May 2014

Tuesday, May 27, 2014

Better Man


*pssst, semacam curhat, tapi bukan deng. fiksi biasa aja kok.

***
Better Man
Oleh: Ayu Welirang


Waitin', watchin' the clock, it's four o'clock, it's got to stop
Tell him, take no more, she practices her speech

Sudah tidak terhitung, berapa kali aku melirik ke jam meja sambil memutar lagu Pearl Jam yang beberapa hari terakhir aku putar di telepon genggam busuk milikku satu-satunya. Jam di atas meja mungil di samping kasur yang sudah tak terasa lagi, apakah kapuk atau kasur batu. Selesai menyeterika, lalu melipat pakaianku dan pakaiannya, aku cukup lelah. Aku ingin ditemani olehnya, namun sampai jam 4 pagi, dia belum kembali. Ku pikir, ya sudahlah, aku tidak boleh menjadi perempuan yang egois. Mungkin dia memang harus bekerja semalaman sampai menjelang pagi, mencari nafkah untukku dan masa depan kami berdua. Aku tidak  bisa tidur. Aku lelah dan aku tidak ingin tertidur karena menjaga pintu agar dia dapat masuk ketika pulang. Kalau aku tertidur, aku khawatir dia akan tidur di luar atau di jalanan. 

Sayup-sayup, di tengah kesadaran antara tertidur dan tidak, aku mendengar langkah kaki menaiki tangga kontrakan yang seperti rumah susun ini. Sebuah kontrakan bersusun yang tidak bisa disebut rumah susun, di pinggiran kota Jakarta. Langkah kaki itu cukup pelan, sabar, dan terkesan berhati-hati. Itu dia. Dia pulang. Aku sedikit menitikkan air mata dan aku memaksa diriku untuk berpura-pura tertidur, memaksa diriku untuk tegar, telah tegar menunggunya pulang. Di telingaku masih tertempel headset dari telepon genggamku yang juga masih memutar satu lagu yang daritadi ku putar. Aku masih menangis. Tangisanku samar, karena lampu bilik depan yang kecil dan berfungsi untuk ruang tamu, aku matikan, sehingga hanya menyisakan lampu yang ada di tengah bilik antara dapur seadanya dan kamarku yang hanya sebatas papan saja dengan dapur itu. Aku tidur menghadap tembok kamar, memunggungi dirinya.

As he opens the door, she rolls over...
Pretends to sleep as he looks her over
She lies and says she's in love with him, can't find a better man...
She dreams in color, she dreams in red, can't find a better man...

Aku terisak dan dia mendengar tangisku yang terputus-putus dengan nafas lelahku. Entah dia melakukan apa, aku tidak melihatnya. Suara kompor dinyalakan. Rupanya, dia memasak air hangat. Dari suara, aku bisa tahu kalau dia menuangkan air, mengaduk. Wangi kopi hitam pekat pun tercium. Masih dalam keadaan menangis terisak, ada yang memeluk diriku dari belakang. Memeluk dan bernafas lelah, sama sepertiku. Mencium bahuku dan berbisik. Bisikan menenangkan.

Monday, May 26, 2014

[Media Archive] Ulasan 7 Divisi oleh Agita Violy - Penulis Antologi Rumah Adalah Di Mana Pun


7 Divisi di Menuju Jauh



... 7 hari. 7 pribadi. 7 alasan. 7 kemampuan:
7 Divisi ...

Judul : 7 Divisi
Pengarang : Ayu Welirang
Penerbit : Grasindo
Tahun Terbit : Cet. 1; 2014
Tebal Buku : 202 hlm. ; 20 cm
Genre : Fiksi – Petualangan, Misteri

Novel 7 Divisi tulisan Ayu Welirang ini merupakan salah satu pemenang lomba PSA (Publisher Searching for Authors). Awalnya saya mengira bahwa novel ini terinspirasi dari 5 Cm, tentang lima orang sahabat yang mendadak naik gunung. Habis, judulnya sama-sama pakai angka. Covernya juga bergambar gunung dan arah mata angin. Namun saya teringat kalimat, "Don't judge a book from its cover", jadilah saya membeli dan membacanya dengan rekor tiga jam tanpa nafas saja.

Pembuka novel diawali dengan latar belakang masing-masing tokoh, kemudian satu per satu diundang oleh Lembaga misterius untuk melakukan ekspedisi di Gunung Arcawana, Jawa Timur. Mereka adalah Ichsan (Divisi Mountaineering), Gitta (Divisi Climbing), Tom (Divisi Penyeberangan), Ambar (Divisi Survival), Dom (Divisi Navigasi), Bima (Divisi Shelter) dan Salman (Divisi P3K). Kebayang nggak, kalau petualangan pendakian mereka ini safety procedure banget? Berbeda dengan saya dan pendaki kebanyakan (sebut saja Pendaki 5 Cm) yang naik gunung dengan perlengkapan seadanya. Yang penting bisa sampai puncak, foto-foto, haha-hihi, terus pulang. 7 Divisi membuat saya tersadar, semakin mereka terlatih dalam pendakian, justru semakin mementingkan keselamatan jiwa mereka.