Ketika Buku Konvensional Tak Lagi Jadi Teman

images source from here

Saya mengingat suatu hari pada saat saya duduk sendiri di pojok kereta rel listrik, sebuah transportasi publik yang menghubungkan saya dengan begitu efisien, dari Jakarta menuju Bogor. Pada saat itu, kondisi kereta yang saya tumpangi tidak begitu penuh, namun bisa dibilang cukup padat untuk ukuran siang hari. Saya terduduk di kursi dalam gerbong wanita, di pojok yang dekat dengan sambungan kereta alias bordes. Di sana, saya bersandar.

Beberapa saat kemudian, untuk mengatasi kejenuhan yang melanda, saya mengeluarkan sebuah buku yang bisa dibilang sangat tebal untuk ukuran 'baca santai di dalam kereta'. Karena memang saya ingin menamatkan buku yang asyik itu, maka buku itu sedang mendapat giliran untuk dibawa kemana-mana. Beberapa menit membaca dan membolak-balik halaman, rupanya saya diperhatikan orang. Entah apakah saya yang terlalu percaya diri, entah memang orang-orang melihat saya sebagai alien, saya tak tahu pasti sebab saya membagi perhatian saya pada buku dan pada sedikit lirikan mata saya ke orang-orang di gerbong wanita itu.

Jika alien memang ada, dan spesiesnya membaur di masyarakat, mungkin mereka menganggap saya adalah salah satunya. Adalah tabu, ihwal membaca buku dewasa ini. Di sekian puluh atau sekian ratus manusia dalam gerbong, dapat dipastikan, semua menunduk melihat sebuah layar tipis yang menyala. Segala macam bentuk telepon pintar, ada di tangan masing-masing dari mereka. Saya sendiri merasa jadi satu noktah yang berbeda warna di antara mereka. Mungkin, kalau di gerbong campuran, saya masih bisa melihat bapak-bapak atau kakek-kakek yang membaca koran. Nah, dibanding membaca buku setebal 500 halaman, membaca koran rasanya masih lebih manusiawi. Entahlah, apakah keengganan mereka membaca begitu tingginya dewasa ini?

Saya sendiri tak ambil pusing. Biarkanlah mereka menganggap seseorang yang membaca di dalam transportasi publik sebagai alien. Justru, perbedaan yang mencolok seperti ini tentu akan diperhatikan lebih mendalam, syukur-syukur kalau akhirnya akan lebih banyak orang yang membaca karena meniru orang lain. Tapi, sepertinya itu sulit. Mungkin juga, mereka memang sedang membaca hal yang sama, sebuah literatur yang entah apa, hanya saja medianya berbeda. Jika saya membaca lewat buku yang masih konvensional, berupa kertas-kertas dengan wangi semerbak menyenangkan jika kita baru membuka sampul plastiknya, mereka membaca lewat media elektronik yang sekarang juga sudah banyak memuat aplikasi untuk membaca buku. Tentu ada pro kontra dalam buku model elektronik seperti ini.

Pros:
  • Media buku digital enak dibaca ketika mati lampu.
  • Tidak ribet atau berat dibawa-bawa.
  • Bisa memuat banyak judul dalam satu media.
  • Lebih enak ketika dibawa traveling.
  • Lebih praktis.
  • Yang lainnya entah deh. :P
Cons:
  • Tidak ada nilai prestise atau kepemilikan. Sebab, memiliki buku yang masih 'purba', rasa kepemilikannya beda aja gitu.
  • Tidak bisa dikoleksi di lemari buku. Sekali lagi ini soal prestise.
  • Tidak bisa ditandatangan penulisnya. Hahaha!
  • Dan serangkaian "tidak bisa" lainnya yang mungkin ditemukan pada buku digital, tapi bisa ditemukan pada buku cetak.

Saya sendiri tak bisa memetakan pro dan kontra dari buku cetak dengan buku digital secara lebih mendalam, karena ini adalah persoalan selera. Kalau ditanya selera, ya saya tentu lebih suka membaca buku-buku cetak dan mengumpulkan mereka sebagai koleksi. Ada harga dan ada rasa kepemilikan yang lebih ketika saya memiliki buku-buku dalam bentuk cetak. Meski kadang ada yang tidak terbaca karena ternyata isinya memang tidak enak dibaca, namun tetap saja buku cetak itu bisa jadi penghias lemari. Sesekali, saya bisa membuka lembar demi lembarnya jika ingin menyeruak masuk ke dalam dunia di dalam buku itu.

Ah entahlah. Nikmat membayangkan bahwa saya adalah alien di tengah kerumunan orang yang menghamba pada smartphone mereka. Peduli amat dengan mereka yang memperhatikan saya di transportasi publik atau di tempat-tempat umum seperti kafe. Jika mereka mengatakan bahwa saya adalah penyendiri yang gandrung buku, silakan saja. Saya tak masalah. Hehe. Bagi saya, buku adalah teman baik, dan sekali karya tulis menghipnotis, maka selamanya ia tak akan pergi dari dalam pikiran. Ia terus menemani.


Cimahi, 10 November 2014
sebuah tulisan bagi pejuang karya tulis, penulis, pahlawan kepenulisan dan pahlawan-pahlawan yang lahir dari dan untuk sebuah tulisan.

You Might Also Like

6 comments

  1. Apapun baca buku secara fisik tetap tak tergantikan kak :D Makanya aku tetep beli yang fisik, meski udah ada versi ebook. bisa buat menuhin rak di rumah juga hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget Kaaaaak! Hehehe. Lagian saya bercita-cita punya perpustakaan mungil di rumah asri, mungkin daerah Bogor? Wkwkwkwk.

      Delete
  2. Kejadian sama aku baru-baru ini di tempat magang. Ketika semua sibuk dengan semartponnya melihat aku yg baca buku seperti yg aneh banget. Bahkan ada yg nanya "mbak itu apaan yaa?"
    And I was like.............. -,-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bilang aja, "Ini smartphone dari planet Namex." :)))

      Delete
  3. lihat hape terus bikin mata panas. coba alihkan mata ke yang lain. abang johny deep misalnya #gagalpaham

    ReplyDelete
  4. Ehhh ternyata ada abang gondrong anak arsitektur masuk di stasiun UI #nanggapigagalpaham :))

    ReplyDelete