June 2014

Monday, June 30, 2014

Baru dari Forum Buku Kaskus66 - Serapium Punya Cerita


Berkah Ramadhan.

Memasuki bulan puasa dan memasuki bulan Juli yang sedikit dingin, menyisakan ampas kopi di tiap malam saya, rupanya kabar membahagiakan datang. Proyek saya bersama ke-10 orang lainnya di Forum Buku Kaskus (66), akhirnya selesai juga diterbitkan secara independen melalui situs penerbitan, Nulisbuku.

Antologi ini memuat sebelas karya penghuni forum buku Kaskus, yang sudah dimoderasi dan didiskusikan sedemikian rupa. Jadi, selain doyan membaca, ternyata kawan-kawan forum buku Kaskus juga benar-benar doyan menulis. Hehe. Nah, setelah melalui diskusi panjang, proofread lewat sesepuh Kaskus66, dan apresiasi oleh para "enthu" di forum buku, sebelas orang ini membereskan naskah masing-masing secara final. Untuk pemilihan sampul depan dan juga isi kumcer selain cerpen itu sendiri juga didiskusikan melalui grup terselubung. Hehehe.

Saturday, June 28, 2014

Serapium Punya Cerita


Beli di sini: Nulisbuku

[judul] Serapium Punya Cerita
[penerbit] Nulisbuku
[jenis] Antologi Cerpen
[terbit] 28 Juni 2014
[tebal] 174 halaman

Serapium Punya Cerita berisi cerpen cerpen dari 11 orang dengan tema yang berbeda beda.

"Sebuah jendela di sayap kiri rumah terbuka dan seorang gadis muncul sembari melambaikan tangannya. Rambut merah menyalanya berkibar menutupi sebagian wajahnya yang putih terawat. Aku segera mengubah arah haluanku ke arahnya." - The Chronicle of Shapeshifter: Hiren si Licik

"Pernah terlambat jatuh cinta? Begini. Kau punya hubungan dekat dengan lawan jenis. Semua berjalan lancar karena  kalian cocok satu sama lain. Kalian berbagi pengalaman hidup, melakukan kegiatan menyenangkan bersama dan bertukar pandangan tentang berbagai hal." - Jika Cinta Punya Masa Berlaku

"Matanya yang merah menyala menatap langsung ke mata mereka. Sosoknya besar dan tinggi menjulang, dengan sisik hitam yang berkilat tertimpa sinar rembulan di atas langit. Ia memiliki moncong dan leher yang panjang." - Harta Yang Paling Berharga

Tuesday, June 24, 2014

Malam Tuan


Malam tuan, secangkir kopi telah tersaji di meja. Kopi masih wangi, Tuan. Uap-uapnya masih berhembus, mengikuti kemana arah angin membawa rindu. Aku masih terduduk lesu, di beranda dan menunggu kopiku disesap sekejap. Kemana engkau tuan? Tidakkah kau ingat kita berjanji untuk minum kopi bersama sambil menghamba senja?

Dua hari ini, perutku hanya isi kopi. Aku masih duduk di beranda. Kopiku telah tandas, cintaku kandas. Wajah Tuan yang bermata teduh, tak kulihat datang menghambur pada hatiku yang rapuh. Kubiarkan asam dan getir kopi ini memenuhi rongga lambung hingga rongga rasa yang kian terlupa. Aku sudah lelah, dirimu alpa.

Malam tuan, secangkir kopi terhidang kembali. Di beranda ini, wajahku kian lusuh. Sedikit kretek kubiarkan menemani, menggantikan posisi bayanganmu yang kian lari. Tak apa, lebih baik aku berkawan sepi bersama kopi. Tak apa Tuan, kau boleh pergi, kejarlah apa yang kau kehendaki.

Malam tuan, nyaris aku mati. Perutku sudah kembung begini. Dimana kau Tuan? Lupakah kau jalan pulang? Ah, aku nyaris kehabisan kopi. Sisa senja habis di beranda, demi menanti dia yang tak kunjung tiba. Ya sudahlah Tuan, kopiku telah habis, mimpiku telah terkikis. Pergi sajalah Tuan, lebih baik aku berkawan sepi, mencandu kopi, melankoli.

Jakarta, 31 Januari 2013
bersama kopi yang melankoli... 

Transisi


Ini waktu yang kutunggu. Tak sekalipun inginku, melewati hidup dengan sia-sia dan tanpa makna. Ini waktu yang dinanti, karena aku hanya berteman sepi.

Setiap detik, kunikmati waktu mencari sesosok semu. Dalam sebuah peralihan, dalam transisi. Kubiarkan aku melarung dalam ketidakpastian. Satu-satunya teman hanya sepi dan masa transisi berhias kuning kelabu, mungkin sedikit jingga. Pada sore, pada sepertiga hari menuju bias petang dalam kurun waktu sekali sehari.

“Bagaimana bahagiamu, kemarin?” tanyamu pada suatu hari, memecah sepi yang telah kurasa pasti.

Aku tak menjawab, hanya tersenyum getir. Sisa-sisa hidup yang tercerabut mulai membias, larung lagi dan kandas lagi dalam satu inci hari, yang tak mau sia-sia terlewati.

Tiba-tiba, aku merasa perlu bicara, tentang bahagia, tentang semu yang kurasa ada.

“Bahagiaku tak ada bedanya. Hanya seperti sekarang, seperti saat ini. Kita duduk berdua dengan segelas kopi dinikmati bersama. Kau diam dan jangan banyak bicara. Tak henti memandang lepas kepada gulungan ombak yang berurai semburat jingga,” kataku sembari menunjuk ke arah lepas pantai yang tak pernah kutemui sisi satunya itu. Hanya ada kosong, hanya ada sepi.

Satu inci saja, satu detik saja, jangan ganggu hariku yang akan bahagia. Menyaksikan opera matahari yang ditelan sunyi. Mengubah jingga menjadi kelabu, berhias tirai bintang. Tak cukupkah kau untuk diam sejenak? Diam sajalah barang limabelas atau duapuluh menit. Temani aku di sisi kiri, dan aku di sisi kanan dengan bayangan. Aku perlu waktu, perlu hati untuk memahami bagaimana masa transisi. Sore bagiku, sebuah peralihan. Transisi hari yang hanya dapat dinikmati satu kali.

“Kau kan bisa melihat matahari terbit. Transisi itu sama saja,” katamu lagi.

Aku ingin memarahimu yang terus memaksaku menerima persepsimu tentang transisi, tentang sore, tentang semburat jingga yang tak bisa didapatkan dua kali dalam satu hari. Apakah kau tak tahu bedanya malam dengan pagi? Apakah kau tak tahu bedanya matahari pada pagi elegi atau senja hari?

“Kurasa kau lebih baik diam. Ini waktu yang sakral. Tak ada lagi yang begini di esok hari, mungkin saja. Jika jingga itu bisa kukerat, mungkin akan kulakukan dan kusimpan dalam kotak kaca yang rapat. Tapi, nyatanya aku tak bisa dan aku hanya ingin menikmatinya dengan istimewa,” kataku menjelaskan dengan sedikit emosi. Sudah cukuplah penjelasanku mengenai semunya hari. Semu hari ini hanya terbayar dengan bahagianya transisi matahari dalam satu hari.

Kau pun membisu, masih bertanya-tanya tentang aku yang begitu mengagumi masa transisi. Seakan-akan aku pasti mati esok pagi, aku tak akan melewatkan setiap detik menuju sore dan senja hari yang penuh teka-teki. Aku sendiri bahkan tak pernah tahu, kemana matahari tertelan bumi. Meski ilmu pasti dapat menggiringku pada jawaban yang paling hakiki, aku sendiri tak pernah ingin mengetahui.

Yang aku inginkan hanya satu, dapat menikmati transisi bahagia yang cuma satu kali sehari. Itu saja…



Pupan, 07 Juli 2012
11:44 PM, pada dialog dini hari

Cerpen: Hari Ini Tak Ada Dosa


Semua kita butuh jeda. Kita bukan kuda. Kita bukan kerbau yang tahan dibebat tali kekang. Dan dengan jeda, akan berkurang satu dosa. Jeda untuk meraba keping-keping dosa yang kadang tak terasa.
Semua perlu jeda, agar tak menabrak penyangga. Agar selalu mendapat sangga. Agar berkurang satu dosa dalam setiap renungan per kata. Jeda, seperti koma yang menghentikan untaian kata agar tak terasa hambar didengar dan dilihat mata. Aku rasa, semua butuh jeda, termasuk kita.

Aku berpikir, kita terlalu lama berkubang dalam dosa. Semu dalam cinta. Aku pikir, jiwa ini sudah tak lagi mampu menahan rindu yang menyeruak mesra dan menjelma untaian kata menggoda. Tak sedikit dosa yang kita punya, yang kita bentuk dari tiap rindu tercipta. Ini yang perlu dijeda dan ditahan sampai beberapa masa. Ketika waktu yang tepat tiba, maka jeda itu akan terlepas dan berubah menjadi cinta dan kita yang nyata. Selama ini, rindu yang mencekik leher dan juga hatiku hanyalah sebentuk perasaan maya. Tak bisa utuh aku memilikinya, hanya bisa ku sentuh dalam bayangan maya. Untuk itu, rindu dan dosa perlu dijeda. Apakah kita harus mencipta jeda?

Aku rasa, tak ada yang perlu ditanya atau bertanya. Semua ini jelas menggerogoti jiwa. Pelan-pelan tanpa bisa tahan kuasa. Rindu begitu kuat membebat, sampai hati merasa tersekat. Aku tak ingin disiksa rindu, aku tak ingin disiksa dosa. Hari ini tak ada dosa, dan hari ini kita memulai jeda.

/* stock lama, ceritanya pindahan blog
/* sapu-sapu