Quality Time Keluarga dan Hiburan Intelektual

Sunday, November 16, 2014

Quality Time Keluarga dan Hiburan Intelektual


Mungkin sudah lama rasanya saya tidak mengalami waktu-waktu berkualitas bersama keluarga. Kehidupan mencari sesendok berlian untuk makan di belantara ibukota yang ganas, telah menumpulkan segenap keinginan saya untuk pulang ke rumah. Padahal, mau ke mana lagi kaki berlari, ketika Jakarta telah menggerus nalar dan perasaan saya dan mengubah saya menjadi robot? 

Datang waktu, di mana doa-doa saya dikabulkan. Resign yang tidak pernah terjawab--mungkin karena bosnya takut ditagih janji dan gaji--hingga saya memutuskan kabur langsung dari pekerjaan. Mengapa? Padahal, banyak yang berkata bahwa bekerja di tempat saya yang terakhir itu sudah jadi pekerjaan paling menyenangkan. Tapi, buat saya sih tidak begitu. Duapuluhempat jam berkutat di kantor, makan tidur dan mencuci di kantor, sampai-sampai tidur saya berubah dari malam ke pagi, membuat saya lelah. Apalagi, di Jakarta tidak ada teman. Rasanya sudah macam Edward Scissorhand di kastil es. Sendirian dan menjadi dingin, bahkan mati rasa.

Maka, setelah resign saya pun pulang ke rumah, Cimahi yang sejuk. Cimahi yang sehari-hari adalah tawa, dan gosip Ibu-Ibu tetangga. Cimahi yang bisa membuat saya sedikit menjadi manusia normal--meski tetap tertidur pasca dua pagi terlewati. Lagipula, di sini semuanya serba menyenangkan. Tak perlu bermacet-macetan, tak perlu mengalami penuaan dini di jalanan, bahkan tak perlu mengantri di warteg untuk sekedar menebus rasa lapar. Yang saya cintai dari Cimahi adalah, meski tempat ini pelan-pelan mulai ditinggalkan para pendahulu dan teman-teman sebaya saya, tapi di tempat inilah masih berdiri rumah yang sebenar-benarnya. Ya begitulah, rumah masa kecil yang kini mulai dipadati pendatang baru, dan dipadati perumahan baru mulai dari kaki gunung Burangrang sampai ke Cipageran.

Seperti Minggu pagi ini. Begitu banyak hal sederhana yang menyenangkan. Minggu pagi yang mendung, yang membuat orang-orang malas bangun, kecuali Ibu saya. Sepagian, Ibu sudah berkutat di dapur, memasak sarapan bagi penghuni rumah termasuk saya. Sementara Bapak, beliau sudah terbangun dan membuka komputer personal milik adik saya. Bapak sedang mengusahakan penghasilan tambahan, karena adik saya sudah bersiap masuk kuliah dan perlu biaya ekstra untuk mewujudkannya. Dan saya? Saya terbangun pukul sebelas siang, karena sebelumnya baru tertidur pukul empat pagi setelah mengerjakan--entah apa pula yang saya kerjakan. 

Begitu nikmatnya bangun kali ini. Setelah mencuci muka dan menyeduh kopi hitam favorit--yang bubuknya saya curi dari teman--saya pun duduk di meja makan. Saya lupa satu hal. Ibadah membaca koran Minggu belum dilakukan, maka saya pun menitipkan uang pada Bapak yang hendak keluar, agar sekalian membeli koran Minggu. Bapak lantas kembali, dengan koran Pikiran Rakyat dan Kompas di tangan.

Setelah sarapan bersama yang seadanya tapi nikmat--apalagi karena ada petai di satu piring besar dan sambal buatan Ibu yang paling nikmat sekompleks Cipageran, saya pun menuju lantai atas untuk melanjutkan ibadah Minggu.

Kegiatan berikutnya adalah, saya, adik, dan Ibu secara bergantian mengisi TTS edisi hari Minggu ini, dari koran yang sudah dibeli tadi pagi, setelah sebelumnya saya menghabiskan kolom seni di koran Kompas yang memunculkan cerpen Seno Gumira dan puisi Joko Pinurbo. Menurut saya secara pribadi--dan diamini oleh Ibu--keluarga kami memang cukup aneh. Jika kegiatan keluarga lain di hari Minggu adalah berjalan-jalan ke Bandung kota atau menghabiskan uang di pusat perbelanjaan, naik kuda di De' Ranch dan segelintir hiburan lain yang tidak ada di Cimahi, maka keluarga saya berbeda. Waktu-waktu berkualitas keluarga kami adalah membaca koran pagi dan mengisi TTS. Bahkan, adik saya menyempatkan diri untuk googling bahasa Jepang ketika di dalam kolom mendatar ada beberapa jawaban yang mengharuskan kami menjawab dalam bahasa Jepang. Ah, sungguh aneh memang. Apa masih ada remaja seusia adik saya yang rela membuka kamus bahasa Jepang hanya untuk menjawab TTS?

Setelah TTS selesai diisi, adik saya malah beralih ke halaman Sudoku koran Pikiran Rakyat. Sudoku adalah teka-teki yang lebih sulit lagi daripada TTS, sebab di dalam sana, kita harus memikirkan probabilitas angka-angka dan perulangannya. Mendatar, menurun, bahkan yang satu ruas kotak kecil di dalam kotak besar. Saya ingat teman saya pernah menegur saya yang kala itu bermain sudoku di dalam telepon genggam. Ia berkata, "Ih, ngapain sih nggak ada kerjaan gitu main sudoku."

Saya tidak menggubrisnya kala itu dan terus berkutat di dalam sudoku sampai saya menang terus dan bisa beralih ke level "Hard". Bagi sebagian orang, mungkin bermain sudoku sebagai hiburan stress malah hanya menambah tingkat stress menjadi lebih tinggi. Tapi, tidak bagi saya dan adik saya. Sudoku adalah permainan yang menyenangkan.

Seperti itulah, hari Minggu ini dilewati tanpa pergi ke mana-mana. Bahkan, sambil menulis ini, saya belum sempat mandi. Ibu saya sudah merongrong di lantai bawah, begitu cerewetnya. Maka, dengan berat hati, saya harus mengakhiri posting siang ini, untuk menyapa air dingin yang muncul secara alami di Cimahi.

Selamat siang! Selamat menangisi akhir pekan!


Cipageran-Cimahi, 16 November 2014

2 comments :

  1. Cerpen-nya SGA hari ini kabarnya bagus, ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. lumayan sih Ngga... Tapi, tadi menyimak beberapa komentar, malah ada yang bilang kalau itu lebih mirip pidato kebudayaan. Heu. Aku malah lebih senang baca puisinya Jokpin di halaman belakangnya.

      Delete