Skip to main content

Quality Time Keluarga dan Hiburan Intelektual

Mungkin sudah lama rasanya saya tidak mengalami waktu-waktu berkualitas bersama keluarga. Kehidupan mencari sesendok berlian untuk makan di belantara ibukota yang ganas, telah menumpulkan segenap keinginan saya untuk pulang ke rumah. Padahal, mau ke mana lagi kaki berlari, ketika Jakarta telah menggerus nalar dan perasaan saya dan mengubah saya menjadi robot? 

Datang waktu, di mana doa-doa saya dikabulkan. Resign yang tidak pernah terjawab--mungkin karena bosnya takut ditagih janji dan gaji--hingga saya memutuskan kabur langsung dari pekerjaan. Mengapa? Padahal, banyak yang berkata bahwa bekerja di tempat saya yang terakhir itu sudah jadi pekerjaan paling menyenangkan. Tapi, buat saya sih tidak begitu. Duapuluhempat jam berkutat di kantor, makan tidur dan mencuci di kantor, sampai-sampai tidur saya berubah dari malam ke pagi, membuat saya lelah. Apalagi, di Jakarta tidak ada teman. Rasanya sudah macam Edward Scissorhand di kastil es. Sendirian dan menjadi dingin, bahkan mati rasa.

Maka, setelah resign saya pun pulang ke rumah, Cimahi yang sejuk. Cimahi yang sehari-hari adalah tawa, dan gosip Ibu-Ibu tetangga. Cimahi yang bisa membuat saya sedikit menjadi manusia normal--meski tetap tertidur pasca dua pagi terlewati. Lagipula, di sini semuanya serba menyenangkan. Tak perlu bermacet-macetan, tak perlu mengalami penuaan dini di jalanan, bahkan tak perlu mengantri di warteg untuk sekedar menebus rasa lapar. Yang saya cintai dari Cimahi adalah, meski tempat ini pelan-pelan mulai ditinggalkan para pendahulu dan teman-teman sebaya saya, tapi di tempat inilah masih berdiri rumah yang sebenar-benarnya. Ya begitulah, rumah masa kecil yang kini mulai dipadati pendatang baru, dan dipadati perumahan baru mulai dari kaki gunung Burangrang sampai ke Cipageran.

Seperti Minggu pagi ini. Begitu banyak hal sederhana yang menyenangkan. Minggu pagi yang mendung, yang membuat orang-orang malas bangun, kecuali Ibu saya. Sepagian, Ibu sudah berkutat di dapur, memasak sarapan bagi penghuni rumah termasuk saya. Sementara Bapak, beliau sudah terbangun dan membuka komputer personal milik adik saya. Bapak sedang mengusahakan penghasilan tambahan, karena adik saya sudah bersiap masuk kuliah dan perlu biaya ekstra untuk mewujudkannya. Dan saya? Saya terbangun pukul sebelas siang, karena sebelumnya baru tertidur pukul empat pagi setelah mengerjakan--entah apa pula yang saya kerjakan. 

Begitu nikmatnya bangun kali ini. Setelah mencuci muka dan menyeduh kopi hitam favorit--yang bubuknya saya curi dari teman--saya pun duduk di meja makan. Saya lupa satu hal. Ibadah membaca koran Minggu belum dilakukan, maka saya pun menitipkan uang pada Bapak yang hendak keluar, agar sekalian membeli koran Minggu. Bapak lantas kembali, dengan koran Pikiran Rakyat dan Kompas di tangan.

Setelah sarapan bersama yang seadanya tapi nikmat--apalagi karena ada petai di satu piring besar dan sambal buatan Ibu yang paling nikmat sekompleks Cipageran, saya pun menuju lantai atas untuk melanjutkan ibadah Minggu.

Kegiatan berikutnya adalah, saya, adik, dan Ibu secara bergantian mengisi TTS edisi hari Minggu ini, dari koran yang sudah dibeli tadi pagi, setelah sebelumnya saya menghabiskan kolom seni di koran Kompas yang memunculkan cerpen Seno Gumira dan puisi Joko Pinurbo. Menurut saya secara pribadi--dan diamini oleh Ibu--keluarga kami memang cukup aneh. Jika kegiatan keluarga lain di hari Minggu adalah berjalan-jalan ke Bandung kota atau menghabiskan uang di pusat perbelanjaan, naik kuda di De' Ranch dan segelintir hiburan lain yang tidak ada di Cimahi, maka keluarga saya berbeda. Waktu-waktu berkualitas keluarga kami adalah membaca koran pagi dan mengisi TTS. Bahkan, adik saya menyempatkan diri untuk googling bahasa Jepang ketika di dalam kolom mendatar ada beberapa jawaban yang mengharuskan kami menjawab dalam bahasa Jepang. Ah, sungguh aneh memang. Apa masih ada remaja seusia adik saya yang rela membuka kamus bahasa Jepang hanya untuk menjawab TTS?

Setelah TTS selesai diisi, adik saya malah beralih ke halaman Sudoku koran Pikiran Rakyat. Sudoku adalah teka-teki yang lebih sulit lagi daripada TTS, sebab di dalam sana, kita harus memikirkan probabilitas angka-angka dan perulangannya. Mendatar, menurun, bahkan yang satu ruas kotak kecil di dalam kotak besar. Saya ingat teman saya pernah menegur saya yang kala itu bermain sudoku di dalam telepon genggam. Ia berkata, "Ih, ngapain sih nggak ada kerjaan gitu main sudoku."

Saya tidak menggubrisnya kala itu dan terus berkutat di dalam sudoku sampai saya menang terus dan bisa beralih ke level "Hard". Bagi sebagian orang, mungkin bermain sudoku sebagai hiburan stress malah hanya menambah tingkat stress menjadi lebih tinggi. Tapi, tidak bagi saya dan adik saya. Sudoku adalah permainan yang menyenangkan.

Seperti itulah, hari Minggu ini dilewati tanpa pergi ke mana-mana. Bahkan, sambil menulis ini, saya belum sempat mandi. Ibu saya sudah merongrong di lantai bawah, begitu cerewetnya. Maka, dengan berat hati, saya harus mengakhiri posting siang ini, untuk menyapa air dingin yang muncul secara alami di Cimahi.

Selamat siang! Selamat menangisi akhir pekan!


Cipageran-Cimahi, 16 November 2014

Comments

  1. Cerpen-nya SGA hari ini kabarnya bagus, ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. lumayan sih Ngga... Tapi, tadi menyimak beberapa komentar, malah ada yang bilang kalau itu lebih mirip pidato kebudayaan. Heu. Aku malah lebih senang baca puisinya Jokpin di halaman belakangnya.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…