Skip to main content

Gelombang dan Perjalanan Mimpi

Judul: Supernova - Gelombang (Supernova #5)
Penulis: Dewi 'Dee' Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Tanggal Terbit: 17 Oktober 2014
Tebal: 492 halaman, paperback
ISBN: 9786022910572
Tokoh: Alfa, Troy, Carlos, Nicky, Ishtar, dr. Kalden, Mamak, Bapak, Eten, Uton, Ompu Togu Urat, Ronggur Panghutur, Nai Gomgom, Pemba, dr. Colin, Rodrigo, Tom Irvine, dan Gio.

Sebuah upacara gondang mengubah segalanya bagi Alfa. Makhluk misterius yang disebut Si Jaga Portibi tiba-tiba muncul menghantuinya. Orang-orang sakti berebut menginginkan Alfa menjadi murid mereka. Dan, yang paling mengerikan dari itu semua adalah setiap tidurnya menjadi pertaruhan nyawa. Sesuatu menunggu Alfa di alam mimpi.

Perantauan Alfa jauh membawanya hingga ke Amerika Serikat. Ia berjuang sebagai imigran gelap yang ingin mengubah nasib dan status. Pada suatu malam, kehadiran seseorang memicu Alfa untuk menghadapi ketakutan terbesarnya. Alam mimpinya ternyata menyimpan rahasia besar yang tidak pernah ia bayangkan. Di Lembah Yarlung, Tibet, jawaban mulai terkuak.

***

Ada kesedihan yang luar biasa mengendap setiap kali saya mengakhiri sebuah buku, apalagi jika buku tersebut adalah serial. Penantian yang cukup lama untuk menuju ke seri berikutnya akan menyeruak seperti rindu pada seseorang yang telah lama pergi atau rindu pada kampung halaman. Kira-kira seperti itulah kesan yang muncul ketika saya mengakhiri Supernova: Gelombang. Saya harus menunggu dan bersabar untuk melihat kelanjutan kisah gugus Alfa dalam episode Inteligensi Embun Pagi. Hiks.

Awal mula mengenal Dee adalah ketika saya mengawali kecintaan pada buku dengan kunjungan ke beberapa rumah buku, salah satunya adalah Kineruku di Hegarmanah. Di sana, saya menemukan Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh teronggok di salah satu sudut. Dimulailah petualangan saya dalam dunia Dee, yang konon diawali dengan self publishing berdarah-darah antara ketakutan tidak laku atau euforia para pembaca yang menggunjingkan genre ini yang masih awam. Namun, petualangan awal dalam dunia Dee telah menjadi candu tersendiri yang menyebabkan serial awal Supernova tersebut laku keras dan memaksa Dee untuk melanjutkan ke serial-serial berikutnya. Tak terkecuali saya. Permainan Dee dalam membuat karakter yang kuat namun sepenuhnya memiliki kelemahan jadi kesukaan saya. Tak banyak penulis mampu membuat tokoh yang signifikan dari seri ke seri, ibarat Mama Jo dan Harry Potternya. Akan ada kerinduan yang dalam pastinya, jika seri-seri Supernova berakhir. Saya akan mengingat, kapan lagi saya bisa bertemu tokoh-tokoh ini lagi? Kurang lebih seperti itu.

Namun, sebuah karya yang ditulis dengan jelaga yang terendap lama, tentu akan menimbulkan pergeseran tertentu, seperti semangat yang pudar. Beberapa kali saya temukan kebosanan di awal-awal membaca Supernova yang muncul setelah Petir. Bisa dimaklumi, apalagi karena setelah Petir, perlu waktu 8 tahun bagi Dee untuk memanaskan kembali tungku yang isinya adalah tokoh-tokoh Supernova yang sudah diaduk. Meski kurang memuaskan ketika mengawali Supernova lagi--dari Partikel--setelah sekian tahun lamanya, tapi petualangan saya pada dunia metafisis Dee masih belum berkurang. Ah, kadang saya berandai-andai, bisakah saya menulis kisah fiksi seliar pikiran Dee yang berjelajah lebih jauh daripada jasadnya sendiri? Sepertinya, menulis kisah semacam ini memang penuh perenungan yang mendalam, disusul riset yang kompleks untuk menunjang cerita. Hasilnya? Kalian bisa baca sendiri dari setiap seri Supernova.

Kebosanan membaca pada awal-awal pertemuan saya dengan Alfa bukanlah perkara penting karena setelah cukup lama mengarungi "Gelombang", pada akhirnya saya kembali mengikuti arusnya. Petualangan yang ada bukan hanya petualangan fisik, tapi termasuk spiritual dan ini begitu nikmat.

Mengarungi dunia mimpi sekali lagi tak pernah membuat saya bosan, seperti pada saat saya pergi menjelajah bersama Cala Ibi, naga terbang yang membawa Maya pulang ke kampung halaman, atau seperti pada saat saya membaca Misteri Anjing Karpatia, di mana salah satu tokohnya melakukan perjalanan badan halus, astral projection. Hal-hal semacam ini sudah menarik perhatian saya ketika ia muncul dalam dunia literasi, yang pada akhirnya saya pun jadi terobsesi untuk melihat-lihat beberapa tulisan terkait mimpi--mungkin nanti juga menghasilkan karya semacam itu, mungkin?

Alfa dan dunia di dalam kepalanya, alam bawah sadarnya, memaksa saya untuk merangsek lebih dalam. Seperti yang sudah saya katakan, bahwa kebosanan di awal penceritaan mengenai latar belakang Alfa tidak berlangsung lama. Saya bisa membuang beberapa bagian yang saya rasa tak perlu dibaca dan melakukan scanning bagian mana yang sekiranya lebih mudah untuk dipahami. Dan membaca Supernova memang tak pernah bisa ditunda-tunda. Ada semacam candu yang khusus, yang membuat saya betah berhari-hari tidak beranjak dari kursi hanya untuk membaca. Meski saya paling suka pada tokoh Bodhi dan Elektra dari seluruh seri Supernova, tapi Alfa ini boleh juga diperhitungkan sebagai alien lainnya di samping mereka berdua. Alfa termasuk salah satu dari sekian anomali manusia yang Dee ciptakan untuk menjadi nyata, dan dia memang ada di dunia, sebab penokohannya cukup kuat untuk menjadi nyata.

Jelas sekali, ada kerinduan yang amat sangat mendalam setelah menutup halaman terakhir. Semoga Intelegensi Embun Pagi lekas dimulai agar ingatan saya pada para tokoh ini tak memudar. Sejauh ini, puzzle kehidupan mereka sudah tersusun cukup jelas, tinggal menunggu akhirnya.

***

Cek juga review saya di Goodreads: https://www.goodreads.com/book/show/23252584-supernova

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Ulasan Personal Untuk Album Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku (2014)

Menerima album Dialog Dini Hari – Tentang Rumahku di meja kerja (waktu masih kerja), sama rasanya seperti saat menerima album OK Karaoke – Sinusoid di meja rumah. Ada rasa puas yang mengalir ketika memiliki album-album dengan package lucu-lucu itu, dan tentunya dengan materi yang tak lekang didengar telinga. Dan setelah saya cukup intensif mendengarkan lagu-lagu DDH—begitu grup musik folks ini biasa disapa—seperti biasa saya akan mengulasnya di blog ini. Sebelas track di album terbaru Dialog Dini Hari yang rilis 2014 ini agak sedikit berbeda dari album-album sebelumnya—saya agak lupa bulan apa rilisnya, kalau tidak salah saya membeli album Dialog Dini Hari ini sekitar bulan Juni-Juli. Mengapa saya katakan sedikit berbeda? Karena memang beda! Hehe. Dialog Dini Hari tetap membawakan musik yang sederhana, dengan permainan gitar akustik Dadang "Pohon Tua" yang melenakan itu, disambangi pertemuan bass Brozio Orah, dan drum dari Bli Deny Surya. Folks apa balada yang hidup dari kese…

Keajaiban di Pasar Senen

Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai di…

Mengatur Prioritas Budget Wedding Outdoor di Bandung

Hai! Selamat datang di posting blog pertama di bulan Maret ini sekaligus posting pertama setelah menikah. Kali ini, saya mau membahas tentang tips menyusun acara pernikahan outdoor tapi hemat. Hahaha. Ya, Alhamdulillah, 25 Februari 2017 lalu, saya resmi menikah. Sepanjang melewati proses persiapan pernikahan dan segala printilan lainnya, saya cukup kalem. Rusuh dan gugupnya malah pas udah mau masuk akad nikah. Tapi, setelah seminggu berlalu, kini yang tersisa hanya foto-foto yang jumlahnya ribuan dan hasrat untuk sharing tentang apa saja yang saya pelajari dari mempersiapkan pernikahan. :))

Pernikahan saya sebenarnya direncanakan secara dadakan. Awalnya, saya memilih tanggal di bulan April untuk acara pernikahan. Namun, karena satu dan lain hal, juga karena jadwal kuliah yang semakin padat dan bentrok, akhirnya acara itu saya majukan ke bulan Februari. Jadilah, saya dan suami mengurus segala hal secara dadakan. Hampir semua koordinasi dilakukan melalui whatsapp, dan untuk pemilihan v…