri di tepi kursi
Aku menanyaimu yang termenung sendiri
Kau jawab, "Aku sedang tunggu kucing bulanku."

Kucing bulan itu, apakah mungkin menjadi aku, Moira?
Ataukah pada malam-malam yang tentu, 
kucing itu benar-benar tiba
dan mengeong di kakimu yang hangat oleh beludru biru
sebelum kau menyongsongnya, dan kau peluk pulang?

Bisakah Moira? Kita temu lagi?
Di beranda itu lagi, sambil menunggui kau bicara tentang
hal-hal yang menurutmu tak ada, tapi sebenarnya selalu ada
di sisimu, menemanimu duduk setiap petang
dari sore, menuju malam yang sepi
di sebuah tepi 

Biarkan aku Moira yang menemanimu
jadi kucing bulan
setiap pulang dari ibukota
biarkan aku
mengeong mengendap-endap ke sisi jendela kamarmu
dan biarkan aku Moira
berada di bawah selimutmu, menemanimu...

Bolehkah Moira?

dari aku, yang selalu
mengagumi cericit masam
dan gerutumu
tentang kucing bulan yang pulang malam...

---

Larung Alir
Jakarta, 2 Juli 2014


Tuesday, July 1, 2014

Pada Malam Dimana Bulan Setengah Terjaga


Ada yang menggantung bulatan putih itu di langit, seperti spekulasi tentang bumi yang ditaruh di pundak Atlas, atau dibawa berjalan oleh kura-kura raksasa.

Itu adalah hal-hal yang diamini sampai akhirnya kura-kura itu terlelap, dan orang-orang mengenal apa yang disebut dengan rotasi. Semua spekulasi itu hilang, dan pelan-pelan, orang melupakan bentuk-bentuk fisis dari tiap benda-benda langit yang selalu dipertanyakan eksistensinya. Pelan-pelan, orang tidak memperhatikan benda-benda langit yang sebenarnya telah menemani mereka sepanjang hidup. Menjaga keseimbangan tempat mereka berpijak pada tanah, tanpa harus keluar dari rotasi poros yang kencangnya minta ampun.

Bulan putih di langit, tak punya mata dan tak punya hidup. Tetapi ia berjalan mantap. Dengan rotasi dan putarannya sendiri pada poros yang ada. Ia menemani setiap malam dengan pantulan cahaya dari matahari, yang jauhnya berjuta-juta kilometer. Meski ia tak punya hidup, tapi sesungguhnya ia memberi orang lain kehidupan.

Kehidupan bagi nelayan yang butuh pasang. Atau,
bagi para kekasih yang gemar duduk di tepian taman pada suatu malam.

Mereka yang membayangkan, apa bulan menghangatkan seperti matahari yang menghabiskan separuh hari?

Di tiap malam-malam manusia, bulatan pucat itu sebenarnya selalu ada. Sama saja seperti matahari yang berkuasa mengambil separuh hari, di tengah hiruk-pikuk kehidupan manusia. Tanpa memaksa, matahari selalu ditemani.

Tapi bulatan pucat itu?

Ia selalu sendiri. Manusia lelap.
Bulatan pucat yang kesepian, kala ia menjaga manusia yang lelap di tengah dunianya.
Bulan ingin melanglang, tanpa berputar-putar di sana, tapi ia tak tega.

Jika ia tega, mungkin manusia tak lagi dapat lelap.
Mungkin hancur sekali. Hiruk-pikuk manusia akan ada setiap hari dan setiap malam, kala bulan hilang dan melanglang lari dari poros.

Seperti yang aku percayai ketika Hartdegen melaju ke tahun 2037, di mana manusia tak lagi dapat lelap, karena bulan yang kesepian, ingin menemani bumi dari dekat.

Dekat sekali, hingga manusia berlarian.

Ketakutan...

Cipageran, 1 Juli 2014
log 22.11